
Devan ingin berkata sesuatu saat ia merasa telepon genggam yang ada di saku celananya berbunyi. Telepon gemggam itu bergetar dan lampunya tampak menyala.
"Ya, Ben?" jawabnya pada panggilan telepon Beni.
"Pak, berkas perkara Ibu Kanaya sudah saya siapkan dan saya titipkan pada Bunda, dan untuk tiket pesawat dan akomodasi sudah beres, semuanya sudah saya booking untuk Bapak, Ibu Kanaya dan Saya." ujar Beni.
"Baik, Beni. Sampai ketemu besok pagi di bandara. Jangan lupa untuk early check in ya"ujar Devan.
"Baik, Pak. Kalau ada apa - apa. Akan saya infokan lebih lanjut," ujar Beni.
"Terima kasih, Beni." ujar Devan sebelum memutus sambungan telepon mereka.
"Beni, dia bilang sudah siap untuk keberangkatan kita besok." ujar Devan berusaha menerangkan siapa yang telah menghubunginya dan Kanaya mengangguk.
Mereka pun menyantap makanan mereka sambil bercakap - cakap seputar Bunda dan Mama yang tampak sangat akrab, dan selalu melakukan berbagai aktivitas mereka bersama - sama. Maklum saja karena mereka seumuran dan memang sudah lama saling kenal.
"Kamu masih menulis, Ay?" tanya Devan.
"Masih, Van. Beberapa Bab sehari, sebisa aku saja." jawab Kanaya.
"Aku tahu, dulu kamu memang suka menulis cerpen, dan ternyata kamu juga cukup sukses menulis novel, Cassandra," ujar Devan menggoda Kanaya.
Kanaya tersenyum saat Devan memanggilnya dengan nama penanya.
"Aku pun tidak menyangka, Van. Bella yang memberitahu dan yang selalu menyemangatiku. Lumayanlah, Van. bisa buat sehari - hari," ujar Kanaya dan Devan mengangguk.
"Oh, iya, Van. Kalau boleh besok mampir kerumah. Aku mau mengambil ijazahku. Aku mau mencoba melamar pekerjaan disini," ujar Kanaya.
"Kamu mau cari kerja, Ay?" tanya Devan.
"Ya, karena aku nggak ingin selamanya merepotkanmu dan menulis novel pun aku tidak tahu sampai kapan bisa terus menghasilkan," ujar Kanaya.
"Aku tidak merasa di repotkan, Ay. Aku sangat senang ada kamu dan Mama kamu di rumah," ujar Devan.
"Makasih, Van. Tapi aku pun harus bisa mandiri," jawab Kanaya sambil tersenyum manis pada Devan.
'Devan, ada masa kamu akan bersama dengan orang lain, dan aku tak mungkin masih berada di titik ini, karena semua ini akan menjadi hak orang itu,' batin Kanaya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makanan mereka. Mereka pun pulang. Perjalanan kerumah mereka membutuhkan waktu 1 jam sehingga mereka sampai di rumah Devan pukul 8 malam.
Kanaya dan Devan pun keluar dari mobil dan berjalan bersama menuju pintu rumah sambil tertawa membicarakan hari itu.
Tiba - tiba pintu rumah terbuka dan Melisa berdiri di sana menatap mereka berdua.
Visual Melisa
Kanaya dan Devan berhenti tertawa dan saling pandang.
"Melisa, kamu sudah dari tadi?" tanya Devan sambil berjalan mendekat, begitu pula Kanaya.
"Hai Melisa," sapa Kanaya sambil tersenyum, namun di abaikan oleh Melisa dan hanya memandang tajam Kanaya. Kanaya langsung menunduk karena tidak enak dengan situasi itu.
"Aku meneleponmu sejak tadi, tetapi telepon mu tidak aktif," ujar Melisa pada Devan dengan ketus.
"Maaf, Mel. Hp ku law bat. Dan aku lupa menchargernya saat di mobil tadi," ujar Devan memberikan alasan yang sebenarnya dan meminta maaf pada Melisa.
"Aku sebaikanya, masuk," ujar Kanaya. Lalu permisi meninggalkan Devan dan juga Melisa
"Kanaya, apa kamu baik - baik saja." tanya Bunda Alika.
Kanaya tersenyum dan menjawab, " Baik, Bun."
"Darimana saja kamu Kanaya?" tanya Ratna sambil mengikuti Kanaya masuk ke dalam kamarnya.
"Kanaya tadi habis kepantai, Mah. Setelah undangan makan siang," jawab Kanaya.
