Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Ajakan Devan.


__ADS_3

"Ay, Selamat ya!" ucap Devan sambil memberikan Kanaya sebuah buket bunga kecil dan memeluknya.


"Makasih, Van. Karena kamu aku bisa mendapatkan ini!" ujara Kanaya sambil menunjukkan tabung simbol ijazah kelulusannya.


"Bukan karena aku, Ay. Tapi karena kamu sendiri memang berhak mendapatkannya," ujar Devan sambil tersenyum dengan lebar melihat rona bahagia di wajah Kanaya. Karena sudah lama tidak melihat senyum Kanaya yang begitu bahagia.


"Makasih Van, Makasih!" ujar Kanaya sambil melonjak dan memeluk Devan.


Rayhan dan Ratna hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah kedua sahabat itu.


"Kanaya, Selamat ya, Nak. Bunda sangat bangga padamu." ujar Alika, Bunda Devan yang ikut menghadiri wisuda Kanaya bersama Devan. Alika memang sudah menganggap Kanaya seperti anaknya sendiri, sehingga ia pun meminta Devan untuk mengajaknya.


"Terima kasih Bunda." ujar Kanaya sambil memeluk Alika.


"Ayo, kita rayakan bersama - sama," ujar Rayhan sambil merangkul Kanaya.


"Tidak usah, Pah. Kita pulang saja." ujar Kanaya yang tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Ia tahu kondisi keuangan mereka sedang pas - pasan.


"Kanaya, Kamu kan tidak lulus kuliah setiap tahun, tidak apa - apa kita makan bersama - sama hari ini. Papa sudah booking tempat untuk kita," ujar Rayhan meyakinkan putrinya sambil merangkulnya dengan sayang.


"Ayo Devan, Alika kita pergi sekarang" ujar Ratna mengajak Devan dan Bundanya untuk ikut bergabung.


Mereka semua pun pergi menuju ke Restoran yang di sebutkan Rayhan, dan makan siang bersama disana. Meski bukan Restoran yang terlalu mewah, tetapi suasana kekeluargaanlah yang membuatnya menjadi menyenangkan.


Mereka semua sangat menikmati perayaan kecil - kecilan itu. Terutama Keluarga Adi Wiguna, mereka sudah lama tidak tersenyum dan sebahagia itu semenjak kematian Devita.


Dua jam sudah mereka habiskan, di Restoran itu, dan mereka pun pulang dengan senyum di wajah mereka.


"Bun, Devan ke tempat Kanaya dulu, ya" ujar Devan saat ia dan Bundanya sampai di depan rumah mereka.


Bunda mengangguk, dan masuk ke dalam rumah, sementara Devan pergi ke rumah Kanaya.


"Ay!" Panggil Devan di depan pintu kamar Kanaya sambil mengetuknya.


"Ya, Van. Sebentar," jawab Kanaya dari dalam kamar.


Tak lama pintu kamar terbuka.


"Masuk, Van." ujar Kanaya pada Devan, kemudian kembali ke ranjangnya, melipat baju wisudanya dan menaruhnya di dalam paper bag.


"Senang ya, Ay. Sudah jadi sarjana!" tukas Devan sambil duduk di ranjang.


"Iya, Van. Sekarang aku tinggal cari kerja saja." ucap Kanaya.


"Ay, duduk disini," panggil Devan sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.

__ADS_1


Kanaya berjalan mendekati Devan dan duduk di sampingnya.


"Ada apa, Van? Kok kayaknya serius sekali?" tanya Kanaya.


"Ay, Kamu sempat kepikiran nggak, kerja di kota lain?" tanya Devan.


"Kamu tahu kan, Papa menginginkan aku untuk meneruskan perusahaannya. Walaupun begitu, Papa juga ngasih kesempatan aku untuk mencari pengalaman di tempat lain. Tapi aku belum kepikiran untuk mencarinya di luar kota. Memang kenapa, Van?" tanya Kanaya lagi. sambil memandang Devan.


"Kamu ingat Firma hukum Asegaf Star......"


"Devan!" Kanaya memekik tertahan sambil membelalakan matanya.


"Kamu...Kamu di terima? " tanya Kanaya sambil memandang Devan dengan takjub.


"Iya, Ay. Aku diterima," jawab Devan sambil mengangguk.


"Selamat ya, Van!" Ucap Kanaya sambil memeluk Devan


"Makasih, Ay." jawab Devan sambil membalas pelukkan Kanaya.


Kanaya melepas pelukkannya dan tersenyum lebar.


"Aku ikut senang, Van. Pasti nggak mudah untuk di terima di sana, dan kamu berhasil. Satu langkah untuk mencapai cita - citamu, Van. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan bisa memiliki Firma Hukum milikmu sendiri," ujar Kanaya dengan berbinar - binar, ikut senang dengan keberhasilan Devan.


"Makasih, Ay," ujar Devan tersenyum.


"Iya, Ay. Aku harus pindah ke kota B," ujar Devan memandang Kanaya dengan sedih.


"Kamu mau ikut, Ay? Kamu juga bisa cari kerja disana. Aku yakin banyak kesempatan yang bisa kamu dapatkan disana," ujar Devan mencoba mengajak Kanaya pindah bersamanya.


Kanaya memandang Devan, memikirkan apa yang dikatakan Devan. Kanaya pasti akan kesepian jika Devan benar - benar pindah.


"Kamu bisa tinggal bareng aku, Ay. Kita cari apartemen atau rumah sewaan," ujar Devan.


"Dan mungkin, dengan suasana baru dan kota baru, dan bertemu orang - orang baru akan membuat kamu lebih bersemangat." ujar Devan lagi.


"Aku...aku...tidak tahu, Van" ucap Kanaya.


"Maksudku, aku tidak ada persiapan dan aku harus bicara dulu dengan Papa dan Mama. Dan aku nggak yakin jika mereka mengijinkan, Van." tutur Kanaya kembali.


Devan menghela napas. Ia tahu mungkin berat bagi mereka untuk Kanaya meninggalkan kota mereka. Dan ia tidak bisa memaksanya. Terlebih sekarang, Kanaya adalah anak satu - satunya dari keluarga Adi Wiguna.


Devan memang bukan anak orang kaya. Almarhum Ayahnya pun dulu pengusaha kelas menengah di kota itu. Dan setelah ayahnya tiada, kehidupan Devan dan juga Bundanya hanya pas - pasan.


"Kamu kapan berangkat, Van?" tanya Kanaya.

__ADS_1


"Kemungkinan awal bulan depan, tapi besok aku harus ke kota B. untuk membicarakan kontrak kerjaku dan hal - hal lainnnya." ujar Devan.


"Besok, Van?" tanya Kanaya.


"Ya, untuk beberapa hari, Kamu mau ikut?" tanya Devan.


"Aku nggak bisa Devan, aku harus mengurus ijazahku dan lain - lainnya. Selama beberapa hari kedepan." jawab Kanaya.


Devan mengangguk, walaupun ia mengharapakan Kanaya bisa ikut bersamanya besok.


Devan meraih tangan Kanaya.


"Ay, tolong pikirkan ya. Please....aku ingin kamu ikut pindah denganku," ujar Devan sambil memandang manik mata Kanaya.


"Kanaya, apa kamu di dalam?" tanya Ratna dari luar pintu kamar.


"Ya, Ma." jawab Kanaya lalu bangkit dari duduknya dan menuju pintu, kemudian membukanya.


"Ini buat kamu, Ay," ujar Ratna sambil menyerahkan buket bunga mawar dan pink yang cukup besar kepada Kanaya.


"Buat Kanaya, Mah?" Tanya Kanaya tak percaya. Setahu Kanaya ia tidak mempunyai sahabat lain selain Devan. Dan kemungkinan bunga itu tidak mungkin di kirimkan oleh Devan, karena Devan telah memberinya tadi pagi.


Ratna mengangguk.


"Dari siapa, Mah?" tanya Kanay.


"Coba kamu lihat, ada kartunya disana, tunjuk Ratna sambil tersenyum.


Ia pun belum tahu siapa yang mengirimkan bunga itu untuk Kanaya.


Kanaya membawa bunga itu masuk ke dalam kamarnya.


"Dari siapa, Ay?" tanya Devan yang juga heran sambil melihat buket bunga indah di tangan Kanaya.


Kanaya mengangkat bahunya dan menaruh buket bunga itu di meja belajarnya, kemudian ia mengambil kartu yang ada di atas pita bunga itu.


Kanaya sangat terkejut membaca isi kartu itu.


Untuk Kanaya.


Selamat atas kelulusanmu.


Semoga ilmu yang di dapat bisa membawa kesuksesan,.


__ADS_1


~ Yohanes Elvano Alvarendra ~


Jangan lupa like komen dan Vote. di tunggu komentarnya ya~~~


__ADS_2