
"Mbak Kanaya mau pakai yang mana?" tanya Linda sambil menaruh sebuah gaun di meja wastafel dan memegang dua baju yang lainnya di tangannya, dan memperlihatkannya pada Kanaya.
Kanaya memperhatikan tiga gaun yang cantik berada di depannya.
"Yang ini saja." jawab Kanaya sambil menunjuk sebuah gaun yang berlengan pendek sebatas lutut berwarna peach dengan sedikit ornamen lache di pinggangnya. sangat manis.
"Mbak pasti sangat cantik memakai ini," ujar Linda sambil melepaskan gaun itu dari gantungannya. Ia pun membantu Kanaya mengenakannya.
Kanaya keluar dari dalam kamar mandi di ikuti oleh Linda. Ia berjalan khawatir jika Elvano tidak suka dengan penampilannya kali ini.
Elvano menoleh ketika pintu kamar mandi terbuka. Ia sempat tertegun sebelum berkata, " Terima kasih Linda, sekarang kami siap untuk sarapan."
"Sama - sama, Pak." jawab Linda sambil tersenyum, merasa lega ia telah mengerjakan tugasnya dengan baik.
Elvano pun menghampiri Kanaya dan meraih tangannya, mengajaknya keluar kamar menuju restoran dengan Linda mengikuti di belakang mereka.
Tentu saja Elvano melakukan itu karena ada orang lain bersama mereka.
***
Seperti biasa, Elvano memperlakukan Kanaya dengan sangat manis di depan semua orang yang hadir untuk sarapan pagi itu.
"Ah, pengantin baru sudah turun!" ujar Luna saat melihat anak dan mantunya itu memasuki pintu restoran dan berjalan ke arah meja mereka.
"Pagi, Mah!" sapa Elvano sambil tersenyum dan mencium pipi Mamanya.
"Pagi sayang," balas Luna.
"Pagi Mah," sapa Kanaya sambil mencium pipi Luna dan Luna membalasnya."
"Bagaimana keadaanmu? Elvano tidak menyakitimu, bukan? tanya Luna sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Kanaya.
__ADS_1
"Mamah, jangan menggoda Kanaya! Lihat dia jadi malu!" ujar Elvano sambil meraih pinggang Kanaya, terlihat melindungi Kanaya karena pertanyaan menjurus mamanya membuat Kanaya tertegun. Lagi pula Kanaya tidak paham dengan godaan Mamanya itu.
"Luna, sudahlah jangan menggoda mereka," ujar Sean yang ikut tertawa melihat ekspresi wajah polos Kanaya.
Kanaya dan Elvano pun menyalami semua anggota keluarga yang ada disana, bahkan merekapun bertemu dengan kolega Elvano dari luar kota yang menghadiri pernikahan pesta pernikahannya tadi malam.
Tentu saja banyak yang menggoda mereka. Dan Kanaya hanya menanggapinya dengan senyuman dan menerima saja perlakuan mesra Elvano padanya.
Mereka pun duduk bersama dengan Ratna dan juga Rayhan Adi Wiguna, kedua orang tua Kanaya. Mereka mengobrol berbagai hal dan Elvano benar - benar pandai bersandiwara di hadapan mereka.
Dalam hati, Kanaya berharap, Elvano akan memperlakukannya dengan manis seperti itu setiap saat tidak hanya saat berada di depan orang lain.
"Mama dengar Devan akan berangkat ke kota B hari ini?" ujar Ratna pada Kanaya.
"Iya Mah," jawab Kanaya sambil tersenyum dan membayangkan wajah Devan yang bersemangat ingin menggapai cita - citanya. Sahabat yang akan selalu di sisinya saat ia senang atau pun sedih.
"Dia sungguh beruntung bisa bekerja di Firma hukum besar seperti Asegaf star," ujar Ratna lagi, membicarakan sahabat putrinya itu.
Kanaya mengambil kesempatan bersama orang tuanya untuk meminta pada Elvano.
"Kak Elvano, bolehkan aku pulang sebentar hari ini? Aku ingin mengambil beberapa barang dan mengucapkan selamat jalan pada Devan?" pinta Kanaya di hadapan orang tuanya.
Elvano tidak tampak terkejut atau marah, ia justru tersenyum.
