
"Nyonya... terjatuh," ujar Desi, mengatakan yang seperti Kanaya katakan.
"Ada apa sebenarnya? Maya terjatuh dari tangga dan keguguran, dan Kanaya juga terjatuh?" tanya Luna hampir tidak percaya.
"Maaf Nyonya, Nyonya sebaiknya bertanya pada Tuan, saya benar - benar tidak melihat kejadiannya," ujar Desi berdalih. Ia takut salah bicara.
"Aku tidak apa - apa, Mah?" ujar Kanaya sambil tersenyum. Ia tidak ingin membuat Luna khawatir.
"Kanaya, apa Elvano yang melakukan ini padamu?" tanya Luna sambil menatap wajah Kanaya.
Kanaya hanya tersenyum dan tidak menjawab.
"Kamu tidur disini?" tanya Luna setelah ia melihat sekeliling kamar Kanaya.
"Kanaya katakan ada apa sebenarnya? Apa yang Elvano telah lakukan padamu?" tanya Luna sekali lagi. Karena ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Apalagi Kanaya tidak berada di kamar Elvano.
***
Sementara itu di rumah sakit, operasi Maya sudah selesai dan ia masih berada dalam ruang perawatan untuk pemulihan. Elvano pun pulang setelah memastikan Maya baik - baik saja.
Saat sampai di halaman depan rumahnya, ia melihat mobil keluarganya terparkir di depan rumah.
Elvano mengetuk jendela mobil itu dan Aldi, supir yang sudah lama bekerja pada keluarganya membuka jendela dari dalam mobil.
"Siapa yang datang?" tanya Elvano pada Aldi.
"Nyonya Luna, Tuan Elvano," ujar Aldi dari dalam mobilnya.
Elvano mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Luna sedang menunggunya di ruang tamu bersama Kanaya yang duduk di sebelahnya.
"Mah, sudah lama?" tanya Elvano sambil tersenyum dan menghampiri Mamahnya itu.
"Bagaimana Maya?" tanya Luna, tanpa menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Sudah selesai operasinya, dia sedang dalam proses pemulihan," jawab Elvano.
Elvano pun melihat ke arah Kanaya yang duduk diam.
__ADS_1
"Ay..." Panggilnya dan Kanaya menoleh, namun tidak berbicara.
"Elvano sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa Kanaya sampai seperti ini?" tanya Luna sambil menatap Elvano.
Elvano tertegun.
'Apa Mama tahu apa yang telah terjadi?' Batinnya.
"Beberapa kali Mama mendapati Kanaya sakit, Sementara kamu asik - asikan bersama wanita lain!" Ujar Luna pada putranya.
"Mah, Elvano hanya menemani Maya operasi!" Ujar Elvano membela diri.
"Elvano Kanaya itu istrimu! Kalau kamu tidak bisa menjaga dia, biar Mama yang menjaganya!" Ujar Luna dengan tegas.
"Maksud Mama?" tanya Elvano terkejut.
"Kanaya akan ikut dengan Mama sekarang!" Ujar Luna.
"Desi, bawa masuk tas Kanaya ke mobil!" Perintah Luna pada Desi.
Desi yang berdiri tak jauh dari Kanaya pun langsung membawa tas yang sudah di siapkannya ke dalam mobil.
"Mah, Mamah nggak bisa begitu, Mah! Mamah nggak bisa bawa Kanaya!" Protes Elvano pada Luna.
Namun, Luna tidak memperdulikannya dan tetap membawa Kanaya masuk ke dalam mobilnya.
"Kanaya! Kanaya!" Panggil Elvano, namun Aldi tetap melajukan mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Elvano dengan cepat.
"Kanayaaaaaa!" Teriak Elvano berharap Kanaya mendengarnya dan kembali, namun mobil itu tetap berjalan dan menghilang di tikungan tak jauh dari rumahnya.
"Desi!" Teriak Elvano sambil masuk ke dalam rumahnya.
"Desi!" Panggilnya lagi karena Desi tak kunjung datang.
Desi pun datang setengah berlari.
"Ada apa Tuan?"
__ADS_1
"Apa yang Kanaya katakan pada Mama?" tanya Elvano pada Desi.
"Nyonya Kanaya tidak mengatakan apapun pada Nyonya Luna, Tuan," jawab Desi.
"Tidak mungkin! Mamaku tidak akan membawa Kanaya pergi kalau Kanaya tidak mengadu apapun!" Teriak Elvano dengan emosi karena mengira Kanaya sudah menceritakan apa yang telah ia lakukan padanya.
"Demi Tuhan, Tuan. Nyonya Kanaya tidak mengadu sepatah kata pun," ujar Desi sambil menggenang air matanya.
Ia mengingat apa yang terjadi tadi di kamar Kanaya.
*** Flashback ON ****
"Kanaya, katakan ada apa sebenarnya? Apa yang Elvano lakukan padamu?" tanya Luna saat itu.
Kanaya menggeleng dan tersenyum.
"Kanaya... tidak sengaja... jatuh, Mah." jawab Kanaya dengan suara serak dan parau.
"Apa benar apa yang kamu katakan Kanaya? Kamu tidak perlu takut." ujar Luna sambil memandang sedih Kanaya.
Kanaya mengangguk dan tersenyum.
"Kanaya... tidur disini... agar cepat sembuh.. dan... leher tidak sakit," ujar Kanaya sambil menujuk lehernya yang di gips dan ranjang yang ada di kamar itu.
"Kalau Kanaya... tidur di kamar... Elvano... khawatir akan... terkena leher," jawab Kanaya menutupi apa yang telah terjadi.
Luna menghela napas dan memejamkan matanya, menyadari menantunya itu terlalu baik untuk mengadukan kelakuan putranya.
*** Flashback OFF ***
'Hanya orang - orang yang mengenal dengan baiklah yang akan mengetahui betapa baik hatinya Kanaya. Meskipun di perlukan kejam oleh Elvano. Namun, tidak pernah mengadukannya sama sekali ' Ucap Desi dalam batin. Karena Desi menyaksikan sendiri itu semua.
"Tapi.... tapi... kenapa Mama membawa Kanaya, Desi?!" tanya Elvano dengan gelisah.
"Karena Nyonya terlalu baik, Tuan." ujar Desi membuat Elvano tertohok.
'Kanaya terlalu baik? Apa maksudnya?' Batin Elvano.
__ADS_1
"Kalau tidak ada yang lain lagi, saya permisi Tuan," ujar Desi meninggalkan Elvano yang masih tertegun.
Jangan lupa like komen dan vote.