
"Halo, Ay?" Sapa Ratna melalui panggilan telepon siang itu.
"Ya, Mah?" balas Kanaya sambil menjempit telepon genggamnya itu dia antara telinga dan bahunya, sementara tangan Kanaya sibuk memegang tanda terima pengeluaran apartemen yang harus ia periksa satu persatu.
"Sepertinya jam tangan Devan ketinggalan di apartemen," ujar Ratna sambil memandang sebuah jam tangan pria di tangannya. Siapa lagi kalau bukan milik Devan? Karena hanya Devan lah laki - laki yang pernah memasuki apartemen Kanaya dan Mamanya,"
"Masa, mah?" tanya Kanaya memastikan.
"Iya, baru aja Mama temuin di sela - sela sofa," jawab Ratna lagi.
Kanaya ingat Devan memang melepas jam tangannya saat ia membantunya untuk cuci piring tadi malam.
"Ya udah di simpan aja dulu. Nanti kalau Devan datang, Kanaya langsung kasih ke Devan." ujar Kanaya.
Namun Kanaya teringat ia harus pergi menemui salah satu calon pembeli unit apartemen yamg searah dengan kantor Devan.
"Mah.. Mah!" Seru Kanaya tiba - tiba saat Ratna hendak menutup percakapan telepon mereka.
"Atau biar Kanaya yang kasih ke Devan sekarang. Kebetulan Kanaya mau keluar kantor siang ini," ujar Kanaya pada Ratna.
"Nanti biar Kanaya suruh OB ambil ke atas ya, Mah," ujar Kanaya.
"Ya sudah, Mama tinggu ya," ujar Ratna kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Kanaya menyuruh salah satu OB di kantornya untuk mengambil jam itu ke apartemennya dan ia pun bersiap - siap pergi.
Setengah jam kemudian Kanaya sudah berada dalam mobil kantornya menuju kantor Devan bersama Salsa, salah satu marketing di kantor apartemennya itu.
"Salsa, kamu tunggu di sini ya, aku cuma sebentar aja," ujar Kanaya. Dan setelah Salsa menjawab tidak keberatan, ia pun berjalan dan turun di kantor Firma Hukum Devan Permana.
Sejak perutnya membesar Kanaya tidak pernah ke kantor Devan lagi. Dulu, waktu ia belum tahu jika dia hamil dan masih mengerjakan kasus perceraiannya dengan Elvano, ia kerap datang kesana. Tampaknya tidak banyak yang masih mengenalinya. Apalagi mungkin dengan perubahan penampilannya saat ini.
Kanaya berjalan masuk ke dalam ruangan kantor Advokat itu dan seorang security menanyakan keperluannya.
__ADS_1
"Selamat siang, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Security itu.
"Siang, Pak. Saya mau bertemu dengan Pak Devan," jawab Kanaya.
"Maaf Bu, ada keperluan apa dan apakah Ibu telah membuat perjajian dengan, Pak Devan?" tanya Security itu.
"Saya temannya, hanya ingin mengbalikkan jam tangan Pak Devan yang tertinggal," jawab Kanaya.
"Maaf Bu, kalau belum ada perjanjian, Ibu tidak bisa masuk. Kalau untuk memberikan jam tangan Ibu bisa memberikannya pada Resepsionis di sebelah sana," ujar Security itu sambil menujuk ke arah meja Resepsionis, tempat seorang wanita muda duduk dan menerima telepon yang masuk.
"Maaf Pak, tapi kalau boleh saya ingin memberikannya langsung pada, Pak Devan," ujar Kanaya bersikeras ingin bertemu langsung dengan Devan.
"Maaf Bu, Ibu tetap tidak bisa masuk kecuali Ibu sudah membuat perjanjian dengan Pak Devan saya akan mengizinkan Ibu masuk," ujar Security itu.
Kanaya menghela napas. Ia baru akan mengambil telepon genggamnya untuk menelepon Devan, saat seseorang memanggil namanya.
"Bu Kanaya, apa kabar, Bu?" tanya seorang pria yang Kanaya kenal bernama Roni. Devan pernah memperkenalkannya dulu saat ia sering datang ke kantor itu. Saat itu Roni tengah berjalan bersama beberapa orang temannya menuju ke pintu keluar.
"Baik Bu. Ibu mau bertemu dengan Pak Devan?" tanya Roni lagi.
