
**Hay... hay kalian yang mau baca Bab ini, jangan lupa tinggalkan jempolnya dong untuk author ya๐Kalau ada bunga mawar juga boleh.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท Khusus Bab ini, author bikin ceritanya agak panjang loh.. jadi jangan lupa kasih sajennya buat author ya, biar author lebih semangat lagi buat nulis, oke..oke๐
Happy Reading....๐ค**
Ke esokan paginya Elvano bangun dengan tersenyum tersungging di bibirnya. Meskipun baru tidur beberapa jam saja, ia merasa sangat senang akan apa yang terjadi tadi malam. Meskipun ia sudah tidak memiliki Kanaya lagi, akan tetapi, ucapan Devan yang mengatakan ia sudah menjadi bagian dari keluarga mereka dan nama depannya di sematkan dalam bayi cantik mungil itu, membuatnya tersenyum.
Ia ingin menceritakan betapa senangnya ia pagi itu kepada sahabatnya Adella.
Elvano mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Adella. Sejak kemarin ia belum berbicara dengan Adella. Ia terakhir bertemu dengannya dua hari yang lalu saat mereka menghadiri Gala Dinner. Seharian ini Adella tidak mengangkat teleponnya. Dan pagi ini pun tampaknya sama, ia tidak mengangkat teleponnya. Apakah Adella masih marah padanya karena Elvano mengaku menjadi pacarnya di depan Frans?
Setelah beberapa kali mencoba menghubunginya, Adella tidak mengangkat teleponnya. Elvano pun berinisiatif mendatangi Adella di apartemennya.
Setelah mandi ia mengendarai sendiri mobilnya menuju ke apartemen Adella. Dalam perjalanan ia mampir untuk membeli sebuah buket bunga sebagai permintaan maafnya pada Adella.Meskipun ia merasa yang di lakukannya untuk kebaikan Adella, namun ia tahu telah menyakiti perasaannya.
Di depan pintu kamar Adella, ia memencet bel tak lama kemudian Adella membukakan pintu.
"Selamat pagi..." senyum Elvano menghilang setelah melihat mata sembab Adella yang berdiri di hadapannya.
"Mau apa Elvano?" kata - kata pertama yang di ucapkan Adella padanya.
"Aku mau minta maaf," ujar Elvano sambil menyodorkan buket bunga di tangannya dan memperhatikan wajah Adella yang tertunduk.
Adella menerima buket bunga itu dan berjalan masuk ke dapurnya, menolak untuk menatap Elvano.
"Adella, ada apa?" tanya Elvano, sambil ia masuk ke dalam apartemennya.
Adella menggeleng, sambil menaruh bunga pemberian Elvano dalam vas dan berkata, "tidak ada apa - apa,"
"Lalu kenapa kamu menangis? Kamu masih marah padaku?" tanya Elvano sambil mendekati Adella.
"You jerk!" Umpat Adella, saat ia ingat apa yang Elvano lakukan, tapi jelas itu yang bukan membuatnya menangis.
Elvano memutar bola matanya, kemudian memperhatikan Adella yang kembali muram dan tertunduk.
"Dia ada di sini?" tanya Elvano, sambil memperhatikan sekeliling apartemen Adella dan mulai berjalan berkeliling mencari Frans.
"Frans! Keluar kau" Teriak Elvano, sambil berjalan ke arah kamar Adella.
"Elvano, apa yang kamu lakukan!" Teriak Adella, sambil mengejar Elvano, tetapi Elvano sudah masuk ke dalam kamarnya.
Ternyata Elvano tidak menemukan siapa pun di kamar Adella.
"Keluar Elvano!" Seru Adella menyuruh Elvano keluar dari kamarnya. Ia tampak sangat marah saat Elvano masuk ke dalam kamarnya.
"Chill out Adella! Kalau tidak ada apa - apa, kamu tidak perlu marah. Ada apa?" tanya Elvano.
"Keluar Elvano!" Seru Adella, sambil menarik Elvano keluar dari kamarnya, membuat Elvano curiga.
' jangan - jangan memang ada Frans! Tapi bersembunyi dimana dia?' batin Elvano.
Mata Elvano menyisir isi seluruh kamar Adella, sambil Adella menariknya menuju pintu kamar dan mata Elvano menatap ke arah pintu kamar mandi di dalam kamar itu. Dengan Mudahnya Elvano melepaskan pegangan tangan Adella dan berjalan cepat menuju ke arah kamar mandi.Adella mengejarnya, berusaha menghentikan Elvano masuk ke dalam kamar mandi.
'Frans pasti ada disana!' Batin Elvano.
"Elvano!" Teriak Adella.
Elvano tidak peduli dengan teriakan dari Adella, dan ia pun membuka pintu kamar mandi itu.
Frans tidak ada di sana! Lalu dimana dia?
__ADS_1
Dalam terkejutnya tidak menemukan Frans, Elvano melihat sesuatu di atas meja wastafel dan mengambilnya. Ia sangat terkejut saat mengetahui apa yang ada di tangannya.
Secepat kilat Adella merebut benda itu dari tangan Elvano dan menyembunyikannya di balik badannya. Tetapi ia terlambat karena Elvano sudah melihatnya.
"Dell... kamu?" tanya Elvano dengan sangat terkejut.
*****
"Alo au sun, Dede," pinta Alvaro pada Devan. Agar ia menurunkannya di ranjang bayi Clara sambil menunjuk adiknya yang baru saja selesai mandi dan berpakaian
Devan yang menggendong Alvaro pun menurunkannya tak jauh dari baby Clara agar Alvaro dapat mengecup sayang adiknya itu.
Sebulan sudah usia baby Clara, dan Alvaro memang sangat menyayangi adik kecilnya itu, begitu ia tahu Bundanya telah melahirkan. Ia bahkan tidak segan - segan untuk menjaga adiknya itu setiap saat Bundanya membutuhkan bantuannya.
Kanaya dan Devan tersenyum melihat Alvaro menciumi wajah adiknya dengan tanpa ampun.
"Sudah Kak, adek mau minum susu dulu," ujar Kanaya saat melihat Clara mulai merengek karena kakaknya menciumi wajahnya terus - menerus.
"Dede, minum cucu Unda ya?" tanya Alvaro yang selalu memperhatikan adiknya saat tengah minum ASI.
"Iya, dulu Alvaro juga minum susu Bunda," ujar Devan sambil mengangkat Alvaro dari ranjang bayi Clara.
Alvaro terperangah dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia terkejut saat Ayahnya mengatakan ia dahulu minum susu Bundanya. Sepertinya ia tidak ingat sama sekali.
Tingkah Alvaro, membuat Devan dan Kanaya tertawa kecil, melihat kepolosan anak mereka.
"Alo, kok nda inget, Unda... emang cucu Unda enak?" tanya Alvaro pada Bundanya dengan tatapan polosnya.
Devan dan Kanaya menahan tawanya mendengar pertanyaan Alvaro.
"Coba tanya Ayah," ujar Kanaya mengalihkan pertanyaan ke Devan, sambil ia menyusui Clara di sofa kamar itu.
"Ayah mimi cucu Unda uga?"tanya Alvaro sambil membelalakan matanya, benar - benar terkejut, bahwa Ayahnya yang bukan anak kecil masih meminum susu Bundanya.
"Nggak... Ayah nggak minum susu Bunda... hmmm... tapi pasti susu Bunda enak! Kalau nggak enak apa Alvaro dan Dede mau minum susu Bunda?" ujar Devan, menjawab dengan penuh harga diri, sambil melirik pada Kanaya dengan tatapan nakalnya, seakan - akan bicara pada Kanaya 'Awas ya, Yang. Nanti malam....' membuat Kanaya memerah wajahnya.
Sedangkan Alvaro yang tidak mengerti apa yang terjadi antara Ayah dan Bundanya, terlihat berpikir, kemudian mengangguk menyetujui ucapan Ayahnya.
