
"Lihatlah dirimu Kanaya. Pakaian dan dandananmu seperti ini. Kau ini istri tidak berguna! Bagaimana aku akan bernafsu jika melihatmu?" ujar Elvano sambil tertawa mengejek Kanaya.
Kanaya menunduk dan mengepalkan tangannya kuat - kuat.
"Lihatlah Kanaya.. apakah kau sungguh berpikir aku akan memilihmu dari pada dia? Dia sangat pandai menghangatkan ranjangku dan dia bisa memuaskanku," ujar Elvano di depan wajah Kanaya tanpa tertawa. Pandangannya tajam melihat gadis yg ada di hadapannya yg tertunduk dan hampir saja menangis.
"Lihat aku saat aku sedang bicara denganmu!" teriak Elvano sambil memandang tajam Kanaya.
Kanaya mengangkat wajahnya yang saat itu sudah memerah karena menahan tangis dan emosinya terhadap Elvano.
Elvano tahu Kanaya berusaha menahan tangisnya dengan susah payah. Walaupun Kanaya berusaha menyembunyikannya, tetapi ekspresi wajah dan pandangan mata Kanaya tidak bisa berbohong.
Sebenarnya ia ingin mendamprat Kanaya sekali lagi, tetapi melihat wajah Kanaya seperti itu, ia berubah pikiran.
"Pergilah! Aku muak melihatmu!" ujar Elvano sambil berbalik meninggalkan Kanaya dan naik ke lantai dua. Maya segera menyusul Elvano yang tiba - tiba meninggalkannya.
Tiba - tiba Elvano berhenti di depan pintu kamarnya.
"Elvano, ayo kita masuk," ujar Maya yang menyusul Elvano. Ia sudah tidak sabar ingin memainkan permainan panas mereka.
Bukannya masuk Elvano justru berjalan ke kamar sebelahnya, dan membuka pintunya.
"Ayo sayang, aku tahu kamu sudah tidak sabar," ujar Elvano dengan suara yang cukup keras, sehingga Kanaya yang berada di bawah tangga, bisa mendengarnya.
Kanaya pun tersenyum dan masuk ke kamar itu bersama Elvano.
Kanaya melihat mereka berdua masuk ke dalam kamar, dan air mata yang tadi di tahannya akhirnya tidak terbendung lagi. Ia pun menangis dan perlahan menaiki tangga menuju kamarnya. Sialnya, ia harus melewati kamar yang di masuki Elvano dan juga Maya. Dan ia bisa mendengar ******* - ******* suara Maya dari dalam kamar itu.
Karena tidak tahan mendengarnya Kanaya berlari masuk ke dalam kamarnya dan menangis.
'Ya Tuhan, kenapa Kak Elvano begitu jahat kepadaku?' Batin Kanaya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Elvano menutup pintu kamar setelah Maya masuk. Tanpa menunggu lagi Maya langsung melingkarkan lengannya di leher Elvano dan mulai menciumnya dengan bernafsu. Elvano pun membalasnya dengan sama panasnya. Mereka berdua saling membuka pakaian mereka masing - masing sambil saling tertawa menggoda dan berjalan menuju ranjang yang ada di sana.
__ADS_1
Maya naik ke atas ranjang hanya dengan pakaian dalamanya dan memanggil Elvano dengan gerakan tangannya agar mendekat. Elvano pun menyeringai dan merangkak di atas tubuh Maya sambil mencium tubuh Maya yang hanya terbalut pakaian dalam. Tangan Elvano sudah mengembara dan menyentuh bagian - bagian sensitif tubuh Maya, yang membuat Maya mendesah nikmat.
Elvano sudah tergoda oleh tubuh dan suara ******* Maya yang membuatnya tambah bergairah.
Tetapi, samar - samar Elvano mendengar suara langkah kaki yang berlari menjauhi kamar mereka. Tiba - tiba Elvano teringat pada wajah menahan tangis dan emosi Kanaya yang di lihatnya tadi. Dan seketika itu juga ia kehilangan gairahnya.
Elvano terdiam sesaat sebelum ia duduk di tepi ranjang dan menghela napas.
"Elvano, kenapa berhenti?" protes Maya yang sudah sangat bergairah.
Elvano tidak menjawab dan malah bangkit dari duduknya. Ia meraih pakaiannya yang berserakan di lantai dan berjalan ke arah pintu.
"Tidurlah, aku lelah," ujar Elvano tanpa menoleh ke arah Maya.
