Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rindu


__ADS_3

"Sayang, I miss you," ucap Devan melalui vidio call saat ia duduk di dalam kantornya. Di tatapnya wajah Istrinya itu. dari layar genggamnya. Ia tidak dapat melepaskan pandangannya dari wajah Istrinya itu. Seandainya dekat sudah pasti di peluk ciumnya sang Istri.


"I miss you to, Yang. Kapan kamu menyusul kesini?" tanya Kanaya yang juga sudah sangat rindu pada Devan. Ia, Elvano dan anak - anak telah berada di kota L selama 4 hari belakangan ini dan berharap Devan segera menyusul berlibur bersama dengan mereka.


"Hari ini putusan pengadilan, kalau semua beres, aku akan berangkat nanti sore," ujar Devan. Sambil tersenyum membayangkan mereka semua berlibur dan bermain di pantai. Di usapnya wajah Kanaya yang berada di layar telepon genggamnya dan di simpannya dalam bentuk screenshot.


"Kalau jadi berangkat kabarin ya... aku kangen," ujar Kanaya sambil tersipu malu. Matanya terlihat malu - malu memandang wajah Devan di layar telepon genggamnya.


"Pasti sayang, anak - anak mana? Aku kangen sama mereka?" tanya Devan, ingin melihat Alvaro dan Clara.


"Ada, mereka sedang bermain di pantai sebentar ya," ujar Kanaya sambil beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan keluar cottage yang mereka sewa.


Cottage mereka terletak di pinggir pantai, sehingga saat mereka keluar langsung berhadapan dengan pantai dan laut indah sekali.


"Itu mereka, Yang." ujar Kanaya sambi memutar tampilan kamera Hpnya ke arah Elvano, dan anak - anak. Mereka terlihat asyik bermain pasir di pantai. Membuat tumpukan pasir menjadi berbentuk istana.


"Pah, Kakak nakal!" Rengek Clara, karena Alvaro jahil merusak istana pasir buatannya dan Elvano.


"Alvaro, ayo bantu Clara buatkan lagi istananya!" Seru Elvano sambil menghela napas menghadapi Kakak - Beradik itu. Yang saling menjahili satu sama lain.


"Alvaro, Clara," terdengar suara Devan yang memanggil mereka dari telepon genggam yang di bawa oleh Kanaya.


"Ayaaaaaaaaahhh!!" Panggil Alvaro dan Clara bersamaan sambil mereka berlari mendekati Kanaya dan dengan tidak sabar melihat wajah Ayah mereka di layar telepon Kanaya.


Kanaya harus memutar kembali kameranya. Sehingga mereka semua berhadapan di layar telepon Kanaya.


"Ayah, Kakak nakal lagi!" Adu Clara.


Mendengar pengaduan adiknya, Alvaro hanya tertawa nyengir dan tidak menyangkalnya.


Hehehe...


"Hayo Alvaro, jangan nakal lagi sama Clara," ucap Devan mengingatkan.

__ADS_1


"Nggak Yah, Alvaro cuma bercanda tadi," jawab Alvaro.


"Ayah, Ayah kok nggak sampe - sampe ke sini? Katanya mau buat istana pasir yang gedeee banget!" Ujar Clara sambil menunjuk istana pasir yang di buatnya.


"Nanti Ayah kesana kalau sudah selesai pekerjaan Ayah," ujar Devan tidak kuasa menghilangkan senyum di wajahnya, saat melihat keluarganya, orang - orang yang ia sayangi.


Setelah meninggalnya Alika 5 tahun yang lalu dan di susul oleh Ratna 4 tahun yang lalu, praktis tinggal Kanaya dan anak - anak mereka lah keluarganya satu - satunya.


"Bener Yah, nanti Ayah kesini?" tanya Alvaro dengan antusias. Saat itu Elvano bergabung bersama dengan mereka melakukan vidio call pada Devan.


"Iya, nanti Ayah kesana. Ayah juga sudah kangen sama kalian, ingin peluk kalian," ujar Devan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Hore!" Teriak Clara sambil bertepuk tangan.


"Bunda, nanti Ayah kesini!" Ucap Clara dengan mata yang berbinar.


"Ya sayang," jawab Kanaya sambil tersenyum melihat Clara yang sangat gembira mendengar kabar itu.


Elvano pun ikut bersama mereka dalam vidio call itu, sambil mengobrol dengan santai dan menceritakan apa saja yang sedang mereka lakukan di sana.


