Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Cemburunya Kanaya


__ADS_3

POV DEVAN


Aku begitu senang sekali mengetahui jenis kelamin anak dalam kandungan Kanaya. Sudah ku duga jika ia adalah laki - laki. Entah firasat dari mana, namun aku memang menduganya laki - laki, dan ternyata benar!


"Ay, kamu udah siapin nama untuk Dedek?" tanyaku. Dulu aku pernah bertanya pada Kanaya perihal hal itu, tetapi saat itu kami belum tahu jenis kelamin anaknya, sehingga ia pun belum memikirkan nama yang tepat.


"Aku belum memutuskannya, Van," ujar Kanaya sambil tersenyum dan mengelus perutnya yang tampak bulat.


"Tiga bulan tidak lama loh, Ay. Sebaiknya kamu segera mencarikan nama untuknya," ujarku.


Aku memang sok tahu kalau membicarakan anaknya Kanaya, karena aku sangat antusias. mungkin lebih antusias dari pada Kanaya.


Dulu, aku tidak seantusias itu. Namun sejak aku melihat untuk pertama kalinya anak dalam kandungan Kanaya melalui USG, aku pun sangat takjub.


Saat itu usia kandungan Kanaya berusia 4 bulan dan itu kali pertama aku mengantar kontrol ke dokter kandungan. Sejak saat itu, gambaran makhluk kecil yang tak berdosa itu selalu ada di benakku dan setiap kali aku melihat Kanaya, aku semakin teringat padanya. Aku sangat mencintai Kanaya dan anak dalam kandungannya adalah anaknya. Dia bagian dari Kanaya dan aku mencintai apapun yang merupakan bagian darinya. Aku tidak peduli, meski anak itu bukan anak biologisku, namun aku menganggapnya adalah anakku. Suatu hari aku akan menikahi Kanaya dan anak itu akan memanggilku Ayah.


Kanaya menerawang jauh mendengar ucapan ku. Mungkin ia memang memikirkan apa yang aku katakan perihal nama anaknya. Atau dia memang sedang memikirkan perihal nama anaknya?


Seperti biasa aku mengantarkannya kembali ke Apartemen. Apartemen yang tiap hari selalu ku kunjungi. Apartemen itu menjadi rumah kedua buatku. Mungkin benar kata Pak David, bahwa apartemen 709 itu membawa kekuatan magis. Dia bilang, siapapun yang ada di dalam apartemen itu akan saling jatuh cinta. Benar atau tidak, aku memang sudah jatuh cinta dengan Kanaya jauh sebelum Kanaya tinggal di apartemen itu.


"Samudra" samar - samar kudengar suara Kanaya mengatakan sesuatu saat kami tengah berdiri di dalam lift apartemen menuju ke lantai 7.


"Apa, Ay?" tanyaku sambil menoleh kepadanya.


Kanaya menoleh kepadaku dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Alvaro Samudra. Bagaimana menurutmu?" tanyanya padaku.


Aku mengerutkan dahiku, mencoba memahami perkataannya.


"Alvaro Samudra. Apa nama itu cukup bagus?" tanyanya sambil menatapku.


Bola matanya coklatnya menatapku menunggu pendapatku mengenai nama yang ia sebutkan untuk anaknya.


Alvaro Samudra.


"Apa kamu tahu artinya?" tanyaku.


Dia terlihat ragu.


"Aku tahu Alvaro berarti bijaksana dan Samudra... aku rasa aku menyukai nama Samudra."


Itulah jawaban yang di ucapkan oleh Kanaya.


"Alvaro Samudra..... bagus juga...." ujarku.


"kita bisa memanggilnya Al atau Sam," gumamku sambil berpikir.

__ADS_1


Dia menangguk sambil tersenyum.


"Aku akan memikirkan nama lainnya, mungkin akan ada yang nama lebih cocok untuknya ," ujarnya sambil menyibak anak rambut di belakangnya.


Tiba - tiba telepon genggam yang ada di saku celanaku berbunyi. Monika salah satu pengacara di firmaku menghubungiku.


"Halo, Nik" sapaku bebarengan dengan bunyi Ding!" dari pintu lift yang terbuka.


Aku dan Kanaya melangkah keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemennya.


"Pak Devan, Bapak sudah membaca berkas yang aku berikan tadi?" tanya Monika dari sambungan teleponnya.


"Belum, nanti kalau sudah sampai rumah, akan saya baca," jawabku.


"Oh...." terdengar responnya.


