Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Kebebasan Elvano


__ADS_3

"Tapi buat apa banyak - banyak?" tanya Kanaya sambil melihat isi keranjangnya yang hampir penuh dengan alat kontrasepsi itu,"


"Agar kamu bisa menilih dan mencoba semuanya sayang," ucap Devan sambil tersenyum menggoda.


Kanaya mengerutkan dahinya karena belum paham maksud dari perkataan Devan.


Devan menurunkan kepalanya dan berbisik ke di telinga Kanaya.


"Memang aku yang menggunakannya, tetapi kamu yang akan menikmatinya, sayang,".


Dengan itu Devan tersenyum penuh arti dan menggandeng Kanaya berjalan menuju kasir.


"Masih ada yang mau kamu beli, Yang?" tanya Devan sambil menahan senyum, melihat raut wajah Kanaya yang masih terkejut dengan apa yang di bisikannya.


Kanaya menggeleng. Tiba - tiba ia lupa dengan apa saja yang mau ia beli tadi.


Mereka pun mengantri di kasir, karena saat itu ada beberapa orang pembeli.


Saat mereka tinggal mengantri dua orang lagi, seseorang memanggil mereka


"Eh, Pak Devan, Bu Kanaya!" Sapa Roni, salah satu pengacara Devan di kantor. Dan ternyata ia sedang bersama Monika yang ada tepat di belakangnya.


"Eh Roni, Monika," sapa Devan balik kepada kedua orang itu.


"Wah, borong nih Pak," ujar Roni sambil melihat isi keranjang belanjaan yang di pegang Kanaya. Dan ia pun berusaha menahan tawanya.


'Ya ampuuuunn,' batin Kanaya merasa kikuk karena tertangkap basah salah seorang kenalan mereka yang sedang membeli pelindung sebanyak ini!


Tapi Devan cuek saja dan menanggapinya dengan santai sambil menggedong Alvaro di lengannya.


"Biasalah Ron, namanya juga pengantin baru!"


"Hahaaaaa...., iya Pak bener! Kapan lagi kan bisa bereksperimen, ya kan? Mumpung udah halal!" Seloroh Roni sambil tertawa, namun ia cepat - cepat berhenti tertawa dan mengangguk pada Kanaya.


Sementara Monika yang melihat isi keranjang belanjaan Kanaya hanya bisa memandang dengan kesal.


"Iya deh Pak, Bapak masih cuti kan ya?" tanya Roni lagi.


"Iya kalau ada apa - apa kamu bisa telepon saya, atau bisa konsultasi sama Beni. Dia stand by di kantor," jawab Devan.


"Baik Pak, saya tinggal dulu ya Pak, Bu."ujar Roni sambil mengangguk pada Devan dan Kanaya, setelah itu mereka pergi.


Sepeninggalan Monika dan juga Roni, Kanaya dan Devan saling pandang kemudian sama - sama tersenyum geli.


****


"Mah, Devan, Kanaya dan Alvaro berangkat dulu ya," ujar Devan pada Alika dan juga Ratna.


Hari itu, mereka mulai pindah kerumah baru yang hanya 10 menit jaraknya dari rumah lama Devan. Ratna dan Alika memang akan tinggal selama beberapa hari ini di rumah lama mereka nanti, akan tetapi Ratna dan Alika memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di rumah lama mereka, untuk memberi kesempatan kepada pasangan pengantin baru itu untuk memberi kesempatan kepada pasangan pengantin baru itu untuk memiliki waktu berdua, bertiga bersama Alvaro.


"Ya, kalian hati - hati ya. Minggu depan Mama dan Bunda kalian menyusul," ujar Ratna.


"Iya, bahkan kami mau punya me time sendiri, iya kan Ratna?" timpal Alika sambil memberi kode pada Ratna, bermaksud menggoda pasangan baru Devan dan juga Kanaya.


