
Kanaya menoleh dan terlihat terkejut dengan kehadiran Elvano.
"Kak Elvano, kamu sudah pulang! Maaf aku tak tidak mendengarmu datang," ujar Kanaya sambil berdiri.
"Ada apa menungguku?" ucap Elvano dengan datar namun ia memperhatikan penampilan Kanaya yang berbeda malam itu. Ia terlihat sangat cantik dan lebih segar dengan rambut dan pakaian model baru yang dikenakannya. Belum lagi wajahnya yang kini tengah mengenakan make up yang mempercantik wajahnya. Elvano pun menelan ludah.
"Aku...Mau mengucapkan terima kasih karena sudah memperbolehkanku pergi bersama Mama dan Lisa," ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Hmm." Hanya suara itu yang keluar dari mulut Elvano.
"Dan ini," ujar Kanaya sambil mengeluarkan kartu ATM Elvano dari dompet barunya.
"Ini kartumu, terima kasih." ucap Kanaya sambil mengembalikan kartu itu pada Kanaya.
Elvano memandangi kartu itu sebelum ia menerimanya.
"Apa kamu mau minum sesuatu?" tanya Kanaya menawarkan Elvano minum.
"Tidak," jawab Elvano sambil melangkah ke arah tangga. Tanpa mengucapkan apapun lagi Elvano pun naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Kanaya tidak heran dengan sikap Elvano seperti itu. Elvano memang selalu mengacuhkan dirinya.
Kanaya pun berjalan pula ke lantai atas menuju kamarnya. Ia melihat Elvano masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Ia pun melewati kamar Elvano dan langsung menuju kamarnya di ujung koridor.
Elvano menghela napas mendengar langkah kaki Kanaya melewati kamarnya.
Elvano mengalami pertentangan batin. Hari itu ia merasa sangat lemah karena membiarkan Kanaya berbahagia bersama Mama dan Adiknya. Padahal tujuannya menikah Kanaya adalah untuk membuatnya menderita, memisahkannya dengan Devan seperti Kanaya yang telah memisahkannya dengan Devita.
Ia berjalan menuju foto Devita dan dirinya yang berada di atas meja. Ia telah meminta Sarah untuk mengganti frame yang pecah itu dengan yang baru.
"Devita mulai sekarang aku akan membalaskan dendammu," ujar Elvano sambil memegangi wajah Devita di foto itu.
***
Kanaya bangun pagi - pagi. Ia langsung membereskan kamarnya dan menaruh belanjaannya kemarin ke dalam lemari pakaiannya. Semalam ia terlalu lelah untuk memberesi belanjaannya.
Ia pun langsung mandi dan memilih memakai sebuah baju terusan berwarna navy yang ia beli kemarin bersama Lisa.
Baju itu ia kenakan bersama dengan tali pinggang cantik yang membuatnya terlihat ramping dan cantik.
__ADS_1
Setelah memoles wajahnya dengan make up natural dan menyisir rambutnya sesuai yang diajarkan Lisa padanya, ia pun keluar kamar dan menuju ke dapur.
Ia berniat ingin menyiapakan sarapan pagi untuk Elvano, dan mencoba menjadi istri yang baik baginya. Ia yakin belum terlambat baginya untuk merubah pandangan Elvano terhadapnya, dan memperbaiki hubungan suami - istri Elvano dengan
Sarah tidak ada disana, tetapi ada Bella yang tengah mempersiapkan sarapan pagi mereka.
"Bella kamu menyiapkan apa untuk sarapan Tuan pagi ini?" tanya Kanaya ingin tahu apa yang di siapakan pelayan mereka untuk Elvano.
"Sesuai menu yang di setujui juru masak akan memasak pancake untuk sarapan pagi ini, Nyonya" jawab Bella.
"Pancake apa?" tanya Kanaya ingin tahu apa kesukaan Elvano.
"Biasanya Tuan makan dengan telur mata sapi setengah matang, butter dan keju Nyonya," jawab Bella sambil memandang kagum pada kecantikan Kanaya. Dalam hatinya ia heran kenapa Tuannya tidak menyukai Nyonyanya yang secantik ini.
"Lalu apa kesukaan kopi Tuan?" tanya Kanaya karena ia sering melihat Elvano sarapan dengan kopi, dan Elvano pernah mengatakan kalau kopi buatannya itu tidak enak. Dan ia ingin tahu jenis kopi apa yang di sukai oleh Elvano.
"Ini Nyonya, Tuan sangat suka minum kopi ini," jawab Bella sambil menunjukan sebuah kemasan kaleng berisi kopi yang sangat wangi.
Kanaya menghirup kopi itu dan mengangguk. Kopi itu memang wangi sekali, pantas saja Elvano sangat menyukainya batin Kanaya.
