
Elvano pun segera menghubungi Arfan, asistennya untuk memberikan restoran Available untuk makan malam mereka. Untung saja Arfan mempunyai koneksi. Sehingga mereka mendapatkan tempat untuk makan malam di sebuah restoran eropa. Memang restoran itu kurang cocok untuk makan bersama anak - anak. Namun, Elvano tidak ada pilihan lain pada saat jam makan malam seperti itu.
"Kak Elvano, Kamu yakin mau ajak makan malam di sana?" tanya Kanaya yang melihat restoran itu banyak di datangi para pebisnis dan orang dewasa.
"Iya nggak pa - pa kan,Ay. Anak - anak bisa belajar makan - makanan eropa. Aku rasa mereka juga punya menu yang anak - anak suka kok," ujar Elvano beralasan.
"Iya sih, soal menu aku rasa tidak ada masalah," jawab Kanaya. Tapi Kanaya terlihat masih ragu.
"Pah, ayo kita keluar. Alvaro sudah sangat lapar!" Ujar Alvaro melihat mereka hanya terdiam saja di parkiran.
"Iya, Clara juga udah lapar," ujarnya sambil memegang perutnya dengan mendramatisir.
Kanaya dan Elvano yang melihat mereka pun hanya tertawa kecil.
"Ya sudah, ayo Ay." ujar Elvano sambil mematikan mesin mobil dan beranjak keluar mobil.
Elvano membuka pintu mobil dan membiarkan Alvaro dan Clara keluar, dan mereka berjalan bersama menuju ke pintu masuk restoran itu seperti sebuah keluarga.
"Reservasi atas nama Yohanes Elvano Alvarendra," ujar Elvano pada resepsionist restoran.
"Baik Pak Elvano. Sudah kami sipakan meja untuk Bapak dan sekeluarga," ujar resepsionist itu sambil menunjukkan jalan yang sudah di sediakan untuk mereka.
"Clara.... mau makan apa?" tanya Elvano pada Gadis mungil itu.
"Ada apa Pah? Es krim?" tanya Clara sambil memandang wajah Elvano dengan wajah polosnya.
"Kalau Clara hari ini makannya pinter, nanti Papa pesankan es krim," ujar Elvano. Elvano tahu, Clara tidak terlalu suka sayur dan picky pada makanannya, sehingga ia mengatakan itu agar Clara mau menghabiskan makanan yang di makannya.
Clara mengangguk, kemudian ia melihat gambar menu makanan yang di pegang Elvano untuknya.
Setelah membolak balik menu itu, akhirnya Clara menunjuk gambar chicken steak dengan kentang dan sayur.
"Tapi ingat ya, sayurannya harus di makan," ujar Elvano mengingatkan Clara.
"Iya Pah, tapi Papa jangan lupa sama es krimnya. Clara mau yang rasa vanila dan rasa coklat," ujar Clara sambil terkekeh.
"Iya, nanti Papa pesankan ya," ujar Elvano sambil mengelus rambut Clara dan mengatakan pesanannya pada waiter di sana.
__ADS_1
"Alvaro mau apa?" tanya Elvano beralih pada Alvaro.
"Alvaro ini aja, Pah," jawab Alvaro, sambil menunjuk Lamb Chop With Musroom sauce.
"Alvaro bener mau coba yang ini?" tanya Kanaya.
"Iya Bunda, kelihatannya enak." jawab Alvaro sambil tersenyum.
Sekelebat Kanaya merasa melihat Alvaro semakin mirip pada Elvano, gaya bicaranya dan juga penampilannya, dan mungkin sekarang pun seleranya.
"Kamu Ay?" tanya Elvano memecah lamunan Kanaya.
"Mmm... aku pesan Duck Confit," ujar Kanaya pada Elvano. Kemudian menoleh pada waiter yang ada di sana.
"Rib Eye steak nya satu ya, Mbak." ujar Elvano memberitahukan pesanannya pada waiter dan menutup buku menu setelah memesan minuman untuk mereka.
"Pah, besok bisa datang ke acara sekolah Alvaro?" tanya Alvaro saat mereka tengah makan.
"Besok? Jam berapa?" tanya Elvano.
"Siang Pah, jam 11. Setelah istirahat, di kelas Alvaro ada acara pengenalan profesi dan Alvaro ingin Papa yang datang, bisa Pah?" tanya Alvaro sambil menatap Elvano, berharap Papanya itu punya waktu karena ia tahu Papa nya itu termasuk orang yang sibuk dengan bisnisnya.
