Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Mencari Kanaya


__ADS_3

**Note : Kalau bisa minimal likenya bisa tembus 50 like ya, Syukur - syukur bisa lebih😁 Author bakalan seneng banget tuh, hehehe. Biar besok Author langsung kasih bonus Crazy Up 5 Bab sekaligus. Seneng nggak? Ya seneng lah.... masa nggak😂 Tapi Author nggak maksa kalian kok😊 Kalau berkenan aja ya! Untuk selalu tekan tombol like.. like.. like.. yang banyak yah🤗


Happy Reading semuanya😄**


Kanaya di perbolehkan pulang oleh dokter 4 hari kemudian, dengan melihat kondisinya yang sudah tak semosional saat pertama mendengar kabar kehamilannya. Namun dokter tetap menyarankan pengawasan dari keluarganya.


Kanaya pun hanya tinggal di rumah saja, ia lebih banyak termenung dan tidak banyak bicara. Sepertinya masih sulit untuk menerima anak dalam kandungannya, meskipun ia tidak menolaknya secara agresif, seperti saat di rumah sakit. Kanaya hanya bersikap statis, seakan - akan tidak peduli pada jabang bayi yang ada dalam kandungannya. Pekerjaannya di apartement pun terpaksa di tunda, karena kondisi Kanaya yang belum memungkinkan.


Sore itu dua minggu sudah Kanaya pulang dari rumah sakit. Kanaya sedang duduk di ruang keluarga rumah Devan. Matanya menatap layar televisi di depannya, namun pikirannya sepertinya tidak berada di sana.


"Ay, ini mama buatkan teh hangat dan kue coklat kesukaanmu, di makan Ya?" ujar Ratna yang menghampiri Kanaya dengan membawa secangkir teh hangat dan sepiring kecil cake coklat yang ia buat sendiri.


Kanaya hanya menoleh kepada Mamanya itu tanpa ekspresi dan tidak berbicara sepatah kata pun. Ia melihat cake coklat dan teh yang di taruh Ratna di atas meja dan mengangguk, kemudian menatap televisi di depannya lagi.


"Mamah suapin ya, Ay" ujar Ratna sambil duduk di sebelah Kanaya, saat putrinya itu tidak bergeming.


"Nggak usah, Mah.Nanti, Kanaya makan sendiri," ujar Kanaya sambil menoleh sesaat pada Mamanya lalu menatap layar televisi kembali.


Ratna pun tidak bisa berkata - kata. Ia sangat sedih melihat perubahan sikap putrinya itu.


Ratna berjalan masuk kembali ke dalam, untuk menyiapkan makan malam bersama Siti. Alika saat itu sedang tidak ada di rumah, kebetulan sekali sedang bertemu dengan teman sekolahnya dulu, sehingga di rumah hanya ada Ratna dan Siti.


Kanaya duduk di ruang keluarga itu dengan sangat hampa. Ia bahkan tidak bisa menangkap apa yang sedang di siarkan oleh stasiun televisi yang sudah di pandanginya selama setengah jam terakhir ini.


Entah mengapa suara cicitan burung dari teras depan rumah Devan lebih menarik perhatiannya. Ia pun beranjak berdiri dan keluar melalui pintu depan. Di lihatnya burung itu terbang saat melihat Kanaya keluar dari rumah. Kanaya tidak berpikir apapun saat ia melangkah kan kakinya keluar dari pintu rumah.


Kanaya tidak berpikir apapun, saat ia melangkahkan kakinya keluar dari perkarangan rumah Devan, mengikuti kemana burung itu hinggap. Namun, saat ia telah berada di bawah pohon dimana burung itu hinggap, burung itu terbang semakin tinggi dan meninggalkannya. Dan Kanaya pun berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah.


Lebih dari setengah jam Kanaya sudah berjalan sangat jauh saat ia sampai dia sudah berada di sebuah taman. Taman itu sangat ramai oleh berbagai macam orang. Pemuda dan pemudi yang sedang bercengkrama, atau pun orang - orang yang sedang mencari keringat dengan berlari memutari taman tersebut. Belum lagi ada yang sedang berjalan - jalan pelan di sekeliling taman hanya untuk mencari udara segar dan berinteraksi dengan teman. Kanaya duduk di sebuah bangku taman yang kosong. Ia duduk di sana tanpa tahu harus melakukan apa.


Perlahan pendengarannya mulai menangkap kembali percakapan orang - orang yang berlalu lalang.


"Jangan lupa gue pinjemin buku PR, lo!"

__ADS_1


"Iya, lo juga jangan lupa ya bawakan burger kesukaan gue! Awas lo kalau nggak!"


