Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Sakitnya Kanaya


__ADS_3

Devan bersiap - siap untuk pergi bekerja pagi itu, ia sangat bersemangat untuk bekerja setiap harinya mengetahui bahwa ia dan Kanaya sama - sama memiliki perasaan yang sama dan mereka hanya selangkah lagi untuk bisa bersama. Devan berencana akan melamar Kanaya begitu masa iddahnya usai.


Ia pun keluar dari kamarnya, berpakaian rapi dan menenteng jas serta tas kerjanya yang ia letakkan di kursi ruang tamu sebelum ia berjalan ke ruang makan.


Di sana sudah ada Tante Ratna dan Bunda yang sedang minum teh hangat dan menunggunya.


"Kanaya mana, Tante?" tanya Devan yang tidak melihat Kanaya duduk bersama mereka.


"Kanaya masih tidur, katanya agak pusing dan perutnya nggak enak," ujar Ratna menerangkan.


"Kanaya sakit?" tanya Devan dengan nada khawatir.


"Sepertinya masuk angin, tadi sudah makan roti dan minum obat masuk angin, mudah - mudahan nanti baikan." jawab Ratna.


"Boleh Devan lihat?" tanya Devan meminta izin pada Ratna.


Ratna mengangguk dan tersenyum.


Devan berjalan ke arah kamar Kanaya dan mengetuk pintunya. Namun, karena tak ada jawaban ia pun membukanya.


"Ay...." panggilnya saat di lihatnya Kanaya sedang tidur meringkuk di bawah selimut.


Kanaya tidak menjawab. Devan pun berjalan mendekat dan membiarkan pintu kamar terbuka.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Devan sambil duduk di tepi ranjang. Ia membelai rambut Kanaya yang menutupi wajah Kanaya dan memindahkannya ke samping.


Kanaya membuka matanya dan melihat Devan duduk di sampingnya. Serta merta ia pun duduk menghadap Devan.


"Aku hanya sedikit pusing dan mual, sepertinya masuk angin," jawab Kanaya tampak sedikit pucat


"Aku antar ke dokter ya?" tanya Devan. Ia sangat khawatir melihat wajah Kanaya yang pucat.


"Nggak usah Van. Aku cuma perlu istirahat Aja. Ini juga sudah minum obat masuk angin. Nanti juga sembuh sendiri," jawab Kanaya sambil tersenyum ia tidak ingin Devan mengkhawatirkannya.


"Ay, aku sangat khawatir. Biar aku antar kamu ke dokter ya," pinta Devan dengan memaksa.


"Nggak usah, Van. Udah kamu sarapan aja dulu, nanti kamu terlambat loh," ujar Kanaya mencoba menyuruh Devan pergi bekerja dan tidak mengkhawatirkannya.


Devan memandangi Kanaya memastikan ia baik - baik saja.

__ADS_1


"Ya udah, kalau ada apa - apa telepon ya," ujar Devan yang masih merasa khawatir.


"Iyaaaa, lagian kan ada Mama dan juga Bunda. Jangan khawatir nanti juga sembuh," ujar Kanaya sambil tersenyum dan memegang tangan Devan.


Devan mengangguk dan mengecup pipi Kanaya, sebelum ia keluar dari kamar Kanaya dan menutup pintunya. Ia membiarkan Kanaya untuk beristirahat dan berharap agar ia segera sehat.


"Bagaimana Kanaya, Van?" tanya Bunda Alika, saat Devan keluar dari kamar Kanaya.


"Katanya mau istirahat dulu aja, Bun." ujar Devan sambil duduk di kursi meja makan.


"Ya sudah kamu makan dulu. Kan, ada Bunda dan Tante Ratna yang jagain Kanaya. Nggak usah khawatir Devan," ujar Alika sambil menepuk pundak putranya itu.


"Iya Bun, semoga hanya masuk angin biasa," ujar Devan ia menyantap sarapan paginya dengan cepat dan mengintip kembali Kanaya yang tengah tertidur di kamarnya, sebelum ia berangkat ke kantor.


Kanaya berpikir, jika dengan isrirahat yang cukup dan minum obat masuk angin, ia merasa lebih baik. Tetapi ternyata sampai jam 10 pagi pun, ia masih merasa pusing dan mual, bahkan sudah muntah beberapa kali.


Alika dan Ratna pun saling pandang. Mereka mengkhawatirkan satu hal sebagai sesama perempuan mereka berdua mencurigai sesuatu, namun mereka tidak mengatakannya pada Kanaya. Dan mereka berharap kecurigaan mereka salah.


