Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Hukuman Dan Kebencian


__ADS_3

"Iya Nyonya, Tuan menunggu Anda sekarang," ujar Sarah sambil tersenyum kecil.


"Baiklah, aku ganti baju dulu," ujar kanaya sambil berbalik hendak ke kamar mandi dan mengganti bajunya yang terkena noda teh yang tumpah.


"Nyonya tidak ada waktu lagi. Tuan meminta Anda datang sekarang. Tuan harus segera berangkat ke kantor," ujar Sarah sambil menahan pintu agar tetap terbuka


Ke kantor? Elvano akan segera berangkat? Mungkin ini kesempatannya untuk bisa berbicara dengan Elvano, saat ia sedang dalam good mood, pikir Kanaya.


Kanaya memandang pakaiannya yang terkena noda teh tadi pagi.


Mungkin Elvano tidak akan memperhatikannya, warnanya hanya samar saja di baju berwarna hijau botol yang di kenakannya.


Kanaya pun keluar kamar sambil membetulkan rambutnya, menyisirnya dengan jari tangan.


Sesampainya di ruang makan, Kanaya mendekati Elvano yang sedang makan di meja makan.


'Tampaknya kondisi kak Elvano sudah lebih baik.' batin Kanaya.


Kanaya pun duduk di dekat Elvano dan tersenyum pada Elvano saat Elvano menoleh padanya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk!" Teriak Elvano dengan suara yang keras sambil membanting alat makannya ke meja makan.


Kanaya terkejut dan reflek berdiri dari duduknya, dengan wajah yang pucat pasi.


"Bukankah kamu memintaku untuk sarapan bersamamu?" tanya Kanaya dengan gemetar.


"Jangan mengada - ada! Aku tidak akan mau makan berdua saja denganmu! Kau membuatku jijik! Lihat saja bajumu kotor! Maki Elvano sambil berdiri dengan emosi.


"Tapi..Tapi.." ujar Kanaya sambil menunjuk Sarah.


Sarah yang tadinya tersenyum segera berpura - pura takut.


"Maaf Nyonya, saya pikir Tuan memanggil Nyonya untuk sarapan," ujar Sarah dengan wajah ketakutan.


"Aku memang meminta Sarah memanggilmu, tapi tidak untuk sarapan!" ujar Elvano sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Kanaya, kamu telah lancang masuk ke dalam kamarku dan tidur disana! Dan karena itu kamu harus di hukum!" ujar Elvano.


'Di hukum? Apa maksudnya?' Batin Kanaya.


"Kamu bersihkan kamarku dan seluruh rumah ini! Aku tidak mau ada sedikitpun kotoran di rumah ini, mengerti?!" perintah Elvano sambil memandang tajam ke arah Kanaya.


"Apa?!"


Wajah Kanaya makin memucat mendengar perintah Elvano. Apa Elvano bersungguh - sungguh menyuruhnya membersihkan seluruh rumahnya?


"Sarah, aku ingatkan tidak ada seorang pun yang boleh membantu dia! Kamu dengar," perintah Elvano pada Sarah.


"Baik Tuan." jawab Sarah. Dalam hatinya ia bersorak, menyukuri Kanaya akan kesialannya.


"Sekarang pergilah dari sini!" Perintah Elvano pada Kanaya dan juga Sarah.


Sarah segera beranjak pergi, tidak ingin terkena damprat Elvano lebih jauh, Sedangkan Kanaya masih diam berdiri di tempatnya.


"Apalagi yang kau tunggu? Segera kerjakan!" perintah Elvano dengan gusar, karena Kanaya masih berdiam diri, tidak mengerjakan perintahnya.


"Baik Kak Elvano. Aku akan segera mengerjakannya. Tapi aku mau kau menjawab pertanyaanku." ujar Kanaya sambil memandang Elvano.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa yang telah aku lakukan sampai kamu begitu membenciku, Kak El?" tanya Kanaya dengan mata yang menggenang. Namun ia tidak ingin menangis. Di tahannya mati - matian agar air matanya tidak tumpah saat itu.


Elvano mendengus kasar dan berdiri. Ia berjalan ke arah Kanaya sambil memandang wajah Kanaya dengan tajam.


"Sungguh pintar kamu bersandiwara Kanaya," ujar Elvano sambil mengitari Kanaya, Memandang tubuh wanita yang ada di depannya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mengejek.