Kanaya dan Devan saling tersenyum di goda seperti itu oleh Ibu mereka, akan tetapi mereka berdua sangat menghargainya. Sebagai pasangan yang baru menikah mereka berdua memang sedang bergelora dan saling mengksplore satu sama lain. Meskipun mereka telah mengenal satu sama lain selama 12 tahun lamanya, akan tetapi ada hal yang baru mereka temukan dari masing - masing setelah berumah tangga.


Tak seberapa lama mereka sampai di rumah baru mereka. Marsih dan Joni, Asisten Rumah Tangga dan Tukang kebun di rumah itu menyambut kedatangan mereka di depan pintu rumah.


"Selamat Sore, Pak, Bu. Selamat datang," sapa mereka pada Kanaya dan juga Devan.


"Selamat sore, Marsih, Joni. Gimana keadaan rumah, semuanya bagus?" tanya Devan saat ia keluar dari mobil.


"Keadaan rumah baik, Pak. Semuanya sudah di siapkan," jawab Marsih.


"Dek, Alvaro sama Bibi," ucap Marsih sambil menyodorkan tangannya kepada Alvaro dan Alvaro pun meyambutnya. Ya, karena sebelumnya Alvaro sudah pernah bertemu dengan Marsih sebelumnya. Sementara itu Joni membawakan koper dan barang - barang milik Tuan dan Nyonya itu masuk ke dalam.


Tiba - tiba Devan menarik tangan Kanaya dan langsung menggendongnya tepat, sebelum mereka memasukii rumah.


"Devan!" Pekik Kanaya sambil tertawa. Ia terkejut namun timbul rasa senang dengan perlakuan Devan.


"Nyonya Devan Permana. Selamat datang sayang," ucap Devan sebelum ia mengecup bibir Kanaya dan membawanya masuk ke dalam rumah, tanpa sungkan meski pun masih ada Marsih dan Joni bersama mereka.


Marsih dan Joni hanya bisa tersenyum, maklum dengan tingkah pengantin baru karena Kanaya dan Devan termasuk pasangan muda hingg sangat wajar mereka bertingkah seperti itu.


"Udah ah, malu di lihatin Marsih dan Joni," ujar Kanaya sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Devan dan merangkul leher Devan dengan erat.


"Nggak usah malu, Yang. Kamu harus mulai terbiasa dari sekarang, mereka juga mengerti kok," jawab Devan sambil terkekeh dan membopong tubuh Kanaya naik ke lantai dua ke kamar mereka dan menurunkan Kanaya di tepi ranjang.


"Akhirnya aku nggak tidur sendiri lagi dan nggak perlu teriak - teriak kalau ingin ngobrol sama kamu," ujar Devan sambil tertawa kecil. Ia teringat saat mereka masih tinggal bersebelahn di kota D. Devan harus berteriak dari jendela kamarnya jika ia ingin bicara dengan Kanaya di sebelah rumahnya.


"Aku masih nggak percaya kalau kita akan bersama, Ay. Aku dan kamu. Kita punya masa depan bersama," ujar Devan sambil berlutut dan memeluk pinggang Kanaya di depannya.


Kanaya memncet hitung Devan hingga Devan menggaduh.


"Udah percaya sekarang, Van?" tanya Kanaya sambil tertawa tertahan.


"Beloomm," jawab Devan sambil menunjuk bibirnya.


Kanaya memencet bibir Devan dengan jarinya sambil tertawa.


"Auu... kembali Devan mengaduh, membuat Kanaya semakin tertawa dan Devan membalasnya dengan tatapan yang nakal.


Kanaya berusaha menjauh dengan naik ke atas ranjang dan bergerak mundur menghindari Devan sambil tertawa.


Namun Kanaya kurang cepat dan Devan menangkap pergelangan kakinya terlebih dahulu dan menariknya turun dengan menggeram seperti singa mengejar mangsanya.


Tok! Tok! Tok!


Devan dan Kanaya saling pandang.


"Maaf menganggu Pak, Bu. Den Alvaro rewel sepertinya," ujar Joni. Setelah Kanaya telah membuka pintu dan menemukan Joni yang sudah bersiap untuk membawa koper Kanaya dan Devan masuk di mall seperti ini.

