
"Aku rasa kamu sudah mengerti. Baiklah, ayo kita segera kembali kedalam." ujar Elvano sambil merangkul Kanaya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ingat kita harus tunjukkan kalau kita adalah pasangan yang bahagia!" ujar Elvano lagi dengan tatapan yang mengancam. Dan lagi - lagi Kanaya hanya bisa mengangguk.
"Kalian tampak sangat serasi," ujar Luna saat melihat Kanaya dan juga Elvano memasuki rumah dengan berangkulan.
Elvano tersenyum sembari mencengkram lengan Kanaya yang ada di rangkulannya, untuk mengingatkan Kanaya agar tersenyum bahagia.
Kanaya pun memaksakan sebuah senyuman demi orang tuanya dan keluarga Devan.
"Mah, Pah, Om, dan Tante, Kanaya telah bersedia menikah dengan Elvano," ujar Elvano dengan ekspresi wajah yang bahagia.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut tersenyum bahagia mendengarkan ucapan Elvano, dan mereka pun mengucapkan selamat pada Elvano dan juga Kanaya.
Elvano mengecup kening Kanaya dan memandangnya dengan rasa sayang. Kanaya sampai terheran - heran melihat Elvano sangat pandai bersandiwara.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Sean tiba - tiba.
"Kami tidak ingin menunggu terlalu lama, Pah. kami rasa minggu depan adalah waktu yang paling tepat," jawab Elvano mewakili dirinya dan Kanaya.
Kanaya tercengang. namun cengkraman kuat di lengannya membuatnya kembali tersadar dan segera tersenyum.
"Apa kalian yakin?" tanya Ratna yang sangat terkejut mendengar jawaban Elvano. Ratna sebagai ibu dari Kanaya pastilah yang paling di repotkan oleh suatu acara pernikahan. Dan ia tidak yakin jika persiapan yang hanya seminggu akan cukup waktunya. Apalagi Kanaya adalah anak mereka satu - satunya.
"Om dan Tante tidak usah khawatir, kami sudah mempersiapakan segala sesuatunya," ujar Elvano sambil menatap Kanaya dengan penuh kemenangan.
Setelah kepulangan keluarga Alvarendra, Kanaya bergegas ke arah kamarnya di lantai 2, tetapi Ratna memanggilnya tepat sebelum ia membuka pintu kamarnya.
"Kanaya, ada yang mau Mama tanyakan?" ujar Ratna pada Kanaya sambil berjalan mendekati Kanaya.
"Ada apa Ma?" tanya Kanaya sambil memandangi wajah tak menentu mamanya.
"Mama pikir kamu tidak ada hubungan apa - apa dengan Elvano selama ini, bukankah kamu kemarin mengatakan jika sudah lama tidak berhubungan dengan Elvano?" tanya Ratna dengan penuh selidik di depan pintu kamar Kanaya.
Walaupun Ratna merasa senang jika Elvano melamar Kanaya, tetapi ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan lamaran Kanaya, apalagi dengan permintaan pernikahan yang sangat mendadak dan terkesan tanpa persiapan.
__ADS_1
"Mmm... iya Mah, Kanaya minta maaf. Sebenarnya, Kanaya mulai berhubungan dengan Elvano sejak sebulan yang lalu. Kami sengaja merahasiakannya agar Mama dan Papa tidak khawatir," ujar Kanaya berbohong. Ratna memandangnya antara percaya dan tidak percaya.
Ratna sangat mengenal Kanaya dan ia paham betul jika anaknya tidak suka berbohong. Dan baru saja ia mengakui. Jika ia berhubungan dengan Elvano secara sembunyi - sembunyi, sudah satu bulan lamanya. Sepertinya apa yang di katakan Kanaya sangat tidak masuk akal.
"Kanaya, Maaf bila Mama menanyakan ini, apa kamu sedang hamil?" tanya Ratna sambil melirik ke arah perut rata Kanaya.
"Nggak Mah, Kanaya itu nggak hamil," jawab Kanaya cepat - cepat.
'Ya ampun kenapa Mama bisa berpikiran begitu? ' Batin Kanaya dengan wajah memerah karena malu.
"Ay, ada apa sebenarnya? kamu bisa bilang sama Mama," tanya Ratna yang belum mendapat jawaban yang di inginkan.
Kanaya teringat ancaman Elvano jika sampai ia mengatakan pada orang tuanya, Nyawa Devan dan juga Bundanya akan terancam.
"Nggak ada apa - apa Ma" jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Kanaya istirahat dulu ya Mah, Kanaya capek sekali dari tadi pagi sudah keluar rumah," ujar Kanaya beralasan.
