
"Alvaro, bangun!" Panggil Kanaya sambil mengguncang - guncangkan pundak Alvaro di atas kasurnya.
"Aoooohmmm...." Alvaro menguap dan membuka matanya.
"Kenapa Bun?" tanya Alvaro melihat Bundanya ada di hadapannya.
"Bangun, kamu kan harus ke sekolah," ucap Kanaya sekali lagi.
Alvaro terlihat masih mengantuk, namun ia beranjak juga dari tidurnya dan duduk di atas kasur
"Alvaro udah bagun, Bun." ujar Alvaro tak ingin Bundanya menunggunya lebih lama.Namun, ia heran Bundanya itu tidak beranjak untuk meninggalkannya seperti biasanya dan malah tetap duduk di pinggir ranjangnya.
"Alvaro, Alvaro bagunin Clara dan Papa Elvano ya?" pinta Kanaya.
Kanaya tidak ingin membangunkan Clara saat ada Elvano tidur bersamanya. Ia merasa enggan dan tidak enak hati karena Elvano bukanlah suaminya lagi.
Ia sebenarnya sudah menawarkan Elvano untuk tidur di kamar tamu tadi malam. Namun, Elvano menolaknya ia bilang ingin tidur bersama Clara. Ia khawatir jika Clara terbangun dan ia tidak ada bersamanya, Clara akan kecewa. Alhasil Kanaya tidak berani membangunkan Clara pagi itu.
"Kenapa nggak Bunda aja yang bangunin Clara. Kan biasanya Bunda yang bangunin?" tanya Alvaro heran.
Meskipun Alvaro berniat menjodohkan Papanya dengan Bundanya, akan tetapi ia tetaplah masih anak kecil yang tidak mengerti rumitnya hubungan seorang laki - laki dan wanita dewasa.
"Bunda.... masih ada pekerjaan pagi ini. Bunda minta tolong Alvaro bangunin Clara ya? Sekalian sama Papa Elvano. Biar nanti kalian tidak terlambat berangkat ke sekolah. Alvaro mau di antar sama Papa kan pagi ini?" ujar Kanaya beralasan.
Alvaro teringat permintaannya tadi malam dan ia tersenyum.
"Iya Bun, Alvaro bangunin Papa dulu ya." ujar Alvaro dengan semangat, sembari turun dari kasurnya dan berlari ke arah ke kamar Clara.
"Ra, bangun!" Teriaknya sambil berlari dan membuka kamar Clara.
"Pah, bangun Pah!" Panggilnya pada Elvano sambil naik ke atas kasur Clara dan mengguncang - guncang pundak Clara dan Elvano.
"Ahh... Kakak!" Rengek Clara karena Alvaro menganggu tidurnya.
Sedangkan Elvano langsung terbangun dan tersenyum, saat ia menyadari ia terbangun pagi itu di tengah - tengah mereka.
"Bangun, Sayang! Udah pagi tuh!" Ujar Elvano membangunkan Clara.
__ADS_1
Mendengar suara Elvano, Clara langsung membuka matanya.
"Papah, nginep sini?" tanya Clara dengan mata membelalak, terkejut sekaligus senang. Ia baru teringat jika ia meminta Elvano untuk tidur bersamanya.
"Iya Princess ayo sana mandi, nanti Papa anterin ke sekolah," ujar Elvano.
"Ayo Ra, cepat mandi! Kakak juga mau cepet mandi!" Ujar Alvaro sambil menarik adiknya itu untuk turun dari kasur.
Kanaya berdehem di depan pintu kamar Clara. Mereka bertiga langsung menoleh ke arah Kanaya.
"Ayo Clara mandi dulu," ujarnya sambil masuk dan menyiapkan pakaian seragam Clara.
Clara pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Papah, jangan pergi dulu ya. Nanti, anterin Clara dan Kakak ke sekolah. Janji ya Pah!" Ujar Clara sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya, nanti Papa anter ke sekolah sayang," jawab Elvano sambil tersenyum.
"Alvaro juga mau mandi, Bun!" Ujar Alvaro sambil berlari ke arah kamarnya meninggalkan Kanaya dan Elvano di kamar Clara.
"Kak El, baju kamu untuk kerja...." Kanaya ragu untuk bertanya jika Elvano mau memakai pakaian kerja Devan atau tidak.
