
Stoop...✋ Sebelum baca kasih likenya dulu dong..😄 Jangan lupa hari ini hari senin ya, kasih sajen votenya dong dan ramaikan kolom komentarnya ya..😁
🌹🌹🌹 Happy Reading....🤗
Elvano pun masuk kembali dan menemani Kanaya. Saat itu ia sudah memasuki pembukaan 7 dan Dokter Gita sudah ada bersamanya.
"Apa Devan sudah datang?" tanya Kanaya pada Elvano yang menghampirinya.
"Belum Ay. Mungkin sebentar lagi," jawab Elvano merasa tidak enak hati karena sudah mengecewakan Kanaya.
"Tapi, kamu nggak usah khawatir. Devan pasti akan datang," ujar Elvano sambil tersenyum dan memegang erat tangannya, mencoba menenangkan Kanaya.
"Kak El... sepertinya aku akan segera melahirkan..." ujar Kanaya sambil menggenggam erat tangan Elvano, saat ia menahan sakit karena kontraksinya.
"Iya Ay. Kamu akan baik - baik saja. Karena ada Dokter Gita dan juga aku. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu dan anakmu." ujar Elvano
"Aaarrrggh..." ringis Kanaya sambil mencengkram erat tangan Elvano. Meskipun sakit, tapi Elvano bisa menahannya. Ia tahu sakit yang di rasakannya tidak sebanding dengan sakit yang di rasakan oleh Kanaya.
Selama sejam berikutnya, Elvano menemani Kanaya melewati masa kontraksinya yang semakin sering dengan semakin dekatnya waktunya persalinan.
"Sepertinya sudah waktunya," ujar Dokter Gita pada Kanaya dan juga Elvano.
"Tidak apa - apa Kanaya, semuanya akan baik - baik saja," ujar Elvano menenangkan Kanaya.
Sementara itu, Devan baru saja mendarat di private airport di kota B, dan ia segera masuk kedalam mobil yang di supiri Budi. Ia tidak duduk di kursi belakang, dan malah mengambil kursi depan, agar ia bisa ikut memperhatikan jalannya lalu lintas dan segera langsung masuk ketika sampai.
"Cepatlah Budi!" Ujar Devan dengan tidak sabar. Ia ingin segera bertemu dengan Kanaya, dan kalau bisa tiba di sana sebelum Kanaya melahirkan anak mereka.
"Ya Pak," jawab Budi sambil mengendari kendaraannya dengan kencang.
Untung saja lalu lintas tidak terlalu padat malam itu, sehingga Devan sampai di rumah sakit dalam waktu sepuluh menit saja.
Ia langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruang persalinan begitu mobil berada di depan pintu rumah sakit.
"Suster, Istri saya ada di dalam!" Ujar Devan pada perawat yang berjaga di depan ruang bersalin.
"Pakai ini, Pak." ujar suster itu, yang memang sudah menunggu kehadiran Devan.
__ADS_1
Devan segera memakai pakaian itu dan juga sarung tangannya dan menerobos masuk ke dalam ruang persalinan. Saat itu Kanaya sudah pembukaan penuh dan siap melahirkan anak dalam kandungannya. Dan Elvano yang menemani dan memberinya semangat.
"Sayang!" Panggil Devan yang sudah dekat dengan mereka.
Kanaya dan Elvano menoleh ke arah asal suara dan melihat Devan masuk ke dalam ruang bersalin.
"Devan!" Seru Kanaya sambil ia menarik tangannya dari tangan Elvano dan memegang tangan Devan.
Elvano pun bergeser kesamping memberi ruang untuk Devan bersama dengan Kanaya.
"Ayo Kanaya sudah waktunya," ujar Dokter Gita, memberi isyarat pada Kanaya untuk mulai mengejan.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa!" Ucap Devan sambil mengecup tangan Kanaya yang ada di genggamannya.
Setelah berjuang beberapa lama, akhirnya suara bayi menangis terdengar nyaring di dalam ruangan itu. Raut wajah lelah Kanaya berganti menjadi raut wajah suka cita. Ia pun meneteskan air matanya melihat makhluk mungil yang berada tak jauh darinya sedang di bersihkan dan di cek oleh dokter dan juga perawat.
Begitu pula Devan yang langsung merangkul Kanaya dan mengecup keningnya.