"Bella, nanti saya yang akan menyiapkan kalau Tuan sudah turun ya," ujar Kanaya.
"Baik Nyonya," jawab Bella sambil tersenyum.
"Kak Elvano.." panggil Kanaya sambil mengetuk pintu kamar Elvano. Dan tidak ada jawaban.
"Kak Elvano..?" panggilnya lagi sambil masih mengetuk pintu kamar Elvano, kali ini agak sedikit kencang.
Tidak ada jawaban.
Saat Kanaya ingin mengetuk pintunya sekali lagi, pintu terbuka, dan wajah Elvano yang baru bangun tidur menatapnya tajam.
"Apa lagi?! Kenapa pagi - pagi sudah mengangguku!" bentak Elvano pada Kanaya.
"Maaf Kak El, aku hanya ingin membangunkanmu. Ini sudah pagi, nanti kamu terlambat ke kantor," jawab Kanaya berusaha untuk tersenyum pada Elvano walaupun Elvano baru saja membentaknya.
Sabar Kanaya. Batinnya
"Sudah pergi sana!" ujar Elvano lalu membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
Kanaya menghela napas menerima perlakukan Elvano yang masih kasar padanya. Ia pun memilih memunggu Elvano di meja makan dan menyiapkan peralatan makannya.
Setengah jam kemudian Elvano turun dan berjalan menuju ke arah meja makan.
"Duduklah Kak Elvano, akan aku siapakan makananmu," ujar Kanaya sambil tersenyum
Elvano mengerutkan keningnya melihat apa yang di lakukan oleh Kanaya. Kanaya melayaninya dengan tersenyum. Selain itu, ia pun tampil sangat cantik pagi itu.
"Ini sarapanmu, Kak El," ujar Kanaya sambil meletakkan piring berisi pancake, telur mata sapi setengah matang dan sekotak butter di sampingnya.Kemudian Kanaya mengambil Kopi yang sudah ia siapkan di pantri dan menaruh di depan Elvano.
Kanaya tersenyum saat Elvano menoleh padanya.
"Kemana Sarah?" tanya Elvano sambil mengambil cangkir kopinya kemudian menyesapnya pelan.
"Sarah sedang pergi berbelanja," jawab Kanaya. Ia mengetahui hal ini dari Bella. Kepala Asisten Rumah Tangga memang kerap harus pergi dan membeli bahan makanan untuk beberapa minggu.
Kanaya memperhatikan Elvano yang menyesap kopi buatannya. Namun Elvano tidak berkomentar apa - apa dan memotong pancakenya.
'Syukurlah kopinya tidak di bilang tidak enak' batin Kanaya.
"Ngapain kamu masih berdiri di situ? Pergilah!" ujar Elvano tanpa menoleh pada Kanaya.
Kanaya tetap tersenyum walau hatinya sangat sakit dan ia pun pergi meninggalkan Elvano.
'Sial, ngapain juga dia berdiri di situ!' Maki Elvano dalam hati.Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kanaya disana yang melayaninya dengan baik, sedangkan ia harus berlaku kasar padanya.
Elvano pun memakan makananannya dengan cepat dan memilih secepatnya untuk pergi ke kantor. Ia pun beranjak dan berjalan ke pintu depan.
Kanaya yang melihat Elvano selesai sarapan pun mengikuti Elvano. Dan sebelum Elvano masuk ke dalam mobil, ia meraih tangan Elvano dan mencium punggung tangannya.
"Hati - hati di jalan," ujar Kanaya sambil tersenyum
Elvano tidak merespon tindakan Kanaya dan masuk ke dalam mobil. Namun sebelum ia menutup pintu mobil. "Kanaya, tugasmu masih sama, bersihkan rumah!" ucap Elvano.
Kanaya sempat tertegun sesaat namun kemudian ia mengangguk dan tersenyum. Ia menunggu di samping mobil Elvano sampai mobil itu berjalan menjauh. Tak terasa air mata menetes lagi di pipinya, namun segera di hapusnya.
'Berjuanglah Kanaya ini hanya soal masalah waktu sampai Elvano bisa menerima ketulusanmu," batin Kanaya menyemangati dirinya sendiri.
Hay semua, bagaimana kedaan kalian semoga baik - baik saja ya.
__ADS_1
Oh ya, Author mau berterima kasih pada kalian yang sudah mampir di cerita ini. Mungkin setelah bab ini ceritanya bakalan lebih menguras emosi dan air mata para reader nih. Tapi nggak tau juga sihh😁 Dan jangan lupa nantikan terus kisah mereka ya...🤗
Jangan lupa like komen dan vote.