
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Desi dengan gugup.
"Aku ingin kau membelaku dalam perceraianku dengan Kanaya! Apapun yang kamu ketahui tentang apa yang terjadi di rumah ini, dan tidak boleh di ketahui orang luar, mengerti?" tanya Elvano sambil memandang lekat Desi.
Desi sangat ketakutan dan ia tidak menjawab. Pergulatan batin terjadi di dirinya.
"Desi, apa aku bisa mengandalkanmu?" tanya Elvano sekali lagi, mencari tahu keloyalan Desi padanya.
"Ya Tuan, maafkan aku. Aku akan membantu, Tuan," jawab Desi akhirnya. Desi terpaksa mengatakan itu karena ia adalah tulang punggung keluarganya dan ia tidak bisa kehilangan pekerjaannya.
****
Berminggu - minggu sudah perceraian yang alot terjadi. Elvano dan pengacaranya berusaha untuk menggagalkan proses perceraian tersebut dengan berbagai macam dalih dan saksi mereka yang memperlihatkan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi dimanapun mereka berada. Namun Devan tidak berputus asa. Ia berusaha mencari saksi - saksi yang lain yang bisa membantunya. Saat ini saksi kuncinya adalah Bella, yang selalu menemani Kanaya, terlebih saat Kanaya sedang dalam kesakitan.
Sulit bagi Devan untuk mendekati Desi, Panji atau pun Dokter Adam, untuk berdiri di pihaknya. Seakan - akan Elvano telah membuat mereka untuk menutup rapat mulut mereka.
Hingga Devan pun meminta kembali bantuan Gilang untuk mendapatkan bukti - bukti berdasarkan kronologis kejadian yang di ceritakan Kanaya.
Dalam seminggu Gilang sudah berhasil membawa bukti baru dan membuat janji temu dengan Devan di sebuah hotel. Devan pun kemudian menemui Gilang siang itu, dan mengetuk pintu kamar hotel.
"Silahkan masuk Pak Devan," ujar Gilang saat membuka pintu.
Devan masuk dan sangat terkejut melihat Dokter Adam yang sudah ada di sana.
"Silahkan duduk, Pak Devan?" ujar Gilang. Devan pun duduk dan sambil memandang heran ke arah Gilang dan Dokter Adam.
Entah bagaimana caranya, Gilang bisa membuat Dokter Adam berbicara dan mengakui semua yang ia ketahui tentang mengenai luka - luka yang di derita oleh Kanaya selama ia menjadi Istri Elvano. Devan pun membuat rekaman Dokter Adam beserta bukti - bukti lain yang di bawa oleh Gilang, termasuk rekaman CCTV di rumah Elvano saat terjadi tindakan penganiyayaan pada Kanaya.
Sesampainya di kantornya kembali, Devan memutar rekaman CCTV yang di berikan oleh Gilang kepadanya. Dan Devan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaiamana Elvano mencambuk Kanaya di ruang keluarganya dengan tanpa belas kasihan ataupun saat Kanaya di seret oleh Elvano, ke dalam kamarnya saat malam kejadian, dan kondisi Kanaya yang di gendong keluar tak sadarkan diri ke esokan harinya.
Devan sampai menitikan air mata saat menyaksikan itu semua. Meskipun beberapa rekaman tidak menampakkan kejadian penganiyaan, namun melihat rekaman kondisi Kanaya setelah kejadian itu pun membuat dada Devan menjadi sesak.
Seperti saat Devan murka atas gugurnya kandungan Maya dan Elvano. Elvano dengan murkanya mendobrak pintu kamar Kanaya. Tak lama berselang, Kanaya keluar dari kamar itu dengan kondisi yang mengenaskan dan harus di papah oleh Bella dan beberapa orang pelayan lainnya ke kamar di sebelahnya.
Devan menduga dari kesaksian Bella sebelumnya, peristiwa itu adalah saat Elvano mencekik Kanaya hingga hampir tewas.
__ADS_1
"Beni, ke ruanganku sekarang!" Perintah Devan memanggil Beni melalui sambungan telepon.
"Ya, Pak Devan. Ada yang Bapak butuhkan?" tanya Beni sambil berjalan mendekat.
"Siapkan berkas tuntutan baru terhadap Yohanes Elvano Alvarendra," perintah Devan sambil memberikan bukti - bukti yang di dapatnya dari Gilang kepada Beni.
"Tuntutan apa, Pak?" tanya Beni sambil menerima bukti dari Devan.
