
Gilang mendarat di kota D pagi itu dan langsung menemui kapten Lian.
"Selamat pagi, kapten Lian." Sapa Gilang dengan sopan sambil menjabat tangan kapten Lian di kamar hotelnya.
"Selamat pagi, Pak Gilang," ujar kapten Lian sambil memandangi Gilang dan masuk ke dalam hotelnya.
Kapten Lian banyak mendengar tentang Gilang Narendra, tetapi baru kali ini berhadapan langsung dengannya.
"Apa Bapak, membawa rekaman CCTV yang saya minta?" tanya Gilang pada kapten itu.
"Ada Pak, ini salinannya," ujar kapten Lian kepada Gilang sambil memberikan sebuah flash disk.
"Apa yang di dapat oleh kepolisian, Pak?" tanya Gilang ingin tahu perkembangan terakhirnya.
Pencarian Kanaya sambil ia memasang disk itu di komputernya dan mulai melihat rekaman kejadian saat Kanaya keluar dari kamarnya bersama Bella.
"Kami pikir, Ibu Kanaya masih ada di dalam kota, karena kondisinya saat ini meninggalkan rumah Pak Elvano dan tidak memungkinkannya untuk pergi jauh.
"Wawancara kami dengan Dokter Adam, dokter keluarga Alvarendra, mengatakan bahwa Ibu Kanaya menderita demam tinggi pagi itu, sehingga tubuhnya sangat lemah dan tidak sadarkan diri," ujar kapten Lian.
"Apa sebab sakit demamnya pagi itu?" tanya Gilang sambil mem - pause rekaman CCTV saat Kanaya memandang ke arah kamera pengawas dengan wajah pucatnya. Gilang pun membuat screenshot dan men - zoom tampilan wajah Kanaya. Ia terlihat kurang sehat dan sangat ketakutan seperti mengalami trauma.
Gilang menoleh ke arah kapten Lian. Kapten itu seperti jengah untuk menjawab pertanyaan Gilang. Namun karena Gilang memandanginya terus, akhirnya ia pun menjawab.
"Dokter Adam mengatakan, karena flu dan sakit perut," ucap Kapten Lian.
Gilang tertawa meringis, tak percaya apa yang di dengarnya.
"Jadi Anda percaya?" jawab Gilang sambil memandangi wajah Kanaya di layar laptopnya, dan mencatat waktu saat Kanaya dan Bella memandang ke satu arah cukup lama dan mem- pausenya kembali.
"Pak Gilang, kita sama - sama tahu hal itu. Tetapi biarlah itu jadi urusan rumah tangga mereka," ujar kapten Lian. Gilang hanya tersenyum mendengar jawaban kapten Lian tanpa menoleh padanya.
"Ada apa disini?" tanya Gilang sambil menunjuk arah pandangan mata Kanaya dan Bella.
Kapten Lian mengambil denah lantai dua rumah Elvano.
Ia menunjuk posisi Kanaya dan Bella di depan pintu kamar, kemudian menarik garis lurus mengira - ngira arah pandangan mata Kanaya dan juga Bella. Dan tangannya berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang cukup besar.
__ADS_1
"Ini pintu kamar utama, Pak," ujar kapten Lian.
"Apa Pak Elvano ada di rumah saat itu?" tanya Gilang.
"Tidak. dia sedang meeting di kantornya saat itu. Banyak saksi yang melihatnya dan rekaman CCTV yang lain pun, ia baru pulang sekitar 50 menit dari waktu kejadian.
"Seseorang melihat mereka keluar saat itu," ujar Gilang mem - play rekaman CCTV yang ia lihat"
"Tidak ada yang mengaku melihat mereka pergi dari rumah itu," ujar Kapten Lian.
"Bagaimana taksi online yang di pesan untuk pergi saat itu?" tanya Gilang sambil memperhatikan layar komputernya.
"Taksi itu hanya mengantar mereka sampai ke lobby mall, dan mereka naik taksi lain, dan kami tidak bisa mendapatkan gambaran taksi terakhir yang mereka naiki," ujar kapten Lian.
"Bagaimana dengan Bella, asisten rumah tangga yang ikut pergi bersamanya?"
