
Kanaya membalas senyuman Mamahnya itu, kemudian menoleh ke arah lain membuka rak- rak yang ada di dapur, mencoba untuk tegar dan tidak menangis di depan orang tuanya.
"Cari apa, Ay?" tanya Ratna melihat anaknya itu seperti mencari sesuatu.
"Mmm.. gula. Gulanya mana, Mah?" tanya Kanaya sambil terus mencari, padahal ia berusaha untuk mengendalikan emosi dan perasaannya agar tidak menangis.
"Itu, ada di depanmu!" Ujar Ratna sambil menunjuk tempat penyimpanan gula di atas meja dapur di depan Kanaya.
"Oh ya," ujar Kanaya sambil meraih tempat gula itu.
Setelah menuang gula dalam gelas teh, ia memandang keluar jendela dan kembalj melihat rumah Devan.
"Rumah Devan... Bunda bagaimana kabarnya?" tanya Kanaya pada Ratna.
"Kamu belum tahu, Ay?" tanya Ratna terkejut.
"Tahu apa Mah?" tanya Kanaya bingung.
"Bundq ikut Devan pindah ke kota B. Rupanya Firma Hukum Devan cukup berkembang di sana," ujar Ratna menerangkan pada Kanaya.
"Firma Hukum Devan?" gumam Kanaya pelan.
'Apa ia tidak salah dengar?' Batin Kanaya.
"Iya. Yang Mama dengar, Devan sudah membuka Firma Hukum miliknya sendiri sekarang. Dan walaupun baru buka, kabarnya ia sudah memiliki beberapa klien penting." ujar Ratna dengan tersenyum.
"Anak itu memang sudah berbakat dari dulu," gumam Ratna membicarakan Devan.
'Ya Tuhan, Aku sangat senang mendengarnya,' Batin Kanaya.
Devan, sahabatnya itu telah mempunyai Firma Hukum miliknya sendiri, seperti cita - citanya selama ini. Seandainya Devan ada di hadapannya, pasti sudah di peluknya sahabatnya itu untuk meluapkan kegembiraannya.Namun kali ini ia hanya bisa mengucapkan selamat dan mendoakan kesuksesan Devan di dalam hatinya saja.
"Tehnya sudah jadi Ay?" tanya Ratna memecah lamunan Kanaya.
"Sudah Mah," jawab Kanaya. Sambil menaruh gelas teh ke atas baki, kemudian membawanya ke ruang keluarga.
__ADS_1
Di ruang keluarga itu Rayhan dan Elvano sedang asyik mengobrol, seolah - olah Elvano adalah seorang menantu yang baik.
"Tehnya Pah," ujar Kanaya sambil menaruh gelasnya di hadapan mereka.
"Sini sayang," panggil Elvano pada Kanaya agar duduk di dekatnya. Dan Kanaya pun tidak bisa menolaknya. Ia terpaksa duduk di samping Elvano dan Elvano langsung merangkulnya dengan mesra.
"Nih Pah, dicobain kue yang di bawa Kanaya." ujar Ratna sambil menyodorkan piring kecil berisi kue pai buatan Desi kepada Rayhan.
Ratna pun menaruh piringnya di depan Kanaya dan juga Elvano, juga dirinya sendiri.
"Kamu buat sendiri,Ay?" tanya Rayhan pada putrinya itu.
"Nggak Pah, Desi asisten rumah tangga disana yang membuatnya," ujar Kanaya berterus terang.
"Enak, mungkin lain kali kamu bisa belajar dari dirinya," ujar Rayhan sambil tersenyum.
"Iya Pah, nanti Kanaya tanya resepnya," sambil tersenyum.
Seharian itu mereka habiskan waktu untuk mengobrol. Dan seperti biasa Elvano tampak memperlakukan Kanaya dengan mesra, sehingga Rayhan dan Ratna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri mereka.
"Kanaya pulang dulu ya Mah, Pah. Pamit Kanaya pada kedua orang tuanya.
"Iya, Ay. Jaga diri baik - baik," ujar Ratna sambil memeluk anaknya.
"Papa dan Mama jangan terlalu capek dan mikir yang macam - macam, jaga kesehatan." Ujar Kanaya sebelum ia dan Elvano pergi.
Kanaya dan Elvano pun naik ke dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman rumah keluarga Adi Wiguna. Tak terasa air mata yang sudah di tahan Kanaya sejak tadi, akhirnya mengalir.
