Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Menemani Kanaya


__ADS_3

Kanaya pun memberikan ponselnya pada Elvano yang sedang mengemudi.


Elvano yang sedang mengemudi pun segera menerima ponsel Kanaya dan meletakkannya di dashboard dan berbicara melalui loudspeaker.


"Elvano, tolong bawa Kanaya ke rumah sakit," ujar Devan melalui panggilan teleponnya.


"Iya Devan, kami sedang on the way," jawab Elvano.


"Tolong hati - hati Elvano, aku titip Kanaya padamu. Aku akan pulang secepatnya." ujar Devan.


"Iya Devan, jangan khawatir, Kanaya aman bersamaku," ujar Elvano.


"Oke Elvano, biarkan aku bicara pada Kanaya lagi..." pinta Devan.


Elvano pun memberikan telepon genggam itu kepada Kanaya.


"Ya Yang?" ucap Kanaya sambil menahan sakit.


"Kamu sabar ya, Yang. Semuanya akan baik - baik saja. Aku akan telepon Dokter Gita setelah ini," ujar Devan mencoba menenangkan Kanaya.


"Ya Yang... kamu kapan pulang?" tanya Kanaya berharap Devan akan segera pulang.


"Segera sayang. Aku usahakan akan segera pulang setelah ini. Kamu harus sabar dan jangan panik ya." ujar Devan lagi.


"Iya, Yang." jawab Kanaya


"Ay, I love you," ujar Devan.


"I love you too..." ucap Kanaya, setelah itu panggilan telepon terputus.


Mereka sampai di rumah sakit yang di tuju, dan perawat segera memindahkan Kanaya ke kursi roda dan masuk ke ruangan persalinan.


"Bapak pakai ini dulu, sebelum masuk." ujar perawat itu menahan Elvano masuk ke ruang persalinan.


Kanaya hanya memandang Elvano sebelum perawat membawanya masuk, dan Elvano tidak bisa melihatnya lagi.


Telepon Elvano berbunyi.


"Elvano, apa kalian sudah sampai di rumah sakit?" tanya Devan dari pesawat telepon.


"Ya, baru saja." jawab Elvano.


"Bisakah aku bicara dengan Kanaya?" tanya Devan.


"Kanaya... sedang berada di ruang bersalin," ujar Elvano.

__ADS_1


Devan terdiam, ia baru tersadar jika mungkin Elvano tidak enak hati, masuk ke ruangan persalinan.


"Elvano, Budi supirku masih dalam perjalanan ke rumah untuk menjemput Bundaku dan Mama Kanaya. Dan aku... tidak ada pesawat yang terbang di jam ini. Tetapi aku akan mencoba mencari cara lain agar bisa sampai secepatnya," ujar Devan.


"Ya, Devan. Apa yang kamu mau aku lakukan?" tanya Elvano mengerti, jika Devan ingin meminta ia melakukan sesuatu.


"Elvano, bisakah kamu temani Kanaya sampai aku datang? Atau paling tidak sampai Mama atau Bunda datang?" tanya Devan.


'Aku menemani Kanaya bersalin?' batin Elvano.


"Aku khawatir kalau tidak ada yang menemaninya. Dokter Gita pun sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit," jawab Devan.


"Baiklah, aku akan menemani Kanaya," ujar Elvano.


"Nanti aku bicara padanya kalau kamu sudah ada di dalam ruang bersalin, Elvano." ujar Devan.


"Oke..." jawab Elvano.


"Elvano... terima kasih" ujar Devan menutup percakapan telepon mereka.


Elvano masuk ke dalam ruangan bersalin dengan ragu - ragu. Ia tidak yakin, jika Kanaya akan senang dengan kehadirannya di sana.


Saat ia melangkah kan kaki ke dalam ruangan bersalin itu, Kanaya sedang bersama seorang perawat yang menenangkannya. Wajahnya berkeringat dan berusaha menahan sakitnya.


Elvano berjalan mendekat.


"Bukan yang pertama kali untukku," jawab Kanaya sambil tersenyum kemudian meringis.


Meskipun ia tengah berjuang menahan rasa sakit, tetapi Kanaya tidak terlihat takut menjalaninya.


Elvano mengangguk dan tersenyum.


"Apa kamu keberatan kalau aku menemanimu? Devan tadi telepon dan memintaku untuk menemanimu sampai dia tiba," ujar Elvano menjelaskan alasan dia ada di sana.


Kanaya menggeleng. Ia tidak keberatan.


"Apa Devan akan segera pulang?" tanya Kanaya.


Namun sebelum Elvano sempat menjawab, telepon genggamnya bergetar dan saat mengetahui Devan yang menghubungi nya. Ia pun memberikannya pada Kanaya.


"Halo..." ucap Kanaya.


"Kanaya? Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Devan.


"Aku sudah di rumah sakit dan sudah ada perawat yang menangani, aku baik - baik saja, Yang." jawab Kanaya.

__ADS_1


"Apa kamu bisa pulang malam ini?" tanya Kanaya pada Devan dengan penuh harap.


"Aku sudah dalam perjalanan, Ay. Bertahanlah, sayang," ujar Devan.


"Sementara itu, aku meminta Elvano untuk menemanimu. Budi baru saja sampai di rumah, sebentar lagi Mama akan sampai," ujar Devan.


"Oke.." jawab Kanaya sambil kembali meringis.


Saat itulah Dokter Gita masuk dan mengecek kondisi Kanaya. Ia sempat melirik ke arah Elvano, dan berpikir siapa laki - laki ini dan dimana ia pernah melihatnya?


"Yang, Dokter Gita sudah ada di sini," ujar Kanaya.


"Oke, bertahanlah sayang," ujar Devan sebelum percakapan mereka terputus.


"Kanaya, sepertinya pembukaannya cukup cepat untuk malam ini. Mungkin sekitar 3 - 4 jam lagi sampai pembukaannya penuh." ujar Dokter Gita sambil berdiri di samping Kanaya.


"Jangan takut karena kondisimu baik, dan juga kondisi bayimu dalam keadaan baik, dia sedang mencari jalan keluar," ujar Dokter Gita sambil tersenyum, mencoba untuk tidak membuat Kanaya terlalu tegang dan tertawa.


Devan sudah menghubungi Dokter Gita, dan mengatakan jika ia dalam perjalanan dan meminta Dokter Gita untuk menjaga Kanaya dengan baik.


Rupanya bukan saja Kanaya yang lega mendengarnya, tetapi Elvano pun juga lega, terlihat ia ikut menghembuskan nafas lega dan raut wajahnya tidak terlalu khawatir lagi. Bagaimana pun ini kali pertama ia menemani seseorang bersalin, dan itu adalah persalinan Kanaya.


"Aku tinggal sebentar, ya." ujar Dokter Gita, karena ia pun harus membuat beberapa laporan dan persiapan untuk persalinan Kanaya.


Ia sempat tersenyum dan mengangguk pada Elvano saat ia melewatinya. Dan dalam perjalanannya keluar dari kamar bersalin, ia baru tersadar alasan wajah laki - laki itu terlihat familiar karena wajahnya mirip dengan Alvaro!


Elvano mengambilkan segelas air yang tersedia di meja di dekat Kanaya, dan memegangnya di depan Kanaya.


"Minum dulu, Ay." ujarnya saat Kanaya tampak berkeringat dan wajahnya pun pucat.


Kanaya meminum air pemberian Elvano dan mengucapkan terima kasih.


Elvano memang tidak banyak bicara, sebagian besar yang di lakukannya di sana hanya menemaninya dan memperhatikan Kanaya, bagaimana ia menahan rasa sakitnya saat kontraksi datang semakin sering di setiap jamnya. Dan ia dapat membayangkan saat dulu ia melahirkan Alvaro, dan bagaimana perjuangannya. Tak ada yang dapat membandingkan sakit yang di rasakan oleh seorang Ibu, bahkan dengan barang mahal sekali pun.


"Elvano, kamu istirahat saja dulu. Biar Mama yang jaga Kanaya," ujar Ratna yang datang tiba - tiba sambil menepuk pundaknya, dan Elvano pun mengangguk.


Namun, ia tidak keluar sebelum mengatakan, "Kanaya, kamu harus kuat demi anakmu. Devan akan segera datang, dan kalau kamu butuh sesuatu, aku ada di luar," ujar Elvano sambil mengenggam tangan Kanaya dan menatap wajahnya.


"Iya Kak Elvano, terima kasih," jawab Kanaya.


Elvano menunggu selama dua jam di luar ruangan bersalin, hingga perawat datang dan memintanya menggantikan Ratna menemani Kanaya, karena Ratna terlihat sangat letih, dan perawat itu khawatir.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2