Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rencana Alvaro


__ADS_3

Mereka bertiga segera keluar dari kelas Alvaro menuju ke kelas Clara.


Sesampainya di kelas Clara, Clara telah menunggu mereka dan duduk di bangku kelasnya. Kedua tangannya bertopang dagu, dan mulutnya manyun, terlihat kesal karena ia telah menunggu Bundanya sejak beberapa menit yang lalu.


"Anak Bunda yang cantik, kenapa cemberut aja?" goda Kanaya sambil mencolek pipi Clara.


"Bunda lama sekali! Hmmpt!" Ujar Clara sambil melipat tangannya di depan dada, kesal pada Bundanya itu.


"Maafin Bunda ya, Bunda datang terlambat," ujar Kanaya mencoba membujuk Clara yang masih cemberut.


Clara tetap cemberut dan tidak mau menatap Bundanya.


"Clara tidak boleh begitu sama Bunda, Bunda kan sudah meminta maaf," ujar Elvano sambil berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Clara yang duduk di juga.


"Papa juga kenapa lama sekali, Pah?" tanya Clara sambil menengok ke arah Elvano.


"Papa sama Bunda kan dari kelasnya Kakak Alvaro. Dan acara kelasnya Kakak Alvaro baru saja selesai," ujar Elvano.


"Udah Ra, jangan ngambek!" Ujar Alvaro yang ikut berkomentar sambil mengucek - ngucek rambut adiknya itu, membuat Clara risih.


"Kakak aaaah!" Seru Clara tambah kesal.


"Alvaro," panggil Kanaya. Memperingatkan Alvaro untuk tidak menjahili adiknya.


"Abisnya Clara manja, Bun! Gitu aja marah!" Celoteh Alvaro yang menahan senyumnya melihat adiknya itu mengambek.


"Gimana kalau kita beli es krim setelah ini?" bujuk Elvano.


Kanaya menatap Elvano penuh makna. Ia tidak ingin mengambeknya Clara di kompensasikan dengan barang, ia takut anaknya itu nanti akan terbiasa dan akan mengulanginya lagi nanti.


Tetapi Elvano sudah terlanjur menawarkan dan Elvano pun memberikan pandangan minta maaf pada Kanaya. Kanaya pasrah saja saat Clara menyetujuinya dan tampak kegirangan dengan tawaran Elvano.


"Tapi ada satu syaratnya," ujar Elvano.


"Syarat?" tanya Clara sambil memajukan bibirnya dan mengerutkan kening.


"Syaratnya, Clara nggak boleh ngambek lagi sama Bunda, bisa?" ujar Elvano sambil menunjuk Kanaya.


"Bisa! Clara udah nggak ngambek lagi sama Bunda!" Ujar Clara sambil menoleh ke arah Kanaya dengan merentangkan tangannya dan minta di peluk.


"Ooh... anak Bunda," Kanaya pun memuluk Clara dan mendaratkan kecupan di pipinya.


"Ayo Bun, Clara mau es krim!" Ujar Clara kemudian menggandeng tangan Kanaya dan juga Elvano masing - masing di tangan kanan dan di tangan kirinya. Meninggalkan Alvaro sendirian di depan kelas Clara.


"Alvaro ayo, kamu nggak mau es krim!" Tanya Elvano sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah puutranya itu.


"Mau Pah," jawab Alvaro sambil tersenyum dan menggandeng tangan Bundanya yang masih bebas.

__ADS_1


Mereka berempat pun masuk ke dalam mobil, meninggalkan halaman sekolah, menuju ke sebuah restoran keluarga. Tidak seperti malam yang sebelumnya Elvano telah membuat reservasi terlebih dahulu.


"Reservasi keluarga atas nama Yohanes Elvano Alvarendra," ujar Elvano tanpa sungkan menyebut nama 'Keluarga' membuat Kanaya menoleh pada Elvano.


"Pak Elvano, kami sudah siapkan tempat untuk Bapak dan sekeluarga, dekat dengan kolam, betul ya Pak?" ujar petugas reservasi restoran itu.


"Iya Mbak, terima kasih," jawab Elvano pendek kemudian menoleh pada Kanaya dan tersenyum.



Tak lama kemudian mereka berempat di pandu menuju ke saung mereka, yang berada di pinggir kolam ikan koi yang indah itu.