"Ada apa Nik? Apa ada sesuatu yang perlu aku cek lebih lanjut?" tanyaku heran kenapa Monika menanyakan berkas itu.


"Oh tidak Pak. Bapak masih di luar dengan Ibu Kanaya ya? tanyanya.


"Ya, kamu jangan kuatir kalau memang ada masalah dengan kasus itu kamu bisa beritahu saya," ujarku


"Apa ada masalah?" tanyaku memastikan.


"Oh, tidak Pak Devan. Saya pikir Bapak sudah sampai di rumah. Kalau begitu sampai jumpa besok ya, Pak." ujar Monika kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Ada masalah?" Kanaya bertanya padaku, sembari membuka pintu apartemennya.


"Nggak, nggak ada masalah," jawabku sambil melangkah masuk ke apartemennya.


Di dalam apartemen kami bertemu Tante Ratna, Mama Kanaya dan kami pun bercakap - cakap sebentar sampai ia pamit masuk kedalam kamarnya karena sudah mengantuk.


"Van, panggil Kanaya saat aku sedang membuka salah satu email yang masuk di telepon genggamku.


"Hmm?" gumamku kemudian menoleh kearahnya yang duduk di sebelahku.


"Kamu beberapa hari keluar kota?" tanyanya.


Oh ya! Aku lupa memberitahukan hal itu padanya. Karena aku mungkin tidak bisa menemuinya selama beberapa hari.


"Rencana tiga hari, Ay. Aku nggak bisa ketempatmu, tapi aku pasti telepon" ujarku padanya.


Dia mengangguk, tapi aku tahu dia gelisah akan sesuatu.


"Kenapa?" tanyaku.


Dia menggeleng tapi dia tidak berani menatapku.

__ADS_1


"Ay, ada apa? Kamu nggak mau aku pergi?" tanyaku.


"Bukan itu, Van.Kamu harus pergi karena itu pekerjaanmu," jawabnya.


"Tapi?" tanyaku padanya sambil melihat afa ganjalan dari jawabannya.


"Devan, aku... aku... tidak bermaksud apa - apa... tapi, apa kamu tertarik pada Monika?" tanya Kanaya seperti ragu - ragu.


"Apa? Aku tertarik pada Monika?" batinku.


Aku pun tertawa. Apa Kanaya selama ini cemburu pada Monika?


"Devan? Kok malah ketawa!" Ucapnya dengan cemberut.


Aku pun makin tertawa. Kanaya lucu sekali jika sedang cemburu... tapi aku suka!


"Kamu cemburu, Ay?" tanyaku langsung saja.


"Aku nggak cemburu, Van." sangkanya sambil berdiri menjauhiku.


Aku tersenyum geli melihatnya. " Apa semua wanita hamil sesensitif ini?" batinku.


"Ay, aku sudah pernah bilang sama kamu. Di hatiku cuma ada kamu! Mau ada Monika, moniko, Monili sekalipun, aku nggak peduli!" Ucap ku pada Kanaya.


Monika memang cantik dan menarik akupun mengakuinya dan aku sangat mengerti jika Kanaya sangat khawatir dengan kepergianku bersama Monika ke luar kota. Tetapi aku sama sekali tidak menaruh hati pada Monika, apalagi tertarik dengan urusan hati dengannya. Hubunganku dengan Monika hanyalah masalah pekerjaan. Itu saja.


Kanaya memandangku dan ku balas pandangannya dengan menyeringai padanya. Dia pun membalikkan badannya membelakangiku.


"Masa kamu nggak percaya sama aku?" tanyaku padanya sambil ku peluk dari belakang dan ku kecup pundaknya.


"Aku percaya kepadamu, tetapi Monika yang aku nggak percaya," ujarnya sambil berbalik menghadapku lagi. Perut besarnya membuat jarakku dengannya sedikit menjauh.


"Tenang, Ay. Aku bisa menghadapi, Monika? Yang penting kamu percaya sama aku ya?" ujarku sambil menatap kedua bola matanya.


Dia terlihat ragu, tetapi beberapa detik kemudian dia tersenyum.


"Aku percaya sama kamu,Van." ucapnya membuat hatiku gembira begitu luar biasa.


"Nggak Ay, kamu nggak akan kehilangan aku," ujarku menenangkannya.


"Bukankah sudah ku katakan padamu, aku akan selalu ada untukmu," ujarku padanya.


Aku memang mengatakan itu dengan bersungguh - sungguh dan aku orang yang menepati janjinya.


Bersambung....


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2