Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Aku Tunggu Kamu


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak Devan." sapa seorang wanita berparas cantik dengan setelan pakaian kerja yang membalut tubuhnya dengan serasi.


"Pagi Monika, bagaimana kasus pembelaan dengan, Pak Hadi?" tanya Devan pada Monika. Pengacara muda yang baru bergabung di Firma hukumnya.


Sudah dua minggu Devan menerimanya untuk bekerja di kantornya. Monika adalah seorang yang energic dan pintar. Selain nilai - nilai dalam ijazahnya yang sangat bagus, Monika juga pandai membawa diri terutama jika berhubungan dengan klien - klien mereka. Oleh sebab itu Devan merekutnya menjadi karyawannya.


"Minggu depan rencananya kita akan mulai sidang pertama. Kami juga sudah mendapatkan beberapa bukti pendukung untuk membela, Pak Hadi." jawab Monika sambil berjalan menghampiri Devan di meja kerjanya sambil menujukkan bukti - bukti yang ia maksud.


"Bagus, kapan rencanamu mau bertemu, Pak Hadi lagi?" tanya Devan. Ia pun ingin berjumpa dengan kliennya itu sebelum sidang pertama mereka.


"Nanti sore, rencananya saya akan pergi ke tempat beliau," jawab Monika sambil memandang Devan yang tengah memperhatikan berkas yang ia berikan.


"Pak Devan, emang cute banget kalau lagi serius begini," batin Monika yang menatap Devan tidak berkedip.


Monika memang tertarik pada Devan Permana, sejak pertama kali ia di terima di Firma Hukum milik Devan. Menurutnya, Devan adalah seseorang pengacara yang muda, sukses, berwibawa dan seorang yang cerdas dan pintar dalam membawakan kasus - kasusnya.


"Pak Devan..." panggil Monika sambil menyandarkan pinggulnya di meja kerja Devan.


"Ya," jawab Devan. Sambil mengalihkan wajahnya dari Monika ke arah berkas.


"Bapak jadi ikut ketemu Pak Hadi, nanti sore?"tanya Monika sambil memegang pundak Devan.


"Saya memang berencana ingin bertemu langsung dengan Pak Hadi. Rencananya jam berapa?" tanya Devan.


Monika sudah mendengar banyak hal tentang Bosnya itu. Bagaimana Devan jarang hong out setelah pulang kantor dan kalau pun ikut serta pergi bersama karyawannya, biasanya ia akan pulang lebih dahulu.


Menurut gosip yang kerap Monika dengar, Bosnya itu kerap mengunjungi seorang wanita, seorang matan klien firma hukumnya, juga seorang canda yang tengah hamil.


Monika sama sekali belum pernah bertemu dengannya, namun ia penasaran untuk mengetahui kebenaran berita itu.


"Setelah pulang kantor, Pak. Karena Pak Hadi baru bisa di temui saat pulang kantor," jawab Bella dengan hati - hati.


Devan tampak berfikir sejenak, seperti menimbang - nimbang.


Sudah seminggu lebih Kanaya pindah di Aprtemen Clarissa Sky Garden, dan seperti janji mereka, Devan selalu datang setiap hari setelah pulang kerja, untuk menengok Kanaya dana bayi yang ada di dalam kandungannya. Sering kali Devan makan malam di sana dan baru pulang sekitar jam 9 malam.


Namun, sudah beberapa hari ini Devan pulang terlambat karena pekerjaan kantornya cukup banyak, dan hari ini dia ingin sekali pulang on time untuk bisa meluangkan waktu bersama dengan Kanaya.


Akan tetapi Pak Hadi, kliennya ini belum pernah ia kunjungi.

__ADS_1


"Baiklah Monika, saya ikut tetapi kalau bisa usahakan langsung berangkat setelah waktu pulang kantor," ujar Devan.


Akhirnya ia mengambil jalan tengah untuk bertemu dengan klien dan kemudian bisa langsung ke apartemen Kanaya.


"Baik Pak," jawab Devan sambil tersenyum lebar.


"Yes! Akhirnya bisa juga mengajak Devan Permana keluar sehabis jam kantor !"Batin Monika ia pun berniat mengajak Devan makan malam.


Menjelang sore, Devan menghubungi Kanaya.


"Halo Devan," sapa Kanaya dengan tersenyum. Kanaya sendiri saat itu baru selesai mengispeksi beberap unit apartemen yang rencananya akan di jual belikan.


