
Kanaya gelisah tidak ingin tidur malam itu. Ia hanya membolak - balikan tubuhnya di atas ranjang tanpa bisa memejamkan matanya.
"Nyonya, cobalah untuk tidur, saya akan menemani Nyonya," ujar Bella yang tampak sudah mengantuk.
"Tidurlah dulu, Bella. Aku akan menyusul nanti," ujar Kanaya. Ia gelisah setiap kali ingin tidur, takut akan mimpinya yang selalu datang setiap kali ia memejamkan matanya. Bayangan Elvano yang memaksanya malam itu tidak pernah hilang dari benaknya.
"Tidak apa Nyonya, saya akan menemani sampai Nyonya tertidur. Apa Nyonya ingin membaca buku?" tanya Bella sambil menoleh pada tumpukan buku bekas, yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu saat tengah melewati pasar loak.
"Boleh, bisa ambilkan buku One Day yang orange itu?" tanya Kanaya pada Bella.
Bella pun mengambilkan buku bersampul Orange dan putih, berjudul One Day karya David Nicholls.
"Nyonya, apa semua novel yang Nyonya tulis terinspirasi dari buku - buku yang Nyonya baca?" tanya Bella ingin tahu.
Novel - novel yang Kanaya tulis dalam bahasa inggris di aplikasi online telah merebut beratus ribu orang dalam setiap judul yang ia terbitkan. Karya Kanaya selalu menjadi best seller di aplikasi itu, dan Kanaya mendapatkan penghasilan yang cukup besar dari penerbitan buku - bukunya. Dan selama ini Elvano tidak pernah mengetahuinya. Hanya Bella dan Desi yang tahu jika ia menulis novel di media online.
Kanaya tersenyum. merasa miris bahwa ia telah berhasil membuat kisah cinta yang di sukai banyak orang, namun kisah cintanya sendiri berakhir suram. Ia belum pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Di cintai dan mencintai orang yang tepat. Bahkan suaminya saja memperlakukannya secara buruk.
"Salah satunya. Tetapi inspirasi tidak datang hanya dari satu sisi, bisa dari banyak hal. Mungkin saat aku pergi ke restoran dan melihat sepasang kekasih makan sambil saling menatap, ataupun pergi ke dapur melihat pak Usman dan Ibu Yati sedang berbicara," ujar Kanaya sambil tertawa kecil, di ikuti oleh tawa Bella. Yang terakhir di sebutkan Pak Usman dan Ibu Yati adalah sepasang suami istri yang bekerja di rumah Elvano sebagai tukang kebun dan pelayan di sana.
"Tetapi Nyonya sangat pandai membawakan cerita itu. Walaupun saya kurang pandai berbahasa inggris seperti itu, tetapi saya sering merasa terharu saat membacanya," ujar Bella.
"Mungkin karena kamu mengetahui jalan hidupku Bella, makanya kamu terharu," ujar Kanaya mencoba berkelakar dan Bella pun tersenyum.
"Tidak juga Nyonya, Nyonya memang berbakat," ujar Bella.
Tiba - tiba terdengar bunyi ketukan di pintu depan.
Kanaya dan Bella pun saling pandang.
Siapa yang datang bertamu malam - malam seperti ini? mereka berdua memiliki pikiran yang sama.
Mereka tidak terlalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, dan tidak ada yang tahu tempat persembunyian mereka, bahkan Fandi sekali pun.
__ADS_1
Kanaya dan Bella saling berpegangan tangan dan beranjak dari duduk mereka. Mereka berjalan perlahan menuju pintu depan rumah. Kanaya mengambil sebuah sapu dan Bella mengambil sebuah teflon dari meja dapur.
"Biar saya yang melihatnya Nyonya," bisik Bella sambil memberi isyarat ke Kanaya untuk berdiri di belakangnya.
Bella yang berjalan di depan dan berhenti di depan pintu, mengintip sebentar melalui jendela dan melihat dua orang laki - laki yang satu mengenakan setelan jas dan yang satunya mengenakan kemeja hitam yang di gulung sebatas siku. Dan ia tidak mengenali wajah mereka karena temaramnya lampu di luar. Tetapi ia yakin mereka bukanlah Elvano.