"Pak, Bu.... di bawah ada Pak Elvano datang?" ujar Marsih yang tiba - tiba datang memberitahu jika Elvano datang bertamu.
Elvano memang sudah mengatakan akan datang pagi itu untuk mengajak Alvaro jalan - jalan ke taman hiburan.
"Yang, kamu turun duluan ya. Aku masih mau menyusui Clara, sebentar lagi aku turun," ujar Kanaya sambil menoleh kepada Devan.
"Oke, aku duluan ya, Yang? Ini tasnya Alvaro ya?" tanya Devan, sambil mengambil sebuah tas yang sudah di siapkan oleh Kanaya yang berisi kebutuhan Alvaro.
"Iya Yang, kasih aja ke Kak Elvano," ujar Kanaya.
Devan dan Alvaro pun turun terlebih dahulu menemui Elvano. Dan ternyata Elvano tidak sendirian ia datang bersama dengan Adella.
"Elvano, Adella, maaf menunggu lama. Kanaya masih di atas sedang menyusui Clara, sebentar lagi dia turun," ujar Devan menyalami Elvano dan Adella.
"Alvaro, salim sama Om dan Tante," ujar Devan sambil menurunkan Alvaro dari gendongannya dan Alvaro pun berjalan mendekati Elvano.
Elvano seperti biasa langsung memeluk cium Alvaro dengan hangat dan berkata, " Alvaro, ini Tante Adella, teman Om Papa."
"Hallo, namanya siapa? Kenalan dong.." sapa Adella sambil mengulurkan tangannya pada Alvaro.
"Alo tante," sahut Alvaro sambil mencium tangan Adella.
"Alvaro pinter ya, Tante punya sesuatu untuk Alvaro," ujar Adella sambil mengambil sebuah kotak mainan di dekatnya dan memberikannya pada Alvaro. Alvaro melihat satu kotak mainan berisi satu set kendaraan kontruksi berwana kuning dan matanya langsung berbinar seiring tangannya meraih mainan tersebut.
__ADS_1
"Telima acih tante," ujar Alvaro, sambil memperhatikan kotak mainan itu.
"Alvaro suka?" tanya Adella, dan di balas anggukan oleh Alvaro.
"Bagaimana Elvano, kamu jadi pindah ke kota B?" tanya Devan sementara Alvaro bermain bersama dengan Adella di sofa di sebelah Elvano, dan Siti membawakan dua gelas teh hangat untuk Adella dan Elvano.
"Jadi. Rencananya minggu depan. Aku sudah mulai pindah," jawab Elvano.
"Lalu, usaha yang ada di kota D?" tanya Devan.
"Masih jalan, tetapi aku hanya memantaunya saja dari sini," jawab Elvano.
"Hebat Elvano, semoga semakin sukses," puji Devan denga tulus.
"Terima kasih, kamu juga Van. Semoga semakin berjaya Firma Hukummu. Aku juga akan membutuhkan bantuanmu kedepannya untuk mengurus masalah legalku," ujar Elvano.
"Ah, tentu saja Elvano. Tinggal hubungi saja aku," jawab Devan sambil tersenyum.
"Oh, Ada Tante Adella rupanya," ujar Kanaya yang baru turun dari lantai dua. Sambil menggendong baby Clara di tangannya.
"Kanaya, apa kabar? Maaf aku baru bisa menengok bayimu," sapa Adella, sambil menghampiri Kanaya, cipika, cipiki dan memperhatikan baby Clara di gendongan Kanaya.
"Apa kabar, Ay?" tanya Elvano sambil menyalami Kanaya. Ia memang sudah beberapa minggu tidak bertemu dengan Kanaya dan juga Devan, karena saat ia kesana menjemput Alvaro, Kanaya dan juga sedang tidak ada di rumah.