"Penganiyaan terhadap Kanaya Zavira," ujar Devan dengan nada datar sambil ia meraih jasnya dan memakainya.
"Apa Bapak yakin? Apa Ibu Kanaya sudah setuju?" tanya Beni dengan terkejut karena tuntutan itu termasuk tuntuttan yang berat.
"Ya kamu persiapkan saja berkas - berkasnya, biar saya yang bicara pada Ibu Kanaya." ujar Devan sambil berjalan ke luar kantornya.
Devan memutuskan untuk pulang cepat hari itu dan menemui Kanaya.
Saat ia sampai di rumah, Kanaya, Bundanya, Ratna, Bella dan Siti, mereka semua sedang santai berada di taman belakang, mengobrol, bercanda sambil merujak.
"Devan, kok jam segini sudah pulang?" tanya Bunda Alika saat ia melihat Devan sedang bersandar di pintu belakang dan memperhatikan mereka.
"Sedang apa sih? Kelihatannya seru!" Tanya Devan sambil mencium tangan Bundanya dan Ratna. Kemudian duduk di salah satu bangku taman di sana.
"Biasa, ngobrol, ngerumpi," ujar Bunda Alika sambil tertawa.
"Minum, Van," ujar Kanaya sambil menuangkan es lemon tea dan gelas dan memberikannya pada Devan.
"Terima kasih, Ay." jawab Devan sambil tersenyum dan menatap Kanaya. Ia pun meneguk es lemon tea yang sangat cocok di minum saat itu, saat cuaca gerah dan tenggorokannya kering dan haus.
"Aaahh!" Desis Devan merasa segar, setelah menghabiskan segelas air lemon tea,
"Enak Van, itu Kanaya yang buat," ujar Bunda Alika sambil melirik Devan.
"Enak, Bun. Pantas saja, Kanaya yang buat ya," ujar Devan sambil melirik Kanaya, dan tersenyum manis
Alika dan Ratna saling tersenyum. Mereka berdua memang berharap Kanaya dan Devan bisa bersama setelah proses peceraian Kanaya dan Elvano berakhir.
__ADS_1
Alika tidak mempermasalahkan status Kanaya yang pernah menikah, baginya ia sangat menyanyangi Kanaya seperti putrinya sendiri, dan terlebih lagi ia melihat Devan sangat mencintai Kanaya.
"Aaaaah..., kamu bisa saja, Van. Itu kan cuma es teh," ucap Kanaya sambil tersenyum malu.
"Ay, kita keluar yuk." ajak Devan setengah berbisik.
"Kemana Van? Kamu kan baru pulang emang nggak capek?" tanya Kanaya.
Devan menggeleng.
"Aku mau ajak kamu cobain cake coklat paling enak di kota ini, seperti janjiku waktu itu," ucap Devan.
Kanaya menelan ludahnya, mendengar kata cake coklat paling enak. Devan yang melihatnya pun tertawa geli.
" Udah ayo! Aku tahu kamu pengin kan?" ujar Devan sambil menarik Kanaya berdiri dari duduknya.
"Kalian mau kemana?" tanya Ratna, yang melihat Kanaya dan Devan beranjak.
"Aku culik Kanaya sebentar, Tante," teriak Devan sambil berjalan menjauhi bersama Kanaya.
Ratna dan Alika tersenyum melihat Devan menggandeng tangan Kanaya dan mengajaknya pergi.
"Harusnya kita mejodohkan mereka berdua sejak dulu," gumam Ratna pelan, masih memandangi punggung Kanaya dan Devan.
"Sudahlah Ratna, memang sudah jalannya seperti ini, kita berdoa saja semoga mereka berdua bisa bersama. Kita orang tua tidak bisa memaksa," ujar Alika sambil menepuk pundak Ratna. Ia tahu Ratna merasa bersalah karena membiarkan Elvano menikah dengan Kanaya waktu itu dan tidak mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya hingga saat ini.
"Bentar Van, aku ganti baju dulu," ujar Kanaya yang saat itu memakai rok mini sebatas betis berwarna coklat dan kaos putih berwarna putih lengan pendek.
Devan ikut berhenti, namun langsung menarik kembali tangan Kanaya setelah melihat pakaian Kanaya sesaat.
"Nggak perlu ganti baju, Ay. Kamu sudah cantik seperti itu," puji Devan sambil terus menggandeng tangan Kanaya.
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen dan vote.
__ADS_1