Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Pertengkaran


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa memarahiku? Pelayanmu yang harus membuatku terus berteriak - teriak. Itu semua salahnya," ujar Maya sambil menunjuk Desi.


Desi diam, tidak berbicara, namun hatinya dongkol melihat kelakuan perempuan yang tidak tahu diri di depannya. Walaupun baru kali ini, bertemu langsung, namun Desi sudah pernah mendengar mengenai perempuan itu dari beberapa pelayan di rumah itu.


"Maya, kau tunggu di ruang tamu aku akan turun sebentar lagi," ujar Elvano tidak menanggapi keluhan Maya.


"Elvano... kamu?" protes Maya, dan saat itulah ia melihat Kanaya yang duduk di tengah ranjang Elvano sambil memegang erat pakaiannya.


"Ayo Nona, saya tunjukkan jalan ke ruang tamu," ujar Desi berusaha membuat Maya meninggalkan kamar Elvano dengan sopan.


"Elvano, sedang apa perempuan itu ada di kamarmu?!" teriak Maya pada Elvano yang hendak berjalan ke kamar mandi.


"Maya sudahlah! Kanaya sedang beristirahat di sini," ujar Elvano sambil berbalik dan mengarahkan Maya keluar dari kamarnya.


"Desi, bawa Maya ke ruang tamu!" Perintah Elvano.


"Elvano, kamu tidak memperbolehkan aku masuk dan tidur di kamarmu, tetapi kau memperbolehkan dia tidur disana!" Protes Maya dengan sangat kesal.


"Maya, Kanaya sedang sakit! Sebaiknya kamu tunggu di bawah!" bentak Elvano pada Maya, kemudian ia menutup pintu kamarnya. Elvano sangat kesal pada Maya karena Maya sangat ribut dan membuat kepalanya pusing. Bahkan ia bisa mendengar suara protes Maya saat Desi mengajaknya ke ruang tamu.


Elvano berjalan ke arah kamar mandi melewati Kanaya yang tengah memandangnya dengan pucat pasi.


"Berhenti memandangiku seperti itu, dan ambilkan aku pakaian. Aku mau mandi," ujar Elvano, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.


Kanaya turun dari ranjangnya perlahan dan berjalan menuju ke lemari besar milik Elvano. Ia melangkahkan kakinya disana dan melihat pakaian Elvano yang telah tergantung rapi di sana.


Kanaya mengambil sebuah kaos berkerah berwarna hijau botol dan sebuah celana pendek berwarna khaki. Setelah itu ia menaruhnya di atas ranjang.


Kanaya tidak ingin berada di dalam kamar itu saat Elvano selesai mandi, sehingga ia pun segera keluar dari kamar Elvano dan masuk ke dalam kamarnya.


Tak berapa lama Elvano keluar dari kamar mandi dan melilitkan handuk di pinggangnya dan mendapati baju yang di siapkan oleh Kanaya untuknya sudah ada di atas ranjang, akan tetapi ia tidak melihat Kanaya di dalam kamarnya lagi.


Elvano mendesah, merasa kamarnya itu kembali sepi dan hampa.


Elvano berjalan keluar kamar dan turun ke bawah. Tetapi ia hanya mendapati Maya yang sedang menunggunya dengan wajah yang cemberut di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kamu mau apa kesini?" tanya Elvano sambil duduk di samping Maya.


"Aku ingin bertemu denganmu Elvano, memangnya tidak boleh?" ujar Maya dengan kesal.


"Harusanya kamu telepon dulu, dan tidak perlu berteriak - teriak serta ribut seperti itu. Kau sangat menganggu tidurku Maya." ujar Elvano


"Jadi kamu keberatan aku menganggumu tidur dengan perempuan itu? Ingat Elvano perempuan itu yang telah membunuh Devita!" ujar Maya membawa - bawa nama Devita karena ia begitu kesal dan benci kepada Kanaya.


"Diamlah Maya! Jangan membawa - bawa nama Devita lagi!" bentak Elvano pada Maya membuat Maya terlonjak kaget.


"Sebaiknya kamu pulang Maya!" Ujar Elvano sambil beranjak dari duduknya.


