
"Mari Tuan, ikut saya." ujar Desi sambil beranjak ia pun keluar dari kamar Kanaya di ikuti oleh Elvano yang masih tampak geram, dan memandang Kanaya dengan tajam saat keluar dari kamar yang telah porak poranda itu.
"Bella cepat bantu Nyonya!" Seru Desi, saat melihat Bella berdiri ketakutan dan menangis di lorong kamar. Bella pun segera berlari ke kamar Kanaya.
Desi masuk ke ruang baca dan mempersilahkan Elvano untuk masuk. Ia pun membuka rekaman CCTV rumah. Dan mulai memilih rekaman saat kejadian, melalui salah satu kamera yang ada di lorong lantai 2.
Elvano memperhatikan rekaman yang di tunjukkan Desi padanya. Ia melihat Maya yang menghampiri Kanaya di ujung tangga, dan mereka sempat berargument. Ia tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan, karena rekaman tidak merekam suara mereka.
Namun yang membuat Elvano tercengang adalah Maya jatuh tanpa Kanaya menyentuhnya. Bagaimana mungkin? Apakah ia menjatuhkan dirinya sendiri?
Jelas terlihat Kanaya berjalan menjauhi Maya, dan tiba - tiba Maya terjatuh di belakangnya.
"Coba Tuan lihat yang ini," ujar Desi sambil membuka rekaman dari kamera lain yang menangkap gambar dari sisi yang berbeda.
Barulah Elvano melihat gerakan Maya yang sedang marah dan berusaha mendorong Kanaya ke tangga, tetapi justru membuatnya tidak seimbang dan terjatuh sendiri.
Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku hampir saja membunuh Kanaya! Batinnya sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas.
Tanpa menunggu lebih lama, Elvano langsung beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang baca kembali ke kamar Kanaya.
"Kanaya?" Panggilnya, namun Kanaya tidak ada dalam kamar yang telah porak poranda itu.
"Dimana Kanaya?" Tanyanya pada pelayan yang sedang membersihkan kamar itu.
"Bella membawanya ke kamar sebelah, Tuan," ujar pelayan itu.
Elvano pun langsung berjalan menuju kamar di sebelah kamar itu dan membuka pintunya.
Dilihatnya Kanaya sedang berbaring menutup mata di atas ranjang, sementara Bella duduk di samping ranjang sambil mengelus pundaknya.
"Kanaya...." panggil Elvano perlahan.
Bella menoleh mendengar suara Tuannya. Ia ragu untuk beranjak, khawatir jika Tuannya akan menyakiti Nyonyanya kembali.
"Aku hanya ingin bicara dengannya, Bella? " ujar Elvano memahami kekhawatiran Bella. Ia menyadari ia memang sudah bertindak kalap dan di luar kendali tadi, sehingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa takut.
Bella pun beranjak dari duduknya dan berdiri di sisi tembok, tidak meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
"Kanaya...," panggil Elvano sambil duduk di sisi ranjang.
Kanaya membalikkan tubuhnya membelakangi Elvano, masih menutup matanya.
"Pergilah, Kak Elvano....." ujar Kanaya dengan suara yang bergetar.
"Ay..."
"Pergilah, Kak El. Aku mohon..." ujar Kanaya sambil meneteskan air mata dengan mata yang terpejam. Ia tidak ingin melihat atau pun mendengar suara Elvano saat itu.
Tubuhnya sakit dan hatinya hancur. Elvano hampir saja membunuhnya untuk sesuatu hal yang tidak ia lakukan. Elvano bahkan tidak mendengarkannya saat ia mengatakan pada Elvano bahwa ia tidak melakukannya.
Elvano menghela napas, dan beranjak dari duduknya. Ia pun pergi meninggalkan kamar Kanaya menuju kamarnya.
"Panggilkan Dokter Adam, Desi," ujar Elvano pelan saat berpapasan dengan Desi yang baru saja keluar dari ruang baca.
"Baik Tuan." jawab Desi dan langsung mengambil telepon genggamnya untuk menelepon Dokter Adam.
Elvano masuk ke dalam kamarnya dan ia menghempaskan dirinya ke atas ranjang sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Apa yang aku lakukan! Aku hampir saja membunuh Kanaya! Kutuknya pada diri sendiri.
Malam harinya Elvano kembali ke rumah sakit. Saat ia sampai Maya sedang bersama dengan Lisda. Ia tampak tertawa dan wajahnya tak terlihat sedih. Elvano mengerutkan dahinya melihat keceriaan Maya yang bertolak belakang
dengan yang di lihatnya tadi pagi saat ia kehilangan anak dalam kandungannya.
"Sayang, kamu sudah lama ada di situ?" tanya Maya terkejut saat melihat Elvano berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.
Lisda pun menoleh ke arah Elvano, dan seketika itu ia menjadi gugup.
"Aku baru sampai? Bagaimana kondisimu?" tanya Elvano sambil berjalan mendekati Maya.
"Aku sudah merasa lebih baik, karena Lisda menemaniku," ujar Maya sambil melirik Lisda.
"Ah iya, aku langsung kesini setelah mendengar beritanya," ujar Lisda dengan kikuk.
"Aku ikut sedih akan apa yang terjadi Elvano," ujar Lisda dan Elvano mengangguk.
__ADS_1
"Gara - gara Kanaya kalian jadi kehilangan calon anak kalian. Tapi kalian jangan khawatir kalian masih muda, dan setelah menikah kalian...." ucap Lisda, namun di potong oleh Elvano.
"Lisda, bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Elvano tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Lisda sebelumnya.
Maya dan Lisda saling pandang.
"Oh, ya tentu saja. Aku...juga sudah mau pulang," ujar Lisda sambil membenahi barang bawaannya.
"Aku pulang dulu ya Maya, semoga cepat sembuh," ujar Lisda sambil memeluk mencium Maya yang masih duduk di atas ranjang rumah sakit.
"Elvano..." pamit Lisda dan Elvano mengangguk padanya.
"Sayang, apa kamu sudah berbicara dengan Kanaya?" tanya Maya dengan wajah yang memelas.
"Tidak. Aku hampir saja membunuhnya," ujar Elvano sambil duduk di kursi dekat ranjang Maya.
"A...Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu hampir membunuhnya? Apa sekarang dia baik - baik saja,?" tanya Maya bertubi - tubi, berpura - pura peduli.
"Maya kenapa kamu berbohong dan mengatakan padaku kalau Kanaya yang mendorongmu?" tanya Elvano langsung pada Maya sambil menatap mata Maya. dan mengabaikan pertanyaan Maya.
"Apa maksudmu Elvano? Apa Kanaya menyangkalnya?" tanya Maya berusaha menutupi kebohongannya dengan lagi - lagi menyalahkan Kanaya.
Elvano beranjak dari kursi dan duduk di tepi ranjang rumah sakit.
"Kanaya memang tidak mengakuinya, karena ia tidak melakukannya Maya! Dan aku telah melihat rekaman CCTV kejadian itu! Kenapa kamu mengatakan kalau Kanaya yang mendorongmu?!" Tanya Elvano sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi. Ia mulai kesal karena Maya masih tidak jujur padanya.
Maya terkejut mendengar penuturan Elvano.
Sialan! Elvano melihat Cctv saat kejadian itu! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa menyangkalnya lagi! Tetapi Elvano tidak boleh tahu jika aku yang selama ini telah berbohong padanya. Pikir Maya.
Maya pun mulai menangis. Ia harus berakting agar Elvano mempercayainya dan mau memaafkan kebohongannya.
"Aku minta maaf Elvano. Aku melakukannya, karena aku takut kamu akan memarahiku. Aku tidak ingin kehilangan bayi ini dan juga kehilanganmu," ujar Maya dengan menangis tersedu - tersedu. Ekspresi wajahnya berubah demikian sedih.
"Itulah sebabnya aku berbohong Elvano. Aku meminta maaf Elvano. Dan sekarang aku menyesal. Maafkanlah aku Elvano, aku masih sangat bersedih dan terpukul kehilangan anak kita," ujar Maya sambil menangis dan menampakkan kesedihannya.
"Maya, kenapa kamu mendorongnya? Apa yang kalian bicarakan, sehingga kamu ingin mendorongnya dari tangga?" tanya Elvano ingin tahu. Ia teringat rekaman kamera Cctv yang di lihatnya tadi siang saat melihat mereka berdua beradu argument.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca..!
Jangan lupa, like komen dan vote.