Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Maya Biang Keladi


__ADS_3

Ekspresi wajah Elvano langsung berubah, dan ia pun menarik Kanaya dengan kasar.


"Panji, pulang sekarang!" Perintah Elvano melalui telepon genggamnya dengan emosi.


Panji yang mendengar suara Tuannya yang sedang emosi pun langsung melajukan mobilnya ke lobby mall, Elvano dan Kanaya sudah berdiri menunggunya di sana. Wajahnya terlihat sangat gusar sdhingga ia pun menelan ludah.


"Cepat Masuk!" Perintah Elvano pada Kanaya sambil ia membuka pintu mobil.


Kanaya pun masuk dengan wajah pucat, melihat kemarahan Elvano.


"Cepat jalan!" Seru Elvano pada Panji, dan Panji pun melajukan mobilnya. Baru beberapa menit berjalan, Elvano menyuruh Panji untuk menghentikan mobilnya.


"Berhenti di depan dan Panji keluar!" Perintah Elvano dengan nada gusar. Panji pun menuruti perintah Tuannya dan keluar dari mobil setelah menepikan mobil itu di tanah kosong di pinggir jalan.


"Kau ini benar - benar tidak tahu di untung, Kanaya! Aku berusaha berbuat baik padamu, tapi apa yang aku terima?" ujar Elvano dengan sangat marah setelah Panji keluar dari mobil.


"Kak Elvano, kamu tidak pernah membutuhkanku, tapi kenapa tidak kamu ceraikan saja aku?" Pinta Kanaya lagi.


"Sudah aku bilang berkali - kali Kanaya, AKU TIDAK AKAN MENCERAIKANMU!" Ujar Elvano sambil memegang rahang Kanaya dengan kencang kemudian menghempaskannya.


"Kenapa Kak Elvano? Kenapa kamu tidak mau menceraikan aku? Aku.. aku tidak berarti apa - apa untukmu. Kamu bahkan tidak menggangap aku istrimu, Kak Elvano!" tanya Kanaya dengan nada suaranya sedikit emosi.


"Karena aku ingin membuatmu menderita Kanaya! Kamu telah membunuh Devita, dan aku tidak ingin melihatmu bahagia! Itu sebabnya!" Ujar Elvano memberitahukan alasan sebenarnya melakukan itu semua pada Kanaya dengan emosi.


"Kak Elvano, sungguh aku tidak tahu dari mana kamu mendapatkan informasi itu, tapi aku tidak membunuh Kak Devita. Aku sangat menyayangi Kak Devita, seperti juga kamu," ujar Kanaya mencoba menyadarkan Elvano.


"Bohong kamu Kanaya! Maya melihat kamu melepaskan tanganmu darinya. Kamu sengaja membunuh Devita!" Ujar Elvano.


Sekelebat bayangan Devita yang terlepas dari tangannya hadir di benakknya dan membuat Kanaya berhenti bernafas sejenak, mengingat kembali kejadian tragis yang di lihatnya dengan mata kepalanya Sendiri. 'Bagaimana mungkin Elvano berpikir aku mbunuh saudara kembarku sendiri? Maya? Jadi semua ini Maya biang keladinya.' Batin Kanaya.


"Kak Elvano, kalau aku mengatakan bahwa aku tidak membunuh Kak Devita, apakah kamu lebih mempercayai Maya dari pada aku?" tanya Kanaya sambil memandang Elvano.


"Apakah dia bisa membuktikan kalau aku sengaja membunuh Kak Devita?" tanya Kanaya lagi pada Elvano.

__ADS_1


"Dia memang tidak bisa membuktikannya Kanaya,tapi bukankah kamu membenci Devita karena aku ingin menikahinya dan bukan kamu? Kamu bahkan menyuruh Devita membatalkan pernikahannya denganku!" Ujar Elvano


Aku menyuruh Kak Devita. Batin Kanaya heran.


"Dan Maya yang mengatakan itu semua padamu?" tanya Kanaya.


"Bukan urusanmu siapa yang mengatakannya!" Ujar Elvano tidak mengakui jika Maya yang telah memberitahunya.


"Dan lihatlah siapa yang bersikukuh ingin menikahimu, Kak Elvano...." Ujar Kanaya tersenyum sambil getir dan menggelengkan kepala.


"Kanaya, jangan menjadikan Maya sebagai kambing hitam karena kamu tidak suka aku menikahi Maya! Maya mengandung anakku!" Ujar Elvano.