"Terima kasih sayang," ujar Devan sambil memeluk Kanaya dan menghapus air matanya. Ia begitu bersuka cita melihat kelahiran anaknya darah dagingnya dengan Kanaya.
Elvano yang melihat semua itu, merasa iri sekaligus ikut bahagia dengan kelahiran anak mereka. Matanya pun menggenang memperhatikan saat perawat memberikan gadis mungil itu kepada Kanaya dan Devan dan di terima dengan penuh suka cita.
Teringat padanya akan Alvaro. Apakah Devan yang mengadzankannya dulu? Dan Elvano pun tidak dapat membedung air matanya saat ia keluar dari ruangan bersalin itu.
Rasa sesal, iri, bahagia, semua bercampur aduk menjadi satu.
Ia tidak membenci Kanaya dan juga Devan. Ia hanya menyesali apa yang sudah terjadi yang membuatnya harus merasakan perasaan ini. Melihat orang yang di cintainya mendapatkan semua kebahagiaan dari orang lain, dan bukan dirinya.
Ia tidak tahu berapa lama ia terbawa pada perasaannya sendiri sampai sebuah tepukan mendarat di pundaknya.
"Elvano, apa kamu tidak ingin melihat keponakanmu?" tanya Devan yang sudah berada di sampingnya sambil tersenyum.
Elvano pun langsung menghapus air matanya.
"Maaf... aku sangat terharu," ujar Elvano berusaha menutupi perasaaanya saat itu.
"Masuklah Elvano," ujar Devan sambil menarik lengan Elvano masuk kembali ke dalam ruang bersalin.
__ADS_1
Elvano berusaha untuk mengontrol perasaannya saat ia masuk kesana dan melihat Kanaya tengah menggendong seorang bayi merah mungil.
"Elvano, apa kamu ingin menggendongnya?" tanya Devan.
"Ya, kalau boleh," jawab Elvano sambil tertawa kecil, tidak menyangka jika Devan akan menawarinya hal itu.
Kanaya memberikan bayi mungil itu kepada Devan, dan Devan meneruskannya pada Elvano yang menerimanya dengan sangat hati - hati.
Elvano memperhatikan wajah bayi yang masih merah itu dan tersenyum.
Pertama kali baginya menggendong bayi yang benar - benar baru lahir dan melihat sendiri proses kelahirannya.
"Dia cantik sekali," ujar Elvano sambil memandang bayi mungil itu.
"Apa kalian sudah memiliki nama untuknya?" tanya Elvano sambil tersenyum memandangi bayi mungil dalam gendongannya.
"Ya, namanya Yohanes Clara Putri Anindita Permana," ujar Devan dengan yakin sambil memandang Kanaya, dan Kanaya pun mengganguk pada nama yang di sebutkan oleh Devan.
Elvano tertegun. Yohanes Clara? Apa ia tidak salah dengar?
Ia pun memandang ke arah Kanaya dan juga Devan.
"Aku dan Kanaya memutuskan untuk menambahkan nama depanmu, karena kami sangat berterima kasih padamu karena sudah menemani Kanaya dan membawanya kerumah sakit," ujar Devan.
"Sungguh bukan apa - apa Devan. Semua orang akan melakukan hal yang sama," ujar Elvano sambil memegang bayi mungil itu dalam gendongannya.
"Tidak Elvano. Tanpa bantuanmu, aku tidak akan bisa sampai disini tepat waktu," ujar Devan pada Elvano.
Tanpa sepengetahuan Kanaya, Elvano memang telah meminjamkan pesawat pribadinya yang terbang khusus dari kota D menuju ke kota B, oleh sebab itulah Devan bisa sampai sebelum Kanaya melahirkan. Kalau tidak, mungkin Devan tidak akan melihat kelahiran anaknya dengan mata kepalanya sendiri.
"Sungguh Devan, itu bukan apa - apa, di bandingkan apa yang sudah kamu lakukan untuk Alvaro," ujar Elvano. Apa yang Elvano katakan memang benar adanya. Selamanya ia akan berterima kasih atas apa yang Devan lakukan untuk Alvaro.
"Tidak apa Elvano, lagi pula nama Yohanes Clara Putri sangat cocok untuknya, dan kamu sudah seperti keluarga bagi kami," ujar Devan mendekati Elvano dan menggendong kembali Clara dalam pelukannya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jkka masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.