"Elvano! Elvano!" panggil Maya dengan kesal karena Elvano meninggalkannya begitu saja saat ia sangat menginginkan Elvano.
Elvano membuka pintu kamar dan menutupnya kembali saat berada di luar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada siapapun disana.
Entah mengapa sesuatu dalam dirinya menggerakkannya berjalan ke kiri dan berhenti di depan pintu kamar paling ujung di koridor itu. Kamar tamu paling kecil dan sederhana yang ada di rumahnya. Samar - samar di dengarnya suara Kanaya menangis dari dalam kamar itu.
Jangan terpengaruh Elvano! ingat, dia itu serigala berbulu domba. Dia pandai bersandiwara! sebagian lain dari diri Elvano mengatakan hal yang berbeda.
Elvano mengepalkan kedua tangannya dengan keras, dan membuka matanya. Amarahnya kembali menguasainya.
Elvano berbalik dan berjalan dengan cepat, masuk ke dalam kamarnya yang mewah dan besar.
Elvano begitu marah dan emosi, meskipun ia tidak tahu mengapa ia begitu marah atau kepada siapa ia emosi.
"Sial! Makinya pada diri sendiri sambil melempar bantal yang ada di ranjangnya, mengenai sebuah frame foto yang ada di atas meja hingga terjatuh dan pecah."
Tak hanya itu ia pun menendang - nendang dipan ranjangnya dengan kesal berkali - kali.sambil berteriak dengan kesal, sampai ia pun lelah dan duduk terengah - engah di atas ranjang.
Setelah lebih tenang, Elvano membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan matanya menatap ke arah langit - langit kamar.
__ADS_1
"Elvano! Elvano!" panggil Maya dari depan pintu kamar Elvano.
Elvano tidak mejawabnya dan mengabaikan panggilan Maya, hingga Maya menyerah dan kembali ke kamar yang tadi di tempatinya, di sebelah kamar Elvano.
Kamar Elvano kembali sunyi dan dalam kesunyian itu Elvano tidur meringkuk sambil memejamkan matanya.
***
Kanaya bangun dari tidurnya dengan wajah yang sembab karena menangis tadi malam. Ia pergi ke kamar mandi dan melihat dari pantulan kaca cermin wajah sedihnya.
Kanaya ingat, terakhir ia bersedih seperti itu, saat ia kehilangan Devita. Dan ia menangis tiada henti. Hanya Devan lah yang bisa menghiburnya saat itu.
"Devan, kamu dimana Van. Aku sangat membutuhkanmu," gumam Kanaya dab berbicara sendiri seakan - akan Devan sedang ada di hadapannya dan mendengarkanya.
Dihapusnya setetes air mata yang bergulir di pipinya. 'Aku harus kuat.' Batin Kanaya. Ia tidak ingin menangis lagi.
Kanaya pun melepaskan pakaiannya dan berdiri di bawah air shower dingin selama beberapa saat tanpa melakukan apapun. Ia sengaja melakukannya untuk menjernihkan pikirannya.
Sebagai istri Elvano ia sangat kecewa dan sakit hati dengan apa yang di lakukan Elvano padanya, akan tetapi Kanaya tidak ingin menyerah. Bagaimana pun ia sudah menikahi Elvano dan menjadi istrinya. Ia akan berusaha menyadarkan Elvano dan meluruskan kesalahpahaman yang telah terjadi.
Setelah selesai mandi Kanaya segera mengenakan pakaiannya dan memoles wajahnya dengan make up tipis - tipis kemudian menyisir rambutnya.
Ia pun turun ke bawah dan menunggu Elvano di ruang keluarga.
Maya yang tidur di kamar tamu di sebelah kamar Elvano, terbangun dengan kesal karena Elvano telah meninggalkannya saat ia tengah menginginkan Elvano tadi malam.
Elvano kenapa sih? Sebentar ia tampak mudah di kendalikan, sebentar seperti berada dalam dunianya sendiri! Kalau tahu seperti ini mending ke hotel saja tadi malam! Decak Maya kesal dengan apa yang terjadi tadi malam.
Ia pun mandi pagi itu dan setelah mengenakan gaun yang sexy yang di kenakannya tadi malam ia pun turun ke bawah.
Sarah pun sudah bangun dan mulai memerintah pelayan yang ada di rumah itu untuk mengerjakan tugasnya.
Terima kasih sudah membaca.Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan Hadiahnya.