Bella memberi isyarat kepada Kanaya untuk bersiap - siap dengan ganggang sapu yang di pegangnya, dan Bella pun membuka pintu dengan satu tangannya bersembunyi di belakang tubuhnya memegang teflon.
"Selamat malam, saya Devan. Bisa bertemu dengan Kanaya, Bella." ujar pria berjas yang berdiri menghadap pintu rumah.
Kanaya yang berdiri tak jauh dari pintu pun mendengar suara Devan. Sekonyong - konyong ia berjalan cepat ke arah pintu dan membuka pintu itu lebar - lebar.
Di lihatnya Devan yang sedang berdiri di depan pintu dan mereka pun saling menatap.
"Devan..."
"Kanaya..."
Panggil mereka bersamaan, dan dalam hitungan detik, kedua insan itu saling berpelukkan.
Kanaya memeluk Devan erat - erat seakan tidak ingin melepaskannya, dan begitu pula Devan.
"Aku disini, Ay. Aku ada disini," ucap Devan di telinga Kanaya.
Bella yang melihat adegan ini pun meneteskan air mata. Kanaya memang pernah bercerita pada Bella mengenai sahabatnya yang bernama Devan, tetapi Bella belum pernah melihatnya.
Gilang pun terharu melihatnya, namun ia tidak meneteskan air mata, ia hanya tersenyum dan merasakan sesuatu yang hangat di hatinya.
"Pak Devan, sebaiknya kita masuk ke dalam," ujar Gilang perlahan.
Devan pun melepaskan pelukannya dan membawa Kanaya dalam rangkulannya masuk ke dalam dan Gilang mengikuti di belakangnya.
Bella segera menutup pintu dan pergi ke dapur untuk mengambilkan air untuk mereka. Sedangkan Gilang berdiri di dekat pintu, memberikan mereka waktu untuk berbicara berdua sembari melihat keadaan di luar rumah.
__ADS_1
Devan mendudukan Kanaya yang masih terlihat syok di atas sofa.
"Sudah Ay, jangan nangis lagi, aku disini. Aku akan menjaga kamu," ujar Devan sambil menghapus air mata di pipi Kanaya. Hatinya terenyuh melihat Kanaya menangis bahagia melihat kedatangannya. Kanaya benar - benar berharap ia datang.
"Aku masih nggak percaya kalau kamu ada disini," ujar Kanaya sambil terisak - isak.
"Tolong aku, Van. Aku benar - benar ingin pergi dari sini," ujar Kanaya meminta tolong Devan.
"Tenang Ay. Aku akan bawa kamu pergi malam ini. Kita akan pergi malam ini juga," ujar Devan.
"Minum dulu, Nyonya," ujar Bella sambil menyodorkan segelas air putih pada Kanaya yang masih terlihat syok dengan kedatangan Devan.
Kanaya pun meminum air putih itu, untuk membuatnya tenang.
"Pak Devan, bisa saya bicara sebentar?" tanya Gilang saat melihat Kanaya sepertinya sudah bisa menguasai dirinya.
Devan pun beranjak dan berjalan bersama Gilang ke sudut ruangan.
"Apa Pak Devan sudah mempunyai rencana untuk membawa Ibu Kanaya pergi dari sini?" tanya Gilang.
Devan menggeleng.
"Saya tidak tahu kalau akan secepat ini menemukannya. Saya akan segera memasan tiket pesawat sekarang," ujar Devan.
"Sepertinya sulit untuk membawa Ibu Kanaya dalam penerbangan komersial, karena Ibu Kanaya masuk dalam daftar pencarian orang hilang. Apalagi di bandara akan ada pemeriksaan." ujar Gilang.
" Lalu apa saran Anda, Gilang?" tanya Devan.
"Sebentar Pak, biar saya usahakan sesuatu." jawab Gilang.
Sementara itu di kediaman Elvano. Saat Elvano sedang menuruni tangga, ia di telepon oleh Ardi lagi, Ardi adalah detektif swasta yang di sewanya untuk mencari Kanaya.
"Pak Elvano, kami sudah menemukan alamat Ibu Kanaya. Alamatnya ada di jalan Anggrek 11" ujar Ardi.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.