"Baik, Kak El." jawab Kanaya. Awalnya Kanaya sempat terkejut melihat Elvano datang bersama Adella, namun melihat Elvano dan Adella tampak sangat dekat satu sama lain, ia pun ikut senang. Apalagi Adella terlihat seperti perempuan baik - baik. Mungkin itu tujuan Elvano mengajak Adella, agar mengenal Alvaro terlebih dahulu.
Adella tersenyum melihat baby Clara sehingga Kanaya menawarkannya untuk menggendong Clara.
"Bolehkah?" tanya Adella.
"Ya. Pegang seperti ini," ujar Kanaya mengajari Adella cara menggendong seorang bayi, dan Adella pun langsung mempraktekannya. Entah mengapa air mata Adella langsung mengalir sambil ia tersenyum, dan Elvano pun mengajak Adella untuk duduk di sebelahnya sambil mereka berdua memperhatikan Kanaya. Adella sangat terharu saat menggendong baby Clara.
"Itu Dede Alo!" Teriak Alvaro tiba - tiba sambil meninggalkan mainannya dan berlari, lalu memanjat sofa dan duduk di pangkuan Elvano, sementara mulutnya langsung mencium pipi adiknya dengan sayang. Semua yang ada di sana tertawa melihat tingkah Alvaro.
Saking sayangnya Alvaro pada adiknya, ia tidak mengerti kalau adiknya itu merasa risih di cium habis - habisan oleh Alvaro. hingga Kanaya pun mengambil Clara dalam gendongan Adella dan menggendongnya.
"Unda, Dede oleh itut Kakak Alo dan Om Papa ndak?" tanya Alvaro yang sudah tahu ia akan pergi bermain dengan Elvano.
"Alvaro, Dede masih terlalu kecil untuk bermain di luar. Nanti kalau Dede sudah tambah besar, baru Alvaro boleh ajak Dede ya?" jawab Kanaya.
"Alo di lumah aja Unda, ndak jadi pelgi," ujar Alvaro sambil memanjat sofa dan duduk, kemudian melipat tangannya di depan dada sambil memanyunkan mulutnya. Ia terlihat sangat lucu saat ngambek, membuat semua yang ada di sana menahan tawanya.
"Lho, emang Alvaro nggaj mau main ke taman? Kan Om Papa sama Tante mau ajak Alvaro main di taman," ujar Devan sambil membujuk Alvaro yang ngambek karena tidak boleh membawa adiknya ikut bermain ke taman.
"Alvaro, Dede Clara kan belum bisa jalan.Bagaimana mau ikut bermain sama Kakak Alvaro. Om janji, nanti kalau Dede Clara udah bisa jalan, Om ajak Dede Clara untuk main sama Alvaro yah." bujuk Elvano juga.
Alvaro menoleh ke arah Elvano "Benel, Om Papa?" tanya Alvaro memastikan janji Elvano.
"Iya, Om Papa janji," ujar Elvano sambil menyodorkan kelikingnya kepada Alvaro. Setelah itu barulah Alvaro mau pergi bersama Elvano dan juga Adella.
Namun sebelum mereka berangkat, Elvano mengeluarkan sesuatu dari tas Adella dan memberikannya pada Devan.
"Devan, Kanaya, aku ingin mengundang kalian ke pernikahan kami dua minggu lagi," ujar Elvano sambil tersenyum.
Devan dan Kanaya saling pandang, tidak menyangka jika secepatnya itu Elvano memutuskan untuk menikah dengan Adella. Mereka pikir Elvano dan Adella belum lama saling mengenal
"Ya, tentu saja Elvano, pasti kami akan datang" ujar Devan yang tersadar lebih dahulu, sementara Kanaya masih memproses apa yang terjadi sambil melihat ke arah Adella dan tersenyum.
Kanaya memang bersyukur Elvano menemukan orang yang ia sayangi, tetapi entah di dasar hatinya yang paling dalam ada sedikit, sedikit saja rasa tidak nyaman dalam dirinya. Apakah ia takut karena Adella akan menjadi Ibu tiri Alvaro dan mengambil posisinya? Bahkan Kanaya tidak tahu tepatnya, apa yang sedang di rasakannya kini.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.