
Alika geleng - geleng kepala saat ia bangun pagi waktu itu dan melihat kondisi dapur.
"Apa yang terjadi tadi malam tidak seperti biasanya. Kanaya membuat dapur seberantakan ini," gumam Alika.
Alika berpikir semalam Kanaya lah yang memasak. Ia tidak tahu kalau Devanlah yang membuat berantakan dapur tadi malam.
Sampai matahari terbit, Devan dan Kanaya belum juga bangun. Bahkan saat ia membangunkan Devan. Ia mengerjap sebentar kemudian ia tertidur lagi.
"Sebentar lagi Bun. Devan berangkat siang," ujar Devan sambil mata masih terpejam saat Alika membangunkannya.
"Sepertinya mereka begadang semalaman," ujar Ratna sambil menggelengkan kepalanya.
Untung saja Siti sigap dan langsung membersihkan dapur untuk membuat sarapan pagi bagi mereka.
Kanaya bangun terlebih dahulu dari pada Devan dan langsung bersiap - siap untuk pergi bekerja tidak seperti Devan, ia masuk kerja seperti biasanya. Meskipun sebenarnya Kanaya bisa berangkat siang, namun ia ingin mencontohkan kepada pegawai untuk bekerja tepat waktu.
"Semalam kalian tidur jam berapa, Ay?" tanya Ratna saat Kanaya keluar dari kamar sudah berpakaian rapi.
"Jam tiga kayaknya, terus habis subuh tidur lagi," jawab Kanaya.
"Devan belum bangun, Mah?" tanya Kanaya sambil melihat ke sekeliling mencari Devan.
"Belum, katanya berangkat siang," ujar Alika.
"Ooh..." gumam Kanaya sambil manggut - manggut.
"Sarapan dulu, Ay." ajak Alika sambil ia duduk di kursi meja makan.
"Kanaya ajak Devan dulu, Bun. Biar bisa sekalian sarapan," ujar Kanaya kemudian ia masuk ke dalam kamar Devan.
"Van, Devan.... sarapan yuk, Van." ajak Kanaya sambil menepuk punggung Devan yang sedang tidur sambil memeluk guling.
Mendengar suara Kanaya, Devan berbalik dan membuka sebelah matanya. Ia telah melihat Kanaya telah berpakaian rapi dan siap untuk bekerja.
"Kamu sudah mau berangkat, Ay?" tanya Devan sambil beranjak duduk dan mengucek matanya.
"Iya, kita sarapan yuk Van." ajak Kanaya sambil beranjak berdiri.
"Tunggu, Ay!" Seru Devan sambil menahan tangan Kanaya.
__ADS_1
Devan membalikkan Kanaya menghadapnya dan menangkupkan tangannya di perut Kanaya, menunggu gerakan dari bayi dalam kandungan Kanaya untuk bergerak seperti tadi malam.
"Dek, kamu udah bangun belum?" ucap Devan seperti berbicara dengan jabang bayi Kanaya.
Kanaya menutup mulutnya sambil menahan tawa melihat sikap Devan.
Saat ada gerakan dari bagian bawah perut Kanaya, tangan Devan pun langsung berpindah.
"Kayaknya dia nendang, Ay!" Ujar Devan sambil tertawa.
"Kamu suka nendang - nendang ya, Dek? Jangan keras - keras ya, kasihan Bunda, nanti Bunda kesakitan " ucap Devan ke perut Kanaya.
Bunda? Kanaya tertegun. Kanaya saja belum punya panggilan untuk dirinya tetapi Devan sudah memanggilnya Bunda untuk anaknya.
"Ayo Van. Kita sarapan dulu," ajak Kanaya lagi.
"Tunggu Kanaya, aku masih kangen," jawab Devan asal saja.
"Dek, Bunda sama Ay...... Om makan dulu ya" ujar Devan lalu mengecup bagian atas perut Kanaya.
Devan hampir saja menyebut dirinya Ayah. Untung saja ia segera teringat, belum waktunya ia menyebut itu.
"Ayuk Ay. Kita sarapan," ajak Devan sambil beranjak.
"Ay, nanti malam kita makan malam di luar ya, ajak Bunda dan Tante Ratna sekalian. Aku mau coba restoran salah satu kolegaku," ujar Devan saat mereka sudah sampai di depan Apartemen.
"Nanti malam? Ok Van, aku usahakan pulang on time hari ini." ujar Kanaya tersenyum.