"Oke, Kak El. Kalau kamu mau mandi kamu bisa pakai kamar tamu. Peralatan mandi sudah ada di sana," ujar Kanaya sambil menunjuk ke arah kamar tamu. Ia berharap Elvano akan segera berjalan ke sana, sehingga ia tidak harus berdua saja dengan Elvano. Bagaimana pun ia merasa canggung setelah Elvano menyatakan perasaannya tadi malam.
"Oke, Ay. Aku akan telepon Arya dulu," ujar Elvano sambil mengambil telepon genggamnya yang di taruh di atas meja belajar Clara.
Elvano pun mulai menghubungi Arya dan menatap Kanaya sebentar karena Clara yang sudah selesai mandi. Kemudian Elvano keluar dari kamar Clara dan Kanaya pun langsung menemani Clara memakai pakaian seragam sekolahnya, sambil mendengarkan Clara berceloteh.
Elvano yang sudah selesai menelepon Arya, memperhatikan Kanaya dan Clara dari luar kamar Clara dan Ia pun tersenyum, berharap ia bisa merasakan kehangatan itu setiap hari.
Setelah selesai sarapan pagi bersama, Elvano bersiap - siap akan mengantarkan Alvaro dan Clara sekolah sekalian, ia berangkat ke kantor. Arya sudah datang sejak tadi, membawakan pakaian kerja Elvano dan menuggu di depan rumah Kanaya.
"Bunda, ikut Clara anterin ke sekolah!" Ujar Clara sambil menarik tangan Kanaya.
"Clara, kan udah ada Papa Elvano yang anter. Nanti, biar Bunda yang jemput ya?" ujar Kanaya berharap anaknya itu mau menerima usulannya.
__ADS_1
"Gak mau Bunda, Bunda ikut juga anterin Clara!" Rajuk Clara sambil terus menarik Kanaya berjalan ke arah mobil Elvano.
Elvano yang berjalan bersama Alvaro di depan pun menoleh dan melihat Clara merajuk pada Kanaya.
"Clara. Bunda janji, nanti Bunda yang jemput. Sekarang, Clara di antar Papa Elvano ya?" rayu Kanaya.
Tetapi Clara bersikeras menarik Kanaya masuk ke dalam mobil Elvano.
"Masuk Ay, biar nanti aku antar kamu sekalian," ujar Elvano sambil bergeser dan memberi Kanaya ruang untuk masuk ke dalam mobilnya.
Kanaya tak punya pilihan lain selain masuk ke dalam mobil Elvano bersama Clara.
"Pah, biar Alvaro duduk di depan!" Ujar Alvaro buru - buru saat melihat Papanya itu akan duduk di kursi penumpang depan. Ia pun bergegas masuk ke kursi depan agar Papanya bisa duduk di belakang bersama Bundanya.
Elvano pun duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Kanaya dan Arya mulai melajukan mobilnya menuju ke sekolah.
Dalam perjalanannya ke sekolah Clara yang paling banyak berceloteh. Ia bercerita dengan senangnya pada Arya bahwa Papa Elvano menginap di rumahnya dan menemaninya tidur sampai pagi.
Dan Arya menanggapinya dengan " Oya? Clara senang ya, kalau di temani sama Papa Elvano?"
"Ya seneng dong, Om. Clara malah lebih senang kalau ada Papa Elvano setiap hari!" Ujarnya dengan semangat sambil melirik ke arah Alvaro, yang diam - diam mengacungkan jempol.
"Bun, Papa boleh nginep setiap hari?" tanya Clara sambil menoleh ke arah Bundanya.
Hening seketika. Bahkan Arya tidak berani berkomentar.
"Clara.... Papa Elvano... sangat sibuk," ujar Kanaya mencoba menerangkan.
"Tapi Papa Elvano bisa kan, Pah?" potong Clara sebelum Bundanya menjawab lebih banyak.
Di tanya seperti itu, Elvano menoleh ke arah Kanaya dan ia melihat, Kanaya sangat gelisah. Ia tidak ingin memaksa Kanaya secara banyak.
"Papa mau saja, Ra. Tapi nanti malam Papa tidak bisa. Nanti kalau Papa ada waktu banyak, Papa bobo sama Clara lagi, ya?" ujar Elvano sambil menarik Clara dan memangkunya kemudian mendaratkan kecupan - kecupan sayang.
Kanaya lega mendengar perkataan Elvano. Ia merasa membutuhkan sedikit ruang setelah apa yang Elvano katakan padanya.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, hadiahnya dan jangan luap. berikan rate bintang 5 ya.