
Maya langsung berpikir keras. Apa yang harus iya katakan agar Elvano percaya dengan ucapannya?
"Elvano, aku kesal saat Kanaya menertawaiku di ruang makan. Kamu ingat saat kamu mengatakan akan pergi bekerja dari pada ikut gladi bersih bersamaku?" ujar Maya.
"Oleh sebab itu aku menanyakannya di tangga pada waktu itu. Namun, ia bukannya meminta maaf, malah memakiku dan mengatakan aku kalau aku telah menyebarkan berita bohong mengenai kematian Devita. Padahal seperti yang kau tahu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dan ia pun memakiku, mengataiku wanita penggoda dan lain - lain yang membuatku sakit hati. Sehingga aku kesal, dan ingin mendorongnya dari tangga itu," ujar Maya beralasan panjang lebar.
"Aku tahu, aku seharusnya tak boleh seperti itu. Aku minta maaf Elvano." ujar Maya berusaha membujuk Elvano agar memaafkannya. Maya benar - benar mengeluarkan kemampuan beraktingnya demi agar Elvano mempercayainya.
"Kau tahu, karena kebohonganmu, aku hampir saja membunuh Kanaya!" Ujar Elvano dengan kesal apa yang telah Maya lakukan.
Kenapa tidak kau bunuh langsung saja Kanaya, Elvano! Batin Maya kesal karena Kanaya masih hidup dan masih menjadi penghalang antara dirinya dan juga Elvano.
"Tolong maafkan aku Elvano, aku.... aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Maya memohon dengan wajah yang memelas.
Elvano memandangi Maya yang tampak lemah di ranjang rumah sakit itu. Ia pun tidak tega untuk terus memarahinya.
"Baiklah, aku maafkan kau kali ini, Maya. Jangan pernah ulangi lagi!." Ujar Elvano.
"Terimakasih Elvano, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji," ujar Maya sambil memeluk Elvano.
Wajahnya langsung tersenyum licik saat ia menghadap ke belakang sambil memeluk Elvano. ia tahu ia telah berhasil kembali membohongi Elvano dan mempengaruhinya.
"Ya sudah,kamu harus istirahat. Dokter mengatakan akan mengambil tindakan besok pagi," ujar Elvano sambil melepas pelukan Maya dari tubuhnya.
Elvano sempat berbicara dengan dokter, sebelum ia masuk ke ruang perawatan Maya. Dan dokter mengatakan akan melakukan kuretase untuk membersihkan kandungan maya.
"Bagaimana dengan pernikahan kita, Elvano?" tanya Maya dengan harap - harap cemas.
Besok adalah hari pernikahan mereka berdua, apakah Elvano akan menundanya atau bagaimana?
"Maaf Maya, aku sudah membatalkannya," ujar Elvano.
__ADS_1
"Kau pun tidak bisa menghadirinya dengan kondisimu yang seperti ini," ujar Elvano beralasan, meskipun dalam hatinya ia merasa lega karena tidak bisa menikahi Maya.
Elvano memang menikahi Maya hanya karena ingin bertanggung jawab terhadap anak yang di kandung Maya, namun saat ini ia telah kehilangan anak itu, dan tidak ada alasan baginya untuk menikahi Maya.
"Tapi....Tapi...kita bisa menikah lain waktu kan? Kalau aku sudah sehat?" tanya Maya dengan terbata - bata. Dalam hatinya kesal dan marah, karena ia tidak bisa menikah dengan Elvano esok hari, namun tidak di perlihatkannya.
"Kita bicarakan itu nanti kalau kalau kamu sudah sehat. Sekarang fokuslah untuk kesembuhanmu," ujar Elvano sambil beranjak dari duduknya.
"Aku pulang," pamit Elvano, kemudian keluar dari kamar Maya.
Wajah Maya tampak kesal dan geram. Apa yang di rencanakannya selama ini agar ia bisa menikah dengan Elvano gagal sudah! Dan ia harus mencari cara baru agar Elvano mau menikahinya.
"Kanaya, ini semua gara - gara kamu!" Ujar Maya dengan geram sambil meremas seprei rumah sakit itu dengan kencang.
Elvano tidak langsung mengendarai mobilnya pulang. Ia berdiam di parkiran rumah sakit itu beberapa lamanya sambil menghabiskan beberapa buah putung rokok yang ada di kantongnya. Ia berpikir kembali apa yang di katakan Kanaya siang itu.