__ADS_1


"Bawa masuk sini kopernya!" Seru Devan.


"Ya sudah, mau bagaiamana lagi mending beberes barang - barang," batin Devan. Sedangkan Kanaya langsung berjalan ke kamar Alvaro.


***


Beberapa minggu setelah mereka menikah Kanaya merasa kehidupannya dengan Devan sangatlah sempurna. Ia merasa sangat beruntung menikah dengan Devan yang menerimanya dan Alvaro dengan tulus dan apa adanya dengan segala kekurangannya.


Padahal Kalau Devan mau, ia bisa mendapatkan wanita single, cantik dan wanita yang memiliki tubuh yang sempurna. Tetapi Devan malah memilihnya dan menikahinya.


Dan Kanaya bersyukur akan hal itu.


"Jangan melamun Mbak Kanaya!" Tegur Rena saat mereka sedang berjalan di mall bertiga dengan Audrey, adik David.


"Maklumlah Ren, masih pengantin baru!" Timpal Audrey menggodanya.


Kanaya pun langsung tersenyum, merasa tertangkap basah sedang memikirkan Devan.


"Ah, Ren. Kita belum kasih hadiah untuk pernikahannya," ujar Audrey tiba - tiba.


"Nggak usah repot - repot Audrey, kalian sudah memberi banyak sekali hadiah untuk kami," ujar Kanaya, tidak enak hati menerima hadiah lain dari Audrey dan Rena mengingat keluarga Alexander David Mahendra telah memberi banyak sekali hadiah dan bantuan kepadanya dan Devan.


"Audrey benar Mbak Kanaya, itu semua yang memberi hadiah Pak David, sedangkan Audrey dan saya belum memberikan secara pribadi;" ujar Rena membenarkan perkataan Audrey.


"Ayo Kanaya!" Seru Audrey sambil menarik tangan Kanaya masuk ke sebuah toko gaun malam dengan merek yang terkenal.


Audrey pun dengan sigapnya mencari - cari gaun malam untuk Kanaya, sementara itu ia hanya di suruh menunggu.


"Yang mana ini? ini atau ini?" tanya Audrey sambil memegang dua buah lingerie yang bisa di bilang berpotongan sexy dan terbuka.


Kanaya tertegun melihatnya. Ia belum pernah memakai pakaian tidur sesexy itu. Biasanya ia hanya memakai piyama atau pun gaun malam yang tidak terlalu terbuka, yang berlengan dan menutup pundak hingga punggung.


Raut wajahnya berubah saat teringat luka - luka di punggungnya. Bagaimana ia akan terlihat sexy dan cantik jika memakai lingerie itu dengan bekas luka yang ada di punggungnya.


Dan Rena sempat melihat perubahan raut wajah Kanaya.


Rena sendiri tahu sedikit banyak mengenai apa yang terjadi dengan Kanaya di masa lalu, termasuk bekas luka di tubuhnya. Oleh karena itu ia bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Kanaya.


"Sepertinya yang ini lebih bagus kamu kenakan. Lebih mencerminkan dirimu Mbak Kanaya. Cantik, natural, polos dan apa adanya." ujar Rena sambil mengambil gaun tidur yang lain yang berwarna soft dan terlihat cantik dengan potongan yang tidak terlalu terbuka namun bisa menampakkan keindahan keindahan dan bentuk tubuh pemakainya karena bahannya terbuat dari sutra yang sangat lembut.


Melihat model yang di tunjukkan oleh Rena pun Kanaya mengangguk. Bagaimana pun jika ia harus menerima hadiah lingerie, setidaknya hadiah itu harus bisa ia pakai.


Setelah membeli hadiah lingerie itu untuk Kanaya, mereka pun pulang dengan di antar oleh supir Eddy, supir David.


"Mbak Kanaya, saya tidak bermaksud lancang. Tapi saat di toko tadi, Mbak Kanaya terlihat sedih?" ujar Rena setelah mereka mengantar Audrey terlebih dahulu.