'Cih! Kau hanya berpura - pura berpenampilan alim dan juga baik. Sebenarnya kau adalah serigala berbulu domba!' batin Elvano.


"Apa maksudmu, Kak Elvano? tanya Kanaya benar - benar tidak mengerti maksud Elvano. Ia merasa tidak sedang bersandiwara atau pun menutupi sesuatu dari Elvano.


"Huh! Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan pada Devita?" tanya Elvano sambil memandang mata Kanaya dengan tajam.


Ka Devita? Apa maksudnya? Pikir Kanaya tidak mengerti maksud Elvano.

__ADS_1


"A..apa yang aku lakukan pada Kak Devita?" tanya Kanaya dengan pandangan bingung.


Elvano mendorong Kanaya ke dinding dengan tiba - tiba dan mengunci leher Kanaya dengan lengannya, menghimpitnya dengan dinding, hingga Kanaya berjinjit.


"Jangan berpura - pura lagi Kanaya! Kau yang sudah membunuh Devita! Kau yang sengaja melepaskan dia, hingga dia terjatuh!" teriak Elvano dengan tatapan tajam hingga Kanaya merasa tatapan itu bisa menghunus jantungnya.


"Kau sudah salah paham, Kak Elvano. uhukk..uhuk.. " ujar Kanaya sambil terbatuk - batuk. Karena tekanan Elvano pada lehernya membuatnya sulit bernapas dan kesakitan.


"Aku tidak membunuh Kak Devita. uhukk...uhuk.. itu kecelakaan..uhuk," ujar Kanaya sambil mencoba berontak, melepaskan diri dari cengkraman Elvano. Tangannya mendorong lengan Elvano yang menekan lehernya dengan sekuat tenaga.


"DIAM!" Teriak Elvano di depan wajah Kanaya.


"Kau pembunuh! Dan Kamu akan menerima akibatnya!" ujar Elvano dengan tatapan bengis, membuat Kanaya bergidik.


"Sekarang kau sudah tahu kenapa aku melakukan ini, kau pantas menerimanya Kanaya! Dan ingat, jangan pernah menceritakan hal ini, atau nyawa kedua orang tuamu dan kekasihmu Devan menjadi taruhannya!" Ancam Elvano kemudian ia melepas kungkungannya dengan kasar dan berjalan keluar rumah, pergi dengan mobil yang di kendarai oleh Panji.


Kanaya terengah - engah dan jatuh terduduk di lantai. Wajahnya pucat pasi bukan hanya karena kekurangan oksigen, tetapi menghadapi kenyataan bahwa Elvano menganggapnya membunuh Devita dengan Sengaja.


'Ya Tuhan, bagaimana mungkin Kak Elvano mengira aku membunuh Kak Devita?' Batin Kanya sambil mengucurkan air mata. Ia sangat terpukul mendengar hal itu.


Kehilangan Kak Devita di depan matanya saja sudah sangat menyiksa jiwa Kanaya selama berbulan - bulan lamanya, apalagi telah di tuduh membunuh Kak Devita, benar - benar menorehkan luka di hati Kanaya.


Tidakkah Elvano tahu, Devita adalah kembarannya, dan ia sangat menyayangi Kakaknya. Kanaya akan melakukan apapun agar Kakaknya itu bahagia, bahkan mengikhlaskan Devita untuk menikahi pria pujaan hati Kanaya.


Elvano masuk ke dalam mobil dengan emosi. Panji bahkan belum bersiap - siap untuk berangkat dan membukakan pintu untuk bosnya itu. Ia masih bersantai di dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi sambil memakan roti sarapannya.


"Cepat berangkat!" Perintah Elvano dengan wajah yang memerah.


Panji pun segera menaruh rotinya dan menghidupkan mesin mobilnya.


Ia bergidik melihat amarah di wajah Bosnya itu. Selama ini ia belum pernah melihat Bosnya itu begitu emosi dan menampakkan kebencian pada seseorang.


Panji tidak tahu kemana harus mengantar Bosnya sepagi itu. Kantornya saja masih sepi di jam seperti ini.


"Maaf Tuan, kemana tujuan kita?" tanya Panji memberanikan diri setelah memutari taman kota sebanyak dua kali. Karena tidak berani bertanya pada Bosnya itu.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like yang banyak yah. Jangan lupa ramaikan kolom komentarnya biar bisa Craz Up setiap harinya🤗


__ADS_2