"Sudah jangan menangis! Kamu ini cengeng sekali!" Sergah Elvano kepadanya sambil mengemudikan mobilnya menuju jalan pulang.
'Kak Elvano, kamu sungguh tidak berperasaan' batin Kanaya sambil menghapus air mata di pipinya yang terus mengalir.
Kanaya membalikkan tubuhnya hingga menghadap jendela, ia tidak ingin melihat Elvano. Elvano sungguh tidak tahu bagaimana perasaannya melihat kondisi orang tuanya yang saat ini hidupnya pas - pasan, dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu mereka.
"Kanaya Zahira! Jangan membelakangiku seperti itu!" Bentak Elvano, namun Kanaya tidak merubah posisinya. Hatinya sedang sedih, mengabaikan Elvano adalah hal termudah yang ia bisa lakukan saat itu.
__ADS_1
Melihat Kanaya, yang mengabaikannya Elvano pun geram, dan ia melajukan kendaraannya dengan kencang, meliuk - liuk di antara mobil - mobil yang besar itu dengan cepatnya. Kanaya hanya bisa berpegangan dan menutup matanya, melihat Elvano mengemudi seperti itu.
Ciitt!
Suara decit rem mobil Elvano terdengar jelas di depan rumah besarnya.
"Kamu sungguh tidak berterima kasih Kanaya! Aku sudah mengijinkanmu untuk menemui orang tuamu, dan kamu mengabaikan aku sekarang!" Bentak Elvano dengan emosi sambil membalikkan tubuh Kanaya ke hadapannya.
"Terserah apa maumu Elvano, aku sedang tidak ingin berbicara denganmu!" Ujar Kanaya dengan berani. Rupanya ia sudah tidak peduli lagi apa yang Elvano lakukan. Kesedihannya sudah mengalahkan rasa takutnya pada Elvano, dan ia tidak ingin Elvano pun menganggunya saat itu.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kanaya hingga sudut bibirnya sedikit berdarah. "Berani - beraninya kamu berbicara seperti itu Kanaya Zahira!" teriak Elvano dengan emosi melihat Kanaya yang sudah berani menentangnya dan sudah berani memanggil namanya tanpa sebutkan Kakak.
Kanaya memegangi pipinya yang terasa panas dan mentap tajam ke arah Elvano. Dan berkata, "Aku tidak perduli! Pergilah temui simpananmu itu, dan buat apa pun maumu! Aku tidak perduli Elvano!" Teriak Kanaya mengeluarkan apa yang di pendamnya selama ini.
'Apa? Tidak perduli?' Batin Elvano marah mendengar kata - kata Kanaya.
Elvano menarik tubuh Kanaya dengan kasar dan memegangi tengkuknya, kemudian ia ******* bibir Kanaya dengan bibirnya bagaikan orang yang sedang dahaga, tidak memperdulikan Kanaya yang memberontak dan mencoba mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Kanaya mencoba menolak Elvano dengan sekuat tenaga, dan ia mendorong tubuh Elvano dengan tangannya hingga Elvano terdorong dan melepaskan dirinya.
"Lepaskan aku!" Teriak Kanaya sambil menatap Elvano dengan geram, karena apa yang telah Elvano lakukan padanya. Wajahnya pucat dan bibirnya berdarah karena ciuman kasar dari Elvano padanya.
Tak menunggu lama, Kanaya membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
Elvano yang terengah - engah menatap nanar punggung Kanaya yang berlari meninggalkannya.
"Sial!!" Umpat Elvano sambil menghentakkan tangannya ke arah jendela mobil.
Ia pun segera mengemudikan lagi mobilnya dengan kencang meninggalkan halaman rumahnya.
"Aku tidak menginginkanmu, Kanaya! Jangan harap aku akan menyentuhmu!" Teriak Elvano di dalam mobilnya, mencoba berperang melawan batinnya yang mengatakan hal sebaliknya.
"Sial!" Umpatnya pada diri sendiri sambil memukul setir mobilnya dengan kesal. Kesal karena ia tidak bisa mengendalikkan dirinya untuk tidak mencium bibir indah Kanaya, ********** dan menjadikan bibir itu miliknya! Bibir itu telah menjadi miliknya dan ia sangat menginginkannya.
__ADS_1
Jangan lupa, like komen dan vote.