
"Jaga Nyonya," ujar Desi kepada Bella, dan ia pun berjalan keluar kamar Kanaya dan mengetuk pintu kamar Elvano.
"Siapa?" tanya Elvano dari dalam kamarnya.
"Saya Tuan." jawab Desi.
"Masuk!"
Desi pun masuk kedalam kamar Elvano. Saat masuk Elvano sedang berdiri di teras balkon kamarnya sambil memegang sepuntung rokok. Sudah lama Desi tidak melihat Tuannya itu merokok. Tampaknya Tuannya itu sedang gelisah.
"Ada Apa?" tanya Elvano dengan ketus, sepertinya ia merasa terganggu dengan kehadiran Desi.
"Maaf Tuan, saya mau meminta izin untuk memanggil Dr. Adam untuk mengobati Nyonya. Saya sangat kuatir dengan kondisi Nyonya, Tuan," ujar Desi sambil menunduk.
Elvano menghisap rokoknya dalam - dalam dan menghembuskannya sebelum ia berkata "Pergilah, aku akan menghubungi Dr. Adam."
Desi mengangguk dan keluar dari kamar Elvano, ia merasa lega karena Tuannya mau memanggilkan dokter untuk Kanaya.
Setengah jam kemudian Dr. Adam, dokter langganan Elvano datang dan langsung memeriksa kondisi Kanaya saat itu tengah terbaring lemah di ranjangnya.
Entah apa yang dikatakan Elvano, hingga dokter itu tidak banyak bertanya dan memberikan Kanaya obat yang di butuhkannya.
Desi pun segera memberikan obat yang di resepkan oleh Dr. Adam pada Kanaya dan membiarkannya istirahat.
Elvano tidak dapat tidur malam itu. Ia masih memikirkan apa yang baru saja ia lakukan pada Kanaya. Ini bukan kali pertama ia menghukum Kanaya karena telah berinteraksi dengan pria lain. Pria lain yang memandang kagum pada Kanaya, dan ia tidak mengijinkan itu terjadi. Kanaya itu adalah miliknya, dan tidak ada laki - laki lain yang boleh mengangguminya ataupun menyentuhnya. Dan ia selalu menyalahkan Kanaya jika itu terjadi.
Elvano menyadari apa yang di lakukannya pada Kanaya sangat berlebihan. Mencambuknya berulang kali hingga ia terluka parah. Tetapi Elvano tidak bisa mengendalikan emosinya saat ia melihat Kanaya tersenyum manis pada laki - laki lain. Tidak ia tidak rela! Senyum tulus itu hanya untuknya. Ia hanya ingin Kanaya tersenyum seperti itu hanya untuknya.
Terlebih lagi Kanaya menyebut nama Devan, hal itu membuatnya semakin panas dan melampiaskan amarahnya pada Kanaya.
Bagaimana mungkin Kanaya masih memikirkan Devan, padahal ia sudah menyingkirkannya dari kehidupan Kanaya?
__ADS_1
Elvano melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 1 malam. Ia pun beranjak dari tidurnya dan keluar dari kamarnya. Lorong rumahnya tampak sangat sepi dan gelap tidak ada seorang pun disana kecuali dirinya.
Elvano berjalan hingga ke ujung lorong dan membuka pintu kamar paling ujung dan berjalan masuk. Dalam gelap di pandanginya gadis itu, gadis yang tengah tidur tengkurap dengan hanya sehelai selimut menutupi tubuhnya. Selimut itu bahkan tersingkapa sebagian, menampakan guratan - guratan kemerahan di punggung gadis itu.
Elvano berjalan dan mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Di pandanginya wajah polos Kanaya yang terkena sinar lampu di teras kamar yang tembus melalui korden jendela. Ia tampak tidur terlelap dan damai. Pandangan Elvano turun ke punggung gadis itu, dan ia menyentuh guratan merah hasil perbuatannya.
"Eeeeeeehmmm...," erang pelan saat jari Elvano menyentuh lukanya, matanya mengerjap sesaat, kemudian menutup lagi.
Elvano menghela napas dalam dan sekilas timbul penyesalan di hatinya.
Di tutupnya punggung Kanaya yang tersingkap dengan selimut secara perlahan agar tidak mengenai lukanya. Kemudian Elvano melangkah keluar kamar dan membiarkan Kanaya beristirahat.
