
Luna merasa sedih harus menyampaikan hal itu, mengingat betapa Elvano sangat mengharapkan Kanaya.
"Dia kelihatan sehat Elvano?" ujar Luna sambil tersenyum.
"Tetapi bukan itu, yang ingin Mama bicarakan," ujar Luna cepat - cepat.
"Ada apa lagi, Ma?" tanya Elvano sambil menatap Luna dan Dimas bergantian.
Dimas berdehem.
"Pak Elvano, Ibu Kanaya berniat mencabut tuntutan penganiayaan terhadapnya, asalkan Pak Elvano setuju untuk mengabulkan permohonan cerai," ujar Dimas.
"Aa...apa?! Mengabulkan permohonan cerai?" tanya Elvano dengan nada tinggi.
"Elvano, dengar dulu penjelasan Pak Dimas," ujar Luna mencoba membuat Elvano agar lebih tenang.
"Elvano nggak mau bercerai dari Kanaya, Mah! Lebih baik Elvano di penjara dari pada Elvano harus menceraikan Kanaya!" Ujar Elvano tetap tidak mau menceraikan Istrinya.
"Pak Elvano, tenanglah dulu. Posisi Bapak berbeda setelah ada tuntutan baru, hanya masalah waktu saja sampai Bapak dan Ibu Kanaya akan benar - benar bercerai," ujar Dimas.
"Untuk saat ini yang harus di selamatkan adalah Bapak dan Keluarga Alvarendra terlebih dahulu," ujar Dimas.
"Perusahaan dan keluarga Bapak membutuhkan Bapak, itu yang terpenting untuk saat ini," ujar Dimas.
"Tapi Kanaya sangat penting untukku , Dimas!" Ujar Elvano sambil beranjak dari duduknya. Ia masih bersikeras tidak mau bercerai dari Kanaya.
Luna tampak menangis dengan kekerasan hati Elvano.
"Saya tahu Pak, tapi Bapak tidak dapat mempertahankan Ibu Kanaya jika Bapak di dalam penjara. Dan untuk saat ini sangat sulit untuk merubah pendirian Ibu Kanaya agar tidak bercerai dari Bapak." ujar Dimas sembari membujuk dan memberinya nasihat.
"Saran saya, ambil kesempatan yang Bapak bisa untuk saat ini, dan Bapak bisa berusaha untuk mendapatkan Ibu Kanaya kembali," ujar Dimas sambil berdiri dan berjalan mendekati Elvano.
"Pak Elvano, keluarga Bapak sangat membutuhkan Bapak," ujar Dimas sambil menepuk bahu Elvano.
Elvano menoleh ke arah Mamanya yang sedang menangis, dan ia pun terenyuh. Ia memang telah menyulitkan suluruh keluarganya saat ini karena ulahnya.
"Mah, maafkan Elvano Mah." ucap Elvano sambil memeluk Mamanya.
Luna pun membalas memeluk Elvano.
"Yang terpenting buat Mama, kamu tidak mengulangi perbuatanmu kembali, Elvano. Anggaplah ini semua sebagai pelajaran yang berharga untukmu," ujar Luna sambil mengelus lembut kepala anaknya.
Elvano pun mengangguk, ia berniat tidak ingin mengulangi lagi perbuatannya, dan ia menyesal telah menyia - nyiakan Kanaya selama ini.
"Baiklah, Ma. Elvano akan mengabulkan permintaan Kanaya. Elvano akan menceraikan Kanaya." ujar Elvano akhirnya.
Dimas menarik nafas lega.
Ia menunggu hingga suasana sedikit mereda bagi Elvano dan Luna, sebelum mengeluarkan berkas dan surat pernyataan yang harus di tandatangani Elvano. Elvano melihat kertas - kertas yang harus di tandatanganinya, dan dengan berat hati itu, ia menandatanganinya.
'Kanaya semoga kamu mau memberikanku kesempatan kedua,' batin Elvano.
__ADS_1
******
Telepon genggam Kanaya berbunyi dan nama Devan tertera di layarnya.
"Ya Van?" sapa Kanaya sambil tersenyum penuh harap.
"Semua sudah selesai, Ay?" ujar Devan dari telepon genggam Kanaya.
Mata Kanaya berkaca - kaca dan dia tidak dapat berkata - berkata.
"Benarkah?" tanya Kanaya dengan suara yang parau berusaha menahan gejolak perasaannya.
"Ya, Hakim baru saja membaca putusan sidang. Kamu sudah resmi bercerai, Ay," ucap Devan.
Kanaya memang mengharapkan bercerai secepatnya dari Elvano, setelah hampir dua bulan ini melalui sidang perceraian yang alot, baginya ia tidak mungkin kembali pada Elvano.
"Tinggal masalah administrasi dan masa tunggumu saja," jawab Devan yang merasa ikut lega kasus perceraian Kanaya dan Elvano telah selesai.
Ia memang sedang mengurusnya bersama Beni di kota D. Sedangkan Kanaya tidak ikut menghadirinya. Kanaya sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Devan untuk mengurusi masalah perceraiannya.
"Devan.... terima kasih," ucap Kanaya dengan terharu.
"Sama - sama, Ay. Buat aku, yang terpenting kamu bahagia dan tidak ada yang menyakitimu lagi," ujar Devan dengan tulus.
Kanaya meneteskan air mata dan mengangguk. Ia tahu bahwa Devan telah berusaha membantunya dengan berbagai cara.
"Kapan kamu pulang, Van?" tanya Kanaya setelah beberapa saat ia terisak karena hal ini.
"Sedikit," jawab Kanaya tidak mengakui.
"Sedikit? Aku rindu banyak sama kamu loh, Ay." ujar Devan sambil tertawa. Kanaya memang tidak berkomentar, tetapi Devan bisa menebak saat itu, Kanaya pasti tersipu malu dengan pipi yang merona.
"Ra, tunggu aku ya. Nanti kita makan malam sama - sama," ujar Devan.
"Iya, Van. Kamu mau aku masakin apa?" tanya Kanaya dengan semangat.
Kanaya ingin masak buat Devan, sebagai balasan rasa terima kasihnya.
"Kamu masakin aku lain waktu aja, Ra. Hari ini aku mau ajak kamu makan ke luar," ujar Devan.
"Oke, Van. Aku tunggu kamu ya," jawab Kanaya dengan mata yang berbinar.
"Sampai nanti ya, Ay. Aku harus segera pergi dulu sekarang," ujar Devan dan mereka pun memutus sambungan telepon.
Kanaya tersenyum. Ia tersenyum akhirnya percerainnya selesai dan malam ini Devan mengajaknya makan malam berdua.
***
Kanaya sedang bersiap - siap untuk pergi makan malam bersama Devan. Devan sendiri baru pulang satu jam yang lalu dan ia pun sedang berada di dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap - siap untuk pergi bersama Kanaya.
Kanaya melihat dirinya pantulan cermin di kamarnya.
__ADS_1
"Nyonya cantik sekali," ujar Bella yang berdiri tak jauh darinya.
"Pak Devan sangat beruntung bisa bersama Nonya," ucap Bella lagi sambil tersenyum.
Bella juga ikut senang mendengar kabar perceraian Nyonyanya itu dengan tuan Elvano akhirnya selesai juga.
"Terima kasih Bella, doakan ya, semoga semuanya lancar," ujar Kanaya sambil memakai anting di telinganya.
"Iya Nyonya," jawab Bella.
"Nyonya, boleh saya minta waktunya sebentar?" tanya Bella.
Kanaya melihat Bella dari pantulan cermin dan melihat keseriusan di wajah Bella. Ia pun menoleh ke arah Bella.
"Ada apa Bella?" tanya Kanaya menghampiri Bella dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Nyonya, saya sangat senang permasalahan Nyonya dan Tuan Elvano akhirnya sudah selesai." ucap Bella.
"Kalau boleh, saya meminta izin untuk kembali ke kota D," ujar Bella.
"Kamu mau kembali ke kota D?" tanya Kanaya terkejut. Setahu Kanaya, Bella tidak mempunyai sanak family di sana. Kedua orang tuanya pun telah tiada.
"Iya Nyonya, saya pikir lebih baik saya kembali kesana," ujar Bella.
"Apa tujuan kamu kembali kesana Bella? Kalau kamu ingin bekerja, kita bisa mencari pekerjaan di sini dan kamu pun bisa tinggal di sini bersama saya," ujar Kanaya.
Selamanya Kanaya akan berhutang budi pada Bella. Ia tidak akan pernah keberatan jika Bella tinggal bersamanya.
"Maaf Nyonya, bukannya saya tidak mau tinggal bersama Nyonya. Fandi dan Saya.... kami memutuskan untuk menikah," ujar Bella malu - malu.
"Ya ampun Bella! Saya ikut senang mendengarnya!" Ujar Kanaya lalu memeluk Bella dengan erat
Kanaya tahu, Bella memang masih berhubungan jarak jauh dengan Fandi, dan sepertinya hubungan mereka baik - baik saja.
"Apa kamu yakin, Bella? Kamu sudah mengenal keluarganya dengan baik?" tanya Kanaya memastikan. Ia tidak ingin Bella mengalami hal yang serupa dengan dirinya. Apalagi ia sudah lama tidak bertemu dengan Fandi.
"Sudah Nonya, waktu terakhir kita ke kota D, Fandi sudah melamar saya, dan sekarang Nyonya juga sudah bebas, jadi sebaiknya saya kembali," terang Bella.
Kanaya sangat terharu, Bella sampai menunggu hingga perceraiannya selesai barulah ia bersedia menikah dengan Fandi. Kanaya pun tidak ada pilihan lain selain melepas Bella kembali dan ikut merasa senang untuk pernikahan Bella dan Fandi.
"Ya Bella, nanti secepatnya akan saya carikan tiket untukmu. Aku doa' kan yang terbaik untukmu Bella," ujar Kanaya sambil memeluk Bella sekali lagi.
"Terima kasih, Nyonya," ucap Bella sambil membalas pelukkan Kanaya.
Bersambung...
Apakah akan ada kesempatan kedua bagi Elvano untuk kembali bersama Kanaya....? Saat hati telah tersakiti dan tumbuh benih cinta yang lain, akankah jalan hidup menyatukan mereka?
Ikuti terus kisahnya ya...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih bayak typho.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like komen dan vote.