Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Kecurigaan Devan


__ADS_3

Pak Elvano, sampai di penerbangan terakhir ini, kami tidak menemukan keberadaan Ibu Kanaya dan Pak Devan, begitu pula jalan - jalan yang menghubungkan dengan luar kota sudah kami barikade, namun tidak ada suatu hasil. Mungkin mereka masih berada di dalam kota, kami akan terus melakukan pencarian," ujar Kapten Riko.


Elvano merasa janggal. Tidak mungkin Devan tidak membawa Kanaya keluar dari kota D, karena selama Kanaya berada di kota, Elvano akan menemukannya dengan cepat ataupun lambat.


"Apa ada penerbangan lain yang berangkat dari kota ini?" tanya Elvano.


"Sebentar," ujar Kapten Riko sambil memanggil anak buahnya dan menanyakan pertanyaan Elvano.


"Ada dua penerbangan, yang pertama dari Bandara Airlangga dan satu lagi dari Bandara Kusuma," ujar salah satu anak buah Kapten Riko.


"Kemana tujuannya?" tanya Elvano tiba - tiba.


"Dari Bandara Airlangga menuju ke kota M dan yang dari Bandara Kusuma menuju ke kota B," tutur anak buah Kapaten Riko.


"Kota B? Siapa yang menaikinya?" tanya Elvano cepat saat mendengar tujuannya ke kota B.


"Di sini di sebutkan 4 penumpang, 2 laki - laki dan 2 perempuan, keluarga Alexander David Mahendra," ujar anak buah Kapten Riko.


"Bukankah Devan Permana adalah pengacara Alexander David Mahendra?" ujar Kapten Riko seperti berpikir.


"Aaaaaaaarrrrggghhh! Devannnnnnnn!" Teriak Elvano menyadari kemungkinan besar Devan telah keluar dari kota D bersama Kanaya, Istrinya malam itu.


***


Devan tidak bisa tidur malam itu. Ia beberapa kali terbangun oleh teriakan Kanaya karena mimpi buruknya datang kembali. Dan setiap kalinya ia selalu menenangkan Kanaya kembali. Devan tidak tahu apa yang membuat Kanaya bermimpi buruk., namun ia menebak hal itu berhubungan dengan Elvano. Ia berniat menanyakan pada Kanaya esok pagi mengenai mimpi buruknya itu.


Hari itu Devan tidak bekerja. Ia berniat untuk mengunjungi Alexander David Mahendra untuk mengucapkan rasa terima kasih atas bantuannya. Ia pun ingin berbicara dengan Kanaya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Kanaya selalu mendapatakan mimpi buruk. Setelah terbangun karena mimpi buruk di pagi hari Kanaya tidak ingin tidur lagi. Devan pun kembali ke kamarnya untuk mandi. Dan saat ia telah selesai mandi, ibunya telah menunggu di dalam kamarnya.


"Bunda ngapain sih Bunda ada di sini?" tanya Devan heran sambil tersenyum, menyangka Bundanya masih menganggapnya sebagai anak kecil.


"Bagaimana dengan Kanaya, Devan?" tanya Bunda ingin tahu bagaimana Kanaya semalam.


'Ooh Bunda mau tanyain Kanaya' bantin Devan.


Devan menghela napas berat.


"Entahlah Bun, Kanaya selalu terbangun karena mimpinya," jawab Devan terlihat sedih.


Bunda mendesah.

__ADS_1


"Bunda sudah tahu apa yang menyebabkan Kanaya seperti itu. Kasihan sekali Kanaya," ujar Bunda.


"Bunda tahu? Bunda tahu dari mana?" tanya Devan antusias sambil duduk di ranjang di sebelah Bundanya.


"Tadi malam, Bunda tanya pada Bella dan Bella yang menceritakan pada Bunda, apa yang terjadi pada Kanaya sebenarnya," ujar Bunda dengan wajah khawatir.


"Devan, kamu harus bantu Kanaya. Jangan biarkan dia kembali pada suaminya. Bunda nggak nyangka Elvano memperlakukan Kanaya begitu kejam." ujar Bunda sambil meneteskan air mata.


"Bun, jangan buat Devan bingung. Apa yang sudah Elvano lakukan pada Kanaya?" tanya Devan mendesak Bundanya untuk bercerita.