"Maksud Ibu?" tanya Kanaya tidak mengerti. Apa Bu Rena tahu, apa yang ada di dalam pikirannya.


"Saya tahu mengenai luka di tubuh Mbak Kanaya, maaf kalau saya lancang, karena saya pernah melihatnya waktu Mbak Kanaya menyusui Alvaro, dan terlihat dari arah samping ," ujar Rena mencari alasan.


Kanaya terdiam, tidak tahu berkata apa.


"Kebetulan saya punya kenalan dokter bedah plastik sekaligus seorang dokter kecantikan kulit," ujar Rena.


"Ini saya ada nomer teleponnya dan Mbak Kanaya tinggal berkonsultasi dengannya," ujar Rena sambil tersenyum kemudian mengirimkan nomor kontak dokter itu pada Kanaya.


******


Kanaya mematut dirinya di depan cermin di kamarnya. Ia tersenyum melihat penampilan dirinya di depan cermin. Baju terusan yang melekat dengan sempurna di tubuhnya membuat penampilannya tampak segar dan terlihat lebih muda.


Ia baru saja mandi dan bersiap - siapa menunggu Devan pulang kerja. Selain ingin menyambutnya suaminya dengan penampilan yang cantik, ia pun ingin mengatakan suatu hal pada Devan malam itu.


Lebih dari setahun berlalu dan kini ia memiliki kehidupan yang bahagia, kalau bisa di bilang sempurna bersama dengan Devan. Kerikil tentu saja ada seperti layaknya kehidupan Suami Istri, namun Kanaya dan juga Devan selalu mencoba menyelesaikannya dengan cara yang dewasa dan kepala dingin.


Kanaya turun kebawah dan bergabung bersama Ratna dan Alika di ruang keluarga, mereka berdua sedang menonton televisi dan bermain bersama Alvaro yang saat itu sudah berusia 17 bulan.


"Bunda... Bunda.." panggil Alvaro menghampiri Kanaya yang turun dari tangga.


"Obil... ngeng ngeng...," ujarnya sambil menarik Bundanya ke playing corner yang ada di ruang keluarga itu. Di tempat beramain itu, memang terdapat tempat sudut bermain Alvaro, sehingga jika Alvaro mau bermain, ia bisa bermain bebas di sana.


Alvaro mengajak Kanaya berjalan ke sebuah mobil - mobilan yang bisa di naiki.


"Alvaro mau naik mobil?" tanya Alvaro sambil mengikuti anaknya itu.


"Aik Obil..." ucapnya lagi sambil membuka pintu mobil - mobilannya dan menaikinya. Di usia yang 17 bulan, Alvaro sudah belajar banyak kosakata, meskipun pengucapnnya masih kurang jelas. Tetapi ia telah mengerti banyak hal jika di ajak berbicara.


"Bunda...ngeng - ngeng... Obil," ucapnya lagi meminta Bundanya untuk mendorong mobil - mobilannya.


Kanaya pun mendorong mobil - mobilan kecil yanga hanya muat di naiki oleh Alvaro dan berkeliling tempat bermainnya. Sebenarnya tempat beramain itu lebih besar dari pada sekedar sudut dan jika di hitung - hitung luasnya 1/3 dari ruang keluarga itu.


Devan yang khusus membuat ruang bermain itu untuknya dan ia pula yang memenuhinya dengan berbagai macam mainan untuk Alvaro. Kadang - kadang Kanaya merasa bahwa Devan terlalu memanjakkan Alvaro dengan memberikannya terlalu banyak mainan.


Setelah puas bermain mobil - mobilan, Alvaro mengambil permainan balok kayunya dan mulai menyusunnya. Ia menaruh beberapa tingkat balok warna - warni. Dengan di ajari oleh Kanaya, ia berhasil membuat sebuah rumah yang sederhana.


"Rumah," ucap Kanaya sekaligus mengajarkannya berbicara. Memang di usia - usianya yang sekarang ia sedang senang - senangnya mengulang dan mengikuti kalimat orang lain.