"Lagi apa, Ay?" tanya Devan sambil tersenyum.


"Biasalah Van, lagi ngecek apartemen. Gimana Van, kamu jadi makan di tempatku kan nanti malam?" tanya Kanaya.


Kemarin Devan berjanji akan berjanji makan malam di tempat Kanaya karena beberapa hari ini, Devan hanya bisa datang ke apartemen sebentar saja.


"Ternyata hari ini aku harus selalu bertemu dengan salah satu klienku, tapi aku usahakan untuk makan di tempatmu, Ay." jawab Devan.


Devan memperhitungkan jika, ia akan tiba di rumah Kanaya tidak lebih dari jam 7. 30.


"Ay, kamu nggak bermaksud menjauhi aku kan?" canda Devan.


"Ya ampun Van, Nggak!" jawab Kanaya sambil tertawa.


'Aku juga nggak bisa jauh dari kamu, Van!" Bantin Kanaya tersenyum mengingat semua perlakuan Devan padanya yang sering membuatnya rindu.


"Ya udah, tunggu aku ya, aku pasti akan malam dirumahmu!" Ujar Devan.


"Iya, Van. Aku tunggu kamu," balas Kanaya.


Devan tersenyum mendengar ucapan Kanaya.


Sore itu seperti janjinya pada Monika, ia dan Monika mengunjungi klien mereka, Pak Hadi. Devan pun sebagai seorang pengacara yang profesional memberikan arah - arahan dan informasi yang di butuhkan oleh kliennya sejalan dengan kasus yang di hadapinya.


"Pak Hadi tenang saja, jawab semua pertanyaan dengan yakin dan percaya diri. Tim kami akan mengupayakan yang terbaik dalam kasus Bapak," ujar Devan mengakhiri konsulatasi hukumnya petang itu.


Ia pun menjabat tangan Pak Hadi dan pamit undur diri bersama Monika.

__ADS_1


"Pak Devan memang hebat. Saya kagum sekali dengan Bapak," ujar Monika sambil memegang lengan Devan saat mereka sedang berada di dalam lift untuk turun menuju lantai dasar.


"Terima kasih Monika, kamu pun cukup baik menghandle klien. Saya senang dengan hasil kerjamu," ujar Devan memberi pujian atas hasil kerjanya.


Saat sedang mengobrol. Tiba - tiba lift berhenti dan lampu di dalam lift padam.


"Akhhhhh!" Pekik Monika karena takut dengan lift yang tiba - tiba berhenti. Ia pun reflek memeluk Devan.


"Tidak apa Monika, hanya mati lampu saja. Sebentar lagi juga akan menyala," ujar Devan menenangkan.


Menurut pengalamannya, di gedung sebesar ini jika ada mati lampu, power cadangan akan langsung menyala.


Benar apa kata Devan, setelah Devan selesai bicara, lampu tiba - tiba menyala dan lift kembali berjalan.


Devan melepaskan tangan Monika dari bahunya.


"Maaf Pak," ujar Monika dengan wajah yang merona.


"Tidak apa," jawab Devan sambil tersenyum kemudian ia melihat jam tangannya dengan gelisah. Devan ingin segera pulang, namun sebagai seorang laki - laki yang baik, ia harus mengantar Monika kembali kantornya.


"Kalau Bapak tidak keberatan, saya ingin mengajak Bapak makan malam, sebagai wujud dari rasa terima kasih saya, karena Bapak telah membantu saya," ujar Monika saat mereka tengah kembali dalam perjalanan kembali ke kantor.


Devan menoleh sekilas pada Monika. Kemudian kembali fokus ke arah jalanan di depannya.


"Maaf Monika, saya tidak bisa malam ini. Dan lagi kamu tidak perlu melakukan itu, sudah kewajiban saya untuk menindak lanjuti kasus - kasus yang ada di firma," tolak Devan dengan sopan.


Monika terlihat kecewa.


"Ya sudah tidak apa - apa, Pak. Mungkin lain waktu," ujar Monika.


"Sekali lagi terima kasih, Pak." ucap Monika sebelum ia keluar dari mobil Devan.


Devan mengangguk dan tersenyum, kemudian ia melajukan mobilnya dengan cepat ke Apartemen Cllarista Sky Garden.


Author kasih spoiler dikit ya.. Untuk part nya Elvano mungkin masih 8 Bab lagi jadi harap bersabar ya...🤗


Bersambung....


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2