'Apa? Aku menjadikan Maya kambing hitam? ' Batin Kanaya dan ia pun tertawa.


Ya Tuhan, ini sungguh menggelikan!


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Elvano heran.


Kanaya berhenti tertawa dan menghela napas.


"Mungkin akan aku lakukan!" Ujar Elvano dengan ketus.


"Panji, pulang!" Perintah Elvano sambil membuka jendela di sisinya.


"Dengar Kanaya! Sekali lagi kamu mengucapkan kata cerai, kamu akan tahu akibatnya!" Ancam Elvano dengan pandangan tajam. Setelah itu mereka berdua diam tidak ada yang berbicara.


Sesampainya di rumah, Elvano langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan melewati begitu saja Maya yang berpapasan di ruang tamu.


"Elvano... Elvano.." panggil Maya yang sedari tadi mencari Elvano, karena Elvano pergi tanpa sepengetahuannya dan tidak pula mengangkat telepon darinya.


Maya pun bertambah gusar melihat Kanaya turun dari mobil yang di tumpangi Elvano dan membawa sebuah shopping bag jam tangan merek terkenal.


"Darimana kamu?" tanya Maya dengan judes.

__ADS_1


"Bukan urusanmu, Maya!" Jawab Kanaya dengan acuh sambil melewati Maya. Tidak ada gunanya ia berbaik hati pada Maya, karena Maya lah yang selama ini telah menyebarkan berita bohong pada Elvano dan telah mempengaruninya.


Maya sangat kesal, karena Elvano mengacuhkannya hari itu dan malah pergi bersama Kanaya. Ia pergi menemui lisda di cafe.


***


"Eh, apa yang kamu lakukan Maya!" Sergah Lisda saat Maya mau mengambil putung rokok yang di pegang oleh Lisda dan ingin menghisapnya.


"Kamu sedang hamil, Maya!" Ujar Lisda. Mengingatkan untuk tidak merokok.


Padahal Lisda saja hendak mematikannya saat Maya datang.


"Biarlah, aku sangat membutuhkannya!" Ujar Maya dengan kesal, sambil menghembuskan asap dari mulutnya, kemudian meminum gelas wine milik Lisda.


"Kau ini kenapa lagi? Kau sudah hamil anak dari Elvano dan beberapa hari lagi akan menikah. Bukankah Elvano sudah berada dalam genggamanmu? Harusnya kau sedang bersenang - senang dan tidak cemberut seperti ini!" Ujar Lisda heran dengan kegelisahan Maya.


"Si Kanaya sialan itu! Kenapa ia selalu mengekori Elvano? Aku heran, kenapa Elvano tidak menyingkirkannya saja dari dulu, dan kenapa justru menikahinya? Huuuh" decak Maya kesal.


Ia benar - benar kesal dengan Kanaya. Ia tidak menyangka jika Kanaya akan bertahan selama ini. Tadinya ia mengira Kanaya akan menggila atau bahkan bunuh diri setelah apa yang telah terjadi dengannya. Tetapi rupanya perempuan itu kuat juga. Batin Maya.


"Jangan - jangan Elvano sudah jatuh cinta padanya!" Celetuk Lisda.


"Diam Kau!" Bentak Maya pada mulut kurang ajar temannya itu.


"Sekali lagi kau mengatakan itu. Ku pecat kau jadi temanku!" Ancam Maya dengan kesal. Dan Lisda terkekeh.


"Tenanglah Maya, aku hanya bercanda," ujar Lisda dengan tersenyum canggung. Dalam hatinya ia pun mengakui sulit bagi Maya untuk mendapatkan Elvano sepenuhnya jika masih ada Kanaya di samping Elvano, sehingga bukan tanpa alasan ia mengatakan jika Elvano mungkin sudah jatuh cinta pada Kanaya.


Perempuan baik - baik dan sabar seperti Kanaya bisa memikat siapa pun laki - laki yang bisa melihat ketulusan hatinya. Apalagi penampilan Kanaya saat ini tidaklah mengecewakan.Bahkan memiliki kecantikan alami, meskipun tanpa polesan di wajahnya.


"Aduh!" Teriak Maya tiba - tiba sambil memegangi perutnya. Maya tiba - tiba merasa sakit dan kram di bagian bawah perutnya.


"Kau tidak apa - apa, Maya?" tanya Lisda dengan mimik wajah khawatir.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2