Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rasa Khawatir


__ADS_3

"Kak Elvano!? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kanaya dengan ekspresi wajah yang terkejut.


Elvano yang nampak terengah - engah karena berlari berusaha untuk tersenyum. Sementara dari ujung matanya ia melihat ketiga orang itu berhenti berjalan.


"Papa kok ada di sini?" tanya Alvaro, sama terkejutnya dengan Kanaya.


"Papa kebetulan lewat sini," ujar Elvano sambil merangkul Clara dan juga Keira agar berada dekat dengannya, sehingga mereka semua berada di dekatnya. Ia tidak memberitahu Kanaya apa yang terjadi, karena ia tidak ingin Kanaya menjadi panik dan takut.


Sementara Bastian dan anak buahnya berjaga di belakangnya, sambil ia menatap ke tiga orang itu dan memperlihatkan pistol yang tersampir di pinggangnya.


Ketiga lelaki itu berhenti saat melihat Elvano terlebih lagi ada Bastian dan anak buahnya. Meskipun ia tidak mengenal Elvano, tetapi mereka sangat mengenal Bastian yang bekerja pada rival Boss mereka.


"Kanaya biar aku antar kamu pulang," ujar Elvano sambil mengambil kunci mobil dari tangan Kanaya dan menyerahkannya pada Bastian.


Kanaya tampak sangat bingung saat Bastian menyalakan mesin mobilnya. Dalam hati ia bertanya kenapa Elvano bisa datang dengan Bastian yang adalah anak buah Austin Leonard Alfaro? Pertanyaan di benaknya sudah sampai di ujung lidahnya, namun di urungkan niatnya karena Elvano sudah menggiringnya dan anak - anak masuk ke dalam mobil.


Bastian mengendari mobil Kanaya sementara kedua anak buahnya menaiki mobil yang lain dan mengikuti nya dari belakang.


Anak - anak tidak tahu apa yang terjadi dan sama sekali tidak curiga dengan kedatangan Papa Elvano yang tiba - tiba. dan asyik bermain mainan baru yang mereka dapat dari restoran cepat saji itu.


Akan tetapi, Kanaya merasa ada sesuatu yang aneh dan ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Kak Elvano, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba - tiba kamu datang?" tanyanya setengah berbisik. Saat itu Kanaya yang sedang duduk di belakang dan Elvano sedang duduk di kursi depan.


"Tidak ada Kanaya. Santailah... sebentar lagi kita sampai," ujar Elvano sambil tersenyum dan memandang Kanaya. Namun Kanaya tidak percaya dan menuntut jawaban lebih lanjut dari Elvano.


"Yang sebenarnya... Devan tidak bisa menghubungimu, dan ia menjadi kuatir dan memintaku juga Bastian untuk mencarimu," ujar Elvano beralasan. Ia tidak sepenuhnya berbohong, karena jika Kanaya bisa di hubungi Devan sudah pasti tidak akan membutuhkannya untuk menemukan Kanaya.


Kanaya baru teringat akan teleponnya di dalam tas, dan ia pun langsung mengeceknya. Banyak sekali miss call dari Devan dan Elvano, dan ia tidak mendengarnya.

__ADS_1


Bastian melirik ke arah Elvano dan tetap waspada. Dari kaca spionnya ia melihat bahwa ketiga orang itu sudah tidak mengikuti mereka lagi. Saat itulah Devan menghubungi nomor telepon Elvano dan Elvano langsung mengangkatnya.


"Mereka ada bersamaku Devan," ujar Elvano langsung memberikan kabar baik.


"Alhamdulillah.." ujar Devan merasa lega dan begitu pula orang - orang yang ada bersamanya di mobil.


"Bisa aku bicara pada Kanaya?" tanya Devan.


"Ya, tentu. Tapi aku belum mengatakan apa - apa karena masih ada anak - anak di dalam mobil," ujar Elvano memberitahu Devan.


"Oke, aku mengerti," ujar Devan mengerti ke khawatiran Elvano agar ia tidak panik saat berbicara dengan Kanaya.


"Devan, Ay." ujar Elvano sambil menyodorkan telepon genggamnya pada Kanaya yang duduk di belakangnya. Kanaya pun langsung menerimanya.


" Yang, ada apa sebenarnya?" tanya Kanaya sambil memandang Elvano yang kebetulan juga menoleh kepadanya sesaat, sebelum ia kembali menatap keluar jendela dan ke kaca spion di depannya.


