Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Hasil Mediasi


__ADS_3

"Ay...." Panggilnya sambil mensejajarkan langkah Kanaya dan membukakan pintu mobil untuk Kanaya, di kursi penumpang belakang. Dan Devan pun ikut masuk bersama dengan Kanaya.


Kanaya menangis dan gemetar saat ia masuk kedalam mobil.


"Ay..., apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Devan dengan harap - harap cemas.


Kanaya berbalik dan memeluk Devan. Ia pun menangis di dada Devan.


Devan memeluk Kanaya dalam dekapannya dan mengecup kepalanya, ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana dan Beni pun belum kembali, namun apapun yang terjadi ia tetap akan memberikan dukungan bagi Kanaya. Baginya kebahagiaan Kanaya adalah yang utama.


"Aku hampir saja...." ucap Kanaya sambil terisak. Devan pun masih belum paham perkataan dari Kanaya.


Kanaya pun melepaskan pelukkannya dan berusaha mengontrol dirinya sendiri.


lbu jari Devan menghampus air mata Kanaya yang mengalir di pipinya dan ia menatap mata sendu Kanaya.


"Aku... aku hampir saja membatalkan gugatan," ucap Kanaya sambil terisak.


"Kanaya, tapi kamu tidak melalukannya, kan?" tanya Devan sambil menatap Kanaya, berharap Kanaya tidak melalukannya.


Kanaya menggeleng dan Devan menarik nafas lega.


"Apa aku salah, Van?" tanya Kanaya dengan nada suara yang bergetar.


"Nggak, Ay. Kamu nggak salah, wajar untuk ragu. Yang terpenting kamu sudah mengikuti kata hatimu." ujar Devan menenangkan dan merangkul Kanaya.


"Dia bilang, kalau dia mencintaiku, Van dan aku... hampir saja percaya," ucap Kanaya sambil terisak.


Kanaya menceritakan apa yang terjadi di sana dan Devan mendengarkan tanpa berkomentar.


Meskipun Devan membenci Elvano akan apa yang di lakukannya pada Kanaya, tapi Devan pun mengakui, jika Elvano memang memiliki perasaan pada Kanaya. Ia sempat melihat pancaran mata Elvano saat ia menatap Kanaya tadi, dan bagaimana Elvano cemburu pada nya saat ia menjemput Kanaya dan mengetahui Kanaya ada bersamanya.


"Seandainya dia benar mencintaimu apa kamu akan mau menerimanya kembali, Ay?" tanya Devan, namun tenggorokkannya seperti tercekat.


"Setelah apa yang telah dia lakukan padaku, Van?" ucap Kanaya dengan sedikit emosi.


"Devan, aku bisa memaafkannya tetapi aku.... aku tidak bisa melupakannya," ucap Kanaya lirih.


"Apa yang dia lakukan padaku....," Kanaya tidak dapat menyelesaikan kata - katanya, air matanya kembali membuncah dan Devan kembali menenangkannya.


Beni datang dengan membawa kan berkas - berkas perkara Kanaya dan masuk kedalam mobil. Ia tahu untuk tidak berbicara saat itu, dan meminta supir itu untuk berjalan meninggalkan kantor Pengadilan Agama.

__ADS_1


***


Dimas masih menunggu Elvano keluar dari ruang mediasi setelah kepergian Kanaya dan juga Devan, tetapi Elvano tak kunjung keluar. Ia pun kemudian menengok ke dalam ruang mediasi dan mendapati Elvano tengah duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Pak Elvano...., " panggil Dimas dengan ragu - ragu.


Elvano menurunkan tangannya dan menghapus air mata yang menetes di pipinya.


"Dimas, aku tidak peduli apa saja yang harus kamu lakukan untuk memenangkan kasus ini! Pastikan Kanaya tidak becerai dariku!" Ujar Elvano sambil beranjak dari duduknya dan berjalan keluar keruang mediasi, kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Dimas hanya bisa melongo kemudian, ia langsung membereskan berkas - berkas pada petugas pengadilan dan segera keluar. Namun sepertinya Elvano telah pergi dahulu. Telepon Dimas berdering, dan segera mengangkatnya begitu mengetahui peneleponnya.


"Ya Pak Sean?" jawab Dimas.