Ratna sebenarnya ingin bertanya banyak hal pada Kanaya, akan tetapi di urungkan niatnya melihat wajah letih anak gadisnya itu."
"Istirahatlah Ay, kalau butuh apa - apa, Bunda ada di bawah," ujar Ratna setelah itu mengecup kening Kanaya dan berbalik ke lantai dasar.
"Ya Tuhan, kenapa Elvano harus melakukan ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin membuat Devan dan Bunda celaka. Dan kedua orang tuaku sangat membutuhkan investasi dari Elvano." gumam Kanaya bimbang.
Kanaya mencoba memikirkan kenapa Elvano bisa melakukan hal seperti itu. Yah.. Kanaya memang tidak menyangkal kalau ia masih sangat tertarik pada Elvano, dan menikah dengan Elvano adalah keinginannya sejak dulu. Tetapi kenapa Elvano harus menikahinya dengan cara seperti itu. Jika Elvano memang tidak mencintainya dan justru masih mencintai Devita kakaknya. Lalu kenapa harus sekarang Elvano bersikukuh untuk menikahinya padahal Elvano sendiri tidak mencintai dirinya?. Sedang memikirkan hal itu, tiba - tiba Devan menghubunginya ia melakukan panggilan vidio call.
Kanaya mengangkat panggilan video call dari Devan setelah ia mulai membenahi penampilannya wajahnya.
"Hallo Ay!" sapa Devan sambil tersenyum menghadap kamera hand phonenya. Terlihat Devan sedang berada di ruang kerja gedung perkantoran.
"Van, Kamu udah sampai ya?" tanya Kanaya sambil tersenyum dan beranjak dari duduknya di lantai kamar dan naik di atas ranjang.
__ADS_1
"Udah dari tadi Ay, tapi aku langsung ke firma hukum Asegaf star dan sudah berbicara dengan Pak Hazel Asegaf Ramadhan sendiri!" ujar Devan dengan tersenyum lebar. Terlihat ia senang dengan apa yang di alaminya hari itu.
Ya...., Hazel Asegaf Ramadhan adalah seorang pengacara yang sangat terkenal, bisa berbicara dan bercakap - cakap degannya. Pastilah kesempatan yang sangat langka. Dan Devan sebagai karyawan baru mendapatkan kesempatan seperti itu.
"Oh ya?" tanya Kanaya ikut senang dengan kebahagiaan Devan.
"Iya Ay, aku berbicara dengannya selama berjam - jam dan mengikutinya ke persidangan hari ini! itu sebabnya aku belum meneleponmu," ujar Devan sambil memandang wajah Kanaya di layar Handphonenya.
"Gak ada apa - apa Van. Aku.. aku juga sangat sibuk di kampus siang tadi," jawab Kanaya.
"Bagaimana dengan ijazahmu? Apa sudah beres?" tanya Devan dengan antusias.
"Sudah aku urus semuanya. dan besok sudah bisa kuambil." jawab Kanaya.
"Syukurlah. Bagaimana kalau besok kamu menyusul kesini? Kamu pasti akan sangat suka berada di sini, Ay? Dan aku juga bisa langsung pesankan tiket pesawat untukmu" ujar Devan dengan penuh harap.
Kanaya memandangi wajah Devan yang sangat bersemangat di layar handphone nya. Ia pun ingin rasanya pergi bersama Devan di kota B. Melihat tempat kerja Devan yang baru, dan berkeliling ke kota B yang ia belum pernah datangi. 'Pasti akan sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama Devan disana,'
ucap Kanaya dalam batin.
Tapi lagi - lagi ia teringat hari pernikahannya dengan Elvano minggu depan dan banyak hal yang harus di persiapkannya.
"Aku....Aku..nggak bisa Van, maaf," ujar Kanaya menanggapi ajakan Devan untuk menyusulnya ke kota B.
Devan tertegun, menunggu penjelasan dari Kanaya.
"Aku...aku harus menemani Papa beberapa hari ini di perusahaan," ujar Kanaya berusaha menahan emosinya untuk tidak menangis.
"Oh... aku pikir, Papahmu membolehkan kamu untuk bekerja di tempat lain, Ay," gumam Devan ragu. Terlihat jelas Devan kecewa dengan apa yang di dengarnya.
"Sepertinya Papah berubah pikiran. Aku...harus membantunya... disini," ujar Kanaya.
Ucapannya memastikan bahwa ia tidak akan ikut Devan pindah dan mencari kerja di kota B.
__ADS_1
Mereka berdua hanya terdiam dan hanya saling pandang melalui layar telepon genggamnya masing - masing.
Jangan lupa like komen dan vote.