"Sayang, bukannya aku tidak mengijinkan tetapi kita akan pergi berbulan madu nanti siang, aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Biar aku suruh orang - orang mengambilkan barang - barang itu untukmu. Dan untuk Devan, bukankah kamu sudah menemuinya kemarin dan mengucapkan selamat jalan padanya," ujar Elvano menolak permintaan Kanaya dengan halus sambil menggenggam tangan Kanaya dan memandang matanya dengan tatapan lembut.
"Elvano benar Kanaya, kalian pasti sangat sibuk hari ini. Dan lagi kalian kan baru menikah, Devan pasti mengerti. Kalian bisa mengunjungi Devan lain waktu," ujar Rayhan memberi anjuran pada Kanaya agar tidak membantah suaminya.
Hampir saja Kanaya terpesona dengan perlakuan Elvano yang sangat lembut dah sayang padanya, namun ia pun tersadar bahwa Elvano hanyalah bersandiwara di depan orang tuanya. Bahkan papanya pun mendukung Elvano. Kanaya hanya tersenyum dan mengangguk, tidak ingin membuat masalah dengan Elvano. Hilang sudah kesempatannya bertemu dengan Devan untuk terakhir kalinya.
Setelah sarapan pagi mereka semua kembali ke rumah masing - masing. Elvano tentu saja membawa Kanaya kerumahnya.
__ADS_1
Rumah Elvano sangatlah besar dan tertata rapi, dengan halaman yang luas mengelilinginya. Tak heran jika Elvano memiliki rumah sebesar itu, walaupun ia terbilang masih muda dan masih sendiri? karena ia seorang yang sangat handal dalam dunia berbisnis.
Kanaya pernah melihat rumah megah Elvano saat ia mengantarkan Kak Devita. Ketika itu Kak Devita telah bertunangan dengan Kak Elvano dan ia ingin memberikan kejutan kepada Kak Elvano dan mendatangi rumahnya. Namun Kanaya sendiri belum pernah masuk kedalam rumahnya.
Mobil yang di supiri oleh Panji, supir Elvano pun menepi di depan rumah besar itu, dan mereka pun turun.
Dua orang pelayan perempuan dan seorang pelayan laki - laki menunggu mereka di depan rumah.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sapa pelayan perempuan yang lebih tua. Ia mungkin berusia sekitar 45 tahun.
"Desi, antarkan Kanaya ke kamarnya dan yang lainnya angkat barang - barang yang ada di mobil," perintah Elvano sambil melangkah masuk meninggalkan Kanaya bersama pelayan - pelayan rumahnya.
"Perkenalkan nyonya saya Desi, kepala pelayan di sini. Dan ini Sarah dan juga Bayu ," ujar Desi memperkenalkan mereka semua. Kanaya tersenyum dan mengangguk pada mereka semua. Bayu mengangguk sopan pada Kanaya tetapi Sarah hanya melirik sepintas padanya.
"Mari nyonya, saya antarkan ke kamar nyonya," ujar Desi sambil menujukkan arah kepada Desi dengan sopan.
Kanaya mengikuti arahan Desi sambil matanya memandang keindahah rumah besar Elvano. mereka naik ke lantai dua dan berhenti di depan sebuah pintu. Desi membuka pintu itu dan mempersilahkan Kanaya untuk masuk.
"Silahkan nyonya, ini kamar nyonya," ujar Desi dengan sopan.
Kanaya melihat kamar itu dan melihat sekeliling isinya. Kamar itu tidak besar tetapi cukup rapi.
"Ini kamar saya?" tanya Kanaya. Ia heran apakah ia memiliki kamar sendiri atau bersama dengan Elvano? sepertinya tidak mungkin jika Elvano akan menetap di kamar yang ia masuki saat itu, karena kamar itu sangat kecil dan sederhana jika harus di tempati oleh pemilik rumah besar itu.
"Iya Nyonya," jawab Desi sambil mengangguk.
"Kamar Kak Elvano?" tanya Kanaya heran
"Kamar Tuan, berada di ujung lorong yang tadi kita lewati, Nyonya," jawab Desi yang melihat ekspresi keheranan di wajah Kanaya dan ia pun mengerti.
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1