
**Hai... hai para readerku, yuk jangan pelit - pelit kasih tombol likenya buat author๐ Seperti biasa jangan lupa juga kasih sajen vote dan hadiah ๐ท atau โ. author juga minta tolong dong penuhi isi kolom komentarnya..
Salam kehaluan๐๐๐
Happy Reading....๐ค**
"Aku takut, kita tidak akan sempat melakukan itu, aku lebih suka mengeksplore hal yang lainnya," jawab Elvano sambil menyeringai nakal. Sedetik kemudian ia sudah mendaratkan kecupan di bibir Kanaya, dan lanjut sepanjang garis rahangnya berturut - turut.
"Kak El...." panggil Kanaya pelan.
"Hmm..." jawab Elvano yang mulai mengecup leher dan telinga Kanaya membuat Kanaya merasakan sensasi yang membakar dari tubuhnya dari dalam.
Kanaya menelan ludah dan kembali memanggil nama Elvano dengan suara yang parau karena apa yang di rasakannya.
Elvano berhenti mencumbunya dan menatap Kanaya.
"Ay, biarkan aku membahagiakanmu," ucapnya dengan mata menggelap. Ia begitu menginginkan Kanaya dan ia pun tahu, Kanaya menginginkannya. Namun, ia ingin mendapatkan ijin dari Kanaya sebelum melakukannya.
Kanaya mengangguk, menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Elvano. Dan sedetik kemudian, Elvano telah mengangkat tubuh Kanaya dan merebahkannya di ranjang yang besar di tengah ruanga itu.
Di kecupnya bibir Kanaya dengan penuh gelora, dan Kanaya pun membalasnya dengan gelora yang sama, menaruh tangannya di tengkuk dan pundak Elvano hingga mereka bisa memperdalam tautan bibir mereka.
"Kak El..." desahnya saat Elvano kembali menciumi leher dan telinganya. Sementara tangannya membuka gaun pengantin yang di kenakannya dalam pesta pernikahan mereka tadi.
Elvano berhasil melepaskan gaun itu dan meninggalkan Kanaya hanya dengan pakaian dalamnya yang sangat minim.
Kanaya meraih kemeja Elvano dan berhasil membuka sebuah kancingnya, saat Elvano menahan tangannya.
"Nanti dulu, sayang. Biarkan aku melakukan ini untukmu," ucapnya kemudian mengunci tangan Kanaya di atas kepala dengan satu tangan, sementara ia memanjakkan sekujur tubuh Kanaya dengan kecupan di bibirnya.
Kanaya mendesah tak beraturan, dan menggigit bibirnya saat Elvano memberikannya kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakannya. Dan itu semua di lakukan Elvano dengan masih berpakaian lengkap.
"Kak El... please," desah Kanaya yang sangat ingin melakukan penyatuan dengan Elvano.
__ADS_1
Elvano sangat mengagumi tubuh indah Kanaya, sebelum ia membuka pakaiannya satu - persatu, memperlihatkan seluruh tubuhnya pada Kanaya, membuat Kanaya menelan ludah dan semakin menginginkannya.
Elvano kemudian merangkak di atas tubuh Kanaya, dan berhenti saat wajah mereka bertemu.
"Aku mencintaimu Kanaya, sangat mencintaimu," bisik Elvano kemudian ia mengecup lembut bibir Kanaya, sambil memasukkan miliknya ke inti Kanaya.
Mereka berdua mendesah dan menikmati alur dan gerakan seirama yang di satukan hati. Tanpa aba - aba menambah ritme gerakan mereka, semakin cepat dan semakin dalam hingga akhirnya pelepasan itu datang dan membuat lunglai keduanya.
*******
Elvano terbangun pagi itu, susana hatinya yang sangat bahagia. Bagaimana tidak, setelah menunggu sekian tahun, akhirnya Kanaya benar - benar menjadi miliknya. Dan apa yang selama ini hanya ada dalam angan - angannya, akhirnya dapat terwujud. Memiliki Kanaya seutuhnya.
Elvano tidak pernah membuka matanya untuk mengetahui siapa yang tengah di peluknya atau apa yang ada di hadapannya.
Siapa lagi kalau bukan Kanaya yang ia peluk? Dan bahkan Elvano mulai hafal di setiap lekuk tubuh Kanaya. Bagaimana tidak? karena tidak ada dari tubuh Kanaya yang belum pernah di sentuhnya.