"Ay, Mama antar kamu ke dokter yah," bujuk Ratna yang merasa khawatir melihat keadaan putrinya yang selalu memuntahkan air sejak tadi hingga terlihat sangat lemas.


Saat sedang membujuk Kanaya, Devan menghubungi telepon Bundanya.


Alika terdiam. Bingung menjelaskannya pada Devan.


"Bun? Hallo?" Devan melihat layar telepon genggamnya dan mengecek jika percakapan teleponnya masih tersambung. "Tidak ada masalah, sambungan teleponnya masih terhubung." pikir Devan.


"Bun?" Panggil Devan sekali lagi, sambil ia meletakkan berkas yang tengah di periksanya di atas meja.


"Iya Van," jawab Alika.


"Kanaya gimana, Bun?" tanya Devan sekali lagi. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang janggal.


"Kanaya muntah - muntah terus dan tante Ratna sedang mebujuknya untuk pergi ke dokter," ujar Alika akhirnya.


'Ya Tuhan, semoga bukan seperti yang aku pikirkan,' batin Alika.


"Muntah banyak, Bun?" tanya Devan sambil beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruang kantornya. Ia memberi isyarat pada Beni untuk mendekat.


"Lumayan Van, tapi kamu nggak usah khawatir nanti biar Bunda dan Tante Ratna yang bawa ke dokter," ujar Alika tak ingin anaknya khawatir dengan kondisi Kanaya.

__ADS_1


"Tunggu Devan, Bun. Devan pulang sekarang," ujar Devan lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Beni, tolong cek berkas di mejaku.Aku harus pulang, Kanaya sedang sakit," ujarnya pada Beni.


"Baik Pak, hati - hati di jalan." Jawab Beni sebelum Devan masuk kedalam mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi.


Tak lama Devan sampai juga di rumahnya dan langsung berlari di kamar Kanaya. Di lihatnya Kanaya sedang berbaring lemas di atas ranjangnya dengan wajah yang pucat pasi dan di temani oleh Bundanya dan Tante Ratna.


"Ay, aku antar ke dokter ya," ujar Devan sambil mengangkat tubuh Kanaya dan membopongnya masuk ke dalam mobil. Alika dan Ratna pun turut serta.


Sesampainya di rumah sakit Kanaya masuk ke IGD dan langsung di periksa oleh dokter dan Devan selalu menemaninya.


"Apa yang Ibu rasa?" tanya dokter itu sambil mengecek tekanan darah Kanaya yang ternyata memang sedikit rendah.


"Pusing Dok, dan perut saya mual," ujar Kanaya pelan ia masih tampak sangat lemah.


"Ada muntah? Diare?" tanya Dokter itu lagi.


"Kalau muntah iya, diare nggak, Dok" jawab Kanaya.


Devan mengelus kening Kanaya dan mengecup tangannya, membuat dokter yang memeriksanya tersenyum.


"Saya akan mengambil sampel darah dan urine untuk di periksa," ujar Dokter tersebut.


"Kira - kira kenapa ya, Dok?" tanya Devan ingin tahu.


"Saya menduga sesuatu, tapi biar lebih pasti, kita lihat hasilnya tesnya terlebih dahulu," ujar Dokter itu, sambil tersenyum penuh arti, kemudian ia memanggil perawat untuk mengambil sampel darah Kanaya dan menemaninya ke toilet untuk mengambil sampel urine.


Alika dan Ratna saling pandang mereka tampak sangat tegang, namun berbeda dengan Devan. Devan sudah bisa tersenyum saat Kanaya mengatakan ia sudah tidak terlalu mual lagi.


"Devan, bisa Bunda bicara sebentar?" tanya Alika ia ingin memberitahu kemungkinan penyebab sakitnya Kanaya berdasarkan pengalamannya, karena ia ingin Devan tahu dan lebih siap saat dokter mengatakannya.


"Ya, Bun," jawab Devan sambil beranjak.


"Aku keluar dulu, ya sayang," ujar Devan sambil mengecup tangan Kanaya dan meletakkannya di pangkuan Kanaya, tepat saat dokter datang.


Devan pun mengurungkan niatanya untuk keluar bersama Alika. Ia berpikir untuk mendemgarkan penuturan Dokter terlebih dahulu setelah itu baru berbicara dengan Bundanya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya. Yuk.. jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar kalian.


__ADS_2