***
Di Kota B, Devan sedang mempelajari berkas perkara kliennya, di kagetkan oleh dering telepon dari Bagas, temannya yang masih tinggal di kota B.
"Hai Gas, apa kabar?" tanya Devan sambil membetulkan letak duduknya. Ia terlihat antusias menerima telepon dari temannya yang sudah Tujuh bulan tidak di jumpainya itu.
"Ya, gue sedang merintis firma hukum gue di sini, sementara ini harus banyak bersabar dan berdoa," ujar Devan sambil tertawa kecil.
"Gue selalu doain semoga usaha lo sukses Bro! Gue nggak nyangka juga sih kalau firma hukum Asegaf Star bakal memperlakukan lo seperti itu," ujar Bagas.
Devan memang telah di pecat dari firma hukum Asegaf Star dua bulan yang lalu karena tidak sepaham dengan pemiliknya, Hazel Asegaf Ramadhan.
Devan merasa perlakuan Asegaf terhadap dirinya tidak adil, terutama dalam dukungan terhadap kasus - kasus yang dihadapinya, sehingga suatu hari ia melihat Asegaf hendak membela suatu klien dengan berlaku curang, melawan Alexander David Mahendra. Seorang pengusaha besar di kota itu. Saat itu ia mengagalkan usaha Asegaf untuk menjegal usaha Alexander David Mahendra, dan akibatnya Asegaf pun memecatnya.
Namun setelah ia di pecat, Alexander David Mahendra justru mendatanginya untuk berterima kasih atas apa yang telah ia lakukan dan memberinya dukungan untuk mendirikan Firma hukumnya sendiri, Firma Hukum Permana. Dengan Mahendra Enterprise sebagai klien pertamanya.
"Aamin. Makasih Gas," ucap Devan mengamini ucapan temannya.
"By the way, ada apa nih sultan tiba - tiba telepon? Jangan - jangan lo lagi ada di sini ya?" tanya Devan sambil tersenyum lebar. Pasti akan menyenangkan jika temannya itu berkujung ke kota B.
__ADS_1
"Nggak Van, tadi gue pergi ke acara amal gubernur, dan gue... ketemu Kanaya," ujar Bagas perlahan. Ia tahu berita itu pasti akan cukup berpengaruh bagi Devan.
Devan duduk tegak di kursinya mendengar nama Kanaya, nama gadis yang sangat di rindukannya. Tak pernah sehari pun Devan tidak pernah memikirkan Kanaya, ia selalu teringat padanya walaupun hatinya masih terasa sakit dengan pernikahannya yang tiba - tiba dengan Elvano.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Devan lirih.
"Dia.. terlihat baik - baik saja," ujar Bagas hati - hati.
"Di nanyain lo Van. Apa enggak sebaiknya lo hubungi dia?" tanya Bagas.
Devan menghela nafas. Saat awal pindah, Devan sudah berusaha menghubungi Kanaya beberapa kali, namun telepon genggam Kanaya tidak pernah aktif, bahkan Kanaya pun sempat mereject teleponnya beberapa kali saat ia berhasil mendapatkan nada sambung.
Hingga suatu hari, ia mendapatkan pesan dari nomor telepon Kanaya yang mengatakan bahwa ia baik - baik saja dan tidak bisa lagi berhubungan dengannya. Sejak saat itu, telepon Kanaya tidak bisa ia hubungi.
"Biarlah Gas, dia sudah bahagia dengan hidupnya yang baru," ujar Devan mencoba tersenyum walaupun getir.
"Sorry Van, gue cuma ingin menyampaikan itu," ujar Bagas dan ia mendengar helaan nafas berat sahabatnya itu. Mereka diam sesaat.
"Tapi gue, benar - benar doain usaha lo maju! Semangat terus, lo pasti bisa!" ujar Bagas mencoba menyemangati sahabatnya itu.
Terima Kasih Gas," ujar Devan sambil tersenyum.
"Ya udah, kapan - kapan kalau gue kesana, gue hubungi lo lagi. Take care bro!" ujar Bagas sebelum ia memutuskan sambungan teleponnya.
Bonus Foto Bang Elvano sama Mbak Kanaya pas ngikutin acara amal Pak Gubernur nih..😊
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya.
__ADS_1