
Elvano pun berjalan ke arah kamar mandi dan mendapati Kanaya sedang membersihkan kamar mandinya.
"Kanaya aku perlu bicara denganmu," ujar Elvano dari depan pintu kamar mandi kemudian ia menutupnya dan menunggu Kanaya sambil duduk di sofa di kamarnya.
Kanaya yang mendengar perkataan Elvano pun menghentikkan pekerjaannya dan mencuci tangannya kemudian berjalan keluar kamar mandi dan menghampiri Elvano di dekat sofa.
Kanaya berdiri kurang lebih 1 meter dari Elvano duduk.
"Mamaku dan Lisa akan datang hari ini untuk menemuimu," ujar Elvano sambil beranjak dan mendekati Kanaya. Ia berhenti di depan Kanaya dan memandangi wajah Kanaya yang masih terlihat sedikit sembab karena tangisan.
"Mereka ingin mrngajakmu berjalan - jalan ke mall dan berbelanja," ujar Elvano sambil meraih dompetnya yang ada di meja.
"Pergilah berbelanja dengan mereka, tetapi aku ingatkan sekali lagi Kanaya, jangan kau katakan satu katapun mengenai apa yang terjadi diantara kita!" ujar Elvano dengan nada mengancam
Kanaya membuang wajahnya ke arah lain, tidak ingin menyetujui perkataan Elvano.
"Tatap aku kalau aku sedang berbicara padamu!" bentak Elvano dengan kesal karena Kanaya tidak mengindahkan dirinya.
Kanaya pun menoleh kembali ke arah Elvano dan menatap matanya.
"Kamu mengerti apa yang aku katakan? Kalau sampai mereka mengetahui apa yang terjadi di antara kita, jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu dengan kedua orang tuamu dan juga Devan" Ancam Elvano.
Kanaya pun terpaksa mengangguk, karena tidak ingin terjadi hal - hal yang tidak baik terhadap orang tuanya dan sahabatnya itu.
"Ambilah ini, dan belilah apapun yang kau mau," ujar Elvano sambil memberikan kartu padanya.
Kanaya ragu - ragu untuk mengambil kartu ATM yang di sodorkan padanya.
"Cepat, ambilah." ujar Elvano dengan memaksa.
Kanaya pun mengambil kartu ATM yang di sodorkan padanya.
"Pinnya adalah hari ulang tahun Devita," ujar Elvano, membuat Kanaya mendongak dan menatap mata Elvano.
Walaupun Elvano mengatakan hari ulang tahun Devita, tetapi hari ulang tahun Kanaya sama dengan hari ulang tahunnya.
"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Elvano sambil tersenyum sinis.
"Aku sangat mencintai Kakakmu, Devita." ujar Elvano sambil mengambil foto yang ada di atas meja yang sebagian kacanya telah pecah.
__ADS_1
"Ia memandangi foto itu, dan ia baru tersadar jika Devita semakin terlihat mirip dengan Kanaya."
Dan Elvano tertegun. ia tidak pernah melihat Devita dan Kanaya tampak begitu mirip sampai hari itu.
"Walaupun Kanaya dan Devita adalah saudara kembar identik. Namun karakter dan gaya berpakaian mereka yang jauh berbeda. Sehingga membuat mereka tidak kelihatan mirip satu sama lain"
"Apa kau sudah selesai membersihkan kamar mandi? Aku mau mandi?" tanya Elvano tiba - tiba.
"Sebentar lagi. Akan aku selesaikan," ujar Kanaya sambil bergegas memasuki kamar mandi. Terdengar ia menyikat sesuatu disana, kemudian menyiramkan air beberapa kali sampai terdengar bunyi flush di toilet.
Kanaya pun keluar dari kamar mandi dengan peluh di keningnya.
"Keluarlah dan bersiap - siaplah sebelum Mamaku datang," ujar Elvano. Dan Kanaya pun keluar dari kamar Elvano.
Kanaya merasa lega karena telah selesai membersihkan kamar Elvano. Ia hendak membersihkan diri di kamarnya saat Maya memanggil namanya dan ia pun menoleh.
"Apa yang kamu lakukan disana bersama Elvano?" tanya Maya dengan ketus.
Yang aku lakukan? Apa dia tidak dengar apa yang Elvano katakan, pikir Kanaya namun ia mendapatkan suatu ide untuk menghadapi Maya.