"Elvano... aku meminta maaf," ucap Maya yang langsung memeluk Elvano dari belakang.


Ia tidak ingin Elvano mengusirnya pulang karena jika ia pulang, Elvano akan punya lebih waktu dengan Kanaya.


"Aku melakukan itu karena aku kangen sama kamu dan aku cemburu melihat dia ada di kamar bersamamu," ujar Maya merajuk.


Elvano menghela napas.


"Maya..," keluh Elvano karena Maya mulai menangis. Ia paling tidak suka melihat perempuan menangis.


"Elvano, maafkan aku, aku ingin malam ini disini bersamamu." Ujar Maya sambil meneteskan air mata.


"Huuhh.., " desah Elvano akhirnya ia pun mengalah dan duduk kembali di sofa bersama Maya. Dalam hati Maya tersenyum, karena telah berhasil membujuk Elvano agar membiarkannya tinggal di rumah itu.


Ia dan Maya pun duduk di sana sambil menonton televisi selama beberapa saat sampai Desi datang.


"Tuan, makan malam sudah siap," ujar Desi mempersilahkan Elvano untuk makan malam.


Elvano dan Maya pun beranjak ke ruang makan dan duduk bersebelahan di sana.


Elvano menoleh mencari Kanaya dan menunggu beberapa saat, tetapi Kanaya tidak kunjung datang.


"Nyonya mana?" tanya Elvano pada Desi.

__ADS_1


Elvano memang tidak pernah makan bersama Kanaya, karena ia yang melarang Kanaya makan di meja makan hanya berdua dengannya. Akan tetapi Kanaya selalu ada saat ia makan di rumah, saat sarapan atau bahkan saat ia makan malam di rumah, walaupun Kanaya hanya duduk menunggunya makan di sofa ruang keluarga, tetapi Elvano selalu bisa melihatnya dari tempatnya ia duduk.


"Nyonya sudah makan di kamarnya, Tuan." ujar Desi.


"Huh, tidak sopan sekali dia, Tuannya saja belum makan, dia sudah makan duluan." ujar Maya dengan sinis. Selain itu ia pun geram karena Elvano selalu menanyakan Kanaya.


"Maaf Nona, bukannya Nyonya tidak sopan. Tetapi Nyonya tidak boleh makan terlambat karena harus minum obat," ujar Desi beralasan. Toh Tuannya dan wanita itu juga tidak tahu batin Desi.


"Sudah, makanlah Maya." ujar Elvano sambil menyedoklan lauk dan nasi ke piringnya.


"Desi siapkan ruang tidur tamu untuk Maya," ujar Elvano.


"Elvano, aku ingin tidur di kamarmu," rajuk Maya.


"Maya, aku sudah bilang, kamar itu untuk aku bekerja dan hanya aku yang boleh tidur disana," ujar Elvano beralasan.


"Tapi tadi Kanaya kau ijinkan tidur di sana!" lagi - lagi Maya menyinggung kejadian beberapa saat yang lalu.


"Maya, aku sudah bilang, Kanaya itu sedang sakit! Sudah, aku tidak mau membahasnya, aku mau makan!" Bentak Elvano yang tidak suka jika Maya selalu menanyakan hal itu.


Hal yang ia sendiri tidak bisa menjawabnya, mengapa ia memperboleh Kanaya tidur di kamarnya.


Selesai makan, Elvano dan Maya pun duduk di ruang keluarga dan Maya menyetel karoke di sana. Elvano yang sebenarnya enggan, mau tak mau harus mengikuti Maya bernyanyi.


Sementara itu, Kanaya baru selesai makan dan minum obat di kamarnya saat Bella datang.


"Nyonya saya bawakan buku - buku yang Nyonya pesan tadi," ujar Bella sambil tersenyum saat ia masuk ke dalam kamar Kanaya.


Bella memang sudah terbiasa untuk keluar masuk kamar Kanaya dan Kanaya pun menjadi cukup dekat Bella, karena Bella yang masih cukup muda itu sangat baik padanya.


Kanaya menerima buku - buku yang di bawakan oleh Bella.


"Ah, aku sangat suka buku - buku ini," ucap Kanaya sambil melihat - lihat buku itu,"


Jangan lupa, like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2