Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bayangan Kanaya


__ADS_3

"Hentikan Melisa!" Teriak Devan.


Dengan cepat Devan menurunkan Melisa dari pangkuannya dan ia pun berdiri.


"Melisa, apa yang kamu lakukan?" tanya Devan sambil menaruh bantalan sofa di depan tubuh Melisa untuk menutupi tubuh Melisa yang hampir tak memakai busana, kemudian berdiri kembali, memberi jarak antara dirinya dan Melisa.


Tetapi Melisa tidak ingin kehilangan Devan, ia berusaha untuk mendapatkan Devan meskipun harus menyerahkan dirinya pada Devan.


Devan tidak menyangkal bahwa Melisa memiliki tubuh yang sangat indah. Devan adalah seorang perjaka. Baginya melihat kemolekan tubuh seorang wanita secara langsung adalah ujian yang berat baginya.


Devan berusaha menolak dan berbalik hendak keluar menuju pintu, namun di hadang oleh Melisa yang kembali menyesap bibir Devan. Devan pun terlena dan membalas kecupan Melisa serta mendekap tubuh Melisa. Melisa tahu ia telah berhasil mendapatkan Devan dan ia pun membawa Devan ke atas ranjangnya sambil terus menciuminya.


"Devann..." desah Melisa. Seperti tersihir, Devan langsung naik ke atas ranjang. Tiba - tiba di benakknya menampakkan sosok Kanaya. Kanaya yang sedang tersenyum saat mereka sedang membaca buku di halaman belakang rumah Devan, Kanaya yang meneriakkan namanya dengan keras saat ia lulus kuliah dan di wisuda dan juga gelak tawa Kanaya saat mereka bermain di pantai sore tadi.


Kanaya.


Kanaya.


Kanaya.


Bayangan Kanaya seolah tidak pernah hilang dari benaknya, menyadarkannya akan apa yang ia lakukan.


Devan tersentak dan beranjak dari tubuh polos Melisa.


"Devan?" Panggil Melisa protes.


"Maaf Mel, Aku... tidak bisa," ucap Devan lalu ia berbalik dan mengambil kemejanya yang terserak di lantai apartemen dan segera keluar dari apartemen Melisa.


"Devaaaaaaaaannn!!" Teriak Melisa dengan kesal.


Ia melempar apapun yang ada di dekatnya, dan menangis sejadi - jadinya. Menyadari Devan Permana bukan hanya tidak mencintainya tetapi juga tidak menginginkan dirinya.


Devan bergegas masuk ke dalam lift, memakai kemejanya, dan merapikan pakaiannya. Ia pun segera masuk ke dalam mobilnya.


"Aaaaaaah!" Teriak Devan di dalam mobil sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


'Ya Tuhan, aku hampir saja melakukannya,' batin Devan.


Devan mencoba menenangkan gejolak dalam dirinya beberapa saat di sana sebelum ia menghidupkan mesin mobil dan mengendarainya.


*****


Kanaya tidak bisa tidur malam itu. Ia sangat gelisah karena sudah pukul 11 malam dan Devan belum juga pulang.

__ADS_1


Kanaya memandangi Mamahnya yang tengah tertidur di sampinya, menemani tidurnya malam ini.


Kanaya terkadang masih bermimpi buruk sehingga Bella dan juga Mamanya bergantian menemaninya tidur.


Kanaya mengambil telepon genggamnya dan ragu untuk menghubungi Devan.


Kanaya tahu, Devan pergi bersama Melisa karena Bunda Alika yang memberitahunya tadi.Tetapi, ia sangat mengkhawatirkan Devan, ia pun memutuskan untuk menghubunginya. Ia pun memencet nama kontak Devan di ponselnya dan tak lama terdengarlah nada panggil.


"Devan?" panggil Kanaya dengan nada khawatir, saat panggilan telepon itu di angkat.


"Halo..., Kanaya?" terdengar suara perempuan yang mengangkat panggilan teleponnya. Melisa, dan bukan Devan yang mengangkatnya.


"Melisa, bisa aku bicara sebentar dengan Devan?" tanya Kanaya dengan gugup.


"Hmmm..., bisa saja. Tapi.... aku tidak ingin menganggunya, Kanaya. Ia baru saja terlelap. Ia sangat kelelahan Kanaya..." ujar Melisa kemudian ia mendesah kecil.


"Dia terlalu bersemangat malam ini, kamu pasti sudah tau apa maksudku, kan," ujar Melisa sambil tertawa kecil, seolah - olah malu mengakui sesuatu.


Kanaya terdiam sesaat memgerti maksud Melisa. Meskipun Devan bukanlah suaminya atau pacarnya, tetapi Kanaya merasakan sakit saat mengetahui Devan berhubungan intim dengan wanita lain.


