Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Keselamatan Kanaya Dan Anak - anak Part 1


__ADS_3

Kanaya mermarkir kendaraannya di halaman depan sekolah Alvaro dan Clara. Kedua anaknya itu akan segera pulang ke sekolah, beberapa menit lagi. Ia memilih menunggu di dalam mobil sampai anak - anaknya itu keluar dari kelasnya masing - masing.


Tak lama setelah bel tanda usai jam sekolah terdengar, ia melihat Alvaro keluar dari kelasnya. Kanaya pun segera keluar dari mobilnya dan menghampiri Alvaro.


"Alvaro, Adek belum keluar?" tanya Kanaya. Sudah kebiasaan Alvaro untuk menunggu Clara keluar dari kelasnya, lalu mereka berdua bersama - sama naik ke mobil.


"Belum Bunda. Kok, Bunda yang jemput?" tanya Alvaro bingung.


"Iya, Pak Budi sedang pergi bersama Ayah, jadi Bunda yang jemput," jawab Kanaya sambil merangkul pundak anaknya itu.


Tak lama Clara keluar bersama dengan teman dekatnya Naura. Namun saat melihat Bundanya yang jemput ia pun langsung berlari menghampiri Bundanya.


"Bunda!" Serunya sambil berlari dan memeluk Kanaya dengan manja.


Kanaya tersenyum dan berjongkok memeluk Clara.


"Gimana sekolah kalian hari ini?" tanyanya pada Alvaro dan juga Clara.


"Bunda, tadi aku baru buat bikin stempel dengan kentang, coba Bunda lihat!" Ujar Clara sambil memperlihatkan parkaryanya hari itu dan menyerahkan sebuah kertas yang penuh stempel bundar dengan bentuk geometris berwarna warni.


"Wah, bagus ya! Clara bikin sendiri?" tanya Kanaya sambil tersenyum melihat hasil prakarya Clara.


Clara mengangguk dan tersenyum dengan bangga.


"Kakak hari ini, di sekolah ngapain?" tanya Kanaya sambil ia berdiri dan berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir.


"Alvaro tadi main bola, Bunda! Terus regunya Alvaro menang 4 - 1! Alvaro yang gol-in bolanya 2 kali" Cerita Alvaro sambil berjalan dan sekali - kali melihat ke arah Bundanya yang memperhatikannya dan Clara berjalan.


"Kanaya!" Tiba - tiba terdengar suara seseorang yang memanggilnya.


Saat ia menoleh, ia melihat Adella tengah berjalan dari arah bangunan sekolah yang tak jauh dari sekolah Alvaro dan Clara bersama Keira.


"Keira!" Panggil Clara sambil meloncat senang melihat teman bermainnya itu.


"Clara!" Balas Keira memanggilnya sambil ia berlari menghampiri Clara.


Kedua anak perempuan itu pun berpelukan dan berjingkat gembira.


"Ay, untung aku ketemu kamu di sini!" Ujar Adella.

__ADS_1


"Iya ada apa, Dell?" tanya Kanaya sambil cipika cipiki.


"Aku mau nitip Keira dulu ya. Kebetulan aku ada perlu mau antar pakaian ke customer aku, dan karyawanku sedang tidak masuk," ujar Adella.


Kanaya dan Adella pun mengobrol di depan parkiran mobil. Sementara itu di kota A. Devan baru saja keluar dari ruangan sidang bersama Beni dan Ace, anak buah Bastian. Kota A berajarak 1 - 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil dari kota B, itu sebabnya Budi supir keluarga Devan tidak bisa menjemput Alvaro dan Clara.


Beberapa hari setelah terjadi penyerangan terhadap Firma Hukumnya. Devan sering mendapatkan surat kaleng di kantor dan ancaman melalui telepon genggamnya. Dan saat itu sebuah panggilan telepon tanpa ID penelopon pun kembali muncul. Devan memberi tanda pada Ace mengenai telepon gelap yang masuk. Ace segera merekam percakapan telepon itu, saat Devan mengangkatnya dan menghidupkan loudspeaker saat mereka sampai di dalam mobil mereka.


"Pak Devan.. Anda benar - benar tidak mendengarkan perkataan kami.." ujar sang penelepon misterius itu dengan nada suara penuh ancaman.


"Siapa ini dan apa maksudmu?" tanya Devan saat mobil sudah berjalan keluar dari halaman pengadilan negeri kota A.


"Hahahhaha...." penelepon itu tertawa dengan jahatnya.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya! Yang harus anda lakukan adalah mundur dari perkara yang sedang anda tangani!" Ujar penelepon itu.


"Perkara yang mana?" tanya Devan pura - pura tidak mengerti sambil ia tetap merekam percakapan mereka.


"Jangan berlagak bodoh! Anda pasti sudah tahu perkara yang mana!" Ujar orang itu dengan nada marah dan mengancam.


"Maaf, sungguh saya tidak tahu perkara yang mana. Saya menangani banyak ka...."


"DIAM! Dan dengarkan saya!" Teriak orang itu, dengan nada suara penuh amarah dan tidak ingin mendengarkan perkataan Devan.


Klik tut.. tut... tut..


Orang itu memutuskan percakapan secara sepihak tak lama sebuah pesan singkat masuk melalui telepon genggam Devan. Devan membukanya dan ia mendownload sebuah foto yang di kirimkan oleh orang tersebut yang membuat Devan sangat terkejut.


Foto Kanaya yang sedang berada di halaman sekolah bersama Alvaro dan Clara.


"Kanaya!" Pekik Devan dengan ekspresi sangat cemas.


"Beni, cepat telepon Kapten Wira!"Serunya pada Beni dan secepat kilat ia langsung menghubungi telepon genggam Kanaya.


Akan tetapi saat itu, Kanaya tengah mengemudi tidak mengangkat telepon genggamnya yang bergetar di dalam tasnya, dan suara anak - anak yang hiruk pikuk sedang bermain di dalam mobil membuatnya tidak dapat mendengar bunyi getaran suara teleponnya.


"Cepat angkat teleponnya, sayang!" Ucap Devan sambil ia berharap - harap cemas agar Kanaya berharap bisa mengangkat panggilan teleponnya.


Sementara itu, Beni pun sedang menghubungi Kapten polisi dan memberitahunya mengenai ancaman sang penelepon gelap terhadap keluarga Devan.

__ADS_1


"Budi! Secepatnya pulang!" Perintah Devan pada supirnya itu untuk mempercepat laju kendaraan mereka. Namun Devan tahu, ia tidak mungkin sempat sampai di rumah dalam waktu singkat. Membutuhkan waktu yang paling cepat adalah 1 jam dalam jarak kendaraan mereka seperti saat itu.


"Baik Pak, saya sedang berusaha!" Ujar Budi yang juga mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam mobil mereka.


Berkali - kali Devan mencoba menghubungi Kanaya, tetapi ia tidak mengangkatnya.


"Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa - apa dengan Kanaya dan juga anak - anak!"


Panggilan telepon tanpa ID itu kembali masuk dan Devan segera mengangkat dan meloudspeaker dan kembali merekam percakapan telepon itu.


"Jangan sentuh mereka!" Hardik Devan dengan emosi.


"Hahahahahaaa..." orang itu kembali tertawa dengan jahatnya.


"Ah, apa sekarang anda sudah menjadi lebih pintar, Pak Devan?" tanya orang itu mempermaikan Devan.


"Jangan berani sentuh mereka! Atau kamu...."


"ATAU APA? Ingat! Saya yang memegang kendali, Pak Devan!" Teriak orang itu.


Semua orang yang berada di dalam mobil itu terdiam, tidak ingin orang itu mengetahui jika percakapan teleponnya di dengar semua orang dan di rekam.


"Cepat mundur dan tarik semua tuntuttannya atau Pak Devan mau berpisah untuk selamanya dari keluarga Bapak?" ujar orang itu yang di akhiri oleh tawa jahat.


"Ingat! Orang - orang saya sedang berada dekat dengan keluarga Pak Devan sekarang! Camkan itu!" Ancam orang itu sebelum ia mengakhiri panggilan teleponnya.


Dahi Devan berkeringat dan wajahnya terlihat sangat khawatir. Terlebih lagi ia tidak dapat menghubungi Kanaya.


"Pak Bastian bilang mereka sudah keluar dari sekolah, Pak." lapor Ace. Ace secara langsung menghubungi Bossnya dan menceritakan apa yang sedang terjadi, dan Bastian pun segera mencari Kanaya di sekolah, namun tidak menemukannya, dan mengatakan akan langsung menuju ke rumah Devan.


Devan sangat resah. Ia tidak menyangka jika Randy Sanjaya akan benar - benar menargetkan keluarganya ketika ia tidak bisa lagi meneror kantor dan dirinya. Ia menelepon ke rumah dan menanyakan, jika Kanaya dan anak - anak sudah sampai, akan tetapi Siti mengatakan jika keluarganya itu belum sampai di rumah.


Devan melihat ke arah jam tangannya dan bertanya - tanya dimana Kanaya dan anak - anak, harusnya mereka telah sampai di rumah saat itu.


Devan kemudian menelepon Elvano dengan nada suara yang panik.


"Elvano, aku minta tolong ke kamu. Tolong cari Kanaya dan anak - anak karena seseorang telah mengikuti mereka di sekolah dan sampai saat ini mereka belum sampai ke rumah!" Ujar Devan terlihat jelas ia sangat khawatir dengan keselamatan mereka.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2