"Ayo Bunda antar," ujar Kanaya sambil ia beranjak berdiri dan memberikan telepon genggamnya pada Elvano.


"Kakak, Kakak kan sudah besar sekarang. Harus selalu jaga Bunda dan Clara ya kalau Ayah tidak ada," ucap Devan pada Alvaro, anaknya yang di matanya tampak sudah besar. Ia teringat saat pertama kali menggendong Alvaro dalam dekapannya saat ia lahir atau pun mendengarkan detak jantung Alvaro saat ia masih dalam kandungan Kanaya.


"Iya Yah, sebentar lagi Ayah kan juga datang," ujar Alvaro.


"Iya sayang," jawab Devan sambil memandang Alvaro dan juga Elvano yang tampak mirip. Dalam benak Devan. Alvaro akan gagah dan tampan seperti Elvano saat ia besar nanti.


"Kakak, di panggil Bunda!" Teriak Kanaya di dalam cottage.


Alvaro pun segera berlari ke dalam cottage meninggalkan Elvano di sana.


"Kamu jadi ke sini nanti, Devan?" tanya Elvano.

__ADS_1


"Ya, semoga setelah putusan kasus ini," jawab Devan.


"Elvano, terima kasih," ucap Devan.


"Stop bicara seperti itu, Van. Kalian itu keluarga ku juga, kalian tidak berhutang apapun padaku," ujar Elvano sambil tersenyum.


Devan dan Elvano berbicara, beberapa saat sebelum Kanaya, Alvaro dan Clara kembali.


Devan masih tertawa dengan bahagia saat Beni mengetuk pintu kantornya dan masuk. Ia mauk dan berdiam diri di sofa, menunggu Devan selesai menghubungi keluarganya.


"Ayah sayang sama kalian semua. Tapi Ayah harus segera pergi sekarang. Kalian baik - baik ya, dengarkan Bunda dan Papa Elvano," ujar Devan sambil memandang wajah keluarganya dan Elvano di layar telepon genggamnya.


Sekelabat Devan melihat di tampilan layar itu begitu sempurna, mereka berempat tampak begitu bahagia. Apa ia cemburu? Atau iri? Seandainya ia yang berada di sana di tengah - tengah keluarganya.. Tetapi ia sadar, saat itu situasinya tidak memungkinkan baginya berada di sana. Lagi pula ia sendiri yang meminta Elvano untuk membawa dan menjaga keluarganya di sana.


Kepada siapa lagi ia bisa mempercayakan keluarga yang sangat di cintainya selain kepada Elvano?


Elvano mungkin pernah menjadi monster dalam hidup Kanaya akan tetapi monster itu jugalah yang telah menyelamatkan keluarganya dan melindungi mereka sekarang. Di mata Devan, Elvano bukanlah lagi monster dia adalah keluarga.


"I love you too Ayah..." ucap Clara dan Alvaro secara bersama - sama sebelum mereka kembali bermain bersama Elvano. Clara bahkan sempat mencium layar telepon yang menampilkan wajah Devan.


"Aku harus pergi, sayang," ujar Devan sambil memandang wajah Kanaya dengan penuh kerinduan. Matanya mulai berkaca - kaca, karena kerinduannya. Apakah ia bisa melihat dan memeluknya kembali.


"Iya Van. Aku juga sangat sayang sama kamu, be safe," ujar Kanaya sambil menempelkan dua buah jarinya ke bibir, kemudian meletakkannya di lensa kamera Hp miliknya.


"Aku sayang kamu Kanaya..." balas Devan sambil tersenyum, kemudian memutus panggilan teleponnya saat ia merasa sebutir air matanya menetes.


Devan segera menghapusnya, tidak ingin Beni melihatnya. Namun tanpa sepengetahuan Devan, Beni melihat itu semua, dan Beni merasa terharu.


Ia sudah bekerja pada Devan selama 10 tahun lamanya dan ia sangat tahu bagaimana Boss nya itu sangat mencintai Kanaya Zavira, Istrinya.


"Ayo Beni, let's get it done!" Ujar Devan sambil beranjak dari duduknya dan membuyarkan pikiran Beni. Beni pun ikut beranjak dan berjalan bersama Bosnya itu menuju gedung pengadilan tempat putusan akhir kasus PT. DPA melawan Randy Sanjaya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tekan like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2