
Selepas telepon Bagas, Devan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dan pikirannya melayang mengingat waktu yang ia habiskan bersama Kanaya, sahabatnya dan juga gadis yang diam - diam telah mengisi relung hatinya. Di bukanya aplikasi penjajah dunia maya dan mulai mengetik Yohanes Elvano Alvarendra dan mengklik pencarian gambar.
Dalam beberap detik saja, foto - foto Elvano sudah berada di layar telepon genggamnya. Dan yang terbaru baru saja di rilis setengah jam yang lalu, Foto Elvano yang baru saja keluar dari mobilnya bersama istrinya, Kanaya Zavira. Mereka berdua tersenyum, dan terlihat sangat serasi dan bahagia.
Devan memperbesar foto itu dan memperhatikan wajah Kanaya, ia memang tampak bahagia, namun Devan menangkap kesedihan di wajah Kanaya. Sekian lama ia menjadi sahabat dekat Kanaya ia selalu menangkap rona bahagia atau sedih di wajah Kanaya. Sejenak ia tertegun dan berpikir jika Kanaya sedang bersedih, namu segera di tepisnya pikiran itu. Bukankah Bagas mengatakan dia baik - baik saja?
"Aku ikut berbahagia untukmu, Kanaya," gumam Devan. Sambil menatap foto Kanaya untuk terakhir kalinya, sebelum ia menutup layar pencarian dunia maya itu.
Visualnya Bang Devan nih...😄
"Maaf Pak, Ibu Melisa menghubungi Bapak. Apa Bapak mau menerima?" tanya Putri, sekretarisnya yang tiba - tiba menyebulkan kepalanya di pintu ruang Devan.
Saat itu memang sudah malam, dan Devan masih mempersiapkan berkas perkara untuk sidangnya esok hari.
Melisa adalah seorang model di kota B yang pernah menjadi salah satu kliennya, namun kerap menghubunginya setelah masalah hukumnya usai, untuk sekedar mengobrol atau membuat janji temu.
"Katakan aku sedang meeting Putri," ujar Devan dan Putri pun mengangguk mengerti jika Bosnya itu sedang tidak ingin di ganggu.
***
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Bella saat Kanaya membuka matanya pagi itu. Desi memang menugaskan Bella untuk menunggu Kanaya pagi itu, berjaga jika Kanaya membutuhkan bantuan.
Kanaya tersenyum dan mencoba duduk di ranjangnya, dan Bella segera membantunya. Kanaya merasakan badannya masih terasa kaku dan ia masih merasakan nyeri di punggungnya.
"Nyonya pakai ini, setelah itu saya akan siapkan makan untuk Nyonya," ujar Bella sambil mengambil sebuah daster longgar untuk Kanaya.
Bella membantu Kanaya untuk memakainya.
"Terima kasih Bella, saya mau mandi ke kamar mandi dulu," ujar Kanaya.
"Mari saya bantu, Nyonya."
__ADS_1
Bella membantu Kanaya masuk ke dalam kamar mandi, kemudian menunggu di depan pintu kamar mandi.
Setelah menyelesaikan urusan paginya, Kanaya membasuh wajahnya dan memandang wajahnya di cermin di hadapannya.
Wajah Kanaya masih terlihat sangat pucat, namun tubuhnya sudah lebih kuat dari pada tadi malam.
Kanaya mengingat apa yang terjadi tadi malam, dan wajahnya pun kembali bersedih mengingat apa yang Elvano lakukan padanya. Tiba - tiba ia teringat pada mimpinya tadi malam. Dalam mimpinya ia melihat Elvano berada di dalam kamarnya dan memandanginya.
'Itu cuma mimpi,' batin Kanaya sambil menggelengkan kepalanya.
"Duduklah Nyonya, saya akan menyiapkan sarapan," ujar Bella sambil membantu Kanaya berjalan ke sofa setelah Kanaya selesai dari kamar mandi.
"Tidak apa Bella, saya bisa sendiri," ujar Kanaya sudah merasa lebih baik.
Bella tersenyum dan keluar dari kamar Kanaya. Ia pun segera ke dapur mengambilkan bubur yang sudah di siapkan oleh juru masak untuk Kanaya.
Saat ia berjalan kembali ke kamar Kanaya, ia berpapasan dengan Elvano yang sedang keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi Tuan," sapa Bella dengan sopan.
"Ini... Sarapan untuk Nyonya, Tuan." jawab Bella dengan takut ia khawatir jika Tuannya tidak mengijinkan Nyonyanya untuk makan, mengingat Tuannya telah tega menyakiti istrinya semalam.
Elvano membuka penutup mangkok yang ada di baki yang di bawa Bella dan melihat isinya.
"Bagaimana Nyonya?" tanya Elvano sambil menutup kembali mangkok bubur itu.
"Nyonya sudah bangun tadi pagi dan masih banyak membutuhkan istirahat," ujar Bella. Ia sengaja mengatakan itu agar Tuannya tidak menganggu Kanaya untuk sementara waktu. Bella merasa iba apa yang telah terjadi terhadap Kanaya. Dua kali sudah ia merawat Kanaya setelah di pukul cambuk oleh Tuannya itu.
Elvano mengangguk kemudian berjalan ke lantai bawah tanpa berkata apapun.
Bella menarik nafas lega dan melanjutkan membawakan sarapan ke kamar Kanaya.
Elvano masuk keruang makan dengan kecewa ketika menemukan Sarah yang sedang menyiapkan sarapannya di sana. Sejak 6 bulan yang lalu, Kanayalah yang menyiapkan sarapan paginya setiap hari. Dan tidak melihat Kanaya pagi itu di sana membuatnya merasa ada yang kurang.
__ADS_1
Elvano seperti lupa bahwa dialah penyebab Kanaya tidak bisa melakukan hal itu untuknya.
Elvano duduk di meja makan dengan lesu.
"Selamat pagi, Tuan. Ini sarapan Anda," ujar Sarah sambil menaruh semangkuk bubur dan berbagai macam pelengkapnya ada di hadapannya.
Elvano tidak berkata apa - apa dan mulai menyantap sarapannya.
Tiba - tiba telepon genggamnya berbunyi, dan Maya yang meneleponnya.
"Sayang, kamu kesini jam berapa? Aku sudah lama menunggumu dan ini sudah siang," ujar Maya langsung saat Elvano mengangkat panggilan teleponnya.
Elvano tertegun, ia lupa telah berjanji pada Maya untuk mengajaknya dan menghabiskan waktu bersamanya di pulau.
"Sepertinya aku agak sedikit telat. Nanti agak siangan aku tempatmu," ujar Elvano beralasan.
Maya berdecak, tidak suka dengan apa yang di dengarnya.
"Elvano, kamu tidak sedang berbohong kan? Apa kamu sedang menghabiskan waktu bersama Kanaya?" tuduh Maya curiga.
"Tidak Maya! Nanti aku telepon lagi." ujar Elvano krmudian memutus percakapan teleponnya.
Maya menghubunginya kembali, namun Elvano tidak sengaja mengangkatnya dan mengganti metode silent di handphonenya. ia sedang tidak ingin mendengar Maya menceramahinya dan berbicara mengenai keterlambatannya panjang lebar.
Sebenarnya Elvano enggan untuk pergi, namun ia telah berjanji pada Maya.
Tidak seperti biasanya, Elvano tidak menghabiskan sarapannya pagi itu. Ia tidak bernafsu untuk makan dan hanya memandangi mangkuknya.
"Tuan, apa ada yang salah dengan makanannya?" tanya Desi tiba - tiba datang. Saat itu Desi tengah melewati ruang makan dan melihat Tuannya itu melamun, bukannya menghabiskan makanannya.
"Tidak. Aku hanya tidak lapar," jawab Elvano, kemudian ia beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Elvano mengepak beberapa buah baju, kemudian ia pun pergi keluar bersama Panji ke tempat Maya.
__ADS_1
Visualnya Maya versi author 😁
Jangan lupa like, komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like..like..like.