Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Mengantar Kanaya Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Siti mengambilkan itu dan memberikannya pada Kanaya.


"Kak Elvano, ini aku sudah siapkan pakaian ganti untuk Alvaro, kalau bajunya kotor atau basah, popok dan susunya. Semuanya sudah ada di sini," ujar Kanaya.


"Kamu yakin bisa sendiri? Kalau tidak, aku bisa minta Siti atau Marsih untuk ikut kamu," tanya Kanaya.


"Bisa Ay. Jangan khawatir," ujar Elvano tidak ingin Kanaya khawatir.


'Lagi pula aku hanya beberapa jam saja bersama Alvaro, apa yang mungkin terjadi?'


"Kalau ada apa - apa yang nggak kamu paham, telepon aku ya, Kak El?" ujar Kanaya.


"Iya Ay, aku sama Alvaro hanya ingin bermain saja," ujarnya lalu menoleh pada Alvaro dan bercanda dengannya sebentar. Setelah itu ia pamit dan menaruh Alvaro dalam baby seat itu baru ia beli tadi pagi untuk keperluannya selama berada di kota B.


Taman bermain yang di tuju Elvano tidaklalah terlalu jauh dan hanya berjarak sekitar 10 menit saja.



"Om Papa Elpano, aik itu..." ujar Elvano sambil menunjuk sebuah carousel yang berputar. Elvano memang pernah pergi ke taman bermain akan tetapi sebelumnya ia bersama Kanaya, dan kali ini ia hanya sendiri bersama dengan Alvaro, sehingga ia harus melakukan segala sesuatunya sendiri mengikuti kemana Alvaro main dan ikut serta bersamanya.


"Om Papa Elpano, Alo aus..."


"Om Papa, Alo ua itu..."


Ternyata ia baru merasakan bahwa tidak mudah mengurus seorang anak. Baru ia tahu rasanya menjadi seorang Ibu yang harus mengurus segala keperluan anaknya.


Selama dua jam Elvano berusaha melakukan semuanya sendiri, meskipun ia terpaksa menelepon Kanaya ia tidak tahu cara membuat susu untuk Alvaro, atau pun beberapa kali bertanya pada Ibu - Ibu muda yang juga mengantarkan anaknya bermain di sana, seperti saat ia mengganti popok Alvaro. Untung saja Ibu - Ibu di sana dengan senang hati membantunya.


Setelah mengajak Alvaro makan malam. Elvano mengendarai mobilnya pulang menuju rumah Kanaya. Ia tampak sedikit kelelahan, namun ekspresi bahagia terpancar dari wajahnya. Ia merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama Alvaro. Kapan lagi ia punya waktu untuk melakukan semua itu bersamanya? Alvaro pun tampak kelelahan dan tertidur di baby seatnya dalam perjalanan pulang.


Saat ia sampai di rumah Kanaya, waktu sudah lewat petang, dan ia pun memindahkan Elvano yang tertidur dan menggendong di pundaknya.


Ia memencet bel rumah dan Marsih membukakan pintu, di susul oleh Kanaya yang berada di belakang Marsih.


"Tidur?" tanya Kanaya setengah berbisik, saat melihat Alvaro dalam gendongan Elvano, tidak bergerak.


Elvano mengangguk dan tidak mengeluarkan suara, takut jika akan membangunkan Alvaro.

__ADS_1


Kanaya memberi kode pada Elvano agar membawa Alvaro ke atas kamarnya. Ia berjalan di depan Elvano menujukkan arah kamar Alvaro.


Elvano mengikuti Kanaya dan ikut masuk ke dalam kamar Alvaro. Ini kali pertama Elvano masuk ke dalam kamar Alvaro. Menurutnya kamar Alvaro yang bernuansa biru - putih itu sangat keren. Semua tertata rapi dan terasa sangat nyaman.


Kanaya mengisyaratkan Elvano untuk membaringkan Alvaro di ranjangnya, dan ia melakukannya secara perlahan, menjaga agar Alvaro tidak terbangun. Alvaro bergerak sedikit, namun ia tidak terbangun. Dan Kanaya segera menyelimutinya.


Setelah memberikan kecupan selamat malam pada Alvaro, mereka berdua pun keluar dari kamar Alvaro.


"Gimana Alvaro tadi? Nggak rewel kan?" tanya Kanaya sambil menutup pintu kamar Alvaro.