Terdengar percakapan dua orang siswa sekolah yang sedang melewati Kanaya. Dan juga beberapa percakapan lainnya.


Dug! Tiba - tiba sebuah bola mendarat dan berhenti menabrak kaki Kanaya. Kanaya pun mengangkat bola tiup berwarna merah, kuning dan hijau itu dan menaruh di pangkuannya tanpa ekspresi.


Tiba - tiba seorang anak kecil berusia tiga tahuhan yang terlihat lucu dan menggemaskan mendekatinya dan membuat gerakan meminta bola tiup dengan tangannya


"***... bola..," ucap anak perempuan itu dengan tersenyum dan mengangkat kedua tangannya.


Anak itu tersenyum sangat manis pada Kanaya sehingga membuat hati Kanaya meleleh di buatnya.


Kanaya melihat bola di tangannya dan kembali menatap anak kecil yang ada di hadapannya.


Sementara itu di rumah Devan, Ratna yang teringat pada Kanaya pun berjalan kembali ke ruang keluarga, namun saat ia sampai disana tidak menemukan Kanaya sama sekali.


"Kanaya! Kanaya?!" Panggil Ratna bersamaan dengan Siti. Mencari Kanaya ke sekeliling rumah.


"Siti, bagaimana ini? Tadi Kanaya ada di sana, kemana Kanaya?" tanya Ratna dengan wajah yang sangat khawatir.


Berselang beberapa menit mobil Devan memasuki halaman rumah.


Devan heran melihata Ratna dan Siti ada di luar rumah dengan tatapan kebingungan.


Baru saja Devan memarkirkan mobilnya, Ratna sudah menghampirinya dengan wajah yang hampir menangis dan mengetuk - ngetuk pintu kaca mobilnya.


Devan segera menurunkan kaca mobilnya, melihat raut wajah Ratna dan Bi Siti.


"Ada apa tante?" tanya Devan yang mulai teringat pada Kanaya. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Kanaya.


"Kanaya... Devan, Tante nggak bisa menemukan Kanaya..." ujar Ratna meneteskan air mata. Terlihat sekali ia sangat khawatir memikirkan Kanaya.


"Kanaya kemana tante?" tanya Devan sambil membuka pintu mobilnya dan keluar.

__ADS_1


"Tadi Kanaya di ruang keluarga sedang menonton TV, lalu tante tinggal ke dapur sebentar, pas tante balik ke ruang keluarga lagi Kanaya sudah nggak ada, Devan." ujar Ratna sambil terisak.


"Udah di cari di sekitar rumah?" tanya Devan berusaha untuk tidak panik, meskipun ia sebenarnya sangat panik karena kondisi mental Kanaya yang belum pulih.


"Udah Devan. Tadi Tante dan Siti nyari Kanaya kemana - mana, tapi nggak ada di rumah. Tolong Van, tolong temukan Kanaya." pinta Ratna.


"Tante tunggu di sini, siapa tahu nanti Kanaya pulang.Sekarang Devan sama Siti cari Kanaya dulu yah..." ujar Devan kemudian memanggil Siti untuk ikut bersama dengannya.


"Siti! Kamu bawa handphone kan? Kamu cari kesana! Aku cari ke arah sini!" Ujar Devan sambil menyuruh Siti mencari ke arah kanan dan Devan ke arah kiri.


Devan setengah berlari melihat ke arah kanan dan ke kiri mencari Kanaya sambil memanggil namanya.


"Pak, lihat Mbak ini lewat sini nggak?" tanyanya pada pedagang warung rokok di pinggir jalan sambil memperlihatkan foto Kanaya di ponselnya.



"Ooh, kayaknya tadi lewat sini dan di godain abang ojek itu, dia diam saja!" Ujar tukang warung itu sambil menunjuk tukang ojek yang mangkal tak jauh dari warungnya.


Mungkin kalau Devan tidak sedang panik mencari Kanaya, tukang ojek itu sudah pasti di hajarnya. Namun, fokus Devan hanya untuk mencari Kanaya sehingga di kesampingkan hal itu.


"Dia kearah mana, Pak?" tanya Devan dengan segera.


"Kesana tadi dia jalannya lurus aja," ujar tukang warung itu.


"Makasih Pak," ucap Devan setengah berlari mencari Kanaya.


"Kanaya! Kanayaaa!" Panggilnya sambil melihat ke segala arah.


' Ay, kamu ada dimana Ay?' batin Devan berharap ia bisa menemukan Kanaya.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like komen dan vote.


__ADS_2