"Kakak, lihat!" Ujar Clara sambil menunjuk se ekor kura - kura yang berenang menuju di pinggir kolam ikan sambil ia berlari mendekatinya.


"Clara, jangan terlalu dekat ya," ujar Kanaya memperingatkan anaknya itu agar tidak berdiri terlalu pinggir.


"Sudah, Ay. Tidak apa. Ayo!" Ujar Elvano sambil meraih lengan Kanaya menuju saung mereka dan membiarkan anak - anak melihat ikan dan kura - kura yang ada di sana.


"Pesan apa Ay," tanya Elvano sambil membuka buku menu.


Kanaya melihat menu yang ada di restoran itu.


"Kita pesan menu tengah?" tanyanya pada Elvano.


"Ya, aku nggak masalah," ujar Elvano sambil melihat buku menu.


Sementara Alvaro yang sedang berada di pinggir kolam ikan, melihat ke arah Bunda dan Papanya.


"Clara, sini deh!" Panggil Alvaro pada adiknya itu. Tiba - tiba ia punya suatu ide.


"Apa sih, Kak?" tanya Clara sambil mendekati Kakaknya dan berjongkok di sebelahnya.


"Clara, coba lihat Bunda sama Papa," ujar Alvaro.


Clara menoleh ke arah Bunda dan Papa Elvano sambil menoleh kembali ke arah Kakaknya.


"Kenapa Kak?" tanya Clara tidak mengerti.


"Clara mau nggak kalau Papa Elvano tinggal sama kita untuk selamanya?" tanya Alvaro.


"Papa Elvano kan sudah punya sendiri," ujar Clara dengan polosnya.


Alvaro memutar bola matanya.


"Iya maksud Kakak, Clara mau nggak kalau Papa Elvano jadi Ayah Clara?" tanya Alvaro dengan bahasa yang mudah di mengerti oleh Clara.


Clara melihat ke arah Kakaknya dan tiba - tiba ia menangis.

__ADS_1


"Clara, kok kamu nangis?" tanya Alvaro dengan gugup. Wah bahaya nih, kalau Papah dan Bundanya tahu apa yang akan ia bicarakan dengan Clara. batin Alvaro.


"Clara nggak mau ada yang gantiin Ayah!" Ujar Clara sambil terisak.


"Nggak Ra, nggak ada yang bakalan gantiin Ayah. Ayah tetap ada bersama kita, di sini." ujar Alvaro. Sambil menunjuk dada sebelah kirinya.


Clara berhenti menangis dan memandang Kakaknya.


"Tapi Bunda kan nggak ada yang temenin, Clara tahu kan karo orang tua itu ada dua? Nah, Bunda kan, cuma sendirian. Kasihan Bunda, Bunda kesepian," ujar Alvaro menjelaskan pada Clara.


Clara menoleh lagi ke arah Bundanya dan Elvano yang masih berdiskusi menu mereka.


"Maksud Kakak, Bunda sama Papa Elvano sama kaya Tante Adella dan Om Raka?" tanya Clara.


"Iya, itu maksud Kakak!" Ujar Alvaro akhirnya Clara mengerti.


"Dari pada Bunda sama yang lain? Emang Clara mau, punya Ayah baru seperti Om Faisal," tanya Alvaro.


Om Faisal yang di maksud Alvaro adalah seorang duda yang tinggal tak jauh dari rumah mereka, yang kadang kala bertamu dan membawa makanan ke rumah. Namun Alvaro dan Clara tidak menyukainya, karena wajahnya galak dan bicaranya yang keras.


Clara langsung menggeleng dengan keras.


"Emang Clara nggak suka sama Papa Elvano?" tanya Alvaro lagi.


"Suka. Clara juga sayang sama Papa Elvano," jawab Clara.


"Jadi Clara setuju kan?" tanya Alvaro.


Clara pun langsung mengangguk.


"Yes!" Ujar Alvaro dengan bersemangat.


"Ya udah Ra, kita harus usahain agar Bunda dan Papa sering bersama," ujar Alvaro.


"Gimana caranya Kak?" tanya Clara pada Alvaro.


"Clara nanti ikutin aja apa kata Kakak ya," ujar Alvaro dan di setujui oleh Clara.


"Clara, Alvaro!" Panggil Kanaya sambil memberi isyarat agar mereka mendekat.


Clara dan Alvaro saling pandang dan tersenyum, lalu beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Bundanya dan Elvano di saung mereka.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2