
Kanaya tersenyum malu, meskipun ia ingin sekali membalas kecupan Devan. Tetapi, ia berusaha menahan dirinya. Kanaya tahu diri untuk tetap menjaga hubungannya dengan Devan tidak lebih dari yang seharusnya sampai ia di nyatakan bercerai dari Elvano.
"Masuk, Ay." ujar Devan, sambil membuka kan pintu kamarnya. Kanaya pun mengikuti Devan masuk dan ia berdiri di dekat jendela kamar Devan, memandang gedung - gedung tinggi di sekitar bangunan hotel mereka.
"Santai saja, Ay. Aku akan ke kamar mandi sebentar," ujar Devan lalu langsung masuk ke kamar mandi untuk beberapa saat.
Kanaya masih berdiri di depan jendela, saat Devan keluar dari kamar mandi.
Devan pun memarik kursi swivel dan mendudukan Kanaya di kursi di sana, sedangkan ia duduk di tepi ranjang.
"Ayo ngomong," ujar Devan sambil menarik kursi swivel itu mendekatinya, sehingga mereka duduk saling berhadap - hadapan.
Kanaya terdiam dan mengerutkan dahinya sambil menatap Devan.
"Ayo bicara, aku tahu kamu mau mengatakan sesuatu," ujar Devan sambil menatap Kanaya dan menunggu Kanaya untuk berbicara.
"Van... mengenai tuntutan itu," ujar Kanaya perlahan. Ia merasa tidak enak hati untuk mengatakannya pada Devan.
"Kamu mau membatalkannya," ujar Devan santai.
Kanaya terkejut. Ternyata Devan sudah tahu hal itu, tapi dia tidak tampak marah ataupun gusar.
"Aku tahu kamu, pasti akan membuat keputusan itu," ujar Devan.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan pernah memaksamu, meskipun aku tidak sependapat denganmu," ujar Devan.
Devan sudah memikirkannya semalam dan ia sudah mengira, Kanaya akan memutuskan hal itu, oleh sebab itu ia memikirkan suatu cara.
"Tetapi aku tidak ingin kau mencabut tuntutan itu begitu saja, Ay. Aku akan meminta timbal balik dari mereka. Aku akan membuat kesepakatan," ujar Devan.
"Kesepakatan apa, Van?" tanya Kanaya ingin tahu.
"Kesepakatannya adalah bahwa kamu akan mencabut tuntutan itu kalau Elvano setuju untuk menceraikanmu," ujar Devan.
Kanaya tertegun berusaha untuk mencerna ucapan Devan.
'Mencabut tuntutan kalau setuju bercerai...' batin Kanaya.
"Bagaimana, Ay? Kalau kamu setuju aku akan berbicara dengan pengacaranya sekarang juga. Sehingga kita bisa segera mengurusnya," ujar Devan.
"Kalau aku melakukan itu, aku akan segera becerai dengan Kak Elvano dan Kak Elvano akan bebas?" tanya Kanaya.
"Bukankah itu yang kamu ingin kan?" tanya Devan sambil menatap Kanaya.
"Iya. Memang itu yang aku mau," ujar Kanaya. Tentu saja Kanaya sangat setuju dengan usul Devan. Karena dengan begitu, ia bisa segera bercerai dari Elvano dan Elvano pun bisa mengurusi keluarganya kembali.
"Jadi?" tanya Devan meminta kepastian.
__ADS_1
"Ya oke, aku setuju." jawab Kanaya masih tidak percaya, jika ia bisa bercerai dari Elvano lebih cepat dari dugaannya.
"Oke, aku akan bicara dengan pengacaranya hari ini juga," ujar Devan.
"Ay, semuanya akan baik - baik saja," ujar Devan sambil menggenggam tangan Kanaya, ketika melihat Kanaya masih tertegun, kemudian kembali mengecup pipinya sebelum ia beranjak berdiri dah menelepon Beni untuk menyiapkan segala sesuatunya.
********
Hari itu juga Devan, menghubungi Dimas untuk memberitahukan persyaratan pencabutan tuntutan. Dimas pun mendatangi Luna di rumah sakit untuk membicarakannya.
"Selamat pagi," sapa Dimas pada Luna dan Sean di rumah sakit pagi itu.
"Pagi, Pak Dimas, Silakan masuk" sapa balik Luna sambil tersenyum. Ia berharap Dimas membawa kabar baik dari Kanaya.
"Bagaimana Pak Sean kabarnya?" tanya Dimas sambil mendekati Sean, Kliennya itu, sejak hampir 10 tahun yang lalu.
"Sudah lebih baik Dimas. Bagaimana kasus anak saya?" tanya Sean saat mengenali Dimas yang datang.
"Sedang saya usahakan Pak, doakan saja semoga berjalan dengan baik," ujar Dimas sambil tersenyum.
"Pak Sean jangan terlalu banyak memikirkan hal itu, biar saya dan team yang mengerjakannya. Bapak fokus saja dengan kesembuhan Bapak," ujar Dimas tidak ingin Sean terlalu banyak pikiran.
Sean pun mengangguk.
"Terima kasih, Dimas. Saya titip anak saya," ujar Sean.
"Iya Pak, Bapak istirahat saja dulu, ya" ujar Dimas.
"Bisa saya bicara sebentar, Bu?" tanya Dimas.
"Bisa Pak, Sebentar saya panggilkan suster terlebih dulu," ujar Luna.
Luna pun memanggil perawat untuk menjaga suaminya, sementara ia berbicara dengan Dimas.
"Bagaimana Pak Dimas, apa ada kabar dari Kanaya?" tanya Luna penuh harap, saat mereka telah duduk di sebuah Cafe di lobby rumah sakit itu.
"Itu yang sangat ingin saya bicarakan dengan Ibu," jawab Dimas.
"Apa yang Kanaya katakan, Pak? Apa dia menyetujuinya?" tanya Luna dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Pengacara Ibu Kanaya mengatakan bahwa, Ibu Kanaya bersedia mencabut tuntutan itu, asalkan..." ujar Dimas menjeda sesaat.
"Asalkan apa, Pak? Apa Kanaya meminta uang? Saham? Atau apa, Pak?" tanya Luna sedikit emosional, saat ia merasa Kanaya meminta suatu syarat padanya.
"Bukan, Bu. Ibu Kanaya bahkan tidak meminta materi. Bahkan dalam gugatan cerai pun Ibu Kanaya sama sekali tidak meminta harta," ujar Dimas.
"Lalu.... lalu apa yang dia minta, Pak?" tanya Luna sama sekali tidak mengerti.
__ADS_1
'Apalagi yang akan di minta Kanaya, kalau bukan harta,' ucap Luna dalam hati.
"Ibu Kanaya hanya meminta satu hal," ujar Dimas.
Luna tidak mengatakan apapun, ia mendengarkan apa yang Dimas katakan.
"Dia hanya meminta Pak Elvano mengabulkan gugatan cerainya, sebagai timbal balik pencabutan tuntuntan penganiayaan terhadap dirinya," ujar Dimas menarik nafas dalam.
'Apa?! Kanaya hanya meminta cerai,' batin Luna.
Luna seharusnya tahu, jika Kanaya tidak pernah mengincar harta Elvano sedikit pun, tidak seperti wanita lain yang bercerai dari suami yang memiliki cukup harta.
Tetapi, baik Luna maupun Dimas tahu, bukanlah hal yang mudah untuk membujuk Elvano menceraikan Kanaya, karena sampai beberapa hari yang lalu pun Elvano masih menolak untuk mrnceraikan Kanaya.
"Kita bisa bicara dengan Elvano, kapan pun Ibu siap. Tetapi menurut hemat saya, lebih cepat lebih baik," ujar Dimas.
"Kami akan siapkan berkasnya nanti Pak Elvano tinggal menandatanganninya saja," ujar Dimas.
Akhirnya sore itu, Dimas dan Luna langsung mendatangi Elvano di kantor kepolisian. Tak lupa juga, Luna menyiapkan makanan kesukaan Elvano.
"Elvano, bagaimana kabarmu, Nak? " tanya Luna sambil memeluk Elvano.
Elvano tampak sangat berbeda dengan Elvano yang dulu. Ia terlihat tidak terawat dan wajahnya pun kusam.
"Seperti yang Mama lihat," jawab Elvano tersenyum getir.
Luna berusaha tersenyum untuk menyemangati anaknya.
"Ini Mama bawakan makanan kesukaanmu, nanti di makan ya?" ujar Luna sambil menyerahkan beberap bungkus makanan pada Elvano.
"Makasih, Ma. Gimana Papa?" tanya Elvano.
"Papa masih di rumah sakit, dokter belum memperbolehkannya untuk pulang," jawab Luna.
Elvano menarik nafas dalam.
"Maafkan Elvano ya, Mah. Karena Elvano, semua jadi ikut kena imbasnya," ujar Elvano dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Elvano, ada yang mau Mama dan Pak Dimas bicarakan denganmu," ujar Luna. Mereka pun tidak punya banyak waktu untuk berbicara dengan Elvano. Sehingga, ia harus mengatakannya langsung.
"Ada apa, Mah? Apakah ada perkembangan kasus terbaru?" tanya Elvano.
"Elvano, kemarin Mama bertemu dengan Kanaya," ujar Luna
"Mama ketemu Kanaya? Bagaimana dia, Ma? Apa dia mau kembali?" tanya Elvano dengan antusias.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like...like...like..like yang banyak yah~~