"Ah!" Ucap Alvaro sambil tertawa.


"Rumah!" Ucap Kanaya lagi berusaha mengajari kosa kata yang mudah di sekitar kita.


"Umah!" Ucapnya membuat Kanaya bertepuk tangan.


Kanaya masih asyik bermain bersama Alvaro, ketika, Devan masuk melalui pintu depan rumah. Senyum mengembang di bibir Devan, saat melihat seluruh keluarganya ada disana. Ia pun mengucapkan salam dan menyalami Alika dan Ratna.


Malam itu, ada sesuatu yang ingin Rena sampaikan pada Devan dan ia hampir tidak sabar untuk mengatakannya. Tanpa sadar Kanaya melirik ke arah Devan terus - menerus selama mereka makan malam bersama, padahal mereka berdua duduk berdampingan.


Setelah makan malam selesai, seperti biasa Devan bermain bersama denga Alvaro di ruang bermain. Kanaya juga ada di sana tetapi lebih banyak memperhatikan aktivitas mereka berdua. Kemudian Kanaya memberikan botol susu yang telah di siapkannya sebelum Kanaya naik ke lantai dua. Ya, Kanaya memang sudah mulai menyapih Alvaro sejak beberapa bulan yang lalu. Seperti janjinya pada Devan, mereka tidak lagi menunda kehamilan dan berharap segera memberikan adik untuk Alvaro.


Kini Kanaya baru saja berganti dengan gaun malamnya saat Devan masuk ke dalam closet dan mengecup tulang belakangnya, mulai dari leher, turun ke punggungnya yang terekspose. Devan mengecup kulit punggung Kanaya yang kini terlihat mulus dan kembali putih bersih. Hampir setahun Kanaya melakukan perawatan intensif dengan dokter kulit dan bedah plastik yang dulu di sarankan oleh Ibu Rena. Dan hasilnya pun tidak mengecewakan bekas itu pun akhirnya berangsur - angsur menghilang.


Kanaya kemudian menahan tubuh Devan agar tidak melanjutkan cumbuannya. Hal itu tentu saja membuat Deva sedikit terkejut.

__ADS_1


Kanaya menarik lengan Devan dan mendudukannya di sofa, kemudian ia bisa mengambil sebuah amplop berwarna merah dari dalam laci meja di sampingnya dan duduk di pangkuan Devan. Ia kemudian memberikan amplop kepada Devan.


"Apa ini, Yang?" tanya Devan heran sambil memandang wajah Kanaya.


"Lihatlah sendiri, Yang," jawab Kanaya dan memberikan senyuman terbaiknya.


Devan membuka amplop itu dan terkesiap memandang apa yang ada di dalamnya. Ia menatap Kanaya dan isi dalam amplop itu bergantian, sebelum ia mengeluarkan dua buah testpack dari dalam amplop merah itu.


"Yang... kamu hamil?" tanya Devan dengan ekspresi wajah yang luar biasa bahagia melihat dua garis merah yang ada di dua testpack tersebut.


"Iya..." jawab Kanaya.


Kanaya di hujani pelukan dan kecupan di seluruh wajahnya dari Devan. Devan merasa begitu bahagia dan mengelusnya dengan lembut, perut Kanaya yang saat itu masih rata.


"Ay, besok kita cek Dokter. Kita harus memastikan bahwa kamu dan anak kita sehat!" Ujar Devan dengan berbinar - binar sambil menangkup wajah Kanaya dengan tangannya, dan mengecup bibirnya.


Kanaya mengangguk dan ikut tersenyum lebar melihat senyuman di wajah Devan. Ia pun sama senangnya dengan Devan saat mengetahui dirinya hamil tadi pagi.


Kanaya memang sering mengantuk belakangan ini. Tapi ia tidak menyangka jika dirinya hamil lagi, karena ia sama sekali tidak mengalami mual - mual atau gejala hamil lainnya.


Bahkan, jadwal datang bulannya pun masih belum lewat, masih 2 hari kedepan. Meskipun ia merasa kedua gunung kembarnya terasa sangat kencang dan terasa sensitif, namun ia berpikir hal itu biasa terjadi jika mendekati waktu datang bulan, sehingga ia memutuskan belum perlu untuk melakukan test pack.


Namum tadi pagi, ia bertemu dengan Dokter Carlo, salah satu penghuni Apartemen Clarissa Sky Garden, yang berprofesi sebagai seorang ginekolog senior. Dia sudah berkutat dalam profesinya selama 25 tahun, dan Kanaya sudah lebih dari setengah tahun tidak bertemu dengannya. Tadi pagi mereka bertemu, karena ia meminta perbaikan Apartemennya yang bocor secara tiba - tiba. Saat telah mengajukan komplain dan hendak pergi bekerja, ia pun berpamitan.


"Baik Dr. Carlo, siang ini saya akan meminta bagian maintenance untuk memperbaikinya segera. Nanti saya sendiri yang akan memastikan semua pekerjaannya selesai, Dokter," ujar Kanaya sambil menyalami Dokter Carlo.


"Terima kasih, Bu Kanaya. Saya hargai sekali. Namun, kalau Bu Kanaya tidak bisa. Saya tidak keberataan dan saya akan meminta staff yang lain untuk memeriksanya. Lagi pula, Bu Kanaya juga perlu istirahat yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri, nanti kasihan bayi bu Kanaya," ujarnya.


"Terima kasih Dokter, tapi saya rasa Alvaro baik - baik saja," ujar Kanaya sambil tersenyum menghargai perhatian sang Dokter Carlo padanya dan Alvaro. Kanaya memang kerap membawa Alvaro bekerja dan Alvaro biasanya akan bermain dan beristirahat di Apartemen 709 bersama Ratna, Alika dan Siti.


"Oh, bukan Alvaro yang saya khawatirkan, tetapi anak dalam kandungan Bu Kanaya. Bu Kanaya tidak boleh terlalu lelah bekerja," ujarnya sambil tersenyum, kenudian pergi dari gedung Apartemen menuju ke kliniknya.


Tentu saja Kanaya tertegun mendengar perkataan Dokter Carlo.


Apa iya? Kanaya memang belum pernah mengeceknya lagi.


Setelah memutuskan untuk memiliki momongan lagi, Ia dan Devan kerap kali melakukan tes kehamilan di rumah, akan tetapi hasilnya selalu negatif. Akhirnya Kanaya tidak melakukan test pack lagi sebelum ia mengalami gejala kehamilan dan Devan pun setuju saat saja. Ia pun tidak ingin Kanaya terbebani dengan keinginan mereka untuk memiliki momongan lagi.


Lina, salah satu seorag karyawan front office yang menyemangatinya untuk mengetes kehamilan setelah mendengar perkataan Dokter Carlo.


Ia pun membeli dua buah test pack kehamilan dari sebuah drugstore di lantai dasar di apartemen itu, hanya beberapa meter jaraknya dari kantor.


Dan Kanaya mencoba keduanya. Bagaiamana pun kemungkinan eror bisa saja terjadi.


Begitulah Kanaya mengetahui kehamilannya, dan berharap bahwa tespack itu akurat sesuai dengan keinginannya dan Devan.


Devan mengangkat tubuh Kanaya dalam pelukannya dan menurunkannya di ranjang mereka.


"Kita tidur ya, Yang," ujar Devan.


"Yakin kamu mau tidur, Van?" tanya Kanaya dengan pandangan yang penuh arti. Ia tidak akan menolak, jika Devan ingin meminta haknya sebagai Suami.


Devan terkekeh...


"Bagaiamanapun inginnya aku, tetapi sebaiknya kita tidak melakukannya sekarang. Aku takut terjadi sesuatu dengan anak kita, sayang" ujar Devan kemudian ia kembali mengelus perut Kanaya dan mengecupnya persis sama ketika Kanaya hamil Alvaro.


Devan hanya meninggalkan sesaat di atas ranjang untuk mengganti handuk yang melilit di pinggangnya dengan sebuah boxer sebelum ia ikut bergabung bersama Kanaya dan memeluknya di dalam selimut.