Elvano memang benar saat ia mengatakan mereka tidak akan mempunyai waktu untuk mengeksplore pulau, karena baru sehari semalam mereka telah sangat sibuk mengeksplore hal lainnya. Jangankan melihat keindahan pulau ia tersenyum geli mengingat saat ia mengatakan hal itu.
Tidak ada yang lebih menarik bagi Elvano selain menikmati waktunya bersama dengan sang Istri, yang telah di tunggunya selama bertahun - tahun.
Kanaya terlihat sangat tenang dalam tidurnya dan Elvano pun tidak ingin membangunkannya. Apalagi ia telah membuat Kanaya kelelahan tadi mengulang kembali kejadian semalam.
Tak sengaja matanya menatap punggung putih Kanaya dengan beberapa bercak merah peninggalan keganasannya tadi malam di sekitar pundak dan leher Kanaya.
Entah kenapa ingatannya kembali pada kejadian lebih dari 10 tahun lalu, saat ia melihat guratan - guratan luka di sepanjang punggung Kanaya.
Tak terasa air mata Elvano mengalir, mengingat kekejamannya pada Kanaya saat itu. Bagaimana ia dengan teganya menyakiti orang yang sangat ia sayangi karena cemburu dan hasutan dari seseorang yang tidak berharga dalam hidupnya.
Perlahan di kecupnya punggung Kanaya inchi demi inchi, dimana ia pernah menaruh luka di tempat itu.
Tanpa ia sadari tindakannya membuat Kanaya terbangun dan memutar tubuhnya.
"Kak El, kamu sedang apa?" tanya Kanaya sambil duduk dan membenahi selimut untuk menutupi tubuhnya tanpa busananya. Ia heran melihat mata Elvano yang memerah seperti habis menangis.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang," ucap Elvano sambil memeluk Kanaya.
"Kak El, ada apa?" tanya Kanaya bingung. Ia merasa tidak melakukan sesuatu yang salah atau pun menyakitinya.
"Aku menyakitimu.... dulu sekali...." ucap Elvano dengan menatap mata Kanaya dengan penuh rasa bersalah.
Seketika itu juga Kanaya mengerti maksud dari ucapan Elvano.
"Kak El, yang lalu biarlah berlalu aku sudah memaafkanmu. Dan tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk merubah yang telah terjadi. Buat aku, apa yang ada di depan kita, masa depan kita adalah yang terpenting saat ini. Dan aku yakin kamu tidak akan pernah mengulangi kejadian di masa lampau," ujar Kanaya sambil tersenyum.
Elvano menatap Kanaya cukup lama, untuk kesekian kalinya ia merasa takjub dengan kebesaran hati yang di miliki Istrinya.
"Ay, kamu tahu betapa beruntungnya aku bisa memilikimu?" tanya Elvano sambil memeluk Kanaya dengan hangat.
"Tidak! Tapi kamu mengatakan itu juga tadi malam," canda Kanaya masih dalam pelukan Elvano.
"Kapan aku mengatakannya?" tanya Elvano sambil melepaskan peluknya dan menatap Kanaya.
"Tadi malam saat kamu... Mmm... kamu.. yah kamu tau...," ujar Kanaya tidak bisa mengatakan apa yang mereka lakukan tadi malam.
"Sayangku? Apa kamu menggodaku sepagi ini? Apa masih kurang yang kuberikan tadi malam ?" tanya Elvano, sambil mengerlingkan matanya menggoda Kanaya.
"Kak El, bukan itu maksudku," ujar Kanaya berusaha untuk menghindari Elvano. Ia baru bangun tidur setelah entah sesi panas ke berapa yang mereka lakukan.
Kanaya bergeser dengan cepat ke tepi ranjang, hendak beranjak, namun Elvano berhasil menangkapnya terlebih dahulu.
"Mungkin kita bisa membuat adik lagi untuk Clara di pagi ini, Yang." ucap Elvano sambil mengecupi telinga dan leher Kanaya dengan gemas dan menggelitikinya, membuat Kanaya tertawa geli dan berusaha melepaskan diri dari Elvano.
Bersambung...
Nantikan terus kisah mereka ya...!
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.