"Iya Pak, saya hanya ingin bertemu dengan Pak Devan sebentar saja," ujar Kanaya memberitahukan keperluannya.
"Lama juga tidak apa Bu, Pak Devan sedang ada di kantornya, saya sedang berada dari sana. Ibu langsung masuk aja," ujar Roni pada Kanaya.
Basri, security yang tadi hendak berkata sesuatu, namun Roni mencegahnya.
"Pak Basri. Ibu Kanaya ini teman dekat Pak Deva. Lain kali kalau Ibu Kanaya datang langsung di persilahkan masuk saja," ujar Roni pada Security itu sambil memberikan tatapan yang penuh arti.
"Baik Pak Roni," jawab Pak Basri dengan segera. Mengerti maksud perkataan Roni. Ia memang pernah mendengar rumor mengenai kedekatan Bosnya pada seorang wanita dan ia baru mengetahui jika wanita yang ada di depannya adalah wanita itu.
"Maaf Bu Kanaya, silahkan masuk kedalam, Bu." ujar Pak Basri pada Kanaya.
Kanaya tersenyum dan berterima kasih pada Pak Devan. Ia pun naik kelantai dua tempat kantor Devan berada. Sesampainya di kantor Devan. Putri, sekretaris Devan sedang tidak ada di mejanya. Kanaya menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak orang di lantai dua.
__ADS_1
Karena Roni mengatakan Devan sedang berada di kantornya, Kanaya pun mengetuk pintu kantor Devan dan langsung membukanya.
Saat ia masuk, ia tertegun melihat Devan sedang bersama dengan seorang wanita. Devan duduk di kursi kerjanya, sedangkan wanita itu, berdiri di dekat dengan Devan sambil menunduk dan menujukkan sesuatu pada Devan. Akan tetapi yang menjadi perhatian Kanaya adalah wanita itu berdiri terlalu dekat dengan Devan sehingga lengan wanita itu bersentuhan dengan bahu Devan. Belum lagi kancing kemeja wanita itu yang terbuka beberapa, sehingga dari jarak pandang Kanaya saja, ia bisa melihat belahan dada wanita itu. Belum lagi rok wanita itu yang berada jauh di atas lutut.
Devan mengangkat wajahnya saat mendengar suara pintu di buka dan seseorang melangkah masuk.
"Kanaya?!" Seru Devan dengan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Kanaya akan menemuinya di kantor. Monika, wanita yang berada di sebelah Devan, ia pun ikut menoleh dan memandang ke arah Kanaya, seorang wanita yang tidak terlalu gemuk, namun terlihat perutnya yang membesar karena kehamilannya, bahkan dalam kondisi hamil pun, wanita yang ada di depannya itu terlihat menarik dan sangat cantik.
'Kanaya? Apakah dia?' batin Monika. Mengingat pernah mendengar rekan kantornya bercerita mengenai hubungan istimewa wanita bernama Kanaya dengan Devan Permana.
"Maaf aku menganggu," ucap Kanaya dengan tersenyum canggung.
"Tidak, Ay. Ayo masuk!" ujar Devan sambil tersenyum dan beranjak berdiri dan menghampiri Kanaya.
Kanaya melangkah masuk dan bertemu di tengah ruangan.
"Kok kamu nggak bilang kalau mau datang?" tanya Devan sambil mengapit lengan Kanaya dan mengajaknya ke kursi penerima tamu di depan mejanya. Namun Kanaya tidak duduk.
"Oh ya, kenalkan ini....." ujar Devan hendak memperkenalkan Monika, namun Monika terlanjur memperkenalkan dirinya sendiri.
"Saya Monika," ujar Monika menyodorkan tangannya pada Kanaya.
" Saya Kanaya," balas Kanaya sambil tersenyum dan menerima jabat tangan Monika.
'Ternyata ini yang bernama Monika,' batin Kanaya sambil memperhatikan Monika yang memang tampak sangat menarik.
Monika memang berusia sama dengan Devan, 25 tahun, dan Kanaya 4 tahun lebih muda dari pada Monika dan Devan, namun cara berpakaian Monika yang sangat sensual dan berani serta ambisius membuatnya tampak sangat menarik.
Entah mengapa hati Kanaya menjadi resah. Bagaiamana pun Devan seorang laki - laki bukan?
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1