"Kak Elvano, kalau aku mengatakan bahwa aku tidak membunuh Kak Devita, apakah kamu lebih mempercayai Maya atau aku?" tanya Kanaya saat itu sambil memandang matanya.
"Apakah dia bisa membuktikan kalau aku sengaja membunuh, Kak Devita?" tanyanya lagi.
Namun sekarang ia tidak yakin lagi. Apalagi setelah Maya telah berbohong padanya dan mengkambing hitamkan Kanaya atas keguguran kandungannya.
Elvano pun mengendari mobilnya kembali ke rumah. Saat itu sudah larut malam, dan rumah tampak sepi, saat itu ia melangkah masuk. Ia pun langsung masuk naik ke lantai dua hendak masuk ke kamarnya, namun terhenti dan menoleh ke arah kamar Kanaya.
Ia pun melangkah menuju kamar Kanaya, melihat bahwa pintu kamar di ujung lorong itu sudah di perbaiki. Ia membuka pintu kamar Kanaya yang baru, perlahan dan melihat Kanaya yang tengah tertidur di ranjang itu dengan nafas yang teratur. Ia pun melangkah masuk perlahan dan duduk di pinggir ranjang.
Di pandanginya Kanaya yang tengah tertidur pulas dengan terlentang. Dengan bantal yang menyanggah kepalanya. Sebuah Gips biru melingkar di lehernya. Rupanya Dokter Adam telah memasangkan gips itu untuknya.
Elvano duduk disana dengan memandangi wajah Kanaya yang polos selama hampir setengah tajam, sebelum ia bangkit dan kembali ke kamarnya.
***
__ADS_1
Devan permana mengendarai mobilnya menuju ke kediaman Alexander David Mahendra, salah satu klien utamanya. Leo, asisten pribadi Alexander David Mahendra menghubunginya tadi sore dan mengatakan bahwa David ingin berbicara dengannya.
Devan sampe di depan rumah besar Alexander David Mahendra, dan penjaga disana pun membolehkannya untuk masuk ke halaman rumah yang sangat luas itu. Saking luasnya hingga jarak dari pintu gerbang ke teras rumah David saja bisa mencapai 1 km jauhnya.
"Selamat malam Pak Devan, silahkan masuk," ujar Jefri kepala asisten rumah tangga di rumah besar itu.
"Silahkan duduk, Pak Devan, saya akan bilang ke Bapak kalau Pak Devan sudah sampai." ujar Jefri dengan sopan.
"Oke Jefri," jawab Devan sambil duduk di salah satu sofa besar di ruang tamu rumah tamu itu.
Alexander David Mahendra adalah salah satu pengusaha terpandang dan terkaya di kota mereka. Bisnisnya tidak hanya di kota B saja, tetapi juga merambah ke kota lain dan mancanegara.
Visualnya Alexander David Mahendra
Devan sangat beruntung bisa kenal dan bertemu dengan Alexander David Mahendra. Karena Davidlah yang membantunya mengembangkan usaha Firma Hukumnya di kota itu, setelah ia di pecat oleh Firma Hukum Asegaf Star karena telah menggagalkan usaha Hazel Asegaf Ramadhan untuk menjegal usaha David.
"Devan apa kabar?" sapa David sambil berjalan menghampiri Devan di ruang tamu. Devan pun beranjak dari duduknya dan menyalami pemilik rumah besar itu.
"Baik Pak, Bapak apa kabarnya?" tanya Devan balik.
"Biasa, di sibukkan dengan Brayen. Anak itu benar - benar menyita waktu saya." Klakar David, menceritakan Brayen, anaknya.
Devan pun tersenyum mengingat bocah laki - laki yang kerap di lihatnya jika sedang berkunjung ke rumah David.
"Sudah makan belum? kebetulan saya dan Rena mau makan malam. Kita makan sama - sama ya," ujar David dengan ramahnya mengajaknya Devan.
David terlihat sangat ramah dan humble, padahal Devan mendengar dari beberapa orang koleganya pernah bercerita jika dahulunya David adalah seorang yang arogan dan sombong, juga keras dan bertangan besi. Namun, ia di kabarkan berubah setelah menikah dengan istrinya Adrena Clarissa Putri. Beberapa tahun yang lalu.
Devan berjalan dengan David masuk ke dalam dan melewati ruang keluarga kemudian berhenti di ruang makan.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf masih banyak typho.
Jangan lupa like komen dan vote.