"Bagaimana keputusan sidang mediasi hari ini?" tanya Sean yang sedari tadi menelepon Dimas menanyakan hasil sidang.


"Maaf Pak, hasil mediasi di nyatakan gagal karena Ibu Kanaya menolak untuk berdamai. Minggu depan akan di jadwalkan sidang, karena dari tim pengacara Ibu Kanaya meminta secepatnya di adakan sidang," terang Dimas.


Sean mendesah dengan sangat berat.


"Bagaimana Elvano? Apa kamu masih bersamanya?" tanya Sean.


"Tidak Pak. Pak Elvano sudah pulang terlebih dahulu, dan sepertinya ia sangat terpukul oleh putusan Hakim mediator," ucap Dimas.


Dimas kemudian terdiam.


"Dimas, kenapa tidak menjawab?" tanya Sean dengan kesal.


"Maaf Pak, Ibu Kanaya sepertinya mempunyai alasan yang sulit untu Hakim menolak percerainnya, jika Ibu Kanaya memiliki bukti yang kuat," ujar Dimas.


"Apa maksudmu? Aku tahu, Elvano memang pernah berselingkuh, tapi selain itu, apalagi kesalahannya? Elvano memperlakukan Kanaya dengan sangat baik Dimas. Apa kau tidak tahu bahwa mereka adalah pasangan paling serasi di media?" tanya Sean.


"Maaf Pak, Ibu Kanaya bukan hanya menggugat karena perzinahan, tetapi juga karena penganiyaan berat yang mengancam jiwa," jawab Dimas.


"Apa?! Mana mungkin Elvano melakukan hal seperti itu? Itu pasti fitnah Dimas!" Ujar Sean bersikukuh. Karena Sean tidak percaya dengan ucapan Dimas tadi mengenai kelakuan Putranya itu.


"Apa iya, Elvano melakukan kekerasan pada Kanaya? Luna memang pernah mengatakan kepadanya kalau Kanaya beberapa kali sakit, tetapi sakitanya biasa saja dan tidak sampai melukainya. Kalau pun Kanaya sampai luka, ia dan Luna pasti akan melihatnya." Pikir Sean.


"Kita bisa tahu kebenarnya, saat pembuktian di pengadilan, Pak," jawab Sean.


"Ya sudah, kabari aku kalau ada berita yang lainnya, Dimas." ujar Sean masih kesal dengan berita yang di dengarnya.

__ADS_1


"Baik, Pak." jawab Dimas.


****


Elvano terlihat sangat lesu, saat ia memasuki rumahnya.


"Selamat siang Tuan," sapa seorang pelayan yang membukakan pintu.


"Panggil Desi ke kamarku!" Perintah Elvano kemudian ia langsung naik ke kamarnya, untuk menemui Tuannya.


Pelayan itu segera mencari Desi dan memberitahunya, jika Desi di panggil Tuan mereka.


Desi segera naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar Elvano.


"Masuk!" Jawab Elvano.


"Tuan memanggil saya?" tanya Desi sambil masuk ke dalam kamar Elvano.


"Desi, saya ingin bertanya padamu, apakah kamu betah kerja di sini?" tanya Elvano sambil berdiri menghadap jendela kamarnya dengan kedua tangannya di belakang.


"Ya Tuan," jawab Desi. Meskipun ia heran mengapa Tuannya tiba - tiba bertanya hal yang seperti itu.


"Aku tahu kau yang membantu Kanaya pergi dari rumah ini bersama Bella," ujar Elvano pada Desi.


Desi terkejut dan tampak sangat cemas.


'Apa yang akan Tuan lakukan padaku?" batin Desi.


"Kamu tahu, kan. Kalau aku bisa memecatmu sekarang juga?" tanya Elvano sambil berbalik badan dan menghadap Desi kemudian berjalan mendekatinya.


"Ya, ya Tuan." jawab Desi ketakutan.


"Tapi aku tidak akan memecatmu, kalau kau mau melakukan sesuatu untukku," ujar Elvano.


"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Desi dengan gugup, ia tidak tahu apa yang akan Tuannya perintahkan padanya.


Bersambung...


Nantikan terus kisah mereka ya.....!!


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like..like yang banyak yah...


jangan lupa juga tinggalkan jejak komentar kalian~~~


__ADS_2