Devan memang sudah menduga Elvano telah melakukan kekerasan pada Kanaya, namun ia belum tahu pasti apa yang sudah Elvano lakukan pada Kanaya dan tidak ada bukti yang dapat membuktikan bahwa Elvano telah melakukan kekerasan pada Kanaya. Ia baru akan bicara dengan Kanaya pagi ini.


Bunda mendesah, tak tahu harus mulai bercerita dari mana.


Melihat mimik wajah Bunda, Devan menjadi tambah khawatir.


"Devan, menurut apa yang di ceritakan Bella," ujar Bunda sambil memegang tangan Devan dan menatap bola mata anaknya yang terlihat khawatir.


Bunda pun mulai menceritakan apa yang di ketahuinya dari Bella. Dan wajah Devan berubah merah saat Bunda selesai menceritakan apa yang diketahuinya.


"Kurang ajar kamu Elvano! Aku akan menjebloskanmu ke penjara!" Teriak Devan dengan geram.


Devan langsung keluar dari kamarnya dan mendapati Kanaya tengah berjalan keluar dari kamarnya dan sudah berganti pakaian setelah mandi.


Wajahnya terlihat lebih segar. Walaupun lingkaran hitam masih membayang di bawah matanya. Ia tersenyum pada Devan saat melihat Devan keluar dari kamar.


Melihat itu, hati Devan pun melembut dan langsung menghampiri Kanaya.


"Ay bisa aku bicara denganmu,?" tanya Devan sambil melihat Kanaya dengan sayang.


"Ada apa, Van? Apa... apa terjadi sesuatu?" tanya Kanaya, khawatir jika Elvano berhasil menemukan mereka, dan memaksa Devan untuk mengembalikannya.


Hal itu mudah saja bagi Elvano, karena ia memiliki uang dan bisa mengancam siapapun di kota D.


Devan menggeleng dan mendudukkan Kanaya di sofa, bersebelahan dengannya.


"Ay, jawab pertanyaanku dengan jujur," ujar Devan sambil menatap mata Kanaya.


"Apa Elvano memperlakukanmu dengan buruk?" tanya Devan sambil memandang mata Kanaya. Mata Kanaya mulai menggenang dan ia tertunduk.

__ADS_1


"Apa dia pernah memukulmu," tanya Devan lebih spesifik.


Kanaya tidak menjawab dan meneteskan air mata.


"Ay, aku tidak bisa membantumu, kalau kamu tidak bercerita dengan jujur. Apa benar kamu ingin berpisah dari Elvano?" tanya Devan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya dan menatap matanya.


Kanaya mengangguk.


"Oleh karena itu kamu harus menceritakan apa saja yang terjadi. Agar aku bisa membelamu, Ay." ujar Devan


Kanaya ragu untuk menceritakan apa yang di alaminya. Ia merasa malu.


"Apa dia mencambukmu?" tanya Devan lebih spesifik, menanyakan dugaannya.


Kanaya terkejut mendengar pertanyaan Devan. Bagaimana Devan bisa tahu? Pikir Kanaya.


Kanaya tampak tidak tenang. Ia menggigit bibir bawahnya, gelisah untuk menceritakannya pada Devan.


"Kamu hanya perlu menjawab Ya atau Tidak, Ay." ujar Devan.


Kanaya menatap Devan, dan akhirnya ia mengangguk sambil meneteskan air mata.


Devan begitu marah merasakan betapa sakit yang di rasakan Kanaya, namun ia berusaha meredamnya. Ia masih harus bertanya satu hal lagi pada Kanaya.


Kejadian malam itu. Sehari setelah Kanaya bertemu makan siang dengannya.


Devan kembali mengenggam tangan Kanaya.


"Ay, malam sebelum kamu pergi meninggalkan Elvano, apa yang sudah terjadi?" tanya Devan.


Wajah Kanaya langsung berubah pucat dan panik. Ia pun berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauhi Devan dan ia tampak gugup.


'Aku tidak mungkin menceritakan hal itu pada Devan. Aku malu. Apa yang akan Devan pikirkan tentang aku? Aku perempuan yang sudah ternoda dan tak berguna!' batin Kanaya, merasa dirinya kotor dan menjijikan.


"Kanaya, Kanaya!"


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typo.


Jangan lupa like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2