Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Titik Terang


__ADS_3

"Kamu memang perempuan murahan Kanaya! Kau membiarkan laki - laki lain menyentuhmu! Dimana harga dirimu, hah?" teriak Elvano pada Kanaya sambil menghujam tubuh Kanaya, dan mengacuhkan rintihan kesakitan Kanaya.


"Hentikan Kak Elvano, kau menyakitiku.... Aaaaahh!" Teriak Kanaya sambil meneteskan air mata.


Ia tidak bisa berontak karena Elvano mencengkram tangannya dengan kuat dan menindih tubuhnya, dan tidak meninggalkan celah untuknya melarikan diri.


" Kak Elvano.... Tolong hentikan... " teriak Kanaya dengan suara parau memohon agar Elvano berhenti memaksakan dirinya.


"Kau menyukainya Kanaya? Bagaimana, apa aku lebih baik dari Devan, hah?!" Tanya Elvano dengan tatapan tanpa iba menatap Kanaya yang berada di bawah kungkungannya.


"Tolonglah Kak Elvano hentikan..." pinta Kanaya berkali - kali, namun Elvano tidak menghiraukannya.


"Hentikan... ku mohon hentikaaan!" Teriak Kanaya sambil terduduk di sofa.


"Nyonya! Nyonya! Anda baik - baik saja Nyonya, itu hanya mimpi..." ujar Bella sambil memeluk Kanaya yang terduduk di sofa dengan wajah yang pucat pasi, nafas terengah - engah dan keringat membasahi tubuh dan keningnya.


Kanaya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir, masih trauma dengan apa yang Elvano lakukan padanya malam itu. Elvano tidak hanya menyakitinya secara lahir dan batin, tetapi juga menghancurkan harga dirinya. Elvano tengah merenggut kegadisannya dengan paksa dan menuduhnya berselingkuh serta melakukan hubungan terlarang dengan Devan.


Setiap malam Kanaya selalu bermimpi hal yang sama berulang - ulang sehingga Bella pun harus menenangkannya.


Sore ini Kanaya harus tertidur sebentar saat ia tengah menulis cerita di ponselnya, namun mimpi itu datang kembali.


"Minum ini Nyonya," ujar Bella sambil menyodorkan segelas air. Kanaya mengambil gelas air putih itu dan meminumnya.


"Tidak apa Nyonya, itu hanya mimpi," ujar Bella lagi sambil menepuk perlahan pundak Kanaya.


Kanaya mengangguk dan menghapus keringat di dahinya sambil menghirup nafas dalam - dalam mencoba menenangkan dirinya.


Kanaya tak punya siapa - siapa lagi kecuali Bella. Menghubungi Mamanya pun tidak bisa, karena Elvano pasti akan menanyakan ke Mamanya. Ia tidak ingin Elvano mengetahui letak persembunyiannya.


Sedangkan Devan, Devan sudah tidak ada di sini lagi, dan ia pun mengerti Devan lebih memperhatikan Melisa dari pada dirinya. Ia tidak ingin merepotkan.


Kanaya memandang Bella yang berpakaian rapi.


"Kamu mau pergi, Bella?" tanya Kanaya.


"Ya, Nyonya ini waktunya saya bertemu dengan Fandi. Apakah Nyonya tidak apa - apa kalau saya tinggal?" tanya Bella yang ragu meninggalkan Kanaya sendiri di rumah kontrakan mereka.

__ADS_1


"Tidak apa Bella, pergilah, aku baik - baik saja." ujar Kanaya sambil tersenyum.


"Saya pergi sebentar saja Nyonya, saya akan kembali secepatnya," ujar Bella sambil tersenyum.


Kanaya mengangguk.


"Berhati - hatilah Bella," ujar Kanaya saat Bella membuka pintu keluar rumah.


"Baik Nyonya, saya pergi dulu," ujar Bella.


Kanaya menghela napas pelan. Ia tidak tahu apa yang akan di lakukannya kalau tidak ada Bella.


Bella juga mencairkan uang hasil jerih payahnya menulis melalui teman dekatnya Fandi. Bella percaya padanya, sehingga Kanaya pun percaya. Ia tidak punya pilihan lain. Untuk bisa bertahan, ia membutuhkan uang itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan Bella. Sampai ia memikirkan suatu cara untuk pergi dari kota D tanpa di ketahui oleh Elvano.


Sore itu Bella berjalan keluar dari rumah kontrakannya dengan Kanaya dan menelepon Fandi, memberitahukannya bahwa ia sudah dalam perjalanan. Kemudian Kanaya menaiki sebuah angkutan umum, naik dan turun beberapa kali, sampai akhirnya ia masuk ke dalam sebuah toko minuman bubble dan memesan 3 buah es minuman bubble dan 2 buah cake coklat. Dan ia menunggu salah satu kursi disana.


