
Tangannya meraihku dan mengajakku ke arah ruang makan, tak jauh dari sana. Desi sudah menyiapkan sarapan di dapur bersih itu.
"Kamu sudah sarapan Ay?" tanyanya.
"Belum," jawabku sambil menggeleng dan duduk di stool yang ada di island table di dapurnya, bersebelahan dengannya.
"Sebentar lagi sarapan siap Nyonya, Tuan," ujar Desi sambil memandang kami bergantian.
"Desi, kamu bisa memanggilku Kanaya," ujarku merasa tidak seharusnya ia selalu memanggilku Nyonya.
Namun Desi hanya tersenyum sambil menaruh sepiring tumpukan pancake yang tampak lezat di hadapan kami, kemudian beberapa pilihan saus, telur dan juga buah.
"Nyonya mau minum apa?" tanya Desi.
"Jus jeruk?" tanyanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya dan aku mengangguk.
Desi mengambilkan segelas jus jeruk untukku dan segelas kopi untuk Kak Elvano, kemudian ia undur diri dan membiarkan aku dan Kak Elvano menikmati sarapan kami.
"Desi masih seperti dulu," ujarku saat ia sudah meninggalkan kami berdua.
Ia memang tidak banyak berubah. Meski usianya sudah 50 tahun lebih tapi ia masih cekatan dan baik seperti saat aku tinggal di rumah Kak Elvano di kota D.
"Ya, aku cocok dengannya," timpal Elvano, sambil mengambil beberapa helai pancke untukku dan untuknya sendiri.
__ADS_1
Elvano memilih memakannya dengan telur dan juga butter, sementara aku lebih memilih dengan menggunakan selesai strobery dan buah pisang.
"Ada apa Ay? Apa yang membuatmu datang ke sini sepagi ini?" tanya Elvano akhirnya. Sepertinya ia sudah menahan pertanyaan itu sejak ia melihatku tadi.
"Aku memikirkan perkataanmu, Kak El," jawabku sekilas sambil melirik sekilas ke arahnya.
"Tentang?" tanyanya.
Aku rasa ia sudah tahu, apa yang ku maksudkan, tetapi ia menanyakannya juga. Apa ia ingin memastikan?
"Membuka lembaran baru..." jawabku mengulang permintaannya lebih dari seminggu yang lalu, sambil aku menoleh ke arahnya.
Ia meletakkan alat makannya, dan memutar tubuhku menghadapnya.
"Kak Elvano... apa kamu mencintaiku?" tanyaku padanya membalas memandang bola matanya.
"Selalu Ay. Aku selalu mencintaimu," jawabnya. Jawaban pendek, tetapi aku tahu ia jujur mengatakannya dan dadaku bergemuruh kencang karenanya.
"Meskipun.... seandainya aku tidak dapat membalas cintamu dengan sama besar?" tanyaku padanya. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya. Jujur, aku belum tahu seberapa besar rasa yang ku punya untuknya. Kalau ia mencintaiku sejak dulu dan selalu mencintaiku, apakah adil jika aku hanya membalasnya dengan sedikit rasa suka?
Dia tersenyum.
"Jika kamu punya sedikit saja rasa cinta di hatimu untuk aku, aku akan sangat bahagia. Aku yakin cintamu akan tumbuh sejalan dengan waktu, dan kamu akan bisa mencintaiku sebesar aku mencintaimu," ujarnya sambil memandangku. Kedua bola mata beningnya menatapku, dan kata - katanya menyentuh hingga ke dasar relung hatiku yang paling dalam, membuka sesuatu yang sudah lama ada di sana, terkubur dan terkunci untuk waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Dalam diam, rasa hangat itu mulai menyebar, menampakkan keberadaannya, membuatku menahan nafas untuk ke sepersekian detik, menyadari bahwa cinta untuknya itu ada.
"Kanaya, apa kamu mau memberikanku kesempatan, kesempatan sekali lagi untuk membiarkan aku memenangkan hatimu? membahagiakanmu dan juga anak - anak?" tanyanya.
Bagaimana aku dapat mengatakan tidak, saat hatiku bersorak mengatakan ya? Ya, aku ingin kamu untuk mencintaiku, aku ingin kamu membahagiakanku, dan aku ingin kamu menujukkan cintamu padaku agar aku bisa mencintaimu sama besarnya seperti kamu mencintaiku, Kak El. Semua yang ada dalam pikiranku itu keluar dalam bentuk anggukan padanya.
"Benarkah Ay?" tanyanya dengan mata yang berkaca - kaca, seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Ya, Kak El." jawabku sambil mengangguk dan tersenyum padanya meskipun, mataku pun mulai berkaca - kaca, dan akhirnya tetesan hangat itu jatuh ke pipiku saat ia memelukku dengan suka cita, menghujani kepalaku dengan kecupannya.
"Terima kasih Kanaya, kamu membuatku sangat bahagia. Aku tidak akan menyia - nyiakannya! Aku janji, aku akan membahagiakanmu, Alvaro dan Clara!" Ujarnya di hadapanku kemudian mengecup keningku dengan amat dalam, sebelum mendekapku kembali dalam pelukannya.
Meskipun air mataku mengalir akan tetapi aku tersenyum dalam pelukannya. Aku pun merasakan kebahagiaan dalam diriku, melihatnya bahagia.
Aku tidak akan berpikir yang macam - macam dan akan menjalani saja waktu ku bersama Kak Elvano, Alvaro dan juga Clara.
Bersambung...
Halo.. cek - cek apa masih ada orang di sini..😁 Semoga masih ada ya😂 Ramaikan kolom komentarnya yuk teman - teman hehehe...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1