Devan tersenyum dan berkata "Dek, jangan nakal ya hari ini jaga Bunda baik - baik." Devan mengatakan dengan sangat serius sambil mengelus perut Kanaya.
Kanaya kembali tertegun. Sejak tadi malam entah sudah berapa kali Devan berbicara dengan bayi dalam kandungannya. Meskipun ia terharu, tapi tidak seharusnya Devan mengatakan itu.
"Kamu juga hati - hati, Ay. Jangan terlalu capek," ucap Devan memecah lamunan Kanaya.
"I.. iya, Van. Aku pergi dulu ya" Jawab Kanaya yang baru tersadar dari lamunannya. Ia pun segera keluar dari mobil Devan dan berjalan ke lobby hotel.
Devan menunggu hingga Kanaya benar - benar masuk ke dalam lobby apartement, sebelum ia pergi meninggalkan halaman apartemen itu. Siang itu Devan berangkat bekerja dan langsung ke kantornya. Untung saja hari itu dia tidak ada jadwal sidang, dan hanya bertemu dengan beberapa kliennya untuk membahas beberapa kasus.
"Pak Devan, mau saya buatkan kopi?" tanya Beni yang sudah mulai terbiasa melihat Bosnya itu sedikit mengantuk di kantor.
__ADS_1
Sejak sebulan terakhir, Devan memang beberapa kali masuk terlambat atau terlihat mengantuk saat bekerja. Dan Beni memaklumi, karena mengetahui alasan Bosnya itu mengantuk.
"Ya Beni. Bisa tolong buatkan saya kopi. Saya mengantuk sekali." ujar Devan sambil menguap.
"Semalam Bapak kemana?" tanya Beni penasaran kemana lagi Bosnya itu berada di tengah malam.
"Ceritanya panjang Beni," ujar Devan sambil tersenyum.
"Lebih panjang Pak, dari pada waktu mencari cumi saus padang?" tanya Beni ingin tahu
Devan tertawa.
'Ternyata Beni masih ingat peristiwa itu' batin Devan.
Devan memang cukup dekat dengan Beni, sehingga ia sering bercerita atau mengobrol tentang banyak hal.
"Kurang lebih sama." jawab Devan sambil terkekeh. Mengingat ia membuat cendol Demi ke inginan Kanaya terpenuhi. Dan ia pun teringat kejadian menakjubkan tadi malam.
"Beni, kamu pernah ngerasain gerakan bayi dalam perut?" tanya Devan.
"Pernah Pak, waktu Kakak saya mengandung. Saya sempat memegang perutnya?" jawab Beni.
"Nah, ajaibkan? Tadi malam saya bisa merasakan anaknya Kanaya bergerak - gerak setiap saya pegang perutnya!" Cerita Devan dengan penuh bersemangat.
"Rasanya sangat luar biasa, Beni!" Tambah Devan dengan tersenyum lebar.
"Dan tadi pagi pun begitu! Anak itu sepertinya sangat aktif dan responsi sekali," ujar Devan sambil bergumam dan tersenyum.
Beni tersenyum melihat Bosnya yang sangat bersemangat. Dalam hati ia berharap Bosnya bisa bersama dengan Kanaya Zavira. Beni tidak tahu apa yang ada di dalam diri Kanaya Zavira yang bisa membuat Bosnya itu benar - benar mencintai janda dari Yohanes Elvano Alvarendra itu. Sampai - sampai rela menunggu hingga Kanaya melahirkan bayi yang ada di kandungannya. Padahal tidak sedikit wanita yang berusaha mendekati Devan Permana. Dari yang masih gadis sampai sudah janda, yang malu - malu sampai yang beneran nekat menyatakan perasaannya. Devan Permana tidak bergeming. Devan bahkan tidak peduli di katakan orang - orang mengenai hubungannya dengan Kanaya.
"Terserah orang mau bilang apa, toh aku dan Kanaya tidak melewati batas - batas yang seharusnya," ujar Devan satu kali saat Beni pernah mengatakan apa yang banyak orang katakan.
Mengenai hal itu Beni tidak berani berdebat. Justru ia sangat kagum pad Devan, yang tetap setia pada Kanaya apapun yang terjadi.
"Beni, kamu jadi mau buatkan kopi atau tidak? Kok malah ngelamun?" tanya Devan memecah lamunan Beni.
"Jadi Pak. Kirain, Bapak sudah nggak ngantuk lagi," jawab Beni sambil tersenyum geli.
"Sudah buatkan saja!" Jawab Devan sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.