Tak lama Fandi yang mengendarai motor datang dan menghampiri Bella.


"Bell, sudah lama?" tanyanya sambil tersenyum dan duduk di dekat Bella.


"Belum, aku baru saja datang," jawab Bella sambil melihat ke sekelilingnya, mengecek jika tidak ada orang yang memperhatikan mereka.


"Aku baik - baik saja, ini buatmu Fandi," jawab Bella sambil menyodorkan es Bubble kepada Fandi.


Fandi pun menerima dan meminumnya.


"Apa kau sudah mengambilnya?" tanya Bella.


"Ya, seperti yang kamu minta," ujar Fandi sambil memberikan sebuah bungkusan pada Bella.


"Kamu sudah ambil bagianmu, Fandi?" tanya Bella.


"Tidak usah, kalian membutuhkannya," ujar Fandi sambil tersenyum.


"Tidak apa Fandi, ambilah. Nyonya Kanaya sudah memberikannya untukmu," ujar Bella menyampaikan amanah dari Kanaya agar Fandi mengambil sejumlah uang untuk dirinya sendiri, sebagai tanda terima kasih Kanaya padanya.


"Tidak perlu Bella, kalian sangat membutuhkannya. Buat aku melihat kamu baik - baik saja itu saja sudah cukup," ujar Fandi sambil tersenyum.

__ADS_1


Bella pun tersenyum dengan rona di pipinya.


"Maaf ya, aku dan Nyonya selalu merepotkanmu," ujar Bella meminta maaf.


"Tidak apa, aku berharap kalian berdua bisa segera menyelesaikan masalah ini, jadi kamu tidak perlu lagi bersembunyi," ujar Fandi sambil memandang gadis di depannya. Ia tahu betapa Bella sangat mengagumi Nyonyanya itu, dan ia sudah menganggapnya seperti Kakaknya sendiri.


Mereka pun mengobrol selama beberapa saat, sampai Bella pamit, karena tidak ingin meninggalkan Kanaya terlalu lama.


Ia pun pulang dengan menggunakan angkutan umum, menolak untuk di antar oleh Fandi. Bella tidak ingin membuat Fandi dalam masalah jika terlihat sering bersama dengannya.


Bella pun pulang dengan menggunakan beberapa angkutan kota, hingga ia turun di depan gang, tak jauh dari rumah kontrakannya dengan Kanaya.


Ia pun berjalan menuju rumah kontrakannya dan masuk ke dalam rumah itu.


Tak jauh dari mobil yang di kendarai Gilang berhenti dan memperhatikan sebuah rumah kecil bercat putih dan berpagar bambu.


Gilang memang telah mengikuti Fandi sejak ia keluar dari cafe hingga ia bertemu dengan Bella di tempat minuman bubble, hingga akhirnya Gilang mengikuti Bella sampai ke rumah itu.


Gilang sangat yakin disanalah Kanaya dan Bella tinggal, sebab hingga ia menunggu selama lebih dari setengah jam, Bella tidak keluar juga dari sana.


Untuk memastikannya, saat menjelang petang dan tidak banyak orang yang berlalu lalang, Gilang turun dari mobilnya dan berjalan mendekati rumah itu. Perlahan - lahan ia membuka pagar bambu rumah itu dan masuk ke dalam pekarangannya.


Ia berhenti di dekat jendela rumah itu, dan mendengar dua orang sedang bercakap - cakap.


"Terima kasih Bella, sepertinya sudah berabad - abad aku tidak makan kue seenak ini," ujar suara perempuan yang tertawa kecil.


"Apa rasanya benar seenak itu, Nyonya?" tanya suara wanita lainnya juga sambil tertawa.


"Ya, enak sekali. Mungkin karena sudah lama tidak menikmati kue ini... seperti buatan Mamaku," ujar wanita yang satunya namun kali ini tanpa tertawa.


"Saya yakin buatan Nyonya Ratna pasti sangat enak," ujar wanita yang lainnya berkata.


Gilang pun perlahan mengintip dan melihat Bella dan Kanaya. Walaupun samar karena gorden tipis yang menutupi jendela rumah itu, tetapi ia sangat yakin wanita yang berbincang dengan Bella itu adalah Kanaya Zahira.


Gilang segera meninggalkan tempat itu, dan kembali ke mobilnya.


"Hallo Pak Devan," sapa Gilang saat panggilan teleponnya sudah di angkat.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2