Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Elvano melihat ke arah lambaian Raka dan mengerutkan keningnya. Barulah ia tahu Raka mengajaknya untuk double date. Ia pun memandang tajam Raka yang di tanggapi Raka dengan menyeringai.


"Halo Denis, Ayana kenalkan ini Elvano temanku," ujar Raka saat kedua wanita berpakaian sexy itu datang.


Mau tak mau Elvano pun bangun dan menyalami kedua wanita itu.


Denis mengambil duduk di sebelah Raka dan sepertinya ia memang sudah kenal dengan Raka, sedangkan Ayana duduk di sebelah Elvano.


"Elvano, ini namanya AYANA loh!" Ujar Raka menggoda Elvano. Maksudnya namanya saja sedikit mirip dengan pujaan hati Elvano.


"Iya Mbak Ayana, saya Elvano," ujar Elvano sengaja pura - pura tidak mengerti.


'Anjrit! Awas aja loe Raka! Lain kali nggak bakal gue mau temenin dia!" Batin Elvano.


"Ya ampunn..., ini Yohanes Elvano Alvarendra ya? Mas Elvano, saya ngefans berat loh sama Mas Elvano," ujar Ayana tiba - tiba, saat ia menyadari sesuatu. Ia terlihat sangat senang! Bagaimana tidak, kapan lagi ia bisa bertemu dan berkencan dengan seorang pengusaha sukses, ganteng, tajir, seperti Yohanes Elvano Alvarendra.


"Oh iya Mbak," ujar Elvano tersenyum canggung.


"Maaf, saya mau ke toilet," ujar Elvano sambil ia berdiri dari duduknya. Ia memutuskan untuk meninggalkan saja Raka dengan dalih pergi ke toilet.


"Jangan lama - lama Elvano," ia masih bisa mendengar teriakan Raka dan tawanya. Raka pasti sudah tahu jika ia akan meninggalkannya.


Elvano sedang menunggu di lobby Albatros, saat seorang wanita tengah berbicara di telepon.


"Mas aku nunggu kamu dari tadi," ujarnya sambil terisak.


"Iya tapi Mas...." terlihat ia sedang protes apa yang sedang di katakan lawan bicaranya.


"Kau kenapa sih selalu seperti itu!" Ujar wanita itu lalu menutup percakapan teleponnya dengan kesal. Namun sebentar - sebentar ia melirik ke arah layar teleponnya, seperti menanti orang itu meneleponnya kembali, namun telepon genggamnya tak kunjung berdering.


Elvano sebenarnya tidak ingin ambil pusing atau ikut campur urusan orang lain, tapi ia merasa iba saat perempuan itu terisak. Ia menangis.


"Ini Mbak," ujar Elvano sambil menawarkannya sapu tangan miliknya.


Wanita itu mengambilnya dan menyeka air matanya dengan sapu tangan Elvano.


"Terima kasih," ujarnya sambil ingin mengembalikan sapu tangan itu.


"Nggak usah Mbak. Mbak pegang aja, atau buang kalau sudah tidak terpakai," ujar Elvano sambil tersenyum.


Wanita itu memandang Elvano beberapa lama dan memincingkan matanya.


"Elvano?" tanyanya.



"Ya? Apa kita pernah ketemu?" tanya Elvano sambil memperhatikan wanita itu.Mungkin saja ia salah satu wanita yang pernah ditemuinya di club malam jaman dulu. Tapi pakaiannya tidak seperti wanita seperti itu. Ia masih berpakaian yang tak terlalu terbuka, meskipun ia terlihat cantik dan menarik.


"Elvano kamu lupa ya? Ini aku Adella!" Ujar wanita itu.


Adella? Elvano tidak ingat pernah bertemu dengan seorang wanita yang bernama Adella. Kecuali.... teman SMA-nya dulu!


Elvano pun memperhatikan wajah wanita itu, dan terperanjat saat mengenali wajahnya. Ia memang Adella teman SMA-nya dulu!