"Berdua dengan Devan?" tanya Ratna sambil memperhatikan ekspresi wajah Kanaya. Kanaya mengangguk. Sambil mengambil baju ganti dari dalam lemarinya.
"Ay, itu yang di depan. Dia pacar Devan?" ujar Ratna perlahan. Ia mengira Kanaya belum mengetahuinya.
"Iya, Mah. Kanaya tahu," jawab Kanaya.
"Kanaya mandi dulu, ya mah?" ujar Kanaya sambil membawa baju gantinya ke dalam kamar mandi bersamanya.
__ADS_1
Ratna mendesah melihat Kanaya menutup pintu kamar mandi. Tadinya ia mengira ada hubungan istimewa antara Kanaya dan Devan, dan tentu saja Ratna tidak keberatan, karena ia tahu mereka sudah dekat sejak kecil sampai beranjak remaja dan Kanaya pun akan berpisah dengan Elvano.Namun, setelah mengetahui Devan sudah mempunyai seorang pacar, hal itu membuatnya khawatir. Ia takut Kanaya akan kecewa.
Kanaya melepas pakaiannya yang membawa sisa pasir pantai dan mengguyur dirinya dengan air pancuran hangat.
Kanaya mengakui bahwa ada sedikit pancaran rasa cemburu di hatinya melihat Devan dan Melisa. Ia sedikit tidak rela jika Devan bersama orang lain, selain dirinya. Namun ia pun merasa tidak pantas mendampingi Devan dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Devan lebih pantas bersama dengan melisa. Dia sangat cantik, baik dan tidak seperti dirinya yang sudah ternoda dan tercemar. Tubuhnya tidak lagi sempurna dengan banyaknya bekas luka di punggungnya.
'Ya, Devan lebih pantas bersama dengan melisa. Ia pantas mendapatkan yang terbaik,' batin Kanaya. Tanpa di sadarinya air matanya menetes bercampur dengan air shower yang mengguyur wajahnya.
****
"Kamu darimana saja pergi berdua dengan Kanaya? Pergi dari siang dan jam segini baru pulang?" tanya Melisa sambil melipat tangannya di depan dada.
"Aku mengajak Kanaya berkeliling kota, dia belum pernah melihat keindahan Kota B selama dia berada di sini, Mel" jawab Devan. Ia merasa tidak perlu mengatakan jika mereka pergi dan menghabiskan waktu di pantai. Ia tidak ingin menyakiti perasaan Melisa lebih dalam lagi.
"Kita bicara di dalam, Mel." ujar Devan sambil meraih lengan Melisa dan mengajaknya ke dalam, namun Melisa menolaknya. Melisa tidak bergeming di tempatnya mereka berdiri.
"Mel, kamu marah?" tanya Devan.
Melisa masih cemberut dan tak mau menjawab.
"Kamu mau keluar?" tanya Devan berusaha mengikuti kemauan Melisa.
Melisa masih diam dan tidak menjawab. Kemudia Devan menarik Melisa berjalan menuju ke mobilnya dan Melisa mengikutinya. Ia pun membukakan pintu untuk Melisa dan mendudukan Melisa di mobil, kemudian Devan menaiki mobil di kursi pengemudi.
"Kamu mau kemana?" tanya Devan pelan. Melisa masih tak mau menjawab.
Devan menghela napas dan melajukan mobilnya menuju sebuah cafe yang tidak begitu ramai pengunjung, sehingga ia dan Melisa bisa berbicara. Ia pun memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Melisa.
"Ayo Mel, kita bisa mengobrol di dalam." ajak Devan mengulurkan tangannya.
Melisa memandang Devan sesaat, kemudian menggapai tangan Devan dan keluar dari mobil.
Sudah lama sejak ia dan Devan keluar bersama.
Sejak ia mengenal Devan. Devan adalah orang yang sangat sibuk, ia hampir tidak pernah meluangkan waktu bersama dengannya. Kalaupun ia ada waktu biasanya pada hari sabtu atau minggu, itupun kalau Devan tidak sedang bekerja di luar kota. Jadwal Melisa yang padat sebagai seorang model pun membuat intensitas pertemuan mereka semakin sedikit. Namun bukan hanya itu saja yang membuatnya kesal. Sejak Kanaya datang di kota B. Ia merasa Devan lebih sering meluangkan waktu bersama Kanaya di bandingkan dengan dirinya. Dan ia pun sangat cemburu saat mengetahui Devan pergi bersama Kanaya sejak siang tadi dan mendapatkan kenyataan baru bahwa Kanaya sudah tinggal bersamanya selama ini.
Bersambung..
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.