
Kanaya tersenyum dan menunggu apa yang akan Devan katakan.
"Aku sangat senang sekali kita bisa bertemu," ujar Devan.
"Iya Van. Aku juga. Seandainya kita bisa bertemu setiap hari pasti akan seru ya, Van." ujar Kanaya dengan polosnya.
Devan mengucel - ucel rambut Kanaya.
"Aku pergi ya, Ay." ujar Devan pamit dan memeluk Kanaya.
Rasanya Devan enggan untuk pergi pagi itu, karena ia ingin meluangkan waktu untuk bersama Kanaya.
"Hati - hati di jalan ya, Van." ujar Kanaya saat Devan masuk ke dalam taksi.
Kanaya memandang taksi yang mulai berjalan, namun tiba - tiba mundur kembali. Devan membuka kaca jendelanya.
"Ada yang kelupaan, Van?" tanya Kanaya bingung.
"Nanti siang kamu bisa makan siang bareng aku?" tanya Devan sambil tersenyum grogi
"Nanti siang?" tanya Kanaya.
"Kalau kamu nggak bisa juga nggak...." ujar Devan tidak ingin memaksa Kanaya.
"Bisa Van, di mana?" tanya Kanaya.
"Aku belum tahu di mana. Nanti aku kabarin kamu ya, Ay." ujar Devan.
"Oke Van, aku tunggu ya." ujar Kanaya sambil melambaikan tangannya saat taksi itu mulai melaju.
Jadwal Devan rupanya sangat padat hari itu, namun ia ingin sekali bertemu dengan Kanaya sekali lagi, sebelum ia pergi ke kota B. Ia tidak tahu kapan lagi bisa bertemu dengan Kanaya.
"Ay, kamu tunggu disini dulu ya sebentar, aku selesaikan meetingku dulu. Sebentar saja. 1 menit!" Ujar Devan saat Kanaya datang ke restoran yang di tuju, namun Devan masih belum selesai meeting di restoran itu juga.
Devan mengajak Kanaya untuk duduk di meja yang telah di pesannya untuk makan siangnya dengan Kanaya.
Setelah menyelesaikan meetingnya dan koleganya pamit, Devan segera menghampiri Kanaya.
"Maaf ya, Ay. Aku ada meeting mendadak tadi," ujar Devan sambil menarik kursinya itu untuk duduk.
"Nggak pa - pa, Van. Santai saja, yang penting pekerjaan kamu selesai," ujar Kanaya yang kagum pada Devan. Di usianya yang masih berumur 24 tahun sudah memiliki Firma hukum sendiri dan klien - klien yang besar.
__ADS_1
"Sudah, Ay. Untungnya sudah selesai," ujar Devan.
"Kamu sudah pesan, Ay?" ujar Devan sambil melihat menu.
"Belum, Van." jawab Kanaya.
"Mau aku pesankan, Ay. Ada beberapa menu kesukaan kamu disini," ujar Elvano sambil membolak balikkan menu restoran itu.
"Boleh," jawab Kanaya sambil tersenyum.
'Apa Devan, masih ingat makanan kesukaanku' Batin Kanaya.
Devan pun memesankan beberapa buah menu dari daftar menu restoran itu, diantaranya ada cake kesukaan Kanaya dan steak setengah matang.
Kanaya pun tersenyum saat pesanan makanan mereka datang. Ternyata Devan masih mengingat makanan kesukaannya.
Tak jauh dari mereka, dua orang perempuan yang memandang sinis pada Kanaya pun mengambil foto Kanaya yang sedang bersama dengan Devan.
"Rasakanlah Kanaya, kalau sampai Elvano tahu kamu diam - diam menjumpai Devan," gumam Maya sambil tertawa licik.
***
"Kamu kapan balik , Van?" tanya Kanaya saat mereka telah selesai makan, dan mereka menikmati cake coklat yang di pesan Devan untuk Kanaya.
"Kamu betah tinggal disana?" tanya Kanaya.
"Kotanya nyaman dan orang - orang yang ku kenal pun, mereka sangat baik padaku," ujar Devan.
"Aku rasa kamu juga akan senang tinggal disana, Ay." ujar Devan dan Kanaya tersenyum.
'Seandainya bisa, aku juga ingin ikut kamu, Van. Aku akan cari kerja, jadi tidak menyusahkan kamu," Batin Kanaya.
"Bunda gimana?" tanya Kanaya lagi.
"Awalnya Bunda memang kesepian di sana, karena belum punya teman dan nggak kenal siapa - siapa. Biasalah orang tua, Ay. Kalau sudah nyaman di rumah sendiri nggak mau kemana - mana. Tapi, sekarang Bunda sudah lumayan betah, karena sudah mulai ada teman yang seusianya yang bisa di ajak ngobrol," ujar Devan sambil tertawa, mungkin memikirkan Bunda.
"Bunda.... sering banget nanyain kamu, Ay." ujar Devan sambil menatap wajah Kanaya.
"Aku... juga kangen banget... sama Bunda," ujar Kanaya sambil menatap balik Devan, namun cepat - cepat menurunkan pandangannya. pada cake coklat yang ada di depannya.
Sekilas ia melihat kesedihan di mata Kanaya, dan ia tertegun.
__ADS_1
"Ay, apa kamu baik - baik saja?" tanya Devan sedikit menunduk, mencoba melihat raut wajah Kanaya.
Kemudian ia memegang tangan kiri Kanaya yang ada di dekatnya di atas meja.
"Apa Elvano memperlakukanmu dengan baik?" tanya Devan mrncari tahu penyebab kesedihan yang sekilas ia lihat di mata Kanaya.
Kanaya terkejut. Devan menanyakan hal itu, dan ia pun sempat memandang sekilas ke pada Devan. Namun, kembali menurunkan pandangannya pada cake coklat yang hanya tinggal sekali suap di depannya."
"Kamu bisa cerita sama aku, Ay." ujar Devan, kali ini kedua tangannya mengenggam tangan kiri Kanaya.
"Van, aku... aku..." belum sempat Kanaya berbicara, seorang wanita tiba - tiba datang menghampiri mereka,"
"Devan.." panggil wanita itu sambil melihat Devan dan Kanaya yang saling bergenggaman tangan di atas meja.
Devan dan Kanaya saling menoleh ke arah asal suara. Seorang perempuan yang tinggi semampai dan cantik berdiri di dekat mereka.
"Melisa?!" Seru Devan dengan wajah yang terkejut dan segera melepaskan genggaman tangannya ke tangan Kanaya.
"Kamu kok ada di sini? Bukannya kamu masih ada pemotretan?" tanya Devan dengan terkejut dan langsung berdiri.
"Ya, ternyata pemotretanku selesai hari ini, jadi... aku memutuskan untuk menemuimu." ujar wanita itu pada Devan dan melihat sekilas pada Kanaya.
"Oh iya, Mel. Kenalkan ini Kanaya, sahabatku" ujar Devan yang tersadar bahwa mereka bertiga.
"Kanaya, ini Melisa....." ucap Devan hendak memperkenalkan mereka berdua
"Pacar Devan, ucap Melisa pada Kanaya sambil mengulurkan tangan dan memandang Kanaya.
'Pacar Devan?' Batin Kanaya bagai tersambar petir di siang bolong.
Melisa adalah seorang model di kota B. Ia berkenalan dengan Devan saat Devan menjadi salah satu pengacaranya ketika ia mengalami masalah hukum 7 bulan yang lalu. Dan selama itu ia mendekati Devan karena ia menyukainya sejak ia mengenal Devan. Namun, ia baru berpacaran sejak sebulan yang lalu, saat Devan akhirnya mau mencoba untuk berhubungan dengan perempuan lain atas nasehat Bundanya.
Bunda Devan mengerti kesedihan Devan setelah Kanaya menikah dengan Elvano, dan menasehatinya agar melupakan Kanaya dan mencoba berhubungan dengan perempuan lain dan move on. Apalagi Kanaya terlihat bahagia bersama Elvano dalam setiap pemberitaan media.
Kanaya berdiri dan membalas uluran tangan Melisa.
"Saya Kanaya, apa kabar?" tanya Kanaya mencoba untuk bersikap wajar dan tersenyum.
"Baik, Devan banyak bercerita tentangmu," ujar Melisa sambil melepas jabat tangan mereka kemudian memeluk dan cipika cipiki dengan Kanaya.
'Ya ampun betapa bodohnya aku! Kenapa aku tidak berpikir jika Devan sudah mempunyai seseorang disana!' Batin Kanaya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote.