Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Perlakuan semena - semena


__ADS_3

"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Desi saat melihat Kanaya memasuki dapur.


"Saya ingin membuat sarapan untuk Elvano. Kamu tahu apa yang dia makan?" tanya Kanaya terlihat bingung. Ia sama sekali tidak tahu apa makanan kesukaan Elvano.


"Saya sudah memasak sarapan untuk Nyonya dan juga Tuan. Pagi ini saya memasak bubur ayam biar saya siapakan untuk Tuan dan Nyonya. Nyonya tunggu saja di ruang makan." ujar Desi tidak ingin istri Tuannya itu bersusah payah di dapur.


"Biar saya yang menyiapkan, Desi. Kamu kan sudah memasaknya," ucapa Kanaya, tetap bersikeras untuk menyiapakan makanan bagi Elvano. Karena Elvano sudah menyuruhnya menyiapkan sarapan untuknya."


"Baiklah Nyonya. Sebentar lagi buburnya matang. Nyonya bisa menunggu di depan, nantj saya akan beritahu jika makanan sudah siapa," ujar Desi.


"Sarah, tolong antarkan Nyonya kembali kedepan," ujar Desi pada Sarah pelayan di rumah itu.


Sarah terlihat enggan, namun di kerjakannya juga perintah kepala pelayan di rumah itu.


"Mari Nyonya," ujar Sarah pada Kanaya.


Kanaya pun berjalan kembali kedepan. Karena menunggu agak lama, ia pun memanfaatkan waktu itu untuk mandi dan berganti pakaian dengan cepat. Saat ia selesai dan turun ke bawah, Elvano telah duduk di meja makan dan menikmati sarapannya dengan di layani oleh Sarah.


"Kak Elvano, Kamu sudah makan?" tanya Kanaya sambil tersenyum.


"Kemana saja kamu? Bukankah aku menyuruhmu untuk menyiapakan sarapan?" tanya Elvano dengan ketus sambil memandang Kanaya dengan tajam.


"Maaf, Kak El. Tadi aku mandi sebentar," ujar Kanaya sambil duduk di kursi meja makan di dekat Elvano.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Elvano sambil menaruh sendok yang di pegangnnya dengan kasar.


Kanaya tidak mengerti dengan maksud Elvano. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. ia hanya duduk disana.


"Mau apa kamu duduk disini?" tanya Elvano memandang Kanaya dengan tatapan benci.


"Aku...Aku mau menemanimu sarapan," jawab Kanaya.


"Pergilah! Aku tidak mau sarapan denganmu! Pergi sarapan di tempat lain!" Bentak Elvano dengan gusar. Kemudian membuang mukanya ke arah lain.

__ADS_1


Glek!


Hati Kanaya tertohok mendengar ucapan Elvano. Sebegitu burukkah dirinya di mata Elvano?"


"Kak Elvano, Kalau kamu sudah selesai makan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu? aku akan menunggu di depan" ujar Kanaya dengan menunduk.


Elvano tidak menjawab dan meneruskan memakan sarapannya. Kanaya pun meninggalkan meja makan dan memilih sarapan untuk nanti saja saat Elvano sudah berangkat ke kantor.


Sarah tersenyum melihat kepergian Kanaya. Ia memang sengaja tidak memanggil Kanaya, saat Desin menyuruhnya memanggil Kanaya. Untuk mrmberitahukan kalau sarapan sudah siap.


Sarah tidak suka saat mendengar Bosnya itu akan menikah. Apalagi saat melihat penampilan Kanaya yang jauh dari kata glamour dan tidak setara dengan Elvano. Ia merasa Kanaya tidak pantas untuk menjadi Nyonya di rumah itu.


Kanaya duduk di sofa ruang keluarga, menunggu Elvano selesai makan. Hati Kanaya terluka di perlakukan seperti itu oleh Elvano. Ia harus bertanya kepada Elvano. Mengapa Elvano memperlakukannya seperti itu apa kesalahan yang telah ia buat?


Elvano bangun dari duduknya saat ia telah selesai makan.


"Ini tas Tuan," ujar sarah dengan manisnya sambil memberikan tas kerja Elvano.


