
Devan pun heran di mana laki - laki itu pernah bertemu dengan Kanaya.
"Abian, dimana kamu kenal dengannya?" tanya Austin padanya.
Abian? Seketika Kanaya ingat saat Elvano pernah tiba - tiba mengajaknya makan siang untuk bertemu rekan bisnisnya. Abian, ya. Pria yang ada di hadapannya adalah salah satu rekan bisnis Elvano.
"Ibu Kanaya adalah Istri Pak Yohanes Elvano Alvarendra, kami pernah bertemu saat saya sedang membicarakan bisnis dengan suaminya," ujar Abian.
Seketika wajah Kanaya menjadi pucat.
"Ay. Apa kamu baik - baik saja?" tanya Devan dengan khawatir.
"Ya...Ya, aku baik - baik saja," jawab Kanaya dengan gugup.
"Abian, lihat kau membuatnya gugup," ujar Austin.
"Maaf, Ibu Kanaya. Saya tidak bermaksud membuat Ibu gugup," ujar Abian dengan rasa bersalah.
"Saya tidak apa - apa, Pak Abian." ujar Kanaya sambil tersenyum. Ia mulai bisa menguasai dirinya.
"Apa kabar, Pak Abian?" tanya Kanaya dengan sopan.
"Baik, apa Ibu Kanaya yakin baik - baik saja?" tanya Abian lagi.
"Ya," jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Jadi Ibu Kanaya kenal dimana dengan Pak Devan?" tanya Abian yang terlihat penasaran.dengan hubungan Kanaya dan Devan.
"Devan adalah sahabat saya sejak kecil," jawab Kanaya.
"Oh, ya, ya. Saya baru ingat kalau Pak Devan berasal dari kota D." ujar Abian.
"Ngomong - ngomong, Pak Elvano tidak ikut, Ibu?" tanya Abian.
__ADS_1
Kanaya terdiam.
"Kanaya ini sedang dalam proses perceraian dengan suaminya, Pak Abian. Dan dia meminta saya untuk menjadi penasehat hukumnya." ujar Devan menjawab untuk Kanaya.
"Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi," ujar Abian merasa tidak enak.
"Tidak apa Pak Abian, memang hal itu harus terjadi," jawab Kanaya.
"Ah, Kalian sudah sampai rupanya!" ujar seorang laki - laki bertubuh gagah dan karismatik dengan suara besar maskulin, berjalan ke arah mereka sambil menggendong seorang bayi laki - laki yang tampak menggemaskan. Di sampingnya seorang wanita cantik berjalan mendampinginya.
"David, kemana saja kalian?" tanya Austin sambil menjabat tangan David yang baru datang kemudian meraih Brayen, bayi laki - laki yang sedang di gendong David.
"Come with uncle Austin," ujar Austin dengan mimik wajah yang lucu pada Brayen, keponakannya itu.
Abian dan Devan pun bersalaman dengan David dan wanita yang ada di sampingnya.Setelahnya Abian bergabung dengan Austin untuk bermain dengan Brayen, keponakannya juga.Karena Abian adalah adik tiri dari Alexander David Mahendra.
"Pak David, Bu Rena.Ini Kanaya sahabat saya.Ay, ini Pak David dan Ibu Rena," ujar Devan memperkenalkan mereka.
"Baik, Bu. Saya sangat senang sekali bertemu dengan Ibu dan Bapak," ujar Kanaya.
"Dan saya ingin berterima kasih atas bantuan Bapak dan Ibu, tempo hari," ujar Kanaya lagi.
David dan Rena tersenyum.
"Tidak usah berterima kasih, Mbak Kanaya. Devan sudah saya anggap sebagai teman saya sendiri, dan saya tidak akan segan - segan membantu teman yang sedang kesulitan." ujar David pada Kanaya.
"Ternyata memang benar apa yang dikatakan Devan ya, Ren. Mereka ini memang mirip sekali dengan kita," ujar David dengan Istrinya sambil tersenyum.
Kanaya mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang di katakan David. Sedangkan Devan merasa kikuk dan memegang tengkuknya.
"Pak David bisa saja," gumam Devan untuk menghilangkan rasa kikuknya. David dan Rena tersenyum kecil melihat ke kikukkan Devan.
"Ayo di icipi makanannya. Kita makan siang santai saja, kebetulan memang kami sedang berkumpul bersama keluarga," ujar Rena sambil meraih lengan Kanaya dan mengajaknya berjalan menuju meja buffet yang menyediakan kudapan - kudapan yang tampak lezat.
__ADS_1
Kanaya dan Rena mengambil masing - masing satu dan menyantapnya.
"Bagaimana kabarmu, Mbak Kanaya?" tanya Rena sambil tersenyum pada Kanaya.
Kanaya memandang sekilas wajah Rena.Ia yakin bahwa Rena sudah mengetahui perihal dirinya dan juga Elvano dari Devan.
"Saya.. merasa lebih baik sekarang," jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Saya tahu yang Mbak Kanaya alami pasti sangat berat, tetapi Mbak Kanaya harus tetap kuat dan yakin kalau semua itu pasti akan berakhir dengan baik. Pesan saya, persiapkan diri Mbak Kanaya dengan baik dan pikirkan dengan baik segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan," ujar Rena dengan tersenyum.
"Baik Bu, akan saya ingat pesan, Ibu," ujar Kanaya sambil mengangguk.
"Ayo kita bergabung dengan yang lainnya," ujar Rena sambil mengajak Kanaya berkumpul bersama yang lainnya di dekat kolam renang.
Rena memperkenalkan Kanaya kepada keluarganya yang lainnya dan Kanaya merasa sangat di terima di rumah itu. Ini kali pertama ia menghadiri acara keluarga yang ia merasa benar - benar di terima di dalamnya.
"Ibu Rena dan Pak David sangat baik," ucap Kanaya saat mereka sedang dalam perjalanan pulang kembali ke rumah.
"Ya, sepertinya Ibu Rena sangat senang sekali bertemu denganmu," ucap Devan dan Kanaya tersenyum.
Devan melihat jam tangannya.
"Waktu masih panjang, Ay. Kamu mau lihat - lihat kota?" tanya Devan.
"Ya.. apa ada yang menarik?" tanya Kanaya sambil menoleh ke arah Devan.
"Mungkin," jawab Devan sambil mengemudikan mobilnya.
Mereka berjalan - jalan mengelilingi kota dengan mobil Devan. Sesekali Devan menujukkan beberap tempat dan menyebutkan nama - namanya kepada Kanaya. Kemudian Devan memasuki jalan tol dan melajukan kendarannya.
"Kita mau kemana, Devan?" tanya Kanaya sambil melihat keluar jendelanya. Saat mobil mereka melawati sawah - sawah yang terhampar di pinggir kanan dan kiri jalan bebas hambatan yang mereka lalui.
Jangan lupa like, komen dan vote
__ADS_1