"Nggak, dia aktif sekali bermain. Hingga semua wahana permainan yang ada di sana hampir di naikinya semua." jawab Elvano sambil tersenyum. Masih teringat dalam benaknya saat ia harus mengikuti Alvaro naik dalam semua wahana permainan itu. Ia pun tertawa geli.


"Kenapa, Kak El?" tanya Kanaya yang melihat Elvano tertawa geli.


"Nggak. Aku tadi cuma teringat saja apa yang aku lakukan hari ini bersama Alvaro," jawab Elvano


Kanaya tersenyum, melihat Elvano bisa meluangkan waktunya bersama dengan Alvaro.


"Syukurlah dia tidak rewel,"


"Ah!" Rintih Kanaya pelan. Merasakan sakit di perut bagian bawahnya.


"Kenapa Ay?" tanya Elvano sambil mendekatinya, kemudian memegang pundaknya. Baru di lihatnya wajah Kanaya memucat.


"Aaaaagghhh..." rintihnya lagi sambil memegang perutnya.


"Ay, ada apa? Apa perutmu sakit?" tanya Elvano yang tidak berpikiran jika Kanaya akan melahirkan, karena masih dua minggu lamanya dari jadwal kelahirannya.."


"Kak Elvanooo..." panggil Kanaya sambil merintih.


"Kenapa Ay?" tanya Elvano dengan khawatir melihat wajah Kanaya yang semakin terlihat pucat dan keringat yang tampak di pelipisnya.


"Kak El, tolong bawa aku ke rumah sakit...." ujar Kanaya yang merasakan kontraksi dalam perutnya.


"Iya Ay, aku bawa kamu ke rumah sakit? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanyanya sambil menuntun Kanaya berjalan.


"Sepertinya aku mau melahirkan, Kak Elvano," ujar Kanaya sambil berhenti berjalan dan menggenggam erat tangan Elvano, menahan sakit saat kontraksinya datang lagi.

__ADS_1


"Me...melahirkan?" ucap Elvano dengan gugup.


Kanaya tidak begitu memperhatikan pertanyaan Elvano. Karena ia berusaha fokus menahan sakitnya.


"Tasku Kak El, tolong... ambilkan tasku yang berada di atas meja," ujar Kanaya sambil menunjuk pintu kamarnya.


Elvano langsung berlari dan membuka pintu kamar utama di rumah tersebut dan mencari tas yang di maksud Kanaya di atas meja. Saat ia melihat tas tangan di atas meja bufet, ia pun langsung mengambilnya.


"Ini Ay?" tanyanya, dan Kanaya menganngguk sambil menahan sakit.


Melihat Kanaya kesakitan, ia pun segera membopong Kanaya dan membawanya menuruni tangga.


"Bertahanlah, Ay.Aku akan segera membawamu ke rumah sakit," ujar Elvano sambil berjalan cepat menuruni anak tangga sementara Kanaya berada dalam gendongnanya dan merangkul lehernya dengan erat.


Saat mereka melewati tangga, mereka berpapasan dengan Siti.


"Siti, tolong kasih tau Oma dan Eyang bahwa aku akan ke rumah sakit. Alvaro.... dia sedang tertidur di atas," ujar Kanaya pada Siti untuk memberitahukan pada Ratna dan juga Alika yang sudah tidur di dalam kamar.


"Baik, Bu Kanaya." Lalu, ia segera membantu Elvano membuka pintu depan rumah dan pintu mobil Elvano, agar Kanaya bisa masuk ke dalam mobil.


Setelah Kanaya masuk ke dalam mobil, Elvano pun segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit yang di beritahukan oleh Kanaya.


Sambil menahan rasa sakitnya, Kanaya mencoba menghubungi ponsel Devan, dan setelah beberapa kali dering, akhirnya Devan mengangkatnya.


"Ya sayang?" ucap Devan, saat ia mengangkat panggilan telepon Kanaya.


"Yang... sepertinya... aku akan melahirkan..." ujar Kanaya di antara sakit kontraksinya.


"Apa? Kamu yakin Yang? Apa kamu sudah menelepon Dokter Gita? Aku akan menyuruh Budi untuk mengantarkanmu!" Tanya Devan terdengar panik. Devan memang panik, karena ia sedang tidak ada di rumah untuk menemani Kanaya, dan ia sangat mengkhawatirkannya.


"Iya Yang. Aku... sama Kak Elvano... dia yang mengantarkanku ke rumah sakit. Budi biar nanti yang mengantar Mama sama Bunda saja." ujarku.


"Kamu sama Elvano? Biar aku bicara dengannya Yang," ujar Devan.


Bersambung....


Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2