"Nanti aku cerita setelah sampai rumah, Yang. Yang penting kamu dan anak - anak selamat dan baik - baik saja," ujar Devan terlihat sangat lega.


"Aku sebentar lagi sampai. Kamu tenang saja, ikuti apa kata Bastian dan Elvano, dan tunggu di dalam rumah sampai aku kembali," ujar Devan.


"Baiklah Yang. Kamu juga hati - hati ya," ucap Kanaya yang juga merasa khawatir.


Setelah kejadian pelemparan batu di kantornya, Devan seperti terlihat banyak pikiran.


Kanaya memperhatikan, jika Devan tampak tidak tenang dan tampak sering terbangun pada malam hari. Ia bahkan beberapa kali sering memergoki Devan terbangun dan duduk di kursi balkon kamar mereka saat tengah malam, seperti ada yang menganggu pikirannya dan itu membuatnya khawatir.


Saat Kanaya menanyakannya, Devan mengatakan tidak apa - apa, akan tetapi Kanaya tahu, kecemasan Devan berkaitan dengan pekerjaannya di rumah, kecuali ia menanyakannya. Namun kali ini, Devan tidak ingin membicarakan kasus yang menyita perhatiannya belakangan ini.


Akhirnya mereka sampai di rumah dan segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Alvaro, ajak adik - adik ganti baju dulu ya dan temani mereka ya. Bunda mau bicara dulu dengan Papa Elvano," ujar Kanaya pada Alvaro, saat mereka masuk ke dalam rumah.


"Ya Bunda." jawab Alvaro yang langsung menggiring adik - adiknya naik ke atas untuk berganti pakaian.


Kanaya menunggu Elvano selesai bicara dengan Bastian sebelum ia mendekati Elvano dan menariknya ke sudut.


"Kak El, sekarang katakan ada apa? Kenapa kamu perlu datang bersama Bastian?" tanya Kanaya pada Elvano sambil melihat ke arah Bastian dan anak buahnya yang duduk di teras depan rumah. Kanaya tahu apa pekerjaan Bastian dan Devan, atau mungkin Elvano tidak meminta bantuan pada Bastian jika tidak ada sesuatu yang membahayakan jiwa mereka.


"Aku juga tidak tahu pasti, Ay. Mungkin lebih baik jika Devan yang menjelaskannya padamu," ujar Elvano sambil memandang wajah cemas Kanaya.


Dalam hati ia bersyukur tidak terjadi hal buruk pada Kanaya dan juga anak - anak.


"Kak El..." panggil Kanaya. Ia tampak bimbang ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa Ay? Kamu nggak usah kuatir, aku dan Bastian akan tunggu sampai Devan pulang," ujar Elvano ingin menenangkan Kanaya.


"Aku sangat berharap kamu bisa memberitahu aku atau bisa menanyakannya pada Devan? Mungkin kalau kamu yang bertanya, Devan mau bercerita padamu. Aku sangat mengkhawatirkannya," ujar Kanaya.


Walaupun Devan tidak pernah bercerita pada Elvano, akan tetapi Elvano bisa menebak kejadian hari itu.Apalagi ia tahu ancaman itu nyata saat ia melihat ke tiga orang laki - laki yang mengikuti Kanaya. Kalau ia dan Bastian terlambat datang, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka.


Elvano memang akan berencana menanyakan hal itu pada Devan. Karena, bagaimanapun juga, keluarga Devan dan juga Kanaya adalah keluarganya. Dan ia tidak ingin terjadi hal - hal buruk pada mereka.


"Aku akan menanyakan tapi ia juga pasti akan memberitahumu langsung," ujar Elvano sambil tersenyum.


"Kamu benar, Ka El. Aku akan menanyakannya lagi saat ia pulang nanti," ujar Kanaya sambil mengangguk, dan mengingat kembali ucapan Devan tadi di telepon.


"Tidak perlu di pikirkan, aku yakin semuanya akan baik - baik saja. Kamu istirahat saja dulu, biar aku yang tunggu Devan datang," ujar Elvano sambil meraih pundak Kanaya dan mengajaknya berjalan ke arah tangga.


"Aku akan menemani Bastian di depan," ujar Elvano, sambil ia melepas pegangan tangannya di depan anak tangga dan ia berjalan keluar menemani Bastian. Sedangkan Kanaya memilih untuk menemani anak - anak bermain sambil menunggu Devan datang.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2