"Mimpi indah ya sayangku," ucapnya sebelum mengecup kening Kanaya dan mulai memejamkan matanya.


*********


"Pak Elvano, ini barang - barang Bapak. Mulai sekarang Pak Elvano sudah bebas. Mohon jangan di ulangi lagi ya, Pak. Jangan sampai saya melihat Pak Elvano di sini lagi!" Ujar sipir penjara yang ada di hadapannya.


Sipir penjara itu tersenyum dan ikut senang dengan kebebasan Elvano. Karena ia melihat sendiri bagaimana Elvano berusaha berlaku baik selama menjalani masa hukumannya, walaupun dengan kerasnya kehidupan di dalam penjara.


"Terima kasih, Pak. Saya berjanji tidak akan pernah bertemu dengan Bapak lagi di sini, kecuali di luar sana untuk mengobrol suatu saat." ujar Elvano sambil tersenyum. Sedikit banyak sipir penjara itu telah membantunya dalam berbagai urusan selama ia menjalani masa tahanannya dan ia sangat berterima kasih padanya.


Elvano keluar dari gedung lapas itu di temani oleh Dimas, dan bertemu Lisa dan Anton yang menjemputnya di pintu keluar lapas.


"Kak Elvano," ucap Lisa sambil memeluk Kakaknya itu. Dua tahun lebih ia berada dalam penjara, dan ia terlihat lebih matang dan dewasa. Mungkin penjara telah mengajarkan banyak hal yang berharga dalam hidup dan menempa dirinya.


"Lisa, Anton. Terima kasih kalian sudah menjeputku," ujar Elvano sambil tersenyum.


"Tidak masalah Elvano. Ayo kita segera pulang," ujar Anton sambil memeluk hangat mantan bosnya itu yang sekaligus telah menjadi kakak iparnya saat ini.


Setelah mengucapkan terima kasih pada Dimas, Lisa dan Anton mengantar Elvano pulang kembali ke rumahnya. Rumah besar yang dulu ia tinggali bersama Kanaya.


Kedua orang tua Elvano telah menunggu di depan pintu rumah Elvano.


"Elvano, akhirnya kamu bebas, Nak!" Ucap Sean yang bersikukuh untuk berdiri menyambut kebebasan dan kepulangan anaknya itu. Air mata bahagia mengalir di pipi orang tua itu, membuat siapa pun terharu melihatnya.


"Terima kasih, Pah," balas Elvano sambil memeluk balik Ayahnya yang tampak sudah sangat renta.


Elvano tidak ikut menangis, ia menyimpannya di dalam hatinya. Ia sudah menjadi orang yang lebih kuat saat ini. Ia pun mendudukan Ayahnya kembali ke kursi roda sambil tersenyum padanya.


Kemudian giliran Luna yang memeluknya. Seperti halnya seorang Ibu yang mendapati anaknya hilang kini telah kembali.


"Jangan menangis, Mah.Elvano kan sekarang sudah pulang. Maafkan Elvano ya, Mah.Karena telah merepotkan Mamah, Papah dan Lisa serta Anton," ujar Elvano sambil memeluk Ibunya yang menangis tersedu - sedu.


Mendengar hal itu, Luna mengangguk dan berusaha menghentikkan tangisnya.Elvano menghapus air mata di pipi wanita yang telah melahirkannya sambil tersenyum.Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Baru beberapa langkah Elvano berjalan, langkah Elvano terhenti saat ia melihat Desi dan beberapa orang pelayan yang masih ia kenali wajahnya.


"Selamat datang, Tuan." sambut Desi dengan tersenyum dan mata berkaca - kaca. Ia hendak menyalami Tuan itu, akan tetapi di luar dugaannya Elvano langsung memeluknya.


"Terima kasih Desi. Terima kasih karena kamu masih mau bertahan dengan saya selama ini," ujar Elvano dengan tulus membuat Desi terkejut.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like komen dan juga vote.


__ADS_2