"Dia seorang yatim piatu, sehingga ia tidak mempunyai keluarga yang bisa di tanyai. Telepon genggamnya pun sudah tidak aktif lagi sejak hari itu sehingga sudah tidak bisa kami lacak keberadaannya.
"Ada CCTV yang mengarah ke arah kamar utama,"
"Ya, ada," jawab kapten Lian sambil menunjuk file di layar komputer Gilang dan Gilang pun membukanya.
Gilang dan kapten Lian saling pandang.
Gilang pun memundurkan rekaman sampai terlihat rekaman saat seseorang memasuki kamar itu, sekitar 30 menit sebelum waktu yang ia catat.
"Siapa dia?" tanya Gilang.
"Itu Ibu Desi, Kepala Asisten Rumah Tangga di sana," ujar Kapten Lian.
Kapten Lian menemani Gilang dan memberikan informasi yang di butuhkan Gilang selama kurang lebih satu jam lamanya, dan selebihnya Gilang mencari tahu dari rekaman itu sendiri. Ia sempat memeriksa beberapa CCTV yang mengarah ke kamar utama, dan ada keganjilan di malam sebelumnya terdapat rekaman yang di hapus, pada waktu sekitar pukul 7.
Gilang menduga terjadi sesuatu pada malam itu yang tidak boleh di ketahui oleh orang lain. Gilang tahu kemana ia harus bertanya. Ia pun membereskan laptopnya dan beranjak pergi dari kamar hotelnya.
***
Di Rumah Elvano.
__ADS_1
"Kapten Riko, apakah sudah ada kabar mengenai istriku?" tanya Elvano melalui sambungan pesawat teleponnya.
"Belum, Pak Elvano. Sampai saat ini kami belum mendapatkan petunjuk apapun mengenai keberadaan Ibu Kanaya. Bahkan pengawasan di bandara pun sudah di perketat, tetapi Ibu Kanaya belum juga bisa kami temukan," ujar Kapten Polisi Riko.
Elvano menghela napas berat. Sudah hampir seminggu Kanaya menghilang, dan kepolisian belum menemukan jejaknya. Bahkan keberadaan Bella pun sulit di temukan. Kedua orang tua Bella sudah tiada, sehingga sulit untuk melacak Bella dan orang - orang terdekatnya.
"Kak Elvano!" Teriak Lisa dari arah depan pintu rumah.
"Baik Pak, tolong kabari kalau ada berita...," ujar Elvano sambil memutus sambungan teleponnya.
Lisa berhenti di depan Kakaknya sambil bertolak pinggang.
"Kak, apa yang sudah Kakak lakukakan pada, Kak Kanaya?" tanya Lisa dengan emosi.
Lisa baru pulang dari luar kota dan mengetahui jika Kanaya menghilang, dan ia menyalahkan Elvano karena itu.
"Sudahlah Lisa, Kakak juga sedang berusaha untuk mencari Kanaya," kilah Elvano pada Lisa adiknya itu.
"Apa yang Kakak lakukan pada Kak Kanaya, sampai Kak Kanaya pergi melarikan diri dari Kakak? Apa Kakak menyiksanya?" tanya Lisa dengan emosi.
"Apa karena perempuan murahan yang Kakak simpan selama ini?" tanya Lisa dengan begitu kesal.
"Diam Lalisa! Kalau kau tidak bisa ikut membantu mencari, tidak usah bicara seperti itu!" Ujar Elvano sambil berjalan dan meninggalkan Lisa dan naik ke kamarnya. Ia pun membanting pintu kamarnya dengan kesal.
Elvano tidak bisa membela dirinya di depan Lisa, karena apa yang di katakan Lisa semuanya benar, dan ia pun geram pada dirinya sendiri.
Sekarang ia telah kehilangan Kanaya dan ia baru menyesalinya.
Lisa pun meninggalkan rumah Elvano dengan kesal.
Desi yang melihat adegan itu hanya bisa menarik nafas dalam - dalam.
"Sarah aku pergi dulu, ada beberapa hal yang ingin ku beli," ujar Desi lalu ia keluar dengan menggunakan kendaraan operasional rumah itu.
Ia pergi ke supermarket untuk membeli beberapa sayuran import yang habis.
"Ibu Desi, bisa saya minta waktunya sebentar?" tiba - tiba seseorang laki - laki gagah, berpenampilan rapi bertanya padanya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.