Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Teror Di Kantor Devan


__ADS_3

Pesawat mereka baru saja mendarat dengan sempurna di salah satu bandara khusus untuk pesawat jet pribadi milik Elvano di kota B, setelah menginap semalam dan berlibur di kota H.


"Ya Ay, aku baru saja mendarat di bandara;" ujar Elvano melalui sambungan telefon pada Kanaya.


"Syukurlah, apa Alvaro baik - baik saja?" tanya Kanaya. Ia sudah beberapa hari tidak berjumpa dengan Alvaro.


"Baik Ay. Kamu jangan khawatir, dia kan bersama aku," ujar Elvano.


"Biar aku antar Alvaro pulang nanti sore," ujar Elvano lagi.


"Kalau kamu capek biar aku dan Devan yang jemput, Kak El?" timpal Kanaya.


"Hmmm... baiklah. Hati - hati di jalan, Kak El." ujar Kanaya.


"Ya, pasti," jawab Elvano sambil tersenyum, dan senyum itu tetap melekat di sana meskipun percakapan telepon itu sudah lama di tutup.


Di rumah Devan, Kanaya baru saja menutup percakapan teleponnya dengan Elvano. Dan ia pun pergi mendekati Devan yang sedang duduk di sofa kamar mereka dan membaca beberapa berkas di pangkuannya.


"Yang," panggil Kanaya sambi duduk di samping Devan.


Devan sempat terkejut karena ia terlalu fokus pada apa yang sedang di bacanya, kemudian menoleh dan tersenyum.


"Ya, sayang. Kamu sudah telefon Elvano? Kita berangkat sekarang?" tanya Devan pada Kanaya.


"Sudah. Kak Elvano bilang, mereka baru saja mendarat, dan dia yang akan antar Alvaro pulang nanti sore," ujar Kanaya.


Devan meletakkan berkas yang di bacanya ke atas meja di depannya.


"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang sambil menunggu Alvaro pulang?" tanya Devan sambil meraih pinggang Kanaya dan menariknya mendekat. Kanaya terkekeh dan pindah duduk di pangkuan Devan dengan kedua kakinya di sisi Devan.


"Anak - anak sudah besar, apa kita tambah lagi?" tanya Devan sambil menyeringai pada Kanaya.


"Serius Yang? Apa kamu mau kita nambah lagi?" tanya Kanaya sambil menaikan alisnya menatap Devan.


"Kenapa nggak? Dua terlalu sedikit untukku," ujar Devan sambil terkekeh.


"Memangnya kamu nggak mau, sebentar lagi Alvaro SMP, terus SMA dan kuliah. Itu semua nggak kerasa, Ay. Clara juga begitu." ujar Devan sambil mengelus lembut pinggang Kanaya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di belakang telinga Kanaya,membuat Kanaya memejamkan matanya dan mengeluarkan ******* kecil dari mulutnya.


"Bagaimana? Kita bisa membuatnya satu sekarang...." bisik Devan di telinga Kanaya.


"Hmmm... aku mau menemui Dokter Gita dulu," ujar Kanaya sambil memejamkan matanya menikmati cumbuan dari Devan.


Devan berhenti mencumbu dan memandang Kanaya.


"Kamu sehat sayang, usiamu masih 30 tahun.." ujar Devan namun ia berhenti bicara saat tangan Kanaya menyentuh bibirnya.

__ADS_1


"Bisa kita bicara nanti... kita hanya punya sedikit waktu sebelum Alvaro pulang," ujar Kanaya melingkarkan tangannya di leher Devan, dan menatap kedua bola mata Devan. Tak ayal Devan pun langsung meyegel bibir Kanaya dengan miliknya, ********** dengan penuh gairah.


Kanaya yang sangat menginginkan Devan pun membalasnya dan mereka pun saling menautkan bibir satu sama lain, seiring kenikmatan yang di rasakan keduanya saat tangan Devan memandu pinggul Kanaya untuk bergerak di atas pangkuannya.


"Sayang...." desah Devan tak tertahan, dan ia pun langsung menarik blus yang di pakai Kanaya dan melemparnya ke lantai, sedetik kemudian penutup gunung kembar Kanaya melayang di udara dan Devan membenamkan dirinya di antara kedua gunung kembar Kanaya yang telah menjadi candunya selama ini, menyesap puncaknya bergantian hingga Kanaya mendongakan wajahnya dan mendesah.


"Kanaya, kamu tahu apa yang akan lakukan padamu?" gumam Devan, dengan bola mata menggelap. Tetapi ia tidak membutuhkan jawaban dari Kanaya, dan langsung membawa Kanaya ke ranjang mereka dan membaringkannya, menarik turunkan rok mini sebatas lutut yang di pakai Kanaya, hingga Kanaya nyaris tanpa busana dan menanggalkan segitiga terakhir penutup tubuhnya.


Devan memandangi tubuh Istrinya, yang ada di hadapannya sambil ia membuka pakaiannya satu persatu. Ia menganggumi kecantikan Istrinya itu, bahkan setelah 9 tahun pernikahan mereka. Kanaya masih sangat cantik seperti dulu saat ia menikahinya.