Elvano mengambil tasnya dan langsung beranjak, ia berjalan melewati Kanaya tanpa menegurnya


"Aku tak ada waktu untuk bicara denganmu!" ujar Elvano tanpa menoleh ke arah Kanaya.


"Kak Elvano, tolonglah hanya sebentar saja. Ada yang ingin aku tanyakan," pinta Kanaya sambil memegang lengan Elvano, memintanya berhenti sejenak.


"Lepaskan, Jangan sentuh aku! Aku jijik melihatmu!" teriak Elvano sambil menepis tangan Kanaya tanpa memperdulikan sekitarnya. Saat itu ada Sarah dan beberaoa pelayan lain di dekat mereka mendengar ucapan Elvano.


Kanaya tersentak kaget dengan perlakuan kasar Elvano kepadanya di hadapan orang - orang.


Kanaya pun tidak bergerak dan hanya menatap kepergian Elvano dengan berkaca - kaca.


"Jalan Panji!" perintah Elvano pada supirnya


Panji langsung menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah menuju kantor Elvano.

__ADS_1


"Sial! Teriak Elvano sambil memukul jok mobil dengan keras.


"Tuan, apa anda baik - baik saja?" tanya Panji yang kaget dengan teriakkan Tuannya itu.


"Diamlah dan jangan ikut campur urusanku! Kerjakan saja tugasmu!" bentak Elvano pada supirnya itu.


Panji pun diam tidak mengatakan apa - apa lagi.


'Sial, kenapa Kanaya selalu memasang wajah tidak berdosa? Dia itu pandai sekali menutupi kelicikannya! Aku tidak boleh lengah,dia harus mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan!' Batin Elvano, saat dirinya merasa goyah untuk memperlakukan Kanaya dengan kejam.


Setelah kepergian Elvano, Kanaya berjalan menuju ke arah meja makan. Pelayan yang tadi mendengarkan perkataan Elvano, menundukkan wajahnya tidak berani menatap Kanaya dan berpura - pura tidak mengetahui apa yang terjadi, kecuali Sarah. Ia memandang sinis ke arah Kanaya.


Saat Kanaya duduk di meja makan, Sarah tidak menyiapkan makanannya, malah membereskan meja makan hingga tidak ada makanan tersisa.


"Tunggu Sarah, saya belum makan," ujar Kanaya.


"Nyonya ambil saja di dapur, tugas saya sudah selesai," ujar Sarah kemudian meninggalkan Kanaya sendiri di meja makan itu.


Kanaya menghela napas pelan, tidak pernah sebelumnya orang memperlakukannya seperti itu. Bahkan Sarah pelayan di rumah itu saja bisa memperlakukannya dengan semena - semena.


Kanaya memutuskan untuk naik ke dalam kamarnya di lantai 2. Namun saat menuju kamarnya ia melihat seorang pelayan sedang membersihkan ruangan itu.


Kanaya pun masuk ke dalam dan mendapati sebuah ruang baca dan senyum pun mengembang di bibirnya.


Kanaya mendekati rak buku yang ada di sana dan membaca judul buku - buku yang ada di rak itu. Ia mengambil buku Pride and Prejudice karya Jane Austen yang pernah di bacanya. Kanaya memegang buku itu di tangannya dan membacanya.


Ia memang suka membaca buku. Biasanya ia membaca buku bersama Devan. Kadang - kadang mereka membaca bersama - sama atau secara bergantian dan Kanaya teringat pada sahabatnya Devan.


Apa kabarnya? Devan pasti sudah berada di kota B saat ini. Pikir Kanaya sambil menarik nafas dan menghembuskannya.


Kanaya pun duduk di sebuah sofa panjang yang ada di sana dan mulai membaca buku itu. Meskipun ia pernah membacanya, namun ia tidak pernah bosan membacanya kembali. Itu adalah satu buku favoritnya.


Setelah membaca beberapa saat, Kanaya merasa sangat lapar. Ia baru teringat belum makan sejak semalam. Kanaya keluar dari ruang baca dengan membawa buku itu lalu turun ke bawah dan berpapasan dengan Desi di bawah tangga.

__ADS_1


"Desi, apa ada sesuatu yang saya bisa makan?" tanya Kanaya Kepada Desi.


Jangan lupa like, komen, vote dan Hadiahnya.


__ADS_2