"Baiklah, tidak usah membangunkan dia. Tolong ingatkan saja...." ujar Kanaya berusaha menahan gejolak di hatinya.


"Kalau.... besok jangan untuk datang ke Bandara." ujar Kanaya.


"Terima kasih, Melisa." ucap Kanaya kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Kanaya sudahlah! Tak perlu menangisinya, itu adalah urusannya dengan siapa ia tidur malam ini!" Pekik kata hatinya saat Kanaya meneteskan air mata. Ia pun segera menghapusnya dan menahan diri untuk tidak menangis.


Melihat Mamanya yang masih tertidur lelap, Kanaya beranjak berdiri dan berjalan keluar menuju dapur.Ia merasa haus dan meminum segelas air.


Sementara itu, Melisa yang menerima panggilan telepon di apartemennya, tersenyum sinis, dan melempar telepon genggam Devan yang tertinggal di rumahnya di atas sofa dan meninggalkannya disana.


Devan memarkirkan mobilnya di teras depan rumahnya dan segera masuk ke dalam rumah. Ia sedikit terkejut mendapati Kanaya yang masih terbangun dan sedang minum segelas air putih di dapur.


"Ay...." Panggil Devan.


"Arrhhh!" Pekik Kanaya terkejut melihat Devan yang sudah ada di belakangnya. Ia sama sekali tidak menyangka, jika Devan ada di rumah, padahal ia baru saja menelepon Melisa dan Melisa mengatakan Devan masih tertidur di sana.


"De... Devan?" tanyanya tergagap.


"Iya, Ay. Ini aku," ujar Devan hampir tertawa melihat mimik terkejut Kanaya.


Kanaya masih sangat terkejut melihat Devan yang ada di hadapannya dengan rambut yang berantakan, dan kemejanya tampak kusut.

__ADS_1


"Ini aku, Ay. Lihat, kakiku juga masih menapak dan aku bukan hantu!" Ujar Devan bercanda menyangka Kanaya ketakutan karena itu. Lampu dapur memang tidak di nyalakan sehingga pencahayaannya temaram di dapur dan hanya berasal dari lampu lorong dekat dapur dan teras samping rumah yang masuk lewat gorden jendela.


"Bukan Van... bukan itu. Tadi aku meneleponmu." ujar Kanaya yang masih gugup dan kaget.


Devan baru teringat telepon genggamnya dan ia pun meraba - raba kantong baju dan celananya mencari telepon genggamnya, namun tidak menemukannya.


"Ya ampun!" Pekik Devan sambil menepuk keningnya. Saat teringat ia meninggalkan telepon genggamnya di apartement Melisa.


"Handphoneku! Ketinggalan di tempat Melisa!" Seru Devan pada dirinya sendiri


"Di tempat... Melisa?" gumam Kanaya.


'Ketinggalan di tempat Melisa? Jadi benar tadi Devan pergi ke tempat Melisa dan pakaian serta rambut Devan yang berantakan?' batin Kanaya berpikir, bahwa Devan dan juga Melisa


memang habis melakukan hubungan intim.


"Iya, biar aku minta Beni mengambilnya besok pagi, sekalian kita jalan ke Bandara," ujar Devan sambil berpikir sesaat.


Devan merasa wajah Kanaya sedikit pucat.


"Ay? Kamu nggak pa - pa? Kenapa kamu belum tidur? Apa kamu bermimpi buruk lagi?" tanya Devan sambil mendekat dan memegang bahu Kanaya.


Kanaya bisa mencium wangi parfum Melisa di tubuh Devan dari tempatnya berdiri dan ia pun mulai merasa mual.


Kanaya menutup mulutnya dan berjalan cepat menuju ke arah wastafel dan memuntahkan isi perutnya di sana.


"Hoeekk...uweeekkk.."


Kanaya benar - benar tidak bisa menahan rasa mualnya dan langsung muntah kembali di sana.


"Ay, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Devan dengan khawatir dan mendekati Kanaya.


Menyadari hal itu, Kanaya memberikan isyarat agar Devan berhenti mendekat sambil menutup mulutnya. Ia merasa mual mencium bau parfum Melisa di tubuh Devan.


Devan pun menghentikkan langkahnya ia bingung kenapa Kanaya tidak memperbolehkannya mendekat, padahal ia hanya ingin membantunya.


"Sepertinya aku masuk angin, aku istirahat dulu, Van." ujar Kanaya lalu berjalan masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan Devan di dapur dengan kebingungan.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen dan juga vote. Kalau berkenan tekan tombol like.. like... like yang banyak yah...

__ADS_1


__ADS_2