"Bukan urusanmu, apa yang aku lakukan dengan suamiku," ujar Kanaya sambil berjalan ke arah kamarnya.
"Kanaya, aku serius bertanya padamu? Apa yang kamu lakukan di dalam sana? Apa kamu merayunya?" tanya Maya.
Maya hendak mengatakan sesuatu namun di hentikkan oleh Kanaya.
"Aku lelah, aku mau beristirahat. Kali ini Kak Elvano benar - benar membuatku kelelahan," gumam Kanaya sambil masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.
"Kanaya! Kanaya! Hei aku belum selesai bicara padamu!" ucap Maya dengan kesal, namun tidak di gubris oleh Kanaya.
***
"Silahkan masuk Nyonya," ujar Sarah sambil membukakan pintu rumah saat Luna dan Lisa datang.
Luna dan juga Lisa pun duduk di ruang keluarga.
"Mah, kok terlambat datangnya?" tanya Elvano yang tiba - tiba muncul. Ia pun segera mencium tangan Mamanya dan juga mencium kening Lisa yang menyalaminya.
"Lho Elvano? Kamu nggak kerja?" tanya Luna karena masih di rumah padahal sudah hampir jam 11 siang.
__ADS_1
"Elvano sengaja berangkat siang, masih capek Mah," jawab Elvano beralasan.
" Kanaya mana?" tanya Luna.
"Ada Mah, sedang di panggilkan Sarah," ujar Elvano sambil duduk di sofa dekat Mamahnya.
"Lisa, gimana kuliahmu?" tanya Elvano pada adiknya yang masih kuliah.
"Baik Kak, lagi santai karena libur semester. Dan hanya Ikut pesta sedikit - sedikit dengan teman kampus?" ujar Lisa. dengan cueknya sambil bermain telepon genggamnya.
Elvano mengerutkan keningnya, merasa ada yang janggal dengan ucapan adiknya itu.
'Kenapa tahu - tahu ia ngomong tentang pesta?' Batin Elvano.
Lisa melirik melihat ekspresi kakakanya. Lisa bukannya tanpa sebab mengatakan itu. Pasalnya ia kuliah di kampus yang sama dengan Almarhumah Devita dan juga Kanaya. Hanya berbeda fakultas dan angkatan. Dan tadi malam, Lisa melihat salah vidio yang di rekam salah satu mahasiswa di kampusnya yang menampilkan Kakaknya itu sedang berada di pesta bersama Maya. Dan mereka tampak seperti sepasang kekasih, padahal Elvano baru saja menikah dengan Kanaya. Hal itu pulahlah yang membuatnya mengajak Mamanya untuk bejalan - jalan ke mall dan mengajak Kanaya bersama mereka. Lisa menyangka kakaknya berselingkuh dengan Maya karena penampilan Kanaya yang memang sangat sederhana.
Lisa merasa kasihan dengan Kanaya oleh sebab itu, ia ingin membantu merubah penampilan Kanaya agar Elvano berhenti berselingkuh dengan perempuan lain.
Sarah naik ke lantai dua dan menuju kamar Kanaya di ujung koridor, dan ia mengetuk pintu.
"Nyonya Luna sudah datang," ujar Sarah dengan nada datar saat Kanaya membuka pintu.
Sarah tidak berani macam - macam saat ada Elvano di rumah. Mau tak mau ia harus bersikap sopan pada Kanaya.
"Baik, aku akan segera kesana," ujar Kanaya, sambil berbalik untuk mengambil tasnya dan kemudian berjalan keluar di ikuti oleh Sarah.
"Mamah sudah menunggu lama ya? Maaf ya Mah," ujar Kanaya saat melihat Luna berada di ruang keluarga.
"Tidak apa Kanaya, bagaimana kabarmu?" tanya Luna pada Kanaya sambil mereka berpelukkan.
"Baik Mah," jawab Kanaya sambil tersenyum.
Elvano memperhatikan apa yang dikatakan Kanaya pada Luna.
"Kak Kanaya, apa kabar?" tanya Lisa sambil cipika cipiki dengan Kanaya.
"Baik Lisa. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu?" tanya Kanaya berusaha bersikap ramah pada keluarga Elvano.
"Baik Kak." jawab Lisa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu kelihatan kurusan Kanaya. Apa kamu baik - baik saja?" tanya Luna sambil memegang pundak Kanaya dan memandangi Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Jangan lupa like komen, vote dan hadiahnya. Jangan lupa tekan tombol like..like..like yang banyak yah.