"Adella? Loh ngapain kamu ada di sini? Maksudku di kota B ini?" tanya Elvano dengan nada senang bertemu teman lama.


"Aku sekarang tinggal di sini, Elvano! Aku pindah 7 tahun yang lalu," ujarnya.

__ADS_1


Tentu saja Elvano senang bertemu dengan teman lama dan ia memutuskan mengobrol dengannya di sebuah cafe tak jauh dari Albatros.


"Gimana kabar mu sekarang?" tanya Elvano. Ia dan Adella memang bersahabat sejak kelas 1 - 2 SMA, namun saat ia kelas 3, Adella pindah ke kota lain.


"Seperti yang kamu lihat. Aku buka usaha butik kecil - kecilan di sini," ujar Adella.


"Kalau kamu sendiri?" tanya Adella ingin tahu.


"Aku juga baru merintis usaha di sini. Kota ini sepertinya memberikan banyak peluang bisnis untukku," ujarnya.


"Ya, ini kota besar. Aku yakin kamu bisa dengan cepat berkembang di sini!" Ujar Adella.


"Terus kenapa tadi kamu menangis?" tanya Elvano tanpa sungkan. Ia memang suka blak - blakan jika berbicara dengan Adella, dan Adella pun juga sama tidak berubah.


"Biasalah, pacarku.... dia tidak bisa datang," ujarnya dengan raut wajah sedih.


"Biasa?" memang dia sering seperti itu?" tanya Elvano.


"Kadang - kadang. Ah, sudahlah! Tidak usah membicarakan dia lagi! Bagaimana dengan mu? Sudah menikah?" tanya Adella.


"Divorced," jawab Elvano.


"Oh, sorry," timpal Adella.


"Tidak apa. Aku kesini untuk bertemu anakku juga," ujar Elvano.


"Oh ya? Sudah berapa anakmu?" tanya Adella.


Elvano mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto dirinya dan Alvaro tadi siang.




Kurang lebih Visualnya Alvaro Samudera seperti itu hehehehe.


Ini pasti ibunya. Cantik." ujar Adella sambil memandang foto di hadapannya.


"Ya." jawab Elvano sambil mengambil ponselnya dari tangan Adella.


"Kenapa kalian bercerai?" tanya Adella.


"Panjang ceritanya," jawab Elvano sambil menarik nafas berat.


"Sepertinya kamu masih sangat mencintainya? Kenapa tidak kembali rujuk?" tanya Adella lagi.


"Dia sudah menikah lagi," jawab Elvano kemudian meneguk kopinya lagi.


"Oh well, what a live!" Ucap Adella pendek.


"Kita bicara masa lalu saja, jaman SMA dulu," ujar Adella, dan ia pun mulai membicarakan nostalgia yang membuat ia dan Elvano tertawa. Selama 2 jam berikutnya mereka masih berada di cafe itu, mengenang masa lalu.


"Sudah malam, aku harus pulang," ujar Adella sambil melihat jam tangannya.


"Ya, aku juga harus balik," ujar Elvano teringat meetingnya besok pagi.


"Ok Elvano. Kalau kamu masih di kota ini jangan lupa hubungi aku ya. Besok kalau kau mau pun ajak kamu jalan - jalan berkeliling, bagaimana?" tanya Adella.

__ADS_1


"Ya, tentu saja," jawab Elvano sambil bertukar nomer telepon.


Mereka pun berpisah malam itu, dan Elvano kembali ke hotelnya.


******


Yohanes Elvano Alvarendra POV


"Coba kamu lihat, Elvano. Bagaimana?" Adella bertanya sembari membuka pintu belakang rumah.


Aku melihat ke halaman belakang rumah yang ku kujungi bersama Adella. Sebuah kolam renang di taman belakang.


Adella sangat mengetahui seluk beluk kota B dan oleh sebab itu aku memintanya mengantarkanku melihat - lihat rumah yang di jual di sana.


Tiga bulan sejak aku bertemu Adella kembali, hubungan kami menjadi lebih dekat seperti saat kami SMA dulu. Aku pun selalu menyempatkan waktu bertemu dengannya setiap kali aku datang ke kota B untuk bisnis dan juga bertemu Alvaro.


"Lumayan." kataku mengomentari rumah kosong itu. Rumah itu memang tidak sebesar rumah ku di kota D, akan tetapi aku pun tidak membutuhkan rumah yang terlalu besar untuk saat ini. Yang terpenting buatku, aku perlu tempat tinggal untukku memulai sesuatu yang baru. Bisnis baru, dan kehidupan yang baru.


Bisnisku di kota B mulai berjalan dengan lancar. Bisnis properti yang aku jalankan bersama Abian, sudah berjalan dan mulai membuahkan hasil. Sedangkan bisnis Start-up ku bersama Raka pun masih berjalan dan terus berkembang. Belum lagi investasi yang kutanamkan di beberapa usaha lainnya. Aku benar - benar menjemput setiap peluang yang ada. Mengejar ketinggalanku selama dua tahun lebih di penjara.


"Ini bisa kamu jadikan kamar buat Alvaro, kalau dia menginap," ujar Adella lagi saat ia masuk ke sebuah kamar tak jauh dari kamar utama.


Aku pikir rumah itu tidaklah buruk, tidak terlalu jauh dari pusat kota tempatku berbisnis dan jaraknya pun tidak terlalu jauh dari rumah Devan dan Kanaya. Dan Adella benar, kamar itu cocok untuk kamar Alvaro jika ia menginap di rumahku nanti atau saat ia sudah bertambah besar.


"Kita sudah melihat beberapa rumah terserah padamu mana yang lebih cocok," ujarnya sambil merogoh tas tangannya dan mengambil ponselnya yang berdering.


"Halo.." ucapnya. Pada orang yang menghubunginya sambil berjalan menjauh dariku.


Aku pun melihat sekeliling rumah itu sekali lagi, menimbang apakah akan membelinya dan memperhitungkan semua biaya yang harus ku keluarkan untuk rumah itu dan segala isinya. Bagaimana pun aku seorang pebisnis, apa pun yang aku lakukan ku perhitungkan dengan baik, apalagi membeli sebuah rumah.


Aku kembali lagi ke tempatku, meninggalkan Adella dan melihatnya berdiri menghadap jendela. Sepertinya ia sudah selesai menelepon jadi kuhampiri dia.


"Dell" Panggilku sambil memegang bahunya. Ia terkejut melihatku dan cepat - cepat menghapus air matanya.


"Kamu menangis?" tanyaku sambil memperhatikan jejak air mata di pipinya.


"Ah, tidak," jawabnya sambil memaksakan sebuab senyuman kemudian bertanya padaku dan berkata, "Sudah kau putuskan?"


"Apa Frans lagi?" tanyaku tidak menggubris pertanyaannya dan malah menyakan siapa yang meneleponnya dan membuatnya menangis.


Dia tersenyum miris.


"Siapa lagi?" ujarnya.


"Kenapa kamu masih terus berhubungan dengannya?" tanyaku kesal beberapa kali melihatnya menangis karena laki - laki yang bernama Frans Pradipta.


Adella hanya melongos mendengar ucapanku.


"Dell, selama kamu masih berhubungan dengannya, kamu akan selalu seperti ini. Apa yang kamu harapkan?" tanyaku ingin menyadarkannya.


"Dia berjanji untuk menikahiku, Elvano."


"Dan meninggalkan Istrinya?" tanyaku lagi padanya.


Adella memang sudah menceritakan hubungan gelapnya dengan Frans yang sudah di jalinnya selama dua tahun belakangan ini, dan bahwa Frans sebenarnya telah menikah. Jadi memang Adella lah yang sebenarnya menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2