"Sayang, kamu tahu? Kalau kamu adalah canduku?" tanya Devan sambil menelan ludahnya. Menahan rasa untuk melahap habis tubuh Istrinya itu.


"Aku tidak tahu... apa yang di lakukan orang, pada candunya?" tanya Kanaya pada Devan.


Devan menyeringai.


"Banyak hal, dan ini salah satunya... " ujar Devan. Kemudia membelai tubuh Istrinya itu dengan kecupan di sekujur tubuhnya, meskipun tak ada satu pun bagian tubuh Kanaya yang tidak pernah ia sentuh, tetapi ia tidak pernah bosan dengannya. Detik berganti menit. Menit berganti jam dan tak terasa sudah satu jam mereka bercinta, dan berbaring bersisian dengan nafas terengah - engah sesudahnya.


Devan memutar tubuhnya ke samping ke arah Kanaya dan memandangnya.


Merasa Devan tengah memandangnya, Kanaya memutar tubuhnya menghadap Devan.


"Kenap sih, Yang. Dari tadi kok ngelihatin terus?" tanya Kanaya sambil terkekeh, merasa Devan menatapnya beberapa kali hari itu, bahkan dalam sesi panas mereka. Devan sering kali menatap wajahnya.



"Because I love you to death, wifey," jawab Devan sambil menatap kedua bola mata Kanaya, membuat Kanaya tersipu.


"I love you before, now and then," timpal Kanaya membalas ucapan Suaminya, dan mereka berdua tersenyum.


Tiba - tiba tedengar suara ketukan di pintu.


"Ayah, Bunda!" Terdengar suara Alvaro dari balik pintu membuat Kanaya dan Devan beranjak duduk seketika.


"Ya sayang, Alvaro jangan masuk dulu ya," Teriak Kanaya saat ia teringat tidak mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu.


Setengah melompat Kanaya mengambil rok dan blush nya yang tergelatak di lantai dan segera masuk dalam ke dalam kamar mandi setelah ia mengisyaratkan Devan untuk membuka pintu untuk Alvaro.


Devan terkekeh dan memakai celana serta kemejanya kemudian membuka pintu kamar.


"Alvaro sudah sampai! Ayah kangen!" Ujar Devan sambil membungkuk dan memeluk putranya itu.


"Ayah kok berkeringat!" Ujar Alvaro sambil melepas pelukan Ayahnya itu.


"Ah iya, Ayah kegerahan, panas," ujar Devan sambil menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Papa Elvano mana?" tanya Devan.


"Ada di bawah, lagi sama Clara," jawab Kanaya sambil melihat ke dalam kamar orang tuanya.


"Bunda mana, Yah?" tanya Alvaro karena ia juga sangat rindu dengan Bundanya.


"Bunda lagi di kamar mandi sebentar lagi keluar, " ujar Devan sambil menutup pintu kamar dan berjalan bersama Alvaro munuju ke lantai bawah.


"Bagaimana jalan - jalannya? Seru?" tanya Devan sambil mereka berjalan turun.


"Seru! Alvaro sudah boleh naik perosotan yang tinggi, Yah! Alvaro balapan sama Papa dan Alvaro yang menang!" Cerita Alvaro dengan bersemangat. Dan Alvaro menceritakan banyak hal lagi sampai bertemu Elvano sedang bersama Clara di taman belakang rumah.


Tak lama Kanaya turun menemui mereka, sudah berganti pakaian dan mandi.


Ia pun melepas rindunya dengan Alvaro dan mendengarkan cerita Alvaro.


Tiba - tiba telepon genggam Devan bergetar dan ia pun segera mengangkatnya.


"Hallo Beni?" tanyanya setelah mengangkat teleponnya.


"Hallo Pak, maaf saya menganggu, ada suatu hal penting yang harus saya sampaikan," ujar Beni.


"Iya, ada apa?" tanya Devan.


"Kantor kita, Pak. Ada yang meneror kantor kita Pak dan ada segerombolan orang yang melempar batu ke jendela kantor," ujar Beni.


"Apa?! Kamu yakin?" tanya Devan dengan terkejut.


"Ya Pak. Saya baru saja sampai kantor," jawab Beni.


"Oke Beni. Tunggu di sana, saya akan segera kesana," ujar Devan kemudian menutup sambungan teleponnya


"Ada apa, Van? Apa semuanya baik - baik saja?" tanya Elvano yang melihat ekspresi Devan berubah menjadi cemas.


"Ya, ada sesuatu yang terjadi di kantor dan aku harus segera mengeceknya," jawab Devan.


"Maaf aku tinggal ya, Elvano. Tolong jaga Kanaya dan anak - anak dulu" ujar Devan lalu bergegas menghampiri Kanaya dan pamit pergi ke kantornya.


"Apa semuanya baik - baik saja, Yang?" tanya Kanaya melihat kecemasan di mata Devan.


"Ya, aku hanya pergi sebentar saja, sayang. Kamu tinggallah di sini bersama anak - anak dan juga Elvano," ujar Devan, kemudian mengecup kening Kanaya sebelum ia masuk ke dalam rumah.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2