Alvaro tidak tahu betapa Elvano terharu dan bersorak gembira mendengar permintaan anaknya itu.
"Terus Clara bagaimana? Hmmpt!" Tanya Clara yang tiba - tiba memanyunkan mulut dan melipat tangannya di depan dada.
"Clara memang kenapa?" tanya Kanaya dengan tersenyum geli melihat putrinya.
"Kakak sama Papa. Terus Clara?" ucapnya sambil menatap Kanaya dan Elvano bergantian seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Kanaya dan Elvano menahan tawanya setelah melihat raut wajah Clara.
"Yaa, besok Bunda datang buat Clara," ujar Kanaya sambil tersenyum. Membuat Clara ikut tersenyum.
"Hore! Berarti besok Bunda sama Papa, sama - sama ke sekolah ya?" tanyanya dengan polos.
Kanaya dan Elvano saling pandang.
"Iya, besok Papa dan Bunda ke sekolah," ujar Kanaya pada Clara, lalu ia meneruskan makannya.
__ADS_1
"Ay," panggil Elvano, saat ia melihat noda saus di garis bibir Kanaya.
"Ya?" tanya Kanaya sambil menoleh ke arah Elvano.
Elvano menunjuk bibirnya sendiri untuk memberitahu Kanaya bahwa ada noda saus. Kanaya mengelap bibirnya dengan serbet, namun justru di tempat yang salah.
Elvano mencodongkan tubuhnya mendekati Kanaya, hingga wajah mereka berdekatan dan membersihkan noda saus di bibir Kanaya dengan jarinya.
"Sudah," ucap Elvano sambil tersenyum, kemudian kembali ke tempatnya.
"Terima kasih," ujar Kanaya dengan nada canggung.
Alvaro yang duduk di sebrang Elvano memperhatikan hal itu. Di usianya yang 10 tahun, Alvaro sudah bisa melihat bahwa Papanya sangat menyukai Bundanya. Dan ini bukan pertama kali ia melihatnya. Tidak seperti Clara, Alvaro sudah tahu bahwa dahulu mereka pernah bersama, meskipun ia tidak tahu mengapa mereka bisa berpisah.
Ayahnya yang sudah pergi setahun yang lalu, dan Alvaro sering melihat Bundanya itu termenung di rumah. Ia tidak ingin melihat Bundanya terus bersedih dan memikirkan Ayah. Buat Alvaro, ia tidak ingin mempermasalahkan jika Papa dan Bundanya kembali bersama, karena ia pun ingin melihat mereka berdua bahagia.
Satu jam lebih mereka berada di restoran itu, dan Elvano pun mengantar mereka pulang. Saat sampai rumah waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Alvaro tampak mengantuk dan Clara tidur di kursi belakang.
"Biar aku yang gendong Clara," ujar Elvano saat ia telah sampai di rumah Kanaya.
Kanaya mengangguk dan membuka pintu di samping Alvaro dan mengajak Alvaro berjalan bersamanya. Sementara Elvano menggendong Clara masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di kamarnya.
"Kak El, kamu mau minum kopi dulu?" tanya Kanaya setelah ia mengantar anak - anak tidur.
"Sudah malam Ay. Lain kali saja. Lagian aku tidak menyetir. Ada Arya di bawah," ujar Elvano. Arya supirnya memang menunggu di rumah Kanaya selama mereka pergi makan ke restoran.
"Terima kasih, sudah ajak kami makan di luar. Anak - anak sangat senang sekali," ucap Kanaya sambil mengantarkan Elvano keluar rumah.
"Sama - sama Ay. Besok aku jemput di kantor? Maksudku... untuk ke sekolah Alvaro dan Clara..." ujar Elvano cepat - cepat mengoreksi ucapannya.
"Oh iya, besok ya," ujar Kanaya tertawa, mengingat janji mereka pada anak - anak.
"Iy boleh, Kak El. Kalau tidak merepotkan," jawab Kanaya.
"Nggak Ay. Toh, aku udah janji sama Alvaro. Sampai besok ya Ay," ucap Elvano sambil pamit dan berjalan ke arah mobilnya.
Elvano sangat senang sekali malam ini. Apalagi besok ia akan datang ke sekolah Alvaro dan Calara bersama Kanaya. Meskipun ia tidak berani berharap dirinya dan Kanaya akan kembali bersatu, buat Elvano bersama - sama dengan mereka saja sudah bisa membuatnya bahagia.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya