Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Perubahan Elvano


__ADS_3

Meskipun Kanaya telah bercerai dari Elvano, tetapi hubungan Kanaya dan keluarga Elvano tetap baik. Apalagi setelah mereka mengetahui Kanaya mengandung anak Elvano, mereka kerap kali menghubungi Kanaya.


"Sekali lagi, selamat ya atas pernikahan kalian," ucap Luna sambil tersenyum. Meskipun di dasar hatinya ia berharap Kanaya kembali kepada Elvano. Namun Luna tahu, jika Devan pun sangat menyayangi Kanaya. Sehingga ia pun merelakan Kanaya.


"Terima kasih, Mah. Mama sudah sarapan? Papa mana?" tanya Kanaya dengan akrab. Kanaya sendiri sudah menganggap keluarga Elvano seperti keluarganya sendiri. Selama ia menikah dengan Elvano, keluarga Elvanolah salah satu penyebab ia bisa kuat untuk menjalani pernikahannya.


"Sudah, kami sudah sarapan. Papa disana bersama dengan Anton. Papa memang sudah tidak kuat untuk berdiri lama - lama," ujar Luna sambil menunjuk ke arah meja beberapa meter dari arah mereka.


Kanaya melihat ke arah meja itu, dan tersenyum serta mengangguk pada Sean dan juga Anton yang menoleh padanya. Sean hanya bisa melambai dan tersenyum pada Kanaya.


Sejak Elvano di penjara, Sean sering sakit - sakitan dan Perusahaan Alvarendra di pegang oleh Lisa dan Anton. Sejalan dengan kedekatan Anton dan Lisa, mereka pun saling jatuh cinta dan akhirnya menikah beberapa bulan yang lalu. Sekarang mereka berdualah yang meneruskan usaha keluarga Alvarendra.


"Kanaya, kalau di ijinkan, kami mau ajak Alvaro untuk duduk di sana bersama dengan Opanya? Karena Opanya sudah kangen sekali dengan Alvaro," ujar Luna meminta ijin mengajak Alvaro bermain bersama dengan mereka.


"Tentu saja boleh, Mah. Alvaro pasti sangat senang sekali," ujar Kanaya sambil tersenyum. Kanaya mengecek Alvaro dalam kereta bayinya sebelum menyerahkan handle kereta itu pada Lisa.


Luna dan juga Lisa terlihat senang sekali menerima Alvaro, mereka pun langsung bercanda gurau dengan Alvaro.


"Terima kasih, Kanaya. Mama bawa Alvaro kesana dulu ya." Ujar Luna.


"Ya, Mah" Jawab Kanaya sambil tersenyum, memandangi mereka membawa Alvaro ke meja mereka. Kanaya melihat wajah Sean yang langsung tersenyum begitu memegang Alvaro di pangkuannya.


"Lihat, Mah. Alvaro mirip sekali dengan Elvano saat dia masih kecil dulu," ujar Sean sambil memandangi Alvaro dan tersenyum lebar, kemudian menggumamkan sesuatu pada Alvaro. Hingga Alvaro pun ikut tertawa. Alvaro memang mudah dekat dengan orang lain, apalagi dengan orang yang pernah di lihatnya, sehingga ia tidak mudah menangis saat bersama dengan keluarga Elvano.


Mereka berempat mengerumuni Alvaro, dan mengambil foto bersamanya.


Lisa bahkan telah meminta Dimas, pengacara keluarga mereka untuk datang ke lapas tempat Elvano di tahan, dan kemudian menghubunginya lewat Vidio Call.


"Kak Elvano, aku sedang di kota B bersama Alvaro," ujar Lisa saat wajah Elvaro tampil di layar ponsel di hadapan Alvaro.

__ADS_1


"Mana Alvaro, Lis? Biar aku melihatnya?!" Seru Elvano dengan antusias.


Lisa lalu memberikan ponselnya itu pada, Luna yang sedang memangku Alvaro di samping Sean. Kedua Opa dan Omanya itu sedang asyik bermain bersama dengan Alvaro.


"Alvaro, itu Papa," ujar Luna sambil menunjukkan wajah Elvano yang ada di layar ponsel di hadapan Alvaro.


Alvaro tentu saja melihat dan tergelak saat melihat Elvano memanggil namanya dan tertawa memperlihatkan wajah bahagianya karena bisa melihat anaknya lagi.


Alvaro berceloteh seperti anak bayi pada umumnya dan memegang sendiri ponsel itu. Ia terlihat senang meskipun ia tidak tahu apa dan wajah siapa yang ada di depannya itu.


"Papa Elvano, itu Papa Elvano," ucap Luna, memberitahu cucunya itu. Alvaro hanya bisa tersenyum dan berceloteh, karena ia belum bisa mengatakan kata Papa seperti yang Luna ucapkan.


Elvano sangat senang sekali karena bisa melihat putranya sekali lagi, meskipun hanya melalui vidio call.


Bukan hanya Elvano saja yang bahagia di hari itu. Luna dan Sean pun ikut senang.


Sejak kali pertama Kanaya menengok di penjara, keseharian Elvano berubah drastis. Ia kembali bersemangat dan berusaha untuk mendapatkan pengurangan masa hukuman dengan berkelakuan baik selama berada di penjara. Ia tidak lagi masa bodoh.


Kembali ke meja Kanaya dan Devan. Ratna menepuk punggung tangan Kanaya.


"Kanaya, Devan, kalian sudah punya rencanakan mau bagaimana kedepannya?" tanya Ratna pada pasangan pengantin baru itu.


Kanaya dan Devan saling pandang. Mereka memang telah berencana untuk langsung pindah kerumah baru mereka, beberapa hari setelah mereka menikah.


"Maksud Mama, apa kalian berdua akan menyegerakan punya momongan?" tanya Ratna.


"Devan pikir kami tidak perlu menunda, Mah. Kalau memang akan di beri cepat, kami akan terima. Iya kan sayang?" ujar Devan sambil menanyakan persetujuan Kanaya. Meskipun Devan menyanyangi Alvaro seperti anaknya sendiri, akan tetapi Devan juga ingin mempunya anak bersama Kanaya secepatnya jika memungkinkan.


Kanaya terlihat berpikir. Kanaya memang berencana ingin memberikan ASI Eksklusif pada Alvaro namun ia belum berbicara untuk menunda kehamilan pada Devan.

__ADS_1


"Karena begini. Mumpung kalian baru menikah, kalian juga harus mempertimbangkan Alvaro. Alvaro kan masih minum ASI, jadi sebaiknya mulai di rencanakan dari sekarang," ujar Ratna.


"Mah, jujur Kanaya dan juga Devan belum membicarakannya. Nanti kami coba diskusi dulu," ujar Kanaya mencari jalan tengah. Kanaya berpikir lebih baik ia membicarakannya dulu dengan Devan sebelum ia mengatakan apapun.


"Ya sudah, kalian bicarakan dulu. Apapun keputusannya, kami orang tua hanya bisa mendukung saja," ujar Alika memberi dukungan.


***


Siangnya setelah Alika dan Ratna pulang kerumah kini tinggal Kanaya, Alvaro dan juga Devan yang masih tinggal di hotel. Menghabiskan dua malam menikmati kamar President Suite di hotel itu.


Mereka berdua sedang bermain dengan Alvaro di atas ranjang hotel.


Alvaro yang tidur terlentang berguling tengkurap dan akhirnya ia duduk. Alvaro memang sudah bisa duduk sejak dua minggu yang lalu, dan kemampuan motoriknya pun sudah banyak berkembang. Ia suka melempar benda - benda hanya untuk membiarkannya terjatuh, sehingga membuat Devan dan Kanaya pun kerap mengambil mainan Alvaro yang jatuh.


"Ay, Mama bicarakan tadi pagi, menurutmu bagaimana?" tanya Devan sambil mereka bermain.


Kanaya menoleh kearah Devan.


"Aku sebenarnya ingin memberikan ASI Eksklusif untuk Alvaro, kalau kamu tidak keberatan," ujar Kanaya.


Devan mengerutkannya dahinya dan berfikir.


"Berapa lama ASI Eksklusif?" tanya Devan.


"2 tahun," jawab Kanaya.


"Apa?! 2 tahun?" tanya Devan terkejut. Ia pikir hanya tinggal